
Bu Fatimah tetap tinggal di rumah Lintang, sedangkan pak Juli tinggal di rumah sederhana. Rumah yang memiliki banyak kenangan indah, namun juga terselip kenangan pahit. Tempat yang menjadi sejarah kehidupan bagi keluarga Lintang. Mengantarkan mereka hingga kini. Tak bisa dipungkiri, Lintang pun pernah bahagia di sana meskipun berakhir tangis.
Meskipun jarak jauh, Bu Fatimah tak khawatir dengan apa yang dilakukan pak Juli. Baginya saat ini tidak perlu membebani dirinya yang sudah tua. Cukup mengikuti alur dan memilih mana yang harus ia ikuti.
Suara tawa renyah menghiasi telinga Bu Fatimah yang berada di dapur bersama Bi Siti. Kendatipun Yudha melarangnya untuk beraktivitas, tetap saja bu Fatimah tak bisa diam. Tangannya gatal dan terus ingin melakukan sesuatu.
"Kamu harus sering periksa, takut bayi kita kenapa-napa." Yudha tak henti-hentinya mengelus perut Lintang. Entah kenapa, kali ini ia sangat posesif pada sang istri.
Lintang tak menanggapi. Matanya tetap fokus pada layar di depannya, sedangkan tangannya sibuk merogoh camilan dari toples.
Bu Fatimah datang menghampiri keduanya. Memberi tahu jika makan siang sudah siap.
"Mas saja yang makan, aku nggak mau," tolak Lintang yang masih menikmati cemilannya.
"Nggak boleh gitu, kamu harus makan. Kasihan perut kamu," ucap Yudha sedikit memaksa. Setelah kejadian kemarin, ia tak bisa membiarkan Lintang seenaknya sendiri.
Terpaksa Lintang ikut beranjak, mengikuti Yudha menuju ruang makan.
Baru mencium aromanya saja hidung Lintang sudah nyengir. Isi perutnya sudah mulai naik. Padahal, makanan itu kesukaannya. Tapi bayinya seakan malah menolaknya.
"Jangan dipaksa, Yud. Kasihan Lintang, dia tidak mungkin mencelakai bayinya sendiri, nanti kalau sudah tiga bulan keatas pasti akan pulih kembali," tutur Bu Fatimah yang menyiapkan piring untuk Yudha.
"Tapi masih lama, Bu," bantah Yudha tak mau kalah.
Ia tetap menarik kursi untuk Lintang duduk. Melayani wanita itu dengan berbagai makanan yang dianjurkan dokter.
Lintang menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan saat Yudha menyodorkan sendok ke arahnya.
"Kalau nggak mau bilang saja, pengen makan apa? Tapi jangan jauh-jauh mintanya," ucap Yudha menawarkan diri namun juga memasang tameng, takut Lintang memintanya membeli makanan diluar kota seperti kala itu.
Lintang mengerutkan alisnya. Ucapan sang suami justru memancing lidahnya yang memang dari tadi menginginkan sesuatu.
"Kata orang, setiap kemauan ibu hamil itu harus dituruti. Kalau tidak, anaknya ileran, iya kan, Bu," sindir Lintang melirik Yudha yang mulai menyantap hidangannya.
Sabar Yudha, bagaimanapun juga istri kamu yang lebih berkuasa, anggap saja ucapannya itu adalah perintah yang harus kamu lakukan.
Yudha mengangguk cepat meskipun hatinya menggerutu.
Pintu depan terbuka lebar. Lion dengan tas yang menggantung di punggungnya masuk. Tak seperti biasa yang langsung berlari menghampiri Lintang dan memeluknya, kali ini bocah itu berjalan menuju kamar tanpa menoleh ke arah mama dan papanya.
__ADS_1
"Lion… "
Bahkan panggilan Lintang pun di abaikan dan terus melanjutkan langkahnya. Setelah masuk ke kamar, Lion menutup pintunya dengan keras hingga Yudha meletakkan sendok di tangannya.
"Kenapa dia?" tanya Lintang cemas. Itu bukan Lion yang ia kenal.
Yudha mengangkat kedua bahunya. Menatap pintu kamar yang tertutup rapat.
"Mungkin tadi berantem sama temannya," sahut Bu Fatimah.
"Biar aku yang bicara. Mas Lanjutkan makan saja."
Lintang beranjak lalu berjalan ke kamar sang buah hati. Sebagai seorang ibu, Lintang tak bisa mendiamkan begitu saja perilaku Lion yang sedikit tak wajar.
"Lion, buka pintunya!" seru Lintang sambil mengetuk pintu, meskipun ia bisa masuk, tetap meminta izin, memberi contoh yang baik pada Lion.
Tidak ada jawaban dari dalam yang membuat Lintang semakin gelisah.
"Sayang, buka pintunya! Mama mau bicara," ulang Lintang lebih mengeraskan suaranya.
Ceklek
Ia masuk menatap Lion yang duduk di tepi ranjang dengan wajah melengos dan tak ingin menyapa dirinya.
"Kayaknya lagi ada yang marah."
Lintang membuka gorden jendela. Merapikan beberapa mainan Lion yang sedikit berantakan. Matanya melirik Lion yang masih bergeming dengan kedua tangan dilipat di dada.
Benar-benar keturunan Yudha Anggara, angkuh nya luar biasa.
Lintang duduk disamping Lion. Bocah itu menggeser duduknya menjauh dari Lintang.
"Marah sama mama?" tebak Lintang.
Lion masih membisu. Wajahnya semakin cemberut saat Lintang mengulurkan tangan ke arahnya.
"Ya sudah, kalau Lion marah, mendingan mama pulang ke rumah yang lama," ancam Lintang terhenyak menuju pintu.
Kenapa dia nggak bicara sih, bikin pusing saja.
__ADS_1
Bahkan saat Lintang memegang knop pun Lion masih tak membuka suara hingga terpaksa Lintang memalingkan tubuhnya.
"Lion yakin nggak mau bicara sama mama? Ini kesempatan terakhir Lion, kalau mama sudah keluar dari sini, itu artinya Lion tidak bisa bertemu mama lagi."
Lintang mengatakan dengan jelas dan gamblang yang seketika membuat hati Lion takut.
"Mama," rengek Lion kemudian. Ia menangis tersedu-sedu hingga pundaknya naik turun.
Lintang menghampirinya dan duduk di bawah. Mensejajarkan wajahnya dengan wajah imut Lion. Mengusap air matanya yang membanjiri pipi gembul bocah itu.
"Sekarang cerita, Lion kenapa?" tanya Lintang sambil memeluk tubuh Lion yang masih gemetar.
"Tadi Lion bertemu mama."
Lintang langsung menangkap siapa yang dimaksud putra sambungnya itu, pasti Natalie.
"Terus mama bilang apa pada Lion?" tanya Lintang menyelidik. Ia takut otak Lion dicemari dengan masalah yang tidak semestinya.
"Mama bilang kalau Lion punya adik, pasti mama dan papa akan lebih menyayangi dia, kalau begitu Lion nggak punya adik."
Deg
Jantung Lintang seakan berhenti berdetak. Hatinya terasa pilu mendengar penjelasan Lion, ia tak menyangka mantan istri suaminya berpikiran buruk tentang dirinya dan Yudha.
"Lion sayang sama Mama Lintang, gak?" tanya Lintang memastikan.
Lion mengendurkan pelukannya lalu mengangguk pelan. Menatap bibir Lintang yang tersenyum manis.
"Itu ucapan yang tidak benar. Jangan didengarkan. Lion tidak boleh percaya begitu saja dengan omongan orang meskipun mama Lion sendiri. Seandainya Lion punya adik sepuluh, kasih sayang mama pada Lion tidak akan berkurang."
"Tapi Lion bukan anak kandung mama," bantah Lion seperti yang ia dengar dari Natalie.
"Tidak ada bedanya, Sayang. Mama tetap menganggap kamu sebagai anak kandung mama. Dan mama tidak akan membedakan kamu dan adik-adik nanti," jelas Lintang meyakinkan.
"Beneran, Ma?" tanya Lion lagi, rasa takut yang dari tadi menyelimuti nya kini mulai berlalu seiring dengan ungkapan Lintang.
"Benar, Sayang." Kembali memeluk tubuh mungil Lion. Mencium kening bocah itu lalu mengelus rambutnya.
Betapa polos nya makhluk yang belum punya dosa itu, namun harus dikotori dengan hati yang cacat.
__ADS_1
Yudha yang mengintip di balik pintu hanya tersenyum, apalagi saat ia mendengar adik Lion sampai sepuluh, seketika jiwa kelelakiannya langsung bereaksi.