
"Selamat pagi ayu.."
"Selamat pagi pak.."
Izalpun pergi meninggalkan ruangan setelah menyapa ayu.
"Wah ayu.. ada apa ini? Padahal di ruangan ini ada beberapa staf juga tapi hanya kamu saja yang disapa pak izal ." Tukas fely
"Iya nih jangan-jangan kalian berdua...?" Sahut ima
"Bisa gak sih kalian berhenti? Ini jam kerja!" Kata diyah judes.
"Iya iya maaf.." kata ima dan fely
Ayu daritadi hanya bisa diam sambil tetap memperhatikan layar monitornya.
Dalam hatinya berterima kasih pada diyah yang telah menyelamatkan dirinya dari pertanyaan bertubi-tubi yang dilontarkan oleh ima dan fely.
"Aku harus bicara dengan kak izal. Ini tidak bisa dibiarkan." Batin ayu.
Di sisi lain izal tampak biasa saja dan malah menikmati saat-saat bertemu ayu dikantor. Ia bahkan tidak segan-segan lagi menunjukkan perhatian-perhatiannya pada ayu didepan semua staf marketing.
Diyah yang melihat itu semua, tentu saja membuatnya semakin geram dan membenci kehadiran ayu.
---
"Kamu seharusnya membawa syal di saat musim dingin seperti sekarang ini." Izal mengenakan syal biru miliknya dibadan ayu.
"Kak cukup hentikan semua ini."
"Apa maksudmu ayu? Aku tidak mengerti."
"Aku tidak ingin ada salah paham diantara rekan-rekan kerjaku, dan juga perlakuan kakak yang pilih kasih itu sangat ketara sekali."
"Aku tidak merasa seperti itu."
"Bukankah aku sudah mengatakan sebelumnya kak.."
"Ya.. ya aku tahu baiklah aku akan berusaha untuk mengendalikan diriku."
"Terimakasih kak.."
Tin.. tin.. suara klakson mobil kemal berbunyi.
"Apa dia suamimu?"
"Iya kak.."
"Dia tampak jauh lebih tua dari usia kita."
"Jangan bicara begitu kak tolong dia masih suamiku."
"Oke.. oke sorry.."
"Baiklah aku pergi dulu kak..oh ya syalnya untuk kakak saja, terimakasih sudah mengkhawatirkanku kak.."
"Tapi ayu ini kamu bawa saja.."
"Tidak apa aku sudah ada di dalam mobil. Bye kak.."
"Bye.."
---
"Sudah siap?" Tanya kemal.
Pria itu telah siap untuk pergi ke pertunjukan musikal.
"Ya.. aku sudah siap berangkat."
"Baiklah kita masih punya banyak
Waktu jadi tidak perlu terburu-buru."
"Hmm.. apa bisa kita mengajak fluffy?"
"Fluffy?"
"Hahahah.. aku bercanda."
"Hahahaa.. kamu bisa aja ayu. Yasudah ayo kita berangkat."
---
"bagus sekali pertunjukannya aku suka.." kata ayu.
"Syukurlah kalau kamu suka.."
"Eh." batin ayu.
Seperti refleks, kemal mencium kening ayu.
"Baiklah mari kita tidur, selamat tidur ayu.."
Kemal tidur membelakangi ayu seperti biasanya.
Ayu masih terdiam sejenak sambil sesekali mengusap keningnya.
"Kenapa aku tidak merasa marah dia mencium keningku? Aneh sekali." Batin ayu.
Dia pun mengambil posisi tidur yang sama dengan kemal.
Tanpa sadar ia tersenyum kecil sembari merapatkan matanya.
Di sisi lain hal yang sama juga dialami oleh kemal. Pria itu tersenyum senang karena kencannya hari ini dengan ayu berjalan dengan baik.
"Semoga hubungan kami kedepannya semakin baik lagi.." batin kemal.
---
Keesokan harinya,
"Kemal dimana bi?"
Tanpa sadar ayu menjadi nyaman memanggil nama pria itu.
"Hohoho kok panggilnya nama sih mbak.. biasanya kalau masih pengantin baru panggil sayang atau suamiku gitu.."
"Hmm gitu ya bi.. jadi bibi lihat gak nih ?"
"Tadi bilangnya mau lari pagi mbak.."
"Oh gitu yaudah aku coba cari deh.."
"Ada apa mbak? Barangkali bibi bisa bantu?"
"Aku mendadak harus berangkat kerja lebih awal bi.."
"Oh gitu.."
"Yasudah bentar ya bi.."
"Iya mbak.."
---
Ayu mencari disekeliling taman.
"Pasti dia di sekitar sini." Gumamnya
Tak selang lama untuk mencari keberadaan pria itu karena tubuhnya yang proposional dan pundaknya yang bidang itu dengan mudah dikenali oleh ayu.
"Itu dia.."
Ayu mendekati kemal, namun pria itu tidak sendirian.
"Siapa wanita itu?"
Ayu mungkin saat ini tidak sadar bahwa wajahnya sangat kusut karena kesal melihat kemal berbicara dengan wanita lain.
"Apa? Kenapa aku harus marah? Huh!" Batin ayu
Ayu pun bergegas kembali ke rumah.
"Loh mbak gak ketemu sama pak kemal?"
"Gak ketemu bi."
Ayu melahap seluruh roti isi dengan emosi yang meledak-ledak. Entah darimana datangnya setan itu sehingga membuatnya tampak kalap.
"Sebenarnya apa yang terjadi sih?"batin bibi
"Aku pulang.." kemal memasuki dapur dan menyaksikan ayu.
Pria itu tersenyum kecil melihat bibir ayu yang belepotan selai cokelat
"Pak kemal.. tadi mbak ayu nyariin loh."
"Loh iya ta?" Kemal duduk bersama ayu setelah selesai mencuci tangannya dan hendak sarapan.
__ADS_1
"Ada apa ayu?"
Ayu tidak menjawab dan malah sewot.
Kemal menatap bibi dengan harapan mendapatkan informasi tentang kenapa ayu seperti itu.
"Mbak ayu berangkat lebih awal pak.." bisik bibi
"Ooh.."
Kemal mengambil kunci mobilnya dan meletakkan disisi tangan ayu.
"Kamu bawa saja mobilnya."
"Apa! Kamu serius gak mau nganterin aku! Oke fine!" Batin ayu.
Ayu berdiri dan mengambil kontak mobil.
"Aku berangkat dulu bi.."
"I-iya mbak.."
"Ayu tunggu.." panggil kemal
Ayu menatap kemal.
"Lap dulu bibirmu itu..”
"Eh.."batin ayu
Wajahnya memerah karena malu, rasanya ia ingin segera pergi darisana secepatnya.
Setelah ayu pergi,
"Hahahaaha..." Kemal tertawa lepas.
"Aduh pak kaget aku, ada apa pak?"
"Ayu lucu kan bi.."
"Iya pak.. mbak ayu itu lucu, cantik, sopan, ramah banyak deh pak.. tapi kenapa tertawa seperti itu pak? Ada apa sama mbak ayu?"
"Sepertinya ayu cemburu bi."
"Cemburu? Aduh bibi gak ngerti hehe.. mending bibi masak aja deh."
"Sejak ada mbak ayu, pak kemal jadi lebih banyak bicara dari biasanya, juga tersenyum dan bahkan tertawa lepas seperti itu untuk pertama kalinya. Semoga hubungan mereka berdua selalu baik terus aamiin.." Batin bibi
----
Di kantor, ayu dan semua staf sudah berkumpul bersama sesuai arahan izal semalam lewat chat grup.
"Sudah datang semua?" Tanya izal
"Sudah pak." Jawab semua staf .
"Baiklah tujuan saya mengumpulkan kalian semua disini adalah untuk evaluasi kerja dan persiapan pembukaan kantor cabang baru."
"Wah pasti kali ini aku yang akan pergi kesana." Batin diyah
"Sesuai lama bekerja dan yang sudah sering melakukan opening, diyah kamu besok berangkat ya sama saya."
"Yes!" Hati diyah bersorak-sorai mendengar kalimat terakhir yang diucapkan izal.
"Siap pak." Jawab diyah.
"Baiklah rapat selesai, lanjutkan bekerja."
----
Semalam sebelumnya.
Izal mengirim pesan pribadi kepada ayu.
"Besok aku akan mengumumkan siapa yang akan ikut pergi ke pembukaan kantor cabang baru."
"Ajaklah kak diyah saja." Balas ayu
"Tidak, aku berniat untuk mengajakmu”
"Maaf aku tidak bisa.."
"Kenapa?"
"Aku belum pernah melakukan itu sebelumnya."
"Maka inilah saatnya kamu belajar hal baru."
"Iya kak tapi itu terlalu mendadak untukku kak, aku belum membicarakan hal ini dengan suamiku."
"Baiklah aku akan pergi dengan diyah."
Itu adalah pesan terakhir yang dikirim izal kemarin malam.
---
Drrt .. drrt..
"Halo.. ayu? Apa kamu sudah pulang? Bisakah kamu jemput aku?"
"Kenapa aku harus menjemputmu? Kamu kan bisa pulang sendiri."
"Apa kamu lupa sesuatu?"
"Oh ya ampun mobilnya kan aku bawa ya tadi." Batin ayu.
"Baiklah aku akan menjemputmu sebentar lagi."
"Ok tunggu dimobil saja . Aku yang akan menemuimu."
"Ya.."
Ayu masih bete dengan kejadian yang ia lihat tadi pagi. Saat kemal terlihat bersenda gurau dengan wanita lain.
"Huh moodku hari ini drop Banget! Ini semua gara-gara pria itu." Gumam ayu.
Setelah selesai berkemas, ia bergegas menuju rumah sakit tempat kemal bekerja.
"Ini pertama kalinya aku kesini sebagai istrinya. Beberapa bulan yang lalu aku masih sebagai pasiennya. Hah! Lucu sekali." Batin ayu.
Kemal barusaja keluar dari rumah sakit menuju ke mobil.
"Nunggu lama?" Tanya kemal
"Nggak kok."
"Mau jalan-jalan sebentar? Taman disini gak kalah bagus loh sama yang di rumah."
"Hm.. oke."
"Semoga apa yang ia katakan benar, sehingga bisa memperbaiki moodku yang jelek seharian ini." Batin ayu.
Kemal mengajak ayu ke taman yang ada di dekat rumah sakit.
"Bagaimana?"
"Lumayan sih.."
"Ayu aku ingin mengatakan sesuatu. Duduklah disini."
Kemal menuntun wanita itu duduk di sebuah kursi taman yang terbuat dari kayu.
"Apa kau marah padaku?"
"Untuk apa aku marah padamu?"
"Sejak tadi pagi aku tahu ada sesuatu yang mengusikmu, coba katakan saja ada apa?"
"Apa sih gak ada apa apa kok."
"Baiklah kalau kamu tidak mau bicara. Aku saja yang bicara."
"Yang kamu lihat tadi pagi bukan seperti yang kamu pikirkan." Kata kemal.
"Jadi dia tahu aku melihatnya dengan wanita itu? Lalu kenapa dia diam saja? apa dia sengaja membuatku kesal?" Batin ayu.
"Dia hanya anak tetangga yang baru lulus SMA dan aku kenal baik dengan orang tuanya. Dia bilang kapan-kapan ingin mengajak kita makan malam bersama di rumahnya. Lalu aku melihatmu mendekat tapi tiba-tiba kamu berbalik badan dan pergi dengan cepat padahal aku ingin memperkenalkanmu pada anak itu."
"Apa? Jadi aku sudah salah paham pada pria ini." Batin ayu
"Baiklah aku akan minta maaf kalau memang kamu tidak suka melihatku bicara dengan wanita lain. Tapi ayu, bisa kamu katakan padaku kenapa kamu marah melihatku dengan wanita lain?"
Deg!
"Apa aku cemburu?" Batin ayu.
"Ayu?" Kemal masih berusaha membuat ayu bicara.
"Tidak mungkin! Aku pasti salah! Aku tidak mungkin cemburu pada pria didepanku ini."
Kemal berjongkok didepan ayu.
"Ayu? Apa kamu masih marah?"
"A-aku.."
"Aku ingin pergi darisini!" Teriak ayu dalam hati.
__ADS_1
"Ya.. ayu katakan apa?"
"Aku mau pulang."
Kemal tertawa kecil.
"Kenapa ketawa? Apanya yang lucu?"
"Kamu lucu."
"Aku?"
"Ya.."
"Gak lucu tau!"
"Baiklah aku tidak akan berdiri sampai kita berbaikan."
"Terserah." Ayu berjalan meninggalkan kemal
"Aw.. rasanya kakiku kram. Bantu aku berdiri ayu.."
Wanita itu berhenti dan berbalik melihat keadaan kemal.
Kemal mendongak dan melihat uluran tangan ayu.
"Jadi kita sudah berbaikan?"
"Ya.."
"Terimakasih ayu.."
Kemal berdiri dan memeluk wanita yang ada didepannya itu.
Ayu yang tadinya masih ragu untuk membalas pelukan kemal akhirnya menyerah pada hatinya. Ia sadar bahwa kini ia mulai merasa nyaman berada di dekat kemal.
"Pria ini memang suamiku tapi.. aku dulu menikah dengannya tanpa cinta, lalu apa sekarang cinta itu baru hadir diantara kita? Ya Tuhan.. aku masih bingung dengan perasaanku saat ini." Batin ayu
"Aku tidak akan pernah memaksamu untuk menerimaku ayu.. biarkan hatimu sendiri yang merasakan ketulusan cintaku. Karena aku tahu semakin dipaksakan perasaan itu justru akan semakin cepat menghilang. Jadi, biarkan cinta ini mengalir dengan sendirinya." Batin kemal.
---
"Duu..du..du.." ayu sedang berada didapur sendirian. Wanita itu sedang memasak untuk makan malam.
Tiba-tiba kemal datang dari belakang.
"Eh.. aduh kaget tau!"
"Hmm baunya sedap sekali. sudah matang? Mau aku bantu? Sepertinya idemu membuat spageti sendiri memang benar-benar bagus."
"Hmm ya kan apa kubilang. Kita harus berhemat. Jangan sedikit-sedikit makan diluar. Boros tau!"
"Siap nyonya.."
Tadinya kemal mau mengajak ayu makan malam di restoran western sebagai tanda kalau mereka telah berbaikan, tapi ayu menolak dan menginginkan untuk masak spageti sendiri di rumah.
---
Keesokan harinya ayu kembali ke rutinitas paginya. Sejak bekerja di kantor ia sudah terbiasa bangun pagi.
"Ayu.. apa kamu melihat dasiku?"
Tanya kemal
"Dasimu kan banyak. Dasi yang mana? Lagian tumben kamu pakai dasi. Apa ada acara?" Jawab ayu yang juga sedang sibuk di depan meja riasnya.
"Hari ini ada rapat."
"Aaaaaaaw!" Ayu menutup kedua mata dengan telapak tangannya.
"Ada apa? Kenapa kamu teriak?" Tanya kemal heran.
"Itu kenapa gak dikancingkan sih bajunya!"
"Oh maaf karena sibuk mencari dasi tadi jadi lupa."
"Cepat kancingkan dulu!"
"Ya ampun perutnya sixpack banget!" Batin ayu
"Baiklah sudah selesai bukalah matamu itu.."
Ayu perlahan membuka matanya, benar saja kemeja kemal sudah dikancingkan semua, tapi "apa itu!?" Batinnya
Ayu maju mendekat ke kemal.
Wanita itu merasa risih melihat ada satu kancing yang balapan.
"Tuh kan bener." Gumam ayu.
"Apa lagi ayu?" Tanya kemal
"Lihat nih." Ayu menunjuk pada kancing depan kemeja kemal
"Hahaha.. aku buru-buru tadi. Baiklah biar aku betulkan lagi."
"Huh, sini biar aku saja. Begini saja kok bisa salah sih?! Apa ini sering terjadi? Ya ampun.." meski ngedumel ayu tetap membenarkan kemeja kemal sampai tuntas.
Kemal tersenyum menyaksikan istrinya yang tampak imut saat mengomelinya.
"Iya maaf.. lain kali aku akan lebih hati-hati mengancingkannya.”
"Nah sudah selesai.. ayo kita turun dan sarapan dulu."
"terimakasih.."
"Sama-sama.."
"Aduh aku kenapa sih.. ngapain aku repot-repot benerin bajunya? Habisnya aku gemes banget lihat kancingnya yang gak beraturan itu! Ya ampun.. aku ini kenapa sih?" Batin ayu.
Ayu berkali-kali bertanya dalam hati tentang kenapa dia sekarang jadi peduli dengan kemal dan kenapa dia deg deg an saat dekat dengan kemal.
"Mungkinkah aku jatuh cinta? Ah tidak.. tidak.. aku belum bisa memastikan apa benar perasaan ini cinta atau hanya karena terbiasa saja tinggal serumah dengannya." Batinnya
----
Di tempat lain, izal dan diyah barusaja sampai di kantor cabang baru. Lokasinya yang berada di luar kota mengharuskan mereka untuk setidaknya bermalam disana.
"Terimakasih diyah, kamu sudah bekerja dengan sangat keras hari ini."
Izal puas dengan kinerja diyah yang sesuai prosedur hingga berhasil mensukseskan acara pembukaan kantor cabang baru dengan baik.
"Semua karena arahan dan bimbingan pak izal juga." Jawab diyah
"Kamu selalu rendah hati, aku suka sifatmu itu." Izal tersenyum sambil mengusap kepala diyah.
"Istirahatlah. Kamu pasti lelah. Besok pagi kita akan kembali agak sore karena pagi masih ada rapat."
"Baik pak.."
Diyah berharap setidaknya selama acara ini ia bisa lebih dekat dengan izal.
---
Keesokan harinya, rapat evaluasi acara pembukaan kemarin telah dimulai. Izal tampak begitu cakap memimpin jalannya rapat.
"That's my boy.." batin diyah
"Ada pertanyaan? Atau mungkin ada saran dan masukan?" Tanya izal.
Beberapa wanita yang juga staf baru saling mengangkat tangan.
"Wah saya suka dengan semangat kalian. Silahkan bertanya satu per satu." Kata izal.
Diyah yang bertugas sebagai sekretaris nampak sedikit kesal melihat para staf wanita yang saling mencari perhatian izal.
"Norak banget sih mereka tuh! Kayak gak pernah lihat cowok ganteng aja! Duh!" Batin diyah.
"Diyah? Sudah kamu catat semua kan?" Tanya izal.
"Oh sudah pak."
"Baiklah rapat saya tutup sampai disini. Semoga kedepannya kita semua bisa terus menjaga hubungan baik antara karyawan serta meningkatkan produktivitas kerja untuk kesuksesan perusahaan ini."
"Baik pak.." jawab semua staf.
Tak terasa hari telah sore, sudah saatnya diyah dan izal kembali ke kota asalnya.
"Diyah? Apa kamu sakit?" Tanya izal
"Saya baik-baik saja pak.."
Izal menyentuh kening diyah.
"aneh sekali, tapi kamu terlihat seperti tidak baik-baik saja." gumam izal.
"itu karena aku sedang cemburu padamu pak." batin diyah.
__ADS_1