Terpaksa Menikah Dengan Dokter Kaya

Terpaksa Menikah Dengan Dokter Kaya
Remake ex Novel Forbidden Love - TMDDK Episode 16 - Pernyataan Cinta


__ADS_3


"kenapa suasananya jadi secanggung ini.. sejak tadi kak izal hanya diam. Entah kenapa aku merasa dia sedang marah padaku." Batin ayu.


Ayu kini sedang berada di dalam mobil berdua saja dengan izal.


Izal memilih ayu yang menemaninya untuk meeting sponsor. Padahal sebelumnya posisi itu hanya diisi oleh diyah.


"Apa aku mulai bicara saja? Sepertinya aku memang harus minta maaf pada kak izal." Batin ayu.


"Ehem.."


"Apa kamu bosan? Sebentar lagi kita akan sampai. Kamu tidak perlu gugup. Cukup berada disisiku saja dan aku akan menyelesaikan secepatnya."


"Tapi pak.."


"Kita sampai. Ayo turun."


Izal sengaja tidak mau mendengar pendapat ayu.


Walau tampak peduli, namun sepanjang hari sikap izal pada ayu sangatlah dingin.


Saat senggang izal diam-diam meletakkan minuman isotonik di meja ayu tanpa bicara sepatah kata pun.


Ayu yang terkejut bahkan belum sempat mengucapkan terimakasih, izal sudah kembali ke tempatnya.


"Kak izal.." gumam ayu sedih sambil memegang minuman pemberian izal.


"Mungkin dengan aku meminum ini, dia akan senang. Baiklah akan aku habiskan. Lihatlah kak.. aku sangat berterimakasih atas pemberianmu ini." Batin ayu


"Glek glek glek.."


Benar saja, izal melirik ayu yang sedang minum dengan tatapan puas.


Saat mata mereka saling bertemu, dengan cepat izal mengalihkan kembali perhatiannya ke atas kertas kertas yang ada di mejanya.


Jam pulang kerja tiba. Ayu tengah merapikan mejanya. Tak terkecuali semua staf. Sedangkan izal sudah keluar 30 menit sebelumnya.


"Ayu ikut nongkrong yuk.." kata fely


"Iya.. kita pengen denger cerita kamu nih tentang yang tadi pagi kok bisa sih ayu?" Kata ima


"Apa? Tadi pagi?"


Fely menunjuk telapak tangan ayu.


"Ya ampun mereka melihatnya." Batin ayu.


"Tidak ada hubungan apa-apa kok antara aku sama pak izal." Kata ayu.


Tiba-tiba saja terdengar suara


Brak! Brak! Brak!


Fely, ima dan ayu sama-sama terkejut dan menoleh ke asal muasal suara tersebut.


Diyah sedang merapikan mejanya dengan wajah yang ditekuk.


"Aku pulang dulu." Diyah pergi meninggalkan ruangan begitu saja.


"Sepertinya .. ah tidak itu sudah bukan sepertinya lagi. Tapi ini sudah pasti bahwa diyah cemburu." Kata fely


"Ya.. aku setuju." Sahut ima


"Cemburu? Apa diyah menyukai kak izal?" Batin ayu.


Drrt.. drrt..

__ADS_1


Kemal menelepon untuk memberi kabar bahwa dia sudah berada di depan kantor .


"Maaf aku duluan ya .." kata ayu.


"Oh ok.. ati-ati ya.."


"Iya.."


Belum sampai ayu melangkahkan kakinya keluar gedung. Tiba-tiba ponselnya berdering lagi.


"Ya ampun kenapa pria itu tidak sabaran sih.. ini aku sedang jalan.."


Ayu mengecek ponselnya dan ternyata bukan dari kemal melainkan izal.


"Halo.."


"Bisa bantu saya sekarang? Tolong ambilkan berkas dalam map hijau di atas meja saya dan antar ke cafe xxx."


"Baik.."


---


"Maaf sepertinya hari ini aku lembur.."


"Benarkah? Sampai jam berapa kira-kira? Aku akan menjemputmu."


"Aku tidak tahu pasti tapi aku nanti bisa pulang naik taksi kok.."


"Hmm yaudah kapanpun kamu telpon aku aja aku siap jemput."


"Terimakasih ."


"Jangan telat makan ya . Aku pulang dulu.."


"Ia."



"Ini berkasnya. Saya permisi."


"Tunggu ayu. Bukankah seharusnya ada yang mau kamu jelaskan ke aku? Aku rasa ini waktu yang tepat. Masih ada satu jam sebelum aku bertemu dengan orang sponsor."


Ayu terdiam untuk sesaat sampai akhirnya dia pun memutuskan untuk duduk berhadapan dengan pria itu


Izal tampak menunggu ayu mulai berbicara.


"Aku.. sebenarnya.. sudah menikah kak.. maaf karna tidak mengatakannya sejak awal. Aku menikah karena..."


Ayu menceritakan semuanya yang terjadi sejak awal sebab kenapa ia harus menikah.


Setelah dia merasa telah cukup bercerita, ia menunggu respon dari izal.


Pria itu tersenyum tipis.



"Kenapa dia tersenyum? Apa ceritaku ini lucu?" Batin ayu


"Oh maaf ayu bukan maksudku tersenyum atas pernikahan terpaksa itu. Tapi aku sekarang lega karena akhirnya aku masih punya kesempatan."


"Kesempatan?"


"Ya.. kesempatan untuk mendapatkan hatimu ayu.. aku tahu kalau kamu menyukaiku sejak lama kan? Sebenarnya aku pun sama."


"Apa? Lalu kenapa tidak mengatakan itu sejak dulu? Kenapa kakak juga bisa menjalin hubungan dengan wanita lain?"


"Aku terpaksa karena takut jika kita berpacaran lalu putus di tengah jalan lalu kita akan menjadi asing satu sama lain. Aku sengaja menjaga hubungan pertemanan ini agar bisa terus bersamamu ayu."

__ADS_1


"Aku tidak menyangka kamu sepengecut ini kak.. kesempatan katamu? Hah! Kamu dulu bahkan tidak memberikan kesempatan untukku. Kamu selalu sibuk mengenalkan wanita lain didepanku padahal kamu menyukaiku. Apa itu yang namanya cinta kak? Kamu tahu aku pasti cemburu. Ya! Aku memang cemburu waktu itu. Sangat sangat cemburu. Tapi seiring berjalannya waktu, lama-lama rasa suka itu pudar kak. Karena aku tahu kalau aku gak akan mungkin bisa sama kamu."


"Tidak ayu.. kita masih bisa memulai lagi dari awal. Aku sungguh minta maaf untuk kebodohanku dulu. Dari dulu hingga sekarang aku masih tetap mencintaimu."


"Tapi aku sudah menikah kak.."


"Aku akan menunggumu berpisah."


Ayu tertegun mendengar perkataan izal barusan.


"Tidak semudah itu kak.. karena pernikahan ini bukan tentang aku dan seorang pria saja tapi keluargaku dan keluarganya juga, kami telah menyatu."


Izal tak dapat berkata-kata lagi.


"Maaf kak sepertinya ini sudah hampir satu jam, aku akan pergi sekarang. Permisi." Ayu pergi keluar cafe.


Wanita itu berusaha menahan air matanya sejak tadi didepan izal.


Setelah keluar dari cafe barulah air matanya keluar dari sudut matanya.


"Kak izal bodoh! Benar-benar bodoh!" Batinnya.


Wanita itu berjalan pelan-pelan karena hari sudah gelap.


Tiba-tiba seseorang meraih tangannya dari belakang.


"Tunggu ayu.." izal berusaha mengatur napasnya karena barusan mengejar ayu.


Sontak ayu segera mengusap pipinya.


"Kak izal ngapain kesini?"


"Aku mau mengantarmu."


"Tidak perlu kak.. kakak kan harus meeting."


"Sudah aku tunda besok karena ada sesuatu yang lebih penting daripada itu."


"Kak izal.."


"Kamu ayu.."


Izal memeluk erat wanita itu. Seolah tidak ingin melepaskan pelukannya.


"Tolong lepas kak.. ini tidak benar.. aku sudah menikah kak.."



"Aku tahu kamu tidak mencintainya ayu. Katakan kamu mencintaiku ayu!"


"Aku sudah tidak bisa lagi kak.. maafkan aku.."


"Kamu tidak tahu betapa putus asanya aku saat tahu kamu sudah menikah ayu. Rasanya aku ingin sekali mengakhiri saja hidupku. Tapi aku berpikir lagi bahwa bisa saja kamu tidak bahagia dengan pernikahanmu yang sekarang kan? Hanya itu alasanku untuk tetap bertahan sampai detik ini ayu!"


"Apa jika aku bilang bahwa aku bahagia dengan pernikahanku yang sekarang, kak izal akan berhenti menyukaiku?"


"Ya.. mungkin aku akan merelakanmu. Karena melihatmu bahagia aku juga akan bahagia." Izal melepaskan pelukannya.


"Baiklah kalau begitu. Aku akan mengatakannya sekali saja bahwa aku bahagia dengan pernikahanku. Aku minta maaf karena tidak mengundang kakak dan teman-teman seangkatan karena memang pernikahannya hanya dihadiri keluarga inti saja. Jadi kak izal aku berdoa semoga kakak juga bisa segera menemukan kebahagiaan kakak yang sebenarnya. Aku anggap hari ini tidak terjadi apa-apa dan kita bisa bersikap seperti biasanya di kantor."


"Itu menurutmu ayu.. tapi tidak buatku. Aku akan tetap menyukaimu dan Jangan paksa aku untuk berhenti."


Ayu sudah lelah mengulang kata-katanya lagi. Dia hanya bisa diam saja mendengar kata-kata izal barusan.


"Baiklah ayo aku antar kamu pulang."


Izal menggenggam tangan ayu lembut.

__ADS_1


__ADS_2