
"kamu sedang apa disini?"
"Oh Pak Izal.. saya sedang duduk saja pak."
"Kenapa sendirian? Yang lain kemana?"
"Masih makan di kantin pak."
"Kamu sudah makan?"
"Sudah pak.."
"Apa itu ponsel keluaran terbaru?"
"Oh ini iya baru sih pak tapi masih kredit hehehe. "
"Boleh saya lihat?"
"Boleh pak.."
"Wah bagus nih kameranya. Coba foto ya."
"Boleh pak silakan.."
"Ngapain kamu disitu. Ayo foto bareng."
"Sa-saya?"
"Iya.."
"Ba-baik pak.."
"Aduh bagaimana ini.. bisa sedekat ini sama pak izal rasanya sudah anugerah apalagi bisa sampai foto bareng! Omg! Mimpi apa aku semalam!" Batin diyah
Cekrek!
---
Diyah tampak tersenyum sendiri di taman kantor sambil memandangi layar ponselnya.
"Waktu itu pasti adalah hari keberuntunganku.." gumam diyah.
Wanita itu tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya.
Tak lama kemudian rekan satu timnya, ima dan fely datang menghampirinya.
"Sepertinya ada yang lagi berbunga-bunga nih.." kata fely
"Iya nih fel, roman romannya ada yang habis kencan." Kata ima.
"Ha-ha-ha apa an sih kalian nih! Gak ada tau semua itu. Aku cuma lagi seneng aja karena hari ini aku datang lebih awal dari kalian."
"Halah.. pengalihan topik nih.. yaudah lah ayo kita masuk."
"Yuk.."
---
Kemarin malam di sebuah cafe.
"Pesan ice Americano 1 minum sini ya.." kata diyah.
"Ice americano ready silahkan."
"Terimakasih.."
"Selanjutnya silahkan maju. "
Diyah memutar tubuhnya dan betapa terkejutnya ia melihat izal berada di antrian selanjutnya.
"Loh pak izal.."
"Diyah ya? Kamu sama siapa?"
"Saya sendiri pak."
__ADS_1
"Kalau gitu tunggu saya sebentar."
"Oh ok pak.."
"Hot americano 2 shot ."
"Silahkan."
Izal dan diyah pun memutuskan untuk duduk bersama.
"Sedang apa kamu sendirian disini? Apa Nunggu temen?"
"Ng-nggak pak.. cuma lagi pengen ngopi aja sendiri pak."
"Oh gitu.. rumah kamu dekat sini?"
"Sekitar 10 menit kalau jalan kaki pak.."
"Oh lumayan dekat ya pantesan kamu pasti sering datang kesini ya."
"Iya pak hehe.."
Diyah bingung harus berkata apa. Dalam hatinya ia sangat senang tapi di sisi lain ia bingung harus bersikap di depan izal dalam kondisi informal.
"Santai saja, kita kan sedang tidak bekerja."
"Hmm iya pak.."
"Panggil izal saja."
"Apa?"
"Panggil namaku saja, kamu kan seumuran denganku."
"Baik pak eh maksudku izal."
"Jadi apa itu kopi favoritmu? Di malam yang dingin ini kamu memesan es kopi. Kamu lumayan unik ya.."
"Iya.. begitulah.. hehe.."
Izal tersenyum tipis.
"Heemb.." diyah menyembunyikan wajahnya yang merah karena malu dengan menyeruput kopinya.
"Terimakasih karena telah menemaniku malam ini pak.. ah maaf izal.."
"Hahaha kamu masih belum terbiasa ya.."
"Iya.."
"Ya sudah ayo aku antar kamu pulang."
"Saya bisa pulang sendiri kok.."
"Tidak baik wanita berjalan seorang diri di waktu malam."
"Hm baiklah.."
"Tentu saja tidak keberatan sama sekali."
"Baiklah.. terimakasih sebelumnya."
---
Diyah masih mengingat ingat kejadian semalam. Semalam adalah pertama kalinya dia bisa sedekat itu dengan kepala divisinya.
"Eh ada pak izal.. selamat pagi pak.."
"Selamat pagi.. lanjutkan kerjanya."
"Iya pak.." sahut semua orang.
"Pak izal.. selalu tampan dan rapi seperti biasa.." batin diyah.
Wanita itu terkesima melihat penampilan izal.
__ADS_1
"Ayu dimana? Apa dia masih belum sembuh? Ah kenapa aku mengkhawatirkan dia?" Batin izal.
Sesampainya di ruangannya hal pertama yang dia cari adalah keberadaan wanita yang masih ia sukai yaitu ayu.
"Apa aku coba hubungi saja untuk menanyakan kabarnya?" Batinnya.
"Ah tidak perlu. Nanti juga dia akan masuk kalau sudah sembuh." Gumamnya.
"Pak.. Pak izal?" Diyah berusaha memanggil izal daritadi yang tampak gelisah.
"Oh ya ada apa?"
"Rapat bulanan akan dimulai sebentar lagi. Kami tim marketing akan ke ruang rapat lebih dulu untuk menyiapkan presentasi."
"Oh ya silahkan, sebentar lagi saya akan menyusul."
Semua orang pergi meninggalkan ruangan dan menyisakan izal seorang diri.
Pria itu masih bingung dengan ponselnya yang sedari tadi telah siap untuk menghubungi ayu.
Hanya menekan dengan satu jari saja dia akan mendengar suara ayu. Setelah beberapa menit ia terdiam, akhirnya ia menyerah dan memutuskan untuk tidak melakukan itu. Pria itu berdiri dan berjalan menuju pintu keluar ruangan.
Ceklek.
Betapa terkejutnya dia melihat sosok wanita yang sedari tadi memenuhi pikirannya.
"Ayu.."
"Kak.."
"Kamu sudah sembuh?"
"Sudah Kak.. oh maaf maksudku Pak.. maaf saya terlambat.."
Pria itu menggandeng tangan ayu dan mengajak wanita itu bersama menuju ke ruang rapat.
Izal tepat berada di depan ayu, dan wanita itu hanya bisa diam sambil mengikuti langkah izal.
"Duduklah disebelahku."
"Baik.."
Rapat berjalan sangat lancar tanpa hambatan. Semua orang tampak lega dengan hasil rapat hari itu. Tapi dari semua orang di tim marketing ada satu orang yang tampak berbeda. Dia yang sebelumnya merasa sangat senang dan bahagia seakan hari ini adalah hari keberuntungannya, dalam sekejap hari itu menjadi hari yang paling dia benci.
Beberapa waktu yang lalu.
"Diyah aku sudah selesai bagaimana dengan datamu?" Tanya fely
"Iya sebentar lagi." Jawab diyah.
"Eh eh pak izal datang." Kata ima.
"Nah udah selesai nih.." kata diyah.
"Omg! Coba lihat!"
Diyah tersenyum melihat Pak Izal yang memasuki ruang rapat. Namun seketika senyumnya menghilang saat ayu muncul tepat dibelakangnya dengan tangan wanita itu yang terus digenggam oleh izal hingga mereka berdua duduk bersandingan bersama.
"Apa yang sedang terjadi? Apa yang sebenarnya kelewatkan?" Batin diyah.
---
Yang sebenarnya terjadi sesaat sebelumnya.
"Pak saya bisa jalan sendiri.." kata ayu
"Tidak. Kamu baru saja sembuh pasti kamu masih lemas"
"Tidak apa apa pak saya sudah sembuh"
"Sudah kita tidak punya waktu berdebat, berikan tanganmu."
Izal meraih jemari ayu dan menggenggamnya erat.
__ADS_1
"Tetaplah disisiku ayu. Walaupun kamu sudah menikah tapi saat dikantor kamu tetap ayu yang aku kenal dulu. Bahkan aku tidak yakin kamu bahagia dengan pernikahanmu yang sekarang." Batin izal