Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Kekacauan pagi hari


__ADS_3

Keesokannya, seperti biasa Tuan Angga sudah bersiap siap untuk berangkat ke kantor. Kali ini papanya juga akan ikut ke kantor. Dea juga sudah rapi siap berankat sekolah. Febby membantu mamanya memasak di dapur, pelayan dan para koki hanya membantu saja.


Saat masakan sudah siap, mama menyuruh pelayan untuk memanggil semuanya turun buat sarapan. Semuanya sudah kumpul di meja makan, namun Marcel tidak terlihat.


" Loh Marcel kok belum turun? apa dia sakit? " tanya mama pada pelayan.


" Maaf Nyonya, tapi kamar Tuan Marcel dikunci. Saya sudah berkali kali memanggilnya namun tidak ada jawaban, " ucap pelayan itu menjelaskan.


Deg, tiba tiba Dea teringat dengan ucapan kakak iparnya semalam. Tapi dia berusaha untuk membuang jauh jauh pikiran itu, rasanya tidak mungkin kalau Marcel suka dengannya.


Apa bener dia cemburu sama aku? terus ngapain dia enggak mau turun? marah sama aku kali ya. Huhh Dea Dea kamu kok ke PD an gini sih ....


Dea bergumam sendiri, pikirannya tidak konsen sampai dia hanya menusuk nusuk telor ceploknya sampe hancur.


" Ngapain melamun, sana kamu panggil dia. Dia enggak mau turun kan juga gara gara kamu," ucap Tuan Angga membuyarkan lamunan Dea. Febby hanya tersenyum melihat adiknya diusili sama kakak iparnya.


" Apaan sih, kenapa jadi aku yang disalahin? " balas Dea ketus nggak mau kalah.


" Sudah cepet sana panggil, atau kamu selama sebulan enggak dapat uang jajan, enggak ada antar jemput. Bagaimana? " Tuan Angga memberi tawaran pada Dea.


" Ahh kakak ipar ... jahat banget sih, " ucap Dea cemberut sembari berdiri. Dia berjalan malas menaiki anak tangga dengan wajah kesal.


Semua ini gara gara dia, manja banget sih makan aja harus aku yang manggil. Awas aja kalau dia masih enggak mau turun juga.

__ADS_1


Dea mengomel sendiri sambil berjalan, sampai akhirnya dia sudah sampai di depan kamar Marcel. Dea menarik nafas dalam dalam, tahan, lalu menghembuskannya pelan pelan.


"Tok ... tok ... tokk ...Kak ... kak Marcel, ini aku Dea kak. Aku boleh masuk nggak? tolong dong kak buka pintunya, " ucap Dea memohon dengan suara yang dibuat selembut mungkin. Namun tidak ada jawaban sama sekali. Dea sudah mulai geram, dia memanggil lagi namun dengan suara yang lebih keras.


" Kak, kak Marcel buka dong, aku mau ngomong nih. Woy manusia nyebelin bukaaa atau aku .... " belum selesai Dea berteriak Marcel sudah membuka pintunya.


" Atau apa! Memangnya kamu mau ngapain kalau aku nggak mau buka pintu. Aku lagi malas ngomong mendingan kamu pergi sana! ganggu saja, " bentak Marcel pada Dea dan mengusirnya.


" Kamu bisa nggak sih ngomong lembut sedikit sama aku, aku nggak tuli jadi gausah bentak bentak aku kya gitu. Lagipula kalau tidak disuruh kakak ipar buat manggil kamu untuk sarapan bareng aku juga ogah kesini! " Dea menjawab ketus sambil menyeka air matanya yang menetes karena di bentak Marcel.


Dea lalu pergi meninggalkan Marcel. Menuruni anak tangga dengan cepat, lalu menyambar tasnya yang ada di kursi meja makan. Dia langsung pergi ke sekolah tanpa pamit dan tanpa sarapan. Dea langsung meminta supir untuk segera berangkat.


" Pak, ayo berangkat sekarang. Aku keburu telat nih, " ucap Dea pada supirnya.


Disisi lain


Marcel mengacak acak rambutnya sendiri, mengutuki kebodohannya. Lalu dia kembali ke dalam dan membanting pintu sangat keras.


Dia mondar mandir sendiri, memikirkan bagaimana kalau Dea semakin menjauh darinya. Sampai akhirnya Febby datang sambil marah marah.


" Apa yang kamu lakukan sama Dea, kenapa dia sampe nangis gitu! kau tahu dia jarang sekali nangis, terakhir dia nangis saat Ayah tiada. Dan sekarang dia nangis gara gara kamu, jawab kamu apain Dea! " bentak Febby pada Marcel.


" Maaf, tadi aku enggak sengaja bentak dia. Aku juga enggak tahu kalau dia bakal sampe nangis gitu, " Marcel memberi penjelasan. Namun Febby semakin kalap saat mendengar jawaban Marcel.

__ADS_1


" Apa! kau membentaknya? kau tau Almarhum Ayah dan Bunda saja enggak pernah bentak dia! aku sebagai kakaknya juga tidak pernah bentak dia. Lalu kau? memangnya siapa kau berani membentak adikku! " Febby benar benar marah pada Marcel, sampai Akhirnya Tuan Angga datang menyusul.


" Ada apa ini, apa yang sebenarnya terjadi, " tanya Tuan Angga menyela.


" Diam kau! ini semua juga gara gara kamu. Kalau saja kamu tadi tidak menyuruh Dea kesini, mungkin dia tidak akan menangis, " Tuan Angga juga kena marah sama Febby. Lalu Febby keluar sambil membanting pintu. Tuan Angga langsung mengejarnya, dia mengejar Febby sampai ke kamar mereka.


Febby duduk di sofa, disusul dengan Tuan Angga yang duduk disampingnya. Febby berusaha menjauh dengan menggeser duduknya. Namun semakin Febby menggeser duduknya, Tuan Angga juga semakin menggeser duduknya mendekatkan dengan Febby. Sampai akhirnya sudah mentok di ujung sofa, Febby sudah tidak bisa menggeser lagi. Dia lalu berdiri namun langsung ditarik oleh Tuan Angga, sehingga Febby jatuh kepelukan Tuan Angga.


" Sampai kapan kau akan terus menghindar dariku? " ucap Tuan Angga lembut sambil mengecup bibir Febby. Namun kali ini Febby benar benar sedang marah, dia langsung berdiri.


" Sebaiknya kau segera berangkat ke kantor sana. Papa sudah menunggu di bawah, aku males ribut sama kamu, " ucap Febby sambil menarik Tuan Angga dari duduknya dan mendorongnya keluar kamar. Tak lupa Febby juga memberikan tas kerjanya dan langsung mengunci pintu.


Tuan Angga berusaha membujuk Febby agar membukakan pintu namun sia sia. Akhirnya dia turun menemui Papa dan Mamanya di bawah.


" Maaf Pa, maaf ya Ma, sarapan pagi ini kacau gara gara aku. Kalau saja tadi aku enggak nyuruh Dea buat Manggil Marcel mungkin enggak seperti ini jadinya, " ucap Marcel meminta maaf sama Papa Mamanya atas kekacauan pagi ini.


" Sudahlah Nak, kamu enggak usah merasa bersalah gitu. Ini cuma masalah kecil, nanti mereka juga baikan kok. Sekarang kamu berangkat ke kantor ya sama Papa, " ucap Mamanya memberi saran pada Tuan Angga.


Akhirnya Tuan Angga berangkat ke kantor dengan papanya. Sedangkan mama menyusul Febby ke kamarnya.


" Tok ... tok ... tokk ... Feb, mama boleh masuk nggak? "


Febby langsung membuka pintu, mempersilahkan mamanya untuk masuk.

__ADS_1


" Iya Ma, ayo masuk. Ada apa Ma? apa Mama mau membahas mengenai kejadian tadi? aku minta maaf ya Ma sudah buat acara sarapan pagi kita jadi kacau, " ucap Febby sambil mengernyitkan alisnya.


Mamanya hanya tersenyum, menatap lekat menantunya itu. Lalu dia memeluk Febby dengan hangat, memberikan ketenangan dan kenyamanan pada Febby.


__ADS_2