Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Bab 53. Kemarahan Gita


__ADS_3

Lintang menggeliat, meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku akibat pergulatan. Tanpa disengaja tangannya menyentuh sesuatu yang membuat matanya terbuka.


Lintang menoleh, menatap sang suami yang ada di samping nya. 


"Mas Yudha," seru Lintang masih belum sepenuhnya sadar akan keberadaannya saat ini. 


Yudha terus tersenyum, menyangga kepala dengan satu tangannya. Jarinya merapikan rambut Lintang yang menutupi kening. Mengagumi kecantikan alami gadis itu lewat sentuhan demi sentuhan lembut. 


Sebuah kecupan mendarat di pipi Lintang. "Terima kasih," ucapnya mengiringi. 


Lintang mengerutkan alisnya, menarik selimut hingga ke atas dada. 


"Untuk apa?" tanya Lintang polos, ia merasa ada yang aneh dengan suaminya saat ini. 


"Untuk yang tadi. Ternyata kamu semakin pintar."


Lintang menatap langit-langit kamar yang sedikit asing, mencerna ucapan Yudha. Menelusuri saat mendengar kata 'tadi'. 


Astagfirullah 


Lintang menepuk jidatnya lalu melompat dari ranjang. Melihat jam yang ada di nakas. Ternyata sudah hampir empat jam dirinya di kamar Yudha. 


"Kenapa, Sayang?" tanya Yudha menggunakan kedua tangannya sebagai bantal. Sedikit pun tak gelisah seperti Lintang saat ini. 


Lintang memutari ranjang. Duduk di atas tubuh Yudha yang berbaring. 


"Ini semua gara-gara, Mas." Memukul dada bidang sang suami dengan pelan. 


Bukan merasakan sakit, Yudha justru merasakan sesuatu yang berbeda


Geli-geli gimana gitu, saat Lintang terus menggerakkan tubuhnya di bagian paha. Yudha menarik pinggang Lintang hingga wanita itu ambruk di atasnya. 


"Gimana cara keluar dari sini?" rengek Lintang menerima pelukan Yudha yang terasa hangat dan menenangkan. 


"Sekarang kamu mandi dulu, nanti aku bantu."


Lintang segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri seperti perintah Yudha.


Lintang terus menatap tampilannya di depan cermin, sedangkan Yudha membantunya mengeringkan rambut, menyingkat waktu untuk segera keluar dari perangkap itu. 


"Apa aku perlu mengumpulkan semua orang lagi?" ucap Yudha menatap istrinya dengan lekat, ikut memastikan jika make up nya pun sudah rapi. 


Mungkin ini saatnya semua orang tahu kalau istrinya mas Yudha, Lintang mengucap dalam hati. 


"Tidak usah, Mas. Lagipula hubungan kita halal, apa salahnya orang tahu."


Akhirnya Lintang mulai sadar. 


Setelah keluar dari kamar itu, Lintang menghampiri Yudha yang berjalan ke arah meja kerja. Ia mencium punggung tangan pria itu sebagai tanda pamit. 


"Nanti kalau aku belum pulang tunggu saja di ruangan, aku jemput."

__ADS_1


Lintang mengangguk lalu melambaikan tangan sebelum membuka pintu. 


Sepertinya aman 


Tidak ada siapapun yang melintas, hanya ada Andreas yang baru saja keluar dari ruangannya. Hilya juga nampak sibuk hingga tak menyadari jika Lintang keluar dari ruangan Yudha. 


"Selamat siang, Bu," sapa Andreas. 


"Siang," balas Lintang kikuk, ia masih canggung untuk menerima panggilan sebagai nyonya Yudha Anggara. 


Tak hanya menyapa, Andreas pun mengantarkan Lintang hingga ke lift, memastikan jika istri bosnya itu selamat. 


Ada-ada saja. 


Pintu lift terbuka di lantai sepuluh, Lintang langsung keluar. Berjalan dengan tenang tanpa melihat siapapun yang ada di sekelilingnya. Hingga suara Gita yang memanggil namanya membuat langkahnya terhenti di ambang pintu ruangan. 


Gita menghampiri Lintang yang masih memunggungi nya. 


"Kamu dicari pak Setiawan," ucap Gita datar. Menatap lagi Lintang dari atas hingga bawah. Lagi-lagi, ia menangkap keanehan dengan tampilan wanita di depannya itu.


Lintang mengangguk masih dengan tubuh yang memunggungi sang sahabat. 


"Sekarang, Lintang." Menarik lengan Lintang hingga wanita itu berhadapan dengan Gita. 


"Iya, aku ke ruangan pak Setiawan sekarang," jawab Lintang gugup. 


Meninggalkan Gita yang masih dipenuhi tanda tanya. 


"Masuk!" sahut pak Setiawan dari dalam. 


Lintang menghampiri pak Setiawan yang berdiri di samping meja kerja. 


Tak seperti atasan dan bawahan, Pak Setiawan malah membungkuk ramah ke arah Lintang.


"Ad… ada apa bapak memanggil saya?" tanya Lintang diselimuti rasa panik hingga suaranya terputus-putus. 


"Seharusnya saya yang bertanya, Bu Lintang."


Eh, ada apa ini, kenapa pak Setiawan memanggilku bu, apa dia ketularan pak Andreas.


Mengingat asisten suaminya tadi pagi. 


"Maksud, Bapak?"


Lintang meremas ujung bajunya, entah saat ini tak bisa berpikir dengan jernih mendengar panggilan bu mulai merambah. 


"Saya sudah tahu kalau ibu adalah istri pak Yudha."


Pasti mas Yudha sayang bilang pada pak Setiawan. Dasar mulut ember, kalau begini aku nggak bisa bebas. 


"Sekarang saya bingung harus bersikap seperti apa pada Ibu," ucap Pak Setiawan serius. 

__ADS_1


"Bersikap saja seperti biasa, Pak. Saya tidak mau diistimewakan. Bapak harus profesional. Tetap marahi saya jika salah."


Pak Setiawan tak banyak bicara, ia hanya mengangguk setuju meskipun dalam hati tidak bisa seperti itu. 


...----------------...


Tidak terasa, akhirnya jam pulang sudah tiba, meskipun hari ini penuh drama, Lintang mampu menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. 


Ia merapikan meja kerjanya. Seperti perintah Yudha, tetap di ruangannya menunggu sang suami menjemputnya. Namun, tiba-tiba Gita datang memanggilnya. 


"Aku pulangnya nanti saja, kamu pulang duluan."


Gita menghela napas panjang, ia tak keluar malah menghampiri Lintang. 


"Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan, kita sudah berjanji untuk saling terbuka. Tapi kenapa kamu melanggarnya?" 


Lintang beranjak dari duduknya. Berdiri di depan Gita yang nampak marah.


Benar kata Gita, aku sudah menodai persahabatan ini. 


Lintang menunduk, ia merasa bersalah sudah menutupi kenyataan dari Gita. Gadis yang selama ini membantunya disaat susah. 


"Git, aku __" ucap Lintang dengan bibir bergetar. 


Gita mencengkal tangan Lintang yang hampir menyentuhnya. 


"Sekarang katakan, apa yang kamu lakukan di ruangan pak Yudha? Jangan bilang kalau kamu __" 


Gita menghentikan ucapannya. Dari lubuk hati yang terdalam, tak percaya  Lintang melakukan hal yang rendah. Namun, melihat gerak-gerik Lintang  membuat kepercayaannya goyah begitu saja. 


"Sebenarnya mas Yudha adalah suamiku," ucap Lintang tanpa menatap, ia tak punya pilihan lain selain jujur dan membongkar semuanya. 


"Apa?"


Ini bukan sekedar berita yang pasti bakalan trending di kantor, namun fakta yang menggemparkan publik. Gita menatap Lintang yang masih menunduk. Seakan tak percaya, namun itulah yang dikatakan sahabatnya. 


"Sebenarnya mas Yudha itu duda, dia menikahi ku sepuluh hari yang lalu. Awalnya aku juga tidak ingin pernikahan ini terjadi, karena aku tidak mencintainya. Mungkin karena takdir, kita menikah. Sekarang terserah kamu, percaya atau tidak, yang pastinya aku sudah jujur."


Gita masih melongo, bahkan penjelasan Lintang bak angin yang lewat begitu saja. Kenyataan yang sangat mencengangkan baginya. 


"Kamu jahat, Lin. Kamu tega menyembunyikan sesuatu yang sangat penting ini dariku, sahabat kamu sendiri." Menunjuk dadanya, wajahnya berapi-api dan siap meluapkan amarahnya. 


"Mulai sekarang, kita bukan teman lagi." 


Gita berjalan mundur menjauh dari Lintang yang terus menggeleng. 


"Gita tunggu!" teriak Lintang menatap punggung Gita berlalu. 


Setelah sahabatnya menghilang di balik dinding, Lintang menumpahkan air matanya. 


"Ini semua salahku, seharusnya aku jujur pada Gita dari awal." Merutuki diri sendiri dengan apa yang sudah terjadi. 

__ADS_1


__ADS_2