
Febby duduk di pinggiran Telaga. Menikmati sejuknya angin yang berhembus mesra menyapa lembut tubuhnya. Sejenak dia bisa melupakan kekesalannya pada Selin.
Dari kejauhan, samar samar terdengar suara anak kecil yang sedang menangis. Febby mencari arah suara itu. Sampai pandangannya tertuju pada anak kecil yang sedang terduduk di pinggiran Telaga. Febby menghampiri anak itu.
"Kamu menangis? Kenapa?" tanya Febby seraya duduk disamping anak itu. "Aku kangen sama Ayah. Huhuhu ...." jawab anak kecil itu disela sela tangisnya.
"Memangnya ayahmu kemana?"
"Ayahku di Rumah. Biasanya setiap akhir pekan dia selalu mengunjungiku kesini. Tapi sekarang Ayah jarang datang," matanya terlihat sayu, kemudian dia menundukkan kepalanya. Hati Febby tersentuh, dia membayangkan jika dirinya yang mengalami hal demikian.
"Mungkin Ayahmu sedang sibuk. Jadi tidak sempat mengunjungimu," Febby berusaha menghibur anak itu seraya mengusap usap lembut rambut anak kecil itu.
"Mungkin Ayah memang sudah tidak sayang aku lagi. Makanya dia mengirimku kesini."
"Mana mungkin. Semua orang tua pasti sayang sama anaknya. Mungkin saja dia sedang sibuk. Jadi kamu harus bersabar, jangan berpikir yang macam macam dulu."
Anak itu menatap sayu kepada Febby. "Terima kasih Kakak cantik," ucap anak itu seraya memeluk Febby. Febby membalas pelukan itu, seraya memberikan senyuman hangatnya.
"Oh iya nama kamu siapa?" tanya Febby seraya melepaskan pelukannya. Dia menatap lembut anak kecil itu. "Namaku Jensen. Nama Kakak cantik siapa?"
"Namaku Febby," jawab Febby singkat dengan senyuman manisnya. "Apa Kakak cantik mau menjadi temanku?" pinta anak itu dengan tatapan memohon. "Em ... bagaimana ya, ok deh aku mau," jawab Febby mengiyakan permintaan anak kecil itu.
"Horre ... aku punya teman. Oh iya, aku sudah terlalu lama disini. Nanti bibi mencariku, aku pulang dulu ya kak. Da ... daahhh..." ucapnya sambil berlari dengan melambaikan tangannya. Febby memperhatikan punggung anak kecil itu sampai tidak terlihat.
"Febby, syukurlah akhirnya aku menemukanmu," suara itu mengagetkan Febby, yang tak lain adalah Tuan Angga, suaminya. Febby menatap malas suaminya.
__ADS_1
Tuan Angga mengernyitkan dahinya. "Apa kamu masih ngambek?" seraya mendekat duduk disampingnya. Febby tak menjawab, dia lebih memilih mengalihkan perhatiannya menatap indahnya air Telaga waktu pagi.
"Sayang, maafkan aku. Aku janji mulai sekarang akan kupastikan tidak akan ada wanita lain masuk ke Rumah tanpa ijin darimu. Kumohon maafkan aku," ucap Tuan Angga memohon seraya menjewer kedua telinganya sendiri. Febby menatapnya tajam, kemudian tatapan itu berubah menjadi sebuah senyuman.
"Baiklah, karena moodku sudah membaik jadi sekarang kamu ku maafkan."
Mendengar jawaban Febby, Tuan Angga langsung memeluk Febby. Hingga membuat Febby susah bernafas. "Apa kau ingin membunuhku?!" maki Febby seraya memukul dada suaminya.
"Aku terlalu senang. Maafkan aku," jawabnya santai seraya memeluk Febby lagi. Febby langsung berontak melepaskan diri. Wajahnya terlihat kesal.
"Oh ya sayang, dari mana kamu tahu aku ada disini?" tanya Febby tanpa melihat kearah suaminya. "Kamu itu istriku, hati dan jiwa kita saling terikat satu sama lain. Jadi mudah saja bagiku untuk menemukanmu."
Mendengar jawaban suaminya, Febby hanya bisa mendengus kesal. "Lalu, dari mana kamu tahu tempat ini?" tanya Tuan Angga menyelidiki. "Aku tidak tahu tempat ini. Tadi saat aku sedang marah entah kenapa aku bisa tiba disini. Kenapa memangnya?"
"Tidak apa apa sih. Hanya saja Telaga hijau ini kan sudah masuk kawasan GREEN LAKE Resort. Jadi ini sudah masuk kawasan elit. Heran saja kenapa kamu bisa masuk kesini."
"Kamu tahu?" tanya Tuan Angga kaget. "Jangan kaget seperti itu. Aku ini adalah Nyonya Wijaya, istri dari Angga Wijaya penerus dari Wijaya Enterprize. Jadi kenapa heran seperti itu kalau aku tahu tempat ini? Kenapa? kamu tidak memberi tahuku ada tempat sebagus ini," Febby malah balik menjawab ketus. Tuan Angga menarik nafasnya dalam dalam, kemudian menghembuskannya perlahan.
"Bukan seperti itu. Aku hanya berniat ingin memberikan kejutan saja denganmu. Tapi kamu sudah tahu lebih dulu," jawab Tuan Angga sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Oh ya, kita pulang ya. Aku ada meeting siang ini. Nanti setelah selesai meeting, aku akan menjemputmu," bujuk Tuan Angga. Febby hanya mengangguk pelan. "Tapi Selin sudah pergi kan? Aku malas kalau harus bertemu dengannya," ucap Febby kesal.
"Sudah, ayo sekarang pulang," ucapnya seraya membantu Febby berdiri dari duduknya.
Untung saja dia tidak bertemu dengan Jensen. Belum saatnya mereka bertemu, aku harus mempertemukan mereka disaat yang tepat.
__ADS_1
Batin Tuan Angga seraya menghembuskan nafasnya pelan. Dia lalu merangkul Febby menuju mobil. " Eh tunggu, aku bawa mobil sendiri," ucapnya seraya melihat kearah mobilnya. " Sudah tinggalkan disini saja, tidak akan hilang. Biar nanti diambil sama supir," jawab Tuan Angga santai.
******
Jam menunjukkan pukul 14:00. Febby tertidur di ruang tamu. Dia menunggu suaminya pulang sampai ketiduran. Sampai pelayan membangunkan Febby. " Non, Non Febby, bangun Non," pelayan itu membangunkan Febby seraya mengguncang guncangkan pelan tubuh Febby.
"Uhh ada apa si Bi," jawab Febby sambil menggeliat. Membuka matanya perlahan.
"Anu Non, ini Tuan menelpon."
Febby langsung mengangkat telepon itu. " Hallo," ucap Febby dengan suara serak khas bangun tidur. " Hallo sayang, sebentar lagi aku sampai rumah. Bersiap siap ya," ucap seseorang diseberang sana, yang tak lain adalah Tuan Angga.
"Baiklah," jawab Febby singkat seraya menutup teleponnya. Dia merebahkan dirinya di sofa lagi. Sampai akhirnya dia tertidur lagi saat suaminya pulang.
Menemui istrinya yang masih ketiduran di ruang tamu. Tuan Angga menggendongnya menuju kamar. Sedangkan tas kerjanya dibawakan pelayan sampai ke kamarnya.
Tuan Angga merebahkan Febby dengan sangat hati hati. Takut jika istrinya itu akan terbangun. Dia menatap lembut wajah cantik istrinya itu. Wajah yang selalu dipenuhi dengan keceriaan.
"Bi, tolong siapkan makanan untuk Dinner ya. Aku ingin mengajak dia Dinner romantis di rumah saja. Sepertinya dia terlalu capek."
"Baik Tuan," jawab pelayan itu kemudian pergi meninggalkan kamar itu.
Tuan Angga memilih untuk mandi, badannya terasa lengket. Tak butuh waktu lama dia sudah keluar dari kamar mandi. Dilihatnya Febby masih tertidur pulas, dia tidak tega membangunkannya. Dia langsung mengeringkan rambutnya lalu berganti pakaian.
Tuan Angga membantu para pelayan untuk mendekor taman belakang. Dia ingin mempersiapkan semuanya dengan sangat sempurna. Meskipun hanya di rumah dia ingin memberikan kesan yang indah untuk Febby.
__ADS_1
"Huh, selesai," ucap Tuan Angga sambil memandangi hasil dekorasinya dibantu dengan para pelayannya. "Bi, kasih tahu security untuk tidak membiarkan tamu siapapun masuk ya." Tuan Angga memberi perintah pada pelayannya. "Baik Tuan," jawab pelayan itu singkat seraya pergi meninggalkan Tuan Angga.