
Ditempat lain, seseorang sedang berdiri di balkon Apartemen. Membiarkan wajah tampannya disapu lembut angin sore. Memandang pemandangan sore kota dari atas Apartemen. " Apa Dea memikirkan aku juga? Kenapa aku harus jatuh hati dengan gadis kecil seperti dia. Arghhhh ...." Marcel mengusap kasar wajahnya. Dia mengutuki dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia menaruh perasaan dengan gadis kecil yang masih sekolah?
" Marcel," suara seseorang membuyarkan lamunannya. " Eh Selina. Ada apa?" jawab Marcel acuh. Selina adalah teman masa kecil Marcel dan Tuan Angga. Mereka tumbuh dan besar bersama. Sampai akhirnya Ayah Selina pindah ke Singapura dan menetap disana.
" Aku dengar kamu sedang ada kunjungan kesini. Jadi aku langsung datang cari kamu kesini."
Marcel menatap wanita yang ada di depannya. Lalu memberikan senyuman manis untuknya. " Sekarang sudah kesini. Ada yang ingin kamu bicarakan?" ucap Marcel seraya duduk. Disusul dengan Selina yang duduk di sampingnya. " Gitu banget sih ngomongnya. Aku kangen tau sama kamu. Secara kan kita sudah lama banget gak ketemu sejak aku lulus SMA." Selina memasang wajah sedihnya.
" Jangan pasang muka sedih begitu. Ya sudah bagaimana kalau sekarang kita cari makan diluar. Biar kita bisa lebih santai ngobrolnya," ucap Marcel memberinya ide. Selina menyetujui ide Marcel. Kemudian mereka pergi ke sebuah Restoran yang dekat dengan Apartemen Marcel. Disana mereka ngobrol mengungkapkan kangen mereka yang lama tidak bertemu. Bercanda mengenang masa lalu. Sampai akhirnya Selina bilang bahwa dia akan kembali ke Indonesia lagi.
" Jangan bercanda," balas Marcel datar. " Aku serius. Aku bahkan sudah mengurus semuanya. Aku kangen sama Angga. Jadi, aku memutuskan untuk tinggal di Indo lagi."
Wajah Marcel seketika memucat. Bagaimana dia akan memberitahu Selina bahwa Angga sudah menikah. Selina pasti akan sangat terpukul. Ya, Selina adalah teman masa kecil Angga yang diam diam mempunyai perasaan dengan Angga. Namun Selina tidak berani mengungkapkannya. Dia hanya bisa mencurahkan isi hatinya pada Marcel.
" Kau bela belain balik cuma demi Angga? Aku takut nanti kamu akan kecewa kalau Angga sudah mempunyai pilihan. Dan itu bukan kamu."
"Apa maksud kamu? Apa Angga sudah punya kekasih?" wajah Selina tampak kecewa. Dia menggenggam erat tangan Marcel. Berharap kenyataannya tidak seperti yang dia pikirkan.
" Baiklah. Jika kamu tidak mau menjawab tidak apa-apa. Aku akan tetap kembali. Aku akan merebut hati Angga lagi untuk aku," ucap Selina sambil menyeka air matanya. Kemudian dia beranjak pergi meninggalkan Marcel sendirian di Restoran.
__ADS_1
" Bakal terjadi perang dunia ke 3 ini," ucap Marcel sambil menepuk jidatnya. Dia kemudian beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»
Jam menunjukkan pukul 07.00 am. Marcel sudah bersiap siap untuk segera pulang. Tiba- tiba Selina datang ke Apartemennya sambil membawa koper. " Kamu? ngapain bawa koper kesini? mau pindah tinggal disini kah?" tanya Marcel heran. " Aku mau ikut kamu pulang. Sudah ayo jangan bengong. Sebentar lagi jadwal penerbangan ke Indo. Nanti kita telat." Marcel masih diam mematung mendengar ucapan Selina. Ucapan Selina sukses membuat jantungnya hampir copot.
" Oh, ok. Ayo kita berangkat," jawab Marcel dengan senyum kaku. Kemudian mereka berangkat bareng ke Bandara.
Perang dimulai, perang dimulai, bagaimana dengan Febby?
Marcel bergumam sendiri sambil berjalan mengekori Selina. Membayangkan bakal terjadi perang dunia ke3 yang sebentar lagi akan dimulai membuatnya menjadi pusing.
»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»
Dea sedang asyik sarapan di meja makan sendirian. " Makannya lahap bener. Laper apa doyan?" tanya Tuan Angga yang tiba-tiba datang mengagetkan Dea. " Ah, Kakak Ipar bisa nggak sih gak usah ngledekin mulu. Oh ya Kak, katanya Mama hari ini kak Marcel pulang ya," ucap Dea sambil tetap mengunyah makannya.
" Iya. Kenapa emang?" jawab Tuan Angga singkat.
" Gapapa sih. Cuma tanya. Oh ya kak aku nanti gak pulang ya. Mau nginep di rumah temen. Ada tugas kelompok, jadi sampaikan sama kak Febby ya. Aku sudah minta ijin Mama kok."
__ADS_1
" Temen apa temen?" lagi lagi Tuan Angga menggodanya.
" Temen!!!" jawab Dea ketus dan langsung pergi berangkat sekolah. Meninggalkan Tuan Angga sendirian di meja makan. " Loh Dea kenapa? pasti kamu godain lagi ya?" ucap Febby yang tiba tiba nongol.
" Eh, sayang. Iya, habisnya seru kalau liat dia kesel," jawabnya seraya berbalik dan mencium kening Febby. Febby hanya terkekeh mendengarnya. " Ya sudah, ayo kita sarapan dulu. Kamu tunggu sebentar ya, aku panggil Mama sama Papa dulu," ucap Febby seraya pergi memanggil Mamanya.
Febby mengetuk pintu kamar mamanya. " Ma, sarapannya sudah siap." Namun tidak ada jawaban dari mamanya. Kemudian Febby membuka pintu kamar mamanya. Tidak ada orang? batin Febby. Febby bergegas turun kebawah menemui suaminya.
" Mama sama Papa nggak ada di kamar," ucap Febby panik. " Iya, Mama sama Papa sudah berangkat tadi subuh. Dia cuma sempat pamit sama Dea. Ini barusan Mama telfon. Katanya kamu harus jadi istri yang baik dan penurut. Jadi nurut sama apapun perintahku, Jangan mencoba untuk menolak," ucap Tuan Angga dengan senyum menggoda. Febby hanya bisa mendengus kesal.
" Kenapa nggak bangunin kita? Kita kan bisa mengantar Mama sampai Bandara?" ucap Febby lirih pasang wajah kecewanya. Tuan Angga tidak menanggapi ucapan Febby. Dia hanya diam melihat ekspresi wajah sedih Febby. Wajah cantiknya tampak lebih imut saat dia memasang wajah sedih. " Plakkk ...." " Ngapain liatin aku kayak gitu?" ketus Febby dengan wajah kesal.
" Awww ... sakit tauk. Kenapa? Karena kamu kelihatan lebih imut dan nggemesin saat sedang marah marah. Hahaha," Febby masih diam mematung dengan wajah cemberutnya. Tuan Angga langsung menariknya sampai dia terduduk dalam pangkuannya. " Dari pada cemberut seperti itu, mending aku ambilin makan. Terus suapin aku, okey?" ucapnya seraya mencium lembut pipi Febby.
Tanpa menjawab sepatah katapun. Febby langsung mengambilkan nasi untuk suaminya. Dengan sungkan dia juga menyuapi suaminya. "Oikkkk ..." Febby tersentak kaget saat Tuan Angga langsung mencium bibirnya. Febby meronta berusaha melepaskan diri. Namun Tuan Angga semakin mengeratkan pelukannya. " Aihhhh...." Tuan Angga melepaskan ciumannya. Bibirnya berdarah. Tuan Angga menatap Febby tajam. Febby seolah tak peduli dengan tatapan tajam suaminya. Dia langsung berdiri dan melenggang pergi meninggalkannya. Namun langkahnya terhenti saat Tuan Angga dengan cepat menarik Febby kembali. Dia langsung mencium bibir Febby lagi. Kali ini lebih agresif dan lebih kasar.
Febby meronta melepaskan diri. Namun tenaganya sama sekali tidak membuat Tuan Angga bergeming. Sampai akhirnya air matanya menetes dari pelupuk matanya. Tuan Angga melepaskan ciumannya. Menatap Febby khawatir sekaligus kesal.
"Maaf," hanya itu yang keluar dari mulut Tuan Angga. Dia menatap lembut wajah sendu Febby, lalu memeluknya erat. " Maafkan aku, aku tidak bermaksud melukaimu. Aku hanya sedikit terbawa emosi saat kamu menolakku. mAafkan aku sayang." Febby hanya mengangguk. Dia kemudian bergegas pergi menuju kamarnya. Tuan Angga mengekorinya dibelakang.
__ADS_1