Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Kebersamaan


__ADS_3

Febby mengerang keras menikmati setiap sensasi yang di berikan dari suaminya. Desahan desahan mereka berdua menggema memenuhi setiap sudut kamar itu. Memecah kesunyian malam. Tak terasa malam yang begitu sangat ditunggu tunggu akhirnya datang juga. Malam panjangpun baru saja dimulai.


Keesokan hari


"Kamu sudah bangun? Mandi sana aku sudah siapin sarapan buat kamu. Aku juga sudah mengemas barang-barang bawaan kita. Ayo cepat nanti kita terlambat loh, bisa ketinggalan pesawat. Aku sudah kangen banget sama Dea."


Tanpa menjawab ocehan Febby, dengan langkah malas Tuan Angga menyeret kakinya menuju kamar mandi. Sedangkan Febby sedang berbenah menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya. Tak butuh waktu lama Tuan Angga sudah selesai mandi. Bergegas ganti baju lalu menyusul Febby di meja makan.


"Selamat pagi sayang," suara Tuan Angga yang mengagetkan Febby yang sedang duduk melamun menunggu kedatangannya. Tuan Angga memeluk Febby dari belakang lalu mencium pipi Febby. Dia kemudian menarik kursi dan duduk di samping Febby. Dengan senyum canggung, Febby mengambilkan nasi untuk suaminya. Mereka menghabiskan sarapan tanpa kata sedikitpun. Tuan Angga sudah beberapa kali mencoba membuka pembicaraan namun Febby mengacuhkannya.


"Ya ampun! sudah hampir jam 09:00. Kita harus segera berangkat." Febby langsung berdiri dari tempat duduknya. Berlari ke kamar untuk mengambil barang-barangnya. Tuan Angga sebenarnya sedikit kecewa dengan sikap Febby yang acuh seperti itu. Berbanding terbalik dengan sikapnya semalam.


Tuan Angga menyusul Febby ke kamar. Menyiapkan barang yang akan di bawanya dalam koper. " Apa kau marah padaku? Kenapa dari tadi seperti mengacuhkanku," ucap Tuan Angga sambil mendekati Febby.


"Tidak, mana mungkin aku berani marah padamu," Febby tersenyum kearahnya. Seraya melingkarkan kedua tangannya di leher suaminya. "Aku hanya sedikit kecewa saja liburan kita begitu singkat," imbuhnya lagi.


Tuan Angga mengecup kening istrinya. " Nanti ya kita planning lagi secara matang. Jadi kita bisa liburan sampe kamu puas. Sekarang kita sudah harus pulang, Mama sama Papa sudah mau berangkat ke Amerika."

__ADS_1


Febby mengangguk pelan, lalu memeluk suaminya. " Sejak kapan kamu punya kebiasaan meluk duluan?" ucap Tuan Angga seraya membalas pelukan itu. Febby tersenyum kecut sambil melepaskan pelukannya. Tuan Angga langsung mencium bibir Febby.


" Ummh ... sudah. Nanti kita nggak keburu. Febby berusaha menolak mencari alasan. Tuan Angga tersenyum melihat tingkah istrinya yang terlihat kesal. "Ayo," Tuan Angga menarik kopernya berjalan lebih dulu diikuti Febby di belakangnya.


Pak supir dengan sigap membantu Tuannya memasukkan koper ke bagasi. Sedangkan Tuan Angga membukakan pintu untuk istrinya. " Sudah pak?" Tuan Angga menoleh ke belakang, memastikan bahwa semua barang bawaannya sudah masuk bagasi. "Sudah Tuan," Pak supir itu menutup bagasi lalu berjalan masuk ke mobil. " Sudah pak ayo buruan," Febby lagi lagi protes kesal. Sedangkan Tuan Angga hanya tersenyum kepada supir sambil memberikan isyarat agar segera berangkat. " Baik nona."


Disepanjang perjalanan Febby menyandarkan kepalanya pada jendela. Matanya menikmati setiap pemandang yang terlihat di pinggiran jalan. Sedangkan Tuan Angga hanya memperhatikan jalan. " Sudah sampai Tuan," Suara supir membuyarkan lamunan mereka berdua. Febby langsung turun dari mobil. Sedangkan Tuan Angga turun membantu supir mengambil koper. " Hati-hati di jalan Tuan, Nona. Semoga selamat sampe tujuan," ucap sang supir sopan sambil memberikan senyuman hangatnya. Febby dan Tuan Angga membalas senyuman hangat itu. " Iya Pak, terima kasih," jawab mereka secara bersamaan. " Semoga kita bisa bertemu lagi ya pak, jaga diri baik-baik," ucap Febby sambil berjalan melambaikan tangannya. Sang supir memperhatikan Tuan dan Nonanya perlahan menjauh tak terlihat. "Ayo cepetan," Febby berjalan agak cepat sambil menarik suaminya.


Karena terlalu kelelahan, di sepanjang penerbangan pulang Febby memilih tidur. Tuan Angga sempat merekam aksi tidur Febby. Entah buat apa rekaman itu nanti. Mungkin akan dijadikannya senjata untuk menggodanya nanti.


»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»


Dea mengernyitkan dahinya. Menatap kesal ke arah kakaknya. Tuan Angga tidak bisa menahan tawanya. " Dia kan sudah ditolak. Jadi dia memilih pergi ke Singapura untuk mencari pacar yang lebih cantik dari Dea."


Dea semakin kesal dibuatnya. Dia langsung masuk ke mobil tanpa memperdulikan yang lain. Memilih duduk di kursi paling belakang. Menyandarkan tubuhnya di jendela. Febby dan Tuan Angga tidak bisa menahan tawanya. Melihat Dea yang begitu kesal sepertinya membuktikan bahwa Dea juga punya perasaan dengan Marcel. " Sudah, sudah ayo kita masuk," ajak mamanya melerai agar mereka tidak menggoda adiknya lagi.


" Angga, kamu yang nyetir ya. Mama dibelakang saja nemenin Dea."

__ADS_1


" Mama ditengah saja. Aku mau duduk sendiri dibelakang," ketus Dea. Tuan Angga semakin terbahak melihat tingkah Dea. Dia melajukan mobilnya, membelah padatnya jalanan.


" Kamu kenapa marah? cemburu kalau Marcel cari cewek lain atau ... kamu kangen ya? Hahaha" ledek Tuan Angga sambil tetap fokus nyetir.


" Kakak Ipar kamu doyan banget ya ngledekin aku? gak takut apa nanti kena azab loh," balas Dea ketus. Sontak saja semuanya tertawa mendengar ucapan Dea. " Sudah sayang, kamu jangan ladenin kakak kamu," ucap mama berusaha menenangkan Dea yang mulai naik darah.


Dea hanya mendengus kesal. Menyandarkan kepalanya di jendela. Terlintas wajah Marcel dalam pikirannya. " Hei jangan melamun, ntar kesambet loh," suara Febby yang mengagetkan Dea membuat lamunannya buyar. " Eh enggak kok. Oh iya kak, aku dapat oleh-oleh nggak?" balas Dea mengalihkan pembicaraan.


" Ada, nanti ya kakak kasih kalau sudah sampai Rumah."


"Kamu nggak minta oleh-oleh juga sama Marcel?" Tuan Angga kembali meledek Dea. " Nggak." jawab Dea singkat. Disepanjang perjalanan pulang mereka menghabiskan waktu untuk menggoda Dea. Tak terasa mereka sudah tiba di depan pintu gerbang. Tuan Angga membunyikan klakson, dengan sigap satpam langsung membukakan pintu.


Sesampainya di depan Rumah mereka sudah disambut sama beberapa pelayan untuk membawa koper dan barang bawaan lainnya. Dea langsung turun dan berlari menuju kamarnya." Kak nanti oleh-olehnya anter ke kamar ya. Aku kebelet nih," ucapnya seraya berlari menaiki anak tangga. Sesampainya di dalam kamar, Dea menutup pintunya. Berjalan menuju tempat tidurnya. Dia merebahkan tubuhnya, terlintas kembali wajah Marcel dalam pikirannya. Ucapan kakak iparnya rupanya berhasil mengusik hati dan pikirannya.


»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»


Hay guys,, aku mau kasih bonus fotonya Febby selama liburan di pantai nih. Semoga suka ya😊😘😘

__ADS_1


Happy reading readers😘😘😘



__ADS_2