
Kawasan di sekitar mall sangat padat. Banyak orang yang berlalu lalang keluar masuk tempat itu. Wajah mereka semua nampak asing di mata Andreas dan Bian. Namun, kedua pria itu bisa membaca gerak-gerik yang berbeda.
"Setiap ada yang mencurigakan kamu langsung tekan tombol hijau!" titah Andreas berbisik di telinga Bian sambil menyerahkan benda pipih. Entah itu apa, Bian pun hanya mengangguk.
Mereka memakai kacamata hitam dan topi yang senada lalu berjalan menunduk. Namun, matanya terus terpasang sehingga mereka bisa melihat setiap pergerakan yang ada di sekeliling.
"Ke mana bocah itu?" gumam seorang pria yang memegang es krim di tangannya.
Andreas yang sempat melintas terpaksa menghentikan langkahnya. Melirik sekilas ke arah pria yang memunggunginya.
"Gimana, Mon. Apa kamu sudah menemukannya?" tanya seseorang yang baru datang dari belakang. Mereka berdua memakai seragam yang sama dan dipastikan satu tim.
"Belum, kayaknya dia lari ke perkampungan depan." Pria yang dipanggil Mon itu menunjuk gang sempit yang ada di ujung jalan.
Mereka meminum es krim yang hampir meleleh sebelum melanjutkan pencarian. Mubazir jika ingin dibuang.
"Bagaimana kalau bocah itu tidak ketemu, pasti bos marah-marah sama kita."
Momon menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Membuang es krim yang masih separo lalu melanjutkan jalannya.
Andreas sedikit mendongakkan topinya menatap punggung kedua pria tadi mulai masuk gang.
"Bi, sasaran sudah terperangkap. Kamu waspada, pastikan semua tidak akan gagal."
Bian memakai kacamata hitamnya lagi lalu berjalan sesuai perintah dari Andreas.
Baru beberapa menit memasuki perumahan, kedua pria itu sudah menemui jalan buntu. Bagaimana tidak, dari empat arah yang berlawanan mereka dikepung puluhan polisi yang menodongkan pistol ke arahnya.
"Jangan bergerak, kalian sudah dikepung."
Kedua pria itu langsung mengangkat tangannya dan saling lirik. Menyandarkan punggung masing-masing dan menatap ke arah yang berbeda.
"Gawat Mon, kita sudah tertangkap." Hanya mengucapkan berbisik.
"Ternyata anak itu bukan anak orang sembarangan, buktinya cepat banget mereka menemukan kita," timpal Momon dengan berbisik pula.
Suara tepuk tangan dari arah belakang memecahkan keheningan yang sempat tercipta.
Wajahnya berapi-api menunjukkan amarah yang memuncak. Kedua tangannya mengepal sempurna dan siap menghantam siapapun yang ada di depannya.
__ADS_1
"Lebih baik Bapak pergi saja, biar kami yang akan mengurus semua ini." seorang polisi muda berkata.
"Enak saja, dia sudah menculik putraku, dan aku tidak akan membiarkannya begitu saja. Dia harus menerima hukuman dariku juga."
Bahkan seorang polisi pun tak bisa menghentikan langkah Yudha.
Yudha terus melangkah maju. Tempat yang tadi tenang itu kian mencengkam. Ia dan dua penculik itu hanya berjarak beberapa meter saja hingga membuat siapa saja harus siaga.
"Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Yudha menatap mereka bergantian.
Kedua penculik itu saling lirik, lalu menatap Yudha lagi.
"Tidak ada yang menyuruh kami. Ini murni keinginan kami dan ingin meminta tebusan."
Seketika itu Yudha melayangkan pukulan di perut mereka secara bergantian.
"Aku tidak suka basa-basi. Kalian katakan atau aku akan hukum yang lebih berat lagi dari hukuman polisi," ancam Yudha yang kedua kali.
Tangan pria itu menyelinap masuk ke dalam jaket, namun dengan sigap Yudha menendang dengan satu kakinya hingga Momon kembali meringis.
Meskipun bukan petarung, Yudha paham jika orang di depannya itu akan mengambil sesuatu.
"Kalian katakan atau aku akan membuat sekujur tubuh Kalian menjadi santapan singa di hutan," ancam Yudha untuk yang kesekian kali.
"Silahkan saja, pasti bapak akan di penjara."
"Kamu pikir aku takut penjara, aku lebih takut kalau kalian masih hidup di dunia ini," bantah Yudha tak mau kalah.
Yudha mengeluarkan sesuatu dari saku jas nya yang membuat kedua pria itu melongo.
Ternyata dia seorang mafia.
Mereka menelan ludahnya dengan susah payah. Wajahnya menciut melihat identitas yang ada di tangan Yudha. Sekujur tubuhnya gemetar hingga ingin pipis seperti Lion.
Halo, apa kabar dirinya yang hanya penculik kelas teri, dipastikan tidak akan menang. Kemungkinan tubuhnya bisa jadi perkedel jika tidak mengakui. .
"Sekarang katakan, atau aku cincang tubuh Kalian." Mengucapkan dengan penuh penekanan.
Tak ada jalan lain selain mengaku. Mereka tidak ingin mati sia-sia di tangan Yudha.
__ADS_1
"Bu Hilya, Pak." Keduanya mengucap bersamaan.
Bug bug
Dua kali pukulan kembali mendarat sebagai tanda terima kasih karena terlalu lalai dalam menculik.
Yudha membalikkan tubuhnya menghampiri polisi dan beberapa orang yang ada di belakangnya. Sementara polisi yang lain langsung memborgol kedua pria itu dan membawanya ke kantor untuk ditindak lanjuti.
"Wajah kamu meyakinkan juga untuk menjadi mafia," celetuk seseorang yang bernama Keanu.
Keduanya bergelak tawa.
Andreas dan Bian hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Membenarkan ucapan pria tampan yang berbadan lebih kekar dari Yudha.
Cocok sekali, apalagi kalau sudah marah-marah pasti menjadi mafia kelas kakap.
Yudha menyodorkan lagi kartu yang sempat dipinjam dari pria itu. Ia sengaja mengerahkan semua orang yang dikenal, termasuk beberapa mantan mafia yang kini tinggal di indonesia.
"Aku nggak suka kalau harus berantem terus-terusan, jadi lebih baik kamu saja yang jadi mafia." Menunjukkan tangannya yang memerah dan nyeri akibat memukul penculik tadi. Lalu merangkul sang sahabat yang sudah lama tidak saling bertemu.
Keanu bukan asli warga indonesia, namun kali ini ia ingin pindah dan meninggalkan dunianya yang gelap, berharap bisa menemukan kehidupan baru mengingat kisahnya yang selama ini terlalu pahit karena banyaknya permusuhan.
"Terima kasih karena kamu sudah menolong putraku. Keduanya masuk ke mobil yang sama. Sedangkan Lion saat ini sudah dilarikan ke rumah sakit untuk menjalani perawatan.
Ternyata tangan kekar yang menolong Lion adalah tangan milik sang mantan mafia.
Andreas langsung melajukan mobilnya ke rumah sakit setelah menghubungi keluarga.
"Umur kamu sudah kepala tiga, apa kamu tidak ingin menikah?" canda Yudha.
"Sepertinya aku harus menemukan pujaan hatiku dulu."
"Maksud kamu?" sanggah Yudha penasaran.
"Tiga tahun yang lalu aku datang ke sini. Aku melihat perempuan yang cantik. Dia juga baik, tapi waktu itu aku hanyalah seorang pecundang. Duniaku berbeda dengannya. Aku tidak berani mendekati dia, tapi sekarang aku sudah berubah. Dan aku akan mencari dia, berharap dia belum menikah."
Keduanya kembali bergelak tawa.
"Ngomong-ngomong kamu sendiri gimana? Berapa anak kamu?"
__ADS_1
Yudha tersenyum, meskipun masa lalunya tak semulus jalan tol, tetap saja itu adalah takdir yang tak bisa diubah.
"Aku punya satu anak dari pernikahan pertamaku. Setelah aku bercerai, aku menikah lagi, sekarang dia hamil anak kami yang pertama."