Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Bab 74. Pendarahan


__ADS_3

Jam pulang sekolah 


Anak-anak berhamburan menghampiri jemputan masing-masing. Lion celingukan, mengedarkan pandangannya ke arah gerbang dan juga tempat parkiran. Tidak ada pak Didin, dan juga tidak ada yang ia kenal. Seperti biasa, Lion duduk di kursi yang ada di depan sekolah. Itu adalah tempat khusus bagi mereka yang menunggu. 


Baru beberapa menit santai, senyum bocah itu mengembang melihat Lintang berjalan ke arahnya. 


"Mama," teriaknya sambil berlari. Tas yang ada di punggungnya ikut ke kanan kiri mengikuti gerakan lincahnya.


Aaawww


Tiba-tiba Lintang meringis. Mencengkram perutnya yang terasa nyeri akibat terkena ayunan tangan Lion. 


"Lion, lain kali hati-hati, nanti kalau dedek nya kenapa-napa gimana?" ucap Lintang dengan nada lembut. 


Tangan Lion mengulur, mengelus perut Lintang lalu menciumnya. Tertawa renyah saat Lintang mengacak rambutnya.


"Maafkan abang ya, Dek. Nanti abang janji kalau dedek sudah lahir pasti abang gendong."


Lintang tertawa geli mendengar ungkapan Lion, terdengar sangat mengharukan juga lucu. 


"Kita pulang yuk! Setelah itu kita jenguk opa," ajak Lintang menggandeng tangan putranya menuju mobil. 


Baru saja tiba di depan gerbang, Lintang dan Lion menghentikan langkahnya saat mendengar suara seseorang yang memanggil nama Lion. 


Keduanya menoleh bersamaan ke arah sumber suara. 


Bu Natalie, ngapain dia ada di sini? Apa dia mau jemput Lion juga? 


Lintang hanya bertanya dalam hati. Ia tak ingin berurusan dengan orang yang menurutnya tak begitu penting. 


"Mama," sapa Lion, namun ia tak ingin mendekati Natalie, tangannya tetap mencengkram erat ujung baju Lintang. Ucapan sang papa terpahat dalam otaknya dan tak boleh ia langgar.


"Bagaimana Lintang, aku yakin kamu sudah menerima dan melihat kiriman dariku?" tanya Natalie tanpa rasa malu. 


Lintang membungkuk, mencubit kedua pipi Lion dengan gemas. 


"Lion ke mobil dulu, mama mau bicara sebentar dengan mamanya Lion."


Lion mengangguk lalu berlari menghampiri pak Didin yang ada di samping mobil. 


"Aku pikir mbak adalah perempuan yang terhormat. Tapi ternyata aku salah." 


Lintang melipat kedua tangannya. Merasa iba dengan wanita yang ada di depannya itu. Sudah selingkuh dan diceraikan, namun masih saja berani menampakkan batang hidungnya. Seakan urat malu nya memang sudah putus.

__ADS_1


Seketika itu, wajah Natalie langsung berubah, nampak guratan amarah yang mulai mengendap. 


"Mbak Natalie seperti wanita murahan yang mau merebut suami orang," lanjut Lintang tanpa rasa takut. 


Plakk


Sebuah tamparan mendarat di pipi Lintang. Ia tak sempat menangis karena satu tangannya masih menahan perutnya yang terasa sakit. 


Pak Didin yang melihat kejadian itu langsung berlari dan berdiri di hadapan Lintang. Menghalangi tangan Natalie yang hampir saja menjambak rambut sang majikan. 


"Lebih baik ibu pergi dari sini! Kalau tidak, saya akan laporkan pada pak Yudha," ancam pak Didin dengan tegas, menunjuk ke arah mobil milik Natalie. 


Ya Allah, kenapa perutku sakit sekali, keluh Lintang dalam hati, tangannya merangkul punggung pak Didin lalu perlahan bersandar di tubuh pria itu. 


"Bu Lintang tidak apa-apa?" tanya pak Didin antusias. Menopang punggung Lintang yang hampir ambruk. 


"Pak, hubungi mas Yudha, bilang sama dia, perutku sakit," ucap Lintang lirih. Suaranya hampir terputus saat sesuatu terasa mengalir di bawah sana. 


"Ba… Baik, Bu." 


Pak Didin membawa Lintang ke mobil lalu menghubungi Yudha. 


Natalie menangkap cairan merah yang mulai membanjiri kaki Lintang. Ia memilih pergi. Tidak ingin membuat masalah pada Yudha yang pastinya akan menyusahkannya. 


Yudha yang baru tiba pun berlari menghampiri Lintang yang sudah berbaring di atas brankar. Ia melangkah lebar mengikuti ke mana dokter membawa istrinya.


"Mas, perutku sakit, aku takut," ringis Lintang menggenggam erat tangan Yudha. 


Yudha hanya melirik sekilas ke arah kaki Lintang, hatinya tersayat saat melihat sisa darah di sana.


Semua kata Yudha yang ingin meluncur tertahan begitu saja, ia tak mampu untuk mengucapkan sepatah katapun. Kecupan lembut mendarat di pipi lintang sebelum wanita itu dibawa masuk ke sebuah ruangan oleh tim medis. 


Pintu tertutup rapat. Yudha hanya bisa menyumbangkan doa dari balik pintu kaca transparan. 


Ya Allah, selamatkan istri dan anakku. Mereka adalah sumber kehidupanku dan Lion. 


"Papa," lirih Lion dari gendongan pak Didin. Bocah itu tak kalah sedih seperti dirinya yang kini hanya bisa mengeluh dalam hati. 


Yudha mengusap air matanya yang sempat lolos lalu mengambil alih Lion. 


"Maaf, Pak. Saya lalai menjaga bu Lintang," ucap pak Didin merasa bersalah. 


"Memangnya tadi bu Lintang kenapa? Kok bisa sampai pendarahan?" tanya Yudha. Ia merengkuh tubuh Lion, mencari kekuatan pada bocah mungil itu. 

__ADS_1


Pak Didin menceritakan apa yang ia lihat, dari awal bertemu dengan Natalie hingga Lintang kesakitan. Pak Didin juga mengatakan tragedi penamparan itu dengan jelas. Tak ingin menutupinya, juga tak ingin memberikan kesaksian palsu.


Seketika wajah Yudha merah padam. Hanya mendengar namanya saja telinganya sudah panas, apalagi saat ini ia mendengar wanita itu membuat ulah, seakan seluruh amarah tertuju pada mantan istrinya. Tidak ada kata maaf lagi baginya. 


Jika sampai terjadi sesuatu dengan istri dan anakku, aku akan pastikan kamu tidak akan hidup tenang, meskipun kamu mamanya Lion, aku tidak akan mengampunimu. 


Memukul dinding hingga tangannya memar. 


"Yudha, kamu ngapain di sini?" tanya Bu Fatimah dari ujung ruangan. Jalan mendekati sang menantu yang masih tampak redup. 


Yudha hanya menoleh tanpa menjawab, saking paniknya, ia sampai lupa memberi kabar pada sang ibu mertua, bahkan Yudha pun tak memberi tahu mama dan papanya. 


"Lintang pendarahan, Bu," jelas Yudha yang membuat bu Fatimah sok. 


"Apa?" Bu Fatimah tak kuat lagi, ia menghempaskan tubuhnya di kursi besi yang ada di depan ruangan. 


"Pak Didin, tolong kasih tau ayah kalau Lintang dirawat di sini!" titah Yudha pada sang supir, lalu ia merogoh ponselnya menghubungi kedua orang tuanya. 


Tak berselang lama, pak Juli datang dengan jalan yang sedikit tertatih-tatih. 


"Di mana Lintang?" tanya pak Juli. 


Yudha hanya menunjuk ke arah dalam, sedangkan bu Fatimah masih sibuk dengan tangisannya. 


Cobaan apalagi ini, kapan putriku bahagia. Setelah dia menderita karena ulahku, kini ia harus berjuang dengan masalah lain. 


Pak Juli duduk di samping bu Fatimah. Meskipun permintaannya sudah ditolak, ia tetap berusaha menenangkan wanita itu.


Pintu terbuka lebar. Seorang dokter menghampiri Yudha yang nampak lesu dan bersandar di dinding.


"Bagaimana keadaan istri dan anak saya, Dok?"


Wajah wanita yang ada di depan Yudha tersenyum tipis. "Bu Lintang tidak apa-apa, bayinya juga selamat. Tapi saya sarankan beliau untuk tidak melakukan aktivitas berat."


Dada Yudha terasa sejuk bak tersiram air es.


Bersambung


Novel baru sudah rilis


Silahkan mampir, tinggal klik dan cari cover yang di bawah ya 👇👇👇


__ADS_1


__ADS_2