
Sebuah tamparan mendarat di pipi kokoh Yudha dengan keras. Bu Fatimah merasa ditipu oleh pria itu yang tak menjelaskan siapa jati dirinya dengan jelas. Ingatannya yang awalnya hanya sekilas kini sudah kembali normal, bisa mengingat semuanya apa yang terjadi sebelum dirinya gila.
Menatap tajam ke arah Yudha. Mencengkram kerah baju menantunya hingga tak bisa berkutik. Meluapkan amarah yang pernah terpendam sangat lama.
"Dasar laki-laki biadab, kamu pernah menolak putriku, tapi kamu menikahinya tanpa restu dariku. Apa kamu tidak tahu malu?"
Mendorong tubuh kekar Yudha hingga terhempas di mobil.
Hampir saja Lintang berlari menolong sang suami yang nampak kesakitan, tangan Bu Fatimah dengan cekatan menghalanginya.
Ucapan bu Fatimah yang menohok membuat hati Yudha berdenyut. Ia hanya bisa mendengarkan dengan tubuh yang mulai bergetar menahan takut. Takut jika sang mertua memisahkan dirinya dengan Lintang.
Lintang pun sesenggukan dan menggeleng, namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Hanya air mata yang terus menetes kini menjadi saksi bagaimana sang suami harus menerima kemarahan ibunya.
"Bu, kasihan mas Yudha," ucap Lintang di sela-sela tangisnya.
Tatapan bu Fatimah bagaikan hunusan pedang yang siap menggores luka. Ia tak peduli pada Lintang yang terus merengek. Yang pastinya, kemarahannya pada Yudha harus terlampiaskan.
"Kamu belain dia!" Ini pertama kali bu Fatimah membentak Lintang.
Yudha mengangkat tangannya. Memberikan kode pada Lintang untuk diam dan tidak membelanya.
"Tidak, Bu. Lin __"
"Tutup mulut kamu! Jangan ikut campur urusan ku dan Lintang. Lebih baik kamu pergi, tinggalkan anakku!" sergah bu Fatimah memotong ucapan Yudha.
Bak sambaran petir di malam yang mencekam itu. Dada Yudha terasa amat perih mendengarkan permintaan bu Fatimah.
Bu Fatimah menarik tangan Lintang dengan kasar. Berjalan ke arah gerbang yang sudah terkunci.
"Ibu mau ke mana! Ini rumah Ibu."
Yudha ikut mengejar dan menggenggam satu tangan Lintang dari belakang. Aksi tarik-menarik pun terjadi merebutkan Lintang yang masih sesenggukan.
Bu Fatimah melepas tangan Lintang. Berkacak pinggang, menantang sang menantu yang kini berhasil memeluk putrinya.
"Lintang, sekarang kamu katakan, pilih ibu atau dia?" Menunjuk Yudha yang tak juga melepaskan pelukannya.
Pilihan yang sangat sulit, Lintang tak mungkin memilih salah satu di antara mereka. Namun, juga tak bisa memilih dua-duanya, pasti bu Fatimah akan semakin marah pada Yudha.
__ADS_1
Hati Yudha kembali berdenyut, ia tak habis pikir dengan ibu mertuanya yang memberikan pilihan itu pada Lintang.
Yudha teringat dengan pesan dokter Ega lalu berbisik, "Kamu pilih ibu, Sayang. Aku akan tidur di rumah mama. Kita hanya akan berpisah untuk sementara waktu. Aku yakin, nanti pasti ibu akan merestui kita."
"Bagaimana kalau ibu tidak menerima, Mas." Lintang semakin terisak, ia pun takut jika sang ibu benar-benar memisahkan hubungannya yang kini berada di puncaknya cinta.
Lintang membenamkan wajahnya di dada Yudha. Kedua tangannya terus melingkar di punggung sang suami. Tak menyangka, kejadian yang tadinya manis berakhir tragis seperti ini. Bahkan lebih tragis dari yang ia bayangkan.
"Jangan bicara seperti itu, bagaimanapun caranya aku akan tetap mempertahankanmu."
Sebuah kecupan mendarat di kening Lintang bersamaan dengan terlepasnya pelukan hangat itu.
"Aku pilih ibu."
Lintang melepaskan tangan Yudha. berjalan pelan menghampiri Bu Fatimah yang memalingkan pandangannya. Memeluknya dengan erat, mencurahkan kasih sayangnya yang kian lama menghilang.
Bu Fatimah membalas pelukan Lintang dan ikut menangis.
"Tidak ada orang yang tulus pada orang yang miskin seperti kita. Mereka hanya akan merendahkan kamu, mengertilah!" ucapnya, yang mana itu menusuk jantung Yudha.
"Iya, Bu. Aku ngerti, sekarang kita masuk, di sini dingin."
Kedua nya meninggalkan Yudha yang masih mematung dengan hati yang memar. Membuka pintu utama lalu masuk tanpa menoleh.
"Aku mencintai anak ibu. Maafkan aku," ucap Yudha sebelum meninggalkan rumah Lintang.
"Ini kamar ibu."
Lintang mengajak Bu Fatimah ke salah satu kamar yang memang sudah disiapkan untuknya jauh hari sebelum pindah. Yudha sengaja membuat ruangan khusus untuk bu Fatimah jika sewaktu-waktu wanita itu sembuh.
Bu Fatimah mengedarkan pandangannya, menyusuri setiap sudut ruangan yang nampak mewah.
"Lintang…"
Memanggil Lintang dengan nada datar. Kakinya berhenti di depan meja rias. Menatap bayangannya dari pantulan cermin.
Lintang mendekat dan memeluk sang ibu lagi.
"Mana buktinya kalau rumah ini milik kamu," tanya Bu Fatimah dengan tenang, sedikit pun tak ada penyesalan sudah mengusir Yudha dengan semena-mena.
__ADS_1
"Sebentar, aku ambilkan." Lintang keluar dari kamar itu dan berjalan menuju kamarnya.
Beberapa menit kemudian, Lintang kembali menghampiri Bu Fatimah. Menunjukkan surat-surat bukti kepemilikan rumah itu pada sang ibu.
"Kamu kerja di mana?" tanya Bu Fatimah mengimintidasi.
"Aku kerja sebagai karyawan di perusahaan __"
Ucapan Lintang menggantung, tidak mungkin ia jujur, takut bu Fatimah murka lagi.
"Milik papanya teman aku," lanjut Lintang sedikit gugup.
"Sekarang lebih baik ibu tidur, besok aku kerja." Lintang menggiring bu Fatimah menuju ranjang lalu menyelimuti nya. Mungkin dengan begitu, sedikit membuat ibunya tenang.
Di sisi lain
Yudha masuk ke rumah sang mama dengan wajah lelahnya. Tidak ada sedikitpun semangat untuk melangkah. Kejadian tadi menampar dirinya secara keseluruhan hingga terperosok ke dalam luka yang mendalam.
"Yudha."
Suara Bu Indri menghentikan langkah beratnya. Yudha menoleh ke arah sumber suara tanpa ingin mendekat.
Bu Indri menghampirinya. Menatap penampilannya yang amburadul dengan rambut acak-acakan.
"Kamu kenapa? Mana Lintang?" tanya Bu Indri antusias, mengambil jaket Yudha yang tersampir di pundak.
Yudha menghela napas panjang, mengurai sedikit beban yang memenuhi otaknya.
"Sekarang ibu sudah sembuh, dia sudah pulang ke rumah."
Bu Indri tertawa bahagia. "Tapi kenapa kamu seperti ini, apa ada masalah lain?" tanya Bu Indri lagi.
"Dia tidak menerimaku sebagai menantunya, Ma. Ibu mengusirku dan memintaku untuk meninggalkan Lintang."
Seketika Yudha memeluk Bu Indri dengan erat. Menyalurkan apa yang ia rasakan saat ini. Seakan jatuh dan tenggelam ke dasar jurang yang terdalam mengingat permintaan bu Fatimah.
Dada bu Indri ikut sesak. Ia tahu bagaimana perasaan Yudha, pasti hancur berkeping-keping. Setelah kegagalan pernikahannya, kini ditimpa lagi dengan masalah yang jauh lebih rumit.
"Yang sabar, mama yakin kamu dan Lintang akan bisa bersama lagi. Ini ujian cinta kalian. Jangan putus asa untuk meminta restu dari bu Fatimah. Yakinkan dia, kalau kamu adalah suami dan menantu yang baik, Mama akan selalu berdoa untuk kalian."
__ADS_1
Setelah mendapat dukungan dari bu Indri, Yudha sedikit lebih tenang, meskipun malam ini akan terasa hampa tanpa Lintang di sampingnya.