Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Bab 99. Titik terang


__ADS_3

Lintang duduk di jok mobil bagian belakang, namun jiwanya seakan masih tertinggal di rumah sakit. Ia menatap nanar ke arah dalam, ada sesuatu di sana, ia sadar akan hal itu. Tangannya mengulur membuka pintu mobil. 


"Kakak mau ke mana?" tanya Bian menghentikan Lintang yang hampir turun. 


Lintang membius lidahnya yang terasa kelu. Apa yang harus dikatakan pada Bian? Apa dia akan masuk tanpa sebab musabab dan menuruti kata hatinya, bahkan rumah sakit itu bukan tempat biasa ia periksa, namun entah kenapa  ingin sekali kembali ke sana. 


Andreas datang membawa sekantong kresek Vitamin. Ia duduk di tempat kemudi. Menyerahkannya pada Bian lalu menyalakan mesin.


"Tunggu!"


Lintang mengelus dadanya. Menatap Andreas yang juga menatapnya. 


"Apa pak Andreas mengenal Claire?" tanya Lintang antusias. 


"Perempuan yang mencintai pak Yudha?" Andreas balik tanya. 


Lintang tersenyum. "Tadi aku melihat dia berjalan buru-buru, apa mungkin ada keluarganya yang sakit?"


Andreas ikut menatap ke arah rumah sakit. Keadaan wajar saja, siapapun berhak kesana, apalagi Claire adalah warga Singapura, namun Andreas tidak berani untuk mengabaikan ucapan sang majikan. 


"Mungkin saja, Bu. Memangnya kenapa?" tanya Andreas. 


Bian hanya mendengarkan perbincangan  mereka berdua tanpa ingin berkomentar. Ia tak tahu seluk beluk wanita yang bernama Claire. Sehingga bungkam lebih baik. 


"Kasihan saja."


Andreas menyalakan mesinnya kembali. Namun, lagi-lagi Lintang menghentikannya yang hampir melajukan mobil. 


"Ada apa lagi, Bu?"


"Hp saya ketinggalan di ruangan Dokter tadi," ucap Lintang menepuk dahinya. 


"Biar aku saja yang ambil, Kak." Bian melepas seat beltnya lalu keluar. 


"Bian, tunggu!" teriak Lintang dari dalam mobil. 


Entah kenapa, hatinya terus mendorong ingin masuk ke dalam, seperti tertarik oleh sesuatu di dalam sana. 


"Apa perlu saya temani, Bu?" tawar Andreas membantu Lintang membuka pintu mobil. 


"Tidak usah, cuma mau ambil hp saja, kok." 


Andreas memarkirkan mobilnya lagi mengingat ruangan Dokter kandungan yang lumayan jauh dari depan. 


Setibanya di lorong, Lintang berpapasan dengan dokter kandungan yang memeriksanya. Kebetulan wanita itu mengantongi ponsel miliknya yang tertinggal. 

__ADS_1


"Tadinya saya bingung mau bawa ke mana. Saya sudah mencari ibu ke mana-mana, tapi nggak ada, untung Ibu ingat," sanggah nya tersenyum. Menyerahkan ponsel milik Lintang. 


Lintang tersenyum lalu mengucapkan terima kasih karena sudah bersusah payah mencarinya. 


"Bagaimana dengan pasien tadi?" Seorang dokter melewati Lintang dan Bian. Mereka terlihat serius saat bercakap. 


"Sepertinya harapannya sangat kecil. Beberapa kali detak jantungnya sudah berhenti, Dok," jawab suster yang mengikutinya. 


Lintang menoleh ke belakang, menatap dokter itu yang semakin menjauh. Untuk yang kesekian kali dadanya terasa sesak bak terhimpit batu besar. 


"Dok, memangnya pasien yang ada di ujung itu kenapa?" 


Dokter itu mengingat-ingat ruangan yang dimaksud Lintang. 


"O, itu pasien kecelakaan, dia koma sudah hampir lima bulan, tapi tidak ada perubahan. Saya dengar dari Dokter Kia, katanya tadi sempat kritis." 


Deg deg deg 


Jantung Lintang tak bisa dikondisikan. Jika membahas tentang kecelakaan, ia teringat dengan sang suami yang kini entah kemana. 


Tanpa sadar, kaki Lintang terus mengayun mengikuti beberapa suster yang berlari kecil. 


"Kakak mau ke mana lagi? Jalan keluarnya di sana."


Bian menunjuk arah pintu depan. Namun, Lintang tak menghiraukannya sama sekali. 


Ternyata benar, itu keluarganya Claire. Lintang mengucap dalam hati saat melihat gadis itu. 


"Bagaimana kondisinya, Dok?" Suara Claire terdengar bergetar seperti menahan ketakutan. 


"Kondisi pasien semakin menurun, sepertinya tidak ada harapan lagi untuk hidup, tapi kami akan terus berusaha." 


"Yudha harus selamat, Ma. Dia tidak boleh meninggal." 


Sekujur tubuh Lintang membeku seketika saat mendengar penuturan Claire. Ia sangat yakin kalau telinganya masih normal dan tak salah dengar. 


Rasa yang bergejolak tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ini bukan sebuah kebetulan, namun petunjuk atas doa yang ia lantunkan setiap detik.


Nama yang disebut Claire tadi membuat air mata Lintang meleleh membasahi pipi. 


"Bian, apa kamu dengar yang dikatakan Claire?" tanya Lintang sembari mengusap air matanya. 


Bian mengangguk, "Dia menyebut nama Yudha, memangnya kenapa, Kak? Bukankah nama Yudha banyak di dunia ini."


Lintang melanjutkan langkahnya untuk menghampiri Claire. 

__ADS_1


Dentuman sepatu dan lantai terdengar nyaring membuat Claire menoleh. Matanya terbelalak saat melihat Lintang berdiri tuk jauh darinya. 


"Ngapain kamu ke sini?" 


Kenapa dia bisa ada di sini, nggak mungkin ada orang yang tahu kalau aku yang sudah membawa Yudha ke sini. 


Claire mematung di depan pintu. Kedua tangannya merentang ke kanan dan kiri. Raut wajahnya nampak takut melihat Lintang yang semakin mendekat. 


Bian tak tinggal diam, ia menghubungi Andreas dan merangkul sang kakak, takut jika Claire berbuat sesuatu padanya. 


"Siapa yang ada di dalam?" tanya Lintang lirih. Namun terdengar menekan. 


"Kamu tidak perlu tahu. Ini bukan urusan kamu," jawab Claire dengan cepat. 


"Tapi tadi aku dengar kamu menyebut nama Mas Yudha, jangan bilang kalau kamu membawanya ke sini?" Lintang semakin menyelidik. 


"Ada apa ini, Claire?" seorang wanita mendekati Claire. Lalu menatap Lintang. 


"Tidak ada apa-apa, Ma. Dia hanya perempuan gila yang kesasar." Claire meyakinkan ibunya. 


Andreas datang dan berdiri di samping Lintang. 


"Ada apa, Bu?" Andreas menatap Claire yang ada di depan Lintang. 


"Pak, Mas Yudha ada di dalam, dan Claire yang sudah menyembunyikannya." 


"Apa?" Andreas terkejut. Ia mendorong tubuh Claire hingga tubuh gadis itu terhuyung. Tanpa meminta izin, Andreas membuka pintunya lebar-lebar. Matanya langsung tertuju pada sosok yang terbaring lemah di atas brankar. 


"Pak Yudha..." 


Andreas menggeser tubuhnya, memberi ruang pada Lintang untuk bisa melihat sang suami. 


Tubuhnya kurus dengan mata terpejam. Dadanya kembang kempis menahan napas yang nampak berat. Beberapa kabel menghiasi seluruh dada dan tangannya membuat Lintang berderai air mata. 


Lintang ingin menjerit, mengadu tentang kesedihannya selama ini, namun lidahnya kaku dan tak sanggup untuk mengucap. Kakinya pun lentur hingga berdiri saja harus dengan bantuan Andreas dan Bian. 


Mas Yudha, sapa Lintang dalam hati. 


"Itu beneran kak Yudha, Kak." Bian ikut bahagia melihat kakak iparnya yang ada di depan mata. 


Andreas menuntun Lintang menuju brankar, matanya ikut digenangi air mata melihat Yudha yang tak sadarkan diri. 


Tangan Lintang mengelus pipi suaminya, lalu turun ke punggung tangan Yudha. Ia tidak sedang bermimpi, itu nyata, bahkan Lintang bisa merasakan sakit yang diderita suaminya saat ini. 


Sebuah kecupan mendarat di kening Yudha, Lintang meninggalkan satu tetes air mata di sana. 

__ADS_1


"Bangun, Mas. Aku ada di sini. Apa kamu tidak merindukanku dan Lion?" 


Semua orang yang ada di ruangan itu hanya bisa diam bagaikan patung. Menyaksikan Lintang yang terus mengurai kerinduannya.


__ADS_2