
"Tolong lepaskan aku!" teriak Lion dengan mata terpejam. Beberapa kali ia menangis histeris dan menggerak-gerakkan tangannya.
Lintang yang sudah datang lebih dulu ikut menangis melihat kondisi putranya yang memprihatinkan. Ia ikut terguncang saat Lion terus merancau.
"Sayang, tenanglah! Kamu sudah aman," bisik Lintang sambil merengkuh tubuh mungil Lion yang berbaring di atas brankar. Bu Indri dan bu Fatimah pun ikut mendampingi bocah itu, sedangkan pak Juli dan Pak Radit masih mengurus penjahat itu di kantor polisi.
Akses keluar masuk ke kota masih dalam pantauan. Hanya mereka yang tidak mencurigakan yang boleh melintasi nya.
Lintang mengusap tangan mungil Lion dan sesekali menciumnya. Ia sendiri tak bisa membayangkan saat bocah itu berada di tangan penculik, pasti sangat ketakutan.
Perlahan Lion membuka mata. Ia menyusuri setiap sudut ruangan lalu berhenti pada sosok wanita cantik yang mencium pipinya.
"Mama…" panggilnya dengan suara lemah.
Lintang tersenyum dan kembali mendekap tubuh Lion.
"Iya, Sayang. Ini mama, Oma juga ada disini." Menunjuk ibu dan mertuanya bergantian.
Setelah kesadarannya kembali normal, Lion menyibak selimut yang membalut sebagian tubuhnya. Dengan polosnya bocah itu menggerayangi kasur yang ada di bawahnya.
Kok nggak basah? Hanya mengucap dalam hati. Menatap Lintang, lalu menundukkan kepalanya, takut kena marah karena sudah ngompol di celana. Sebab, Lintang sudah memperingatkan padanya untuk hidup disiplin dan menjaga kebersihan serta tidak boleh sembarangan pipis, namun kali ini ia merasa melanggarnya.
"Lion nyariin apa, Sayang?" tanya Bu Indri.
Lion menggeleng tanpa suara. Bibirnya sedikit manyun yang membuat Lintang cepat membaca apa yang dipikirkan putranya.
"Apa Lion melakukan kesalahan?" tanya Lintang dengan lembut. Mengusap pucuk kepala Lion dengan lalu mengecup nya.
Lion mengangguk berat. Ia tidak bisa berbohong, meskipun hal sekecil apapun harus jujur pada Lintang.
"Ma, tadi aku pipis di celana," ucapnya ragu-ragu. "tapi aku nggak sengaja karena om nya nggak mau nurunin aku," lanjutnya menjelaskan.
Lintang menahan tawa lalu berdehem. Bu Indri saja tak bisa menaklukkan cucunya. Namun, Lintang hanya butuh sekali kedip sudah bisa meluluhkan hati bocah itu.
"Lion harus paham dengan apapun yang mama larang, tapi jika Lion merasa terdesak ataupun dalam keadaan bahaya, Lion boleh melanggarnya, termasuk pipis."
"Jadi mama nggak marah?" Lion mulai girang saat melihat wajah Lintang yang terus mengulas senyum padanya.
__ADS_1
Lintang menggeleng yang membuat hati Lion lega dan kembali membaringkan tubuhnya.
"Lion anak yang baik, dan mama nggak berhak memarahi kamu selama tidak melakukan kesalahan apapun."
Di depan rumah sakit
Andreas menghentikan mobilnya tepat di depan pintu. Yudha dan Keanu sudah turun lebih dulu. Keduanya berjalan lenggang memasuki tempat itu. Namun, tiba-tiba dering ponsel dari saku jas sang mantan mafia itu menghentikan langkah keduanya.
Menggeser lencana hijau dengan segera setelah menatap nama yang muncul.
"Halo, ada apa?" sapa Keanu pada orang yang ada di balik benda pipihnya.
Keanu mengerutkan alisnya sedikit menjauh dari Yudha. Lalu berbicara dengan suara lirih. Seperti ada sesuatu yang sedikit rahasia.
"Baik, aku akan segera ke sana." Setelah menutup sambungannya, Keanu menghampiri Yudha yang masih menunggunya.
"Yud, sepertinya aku harus pergi, lain kali aku akan ke sini lagi. Atau ke rumah kamu saja." Keanu mengucap pelan, merasa tak enak hati karena harus membatalkan pertemuannya dengan keluarga Yudha.
Terpaksa Keanu meninggalkan rumah sakit demi menjalankan tugas lainnya. Pertemuannya yang singkat itu akhirnya terpisah kembali.
Meskipun begitu, Yudha dan pria yang memiliki nama asli Keanu Delbert itu sudah saling cerita tentang kehidupan mereka, bahkan Keanu tak tahu saat Yudha mengalami kecelakaan karena saat itu dirinya berada di Inggris.
Ditemani Bian dan Andreas, Yudha memasuki ruang rawat. Dari belakang pintu ia sudah mendapat sambutan dari sang sitri, Mama dan juga ibu mertuanya. Dari atas brankar Lion hanya bisa cekikikan setelah beberapa waktu lalu mendengar cerita dari Lintang.
"Mas, kamu nggak papa, kan?" tanya Lintang berhamburan memeluk sang suami. Apalagi saat menghubungi Bian, Lintang sempat mendengar suara baku hantam antara suaminya dan penculik itu.
Yudha membalas pelukan hangat itu.
"Aku nggak papa. Sayang. Kamu tenang saja, suamimu ini pernah belajar pencak silat dan lumayan menguasai ilmu bela diri."
Mencubit pipi Lintang yang semakin tembem.
Yudha menghampiri Lion. Menanyakan keadaan bocah itu, meskipun terlihat baik-baik saja, Yudha takut ada luka yang tak diketahui.
"Terima kasih ya, Mas. Kamu sudah menepati janjimu. Membawa Lion kembali padaku," ucap Lintang pada sang suami.
__ADS_1
"Ada orang yang lebih berjasa, Sayang. dia sahabatku, mantan mafia."
"Dan tadi kak Yudha meminjam identitas nya biar terlihat keren," timpal Bian yang membuat kakak iparnya itu malu hingga ke ubun-ubun.
Semua bergelak tawa, termasuk Lion yang paham akan pembicaraan mereka.
Mengucap kata mafia, tiba-tiba Lintang mengingat akan sesuatu, namun entahlah ia tidak ingin memutar memorinya kembali. Cukup sekarang dan kedepannya ia bisa menjalani kehidupannya dengan orang-orang tercinta.
"Di mana dia, Kenapa nggak ikut ke sini?" sahut Bu Indri menatap ke arah pintu depan.
"Tadinya mau ikut, Ma. Tapi dia balik lagi karena ada tugas mendadak."
Yudha mengangkat tubuh Lion dan memangku nya. Memberikan pelukan lembut. Seperti Lintang, ia pun ikut tenggelam dalam kecemasan dan kekhawatiran.
"Tapi papa juga hebat, bisa mengalahkan preman itu." Lion teringat dengan tubuh besar orang yang menculik nya, bahkan seakan bayangan pria tadi masih terasa mengikutinya.
"Lion, lain kali kamu nggak boleh ikut dengan sembarang orang. Papa nggak mau kejadian tadi terulang lagi," pesan Yudha pada sang putra.
Ingin diam, namun bibir Lion terasa gatal hingga ia menjelaskan alasannya ikut dengan wanita yang menurutnya asing. Sebab, Hilya pun menggunakan kaki tangannya untuk datang ke rumah Yudha.
"Kemarin Mama juga bilang seperti itu, tapi aku lupa karena tante itu memberikan banyak mainan dan permen."
Diam sejenak, melirik Lintang yang nampak memperhatikannya.
"Tapi aku ingat kalau melanggar harus dihukum." Lion menjewer kedua telinganya. "Aku tidak akan mengulanginya. Dan mulai besok, tidak akan makan permen lagi."
"Patuhnya cucu oma," sanjung Bu Indri.
Pintu ruangan terbuka, pak Radit dan pak Juli datang. Mereka menghampiri Yudha yang masih setia diatas brankar.
"Apa yang kamu lakukan pada Hilya?" tanya pak Radit.
"Tenang saja, Pa. Aku akan menggunakan caraku sendiri untuk membuatnya jera."
Melirik ke arah Bian, sepertinya Yudha akan menggunakan adiknya itu sebagai umpan untuk menghancurkan hidup mantan sekretarisnya.
"Bian, sepertinya sebentar lagi akan ada tugas berat untuk kamu," bisik Andreas.
__ADS_1