Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Kecelakaan


__ADS_3

Lama mereka saling menatap. Kebencian terlihat jelas dimata Febby. Tuan Angga lalu mengecup lembut bibir tipis Febby dan melepaskannya lagi.


" Harus dengan cara apa aku memberitahu dirimu bahwa aku benar benar mencintaimu. "


Tak ada jawaban dari Febby, matanya berkaca kaca menyimpan segala kepedihan yang dia rasakan. Disaat dia sudah mulai menerima kenyataan, disaat dia ingin membuka hati untuk suaminya, disaat itu juga dia tahu alasan dibalik pernikahannya.


" Lepaskan aku, kumohon lepaskan aku Angga, " suaranya melemah, tangisnya pecah. Tuan Angga langsung mengusap air mata itu, tatapannya iba. Dia tidak menyangka sebelumnya bahwa semuanya akan menjadi serumit ini. Dia hanya ingin menikahi Febby, wanita yang sudah menarik perhatiannya sejak awal bertemu. Dia juga tidak rela jika sampai Neddy yang mendapatan Febby.


" Apa kau benar benar tidak menginginkan pernikahan ini? Apa benar tidak ada namaku di hatimu sedikitpun? " ucapnya sambil memegang pipi Febby untuk menatapnya.


" Aku tidak menginginkan pernikahan ini. Aku juga tidak mencintaimu, " jawab Febby lirih tertunduk, dia tidak berani menatap wajah Tuan Angga.


" Baiklah kalau begitu, aku akan segera menceraikanmu. Aku tidak akan mengganggu hidupmu lagi. Maafkan aku yang sudah lancang masuk dalam kehidupanmu. Tapi satu hal yang harus kau tau, aku mencintaimu, sangat sangat mencintaimu. "


Tanpa sadar Tuan Angga meneteskan air mata saat mengatakan itu. Tangis Febby pun kembali pecah saat Tuan Angga mengucapkan itu. Masih dalam posisi berhadap dengan posisi tangan Tuan Angga memegang pipi Febby, menyenderkan kepalanya pada kening Febby. Mereka menangis bersama.


Setelah itu Tuan Angga pergi keluar kamar meninggalkan Febby sendiri. Dia pergi menenangkan diri. Kemarahan dan kekecewaan bercampur menjadi satu.


Andai kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu, sangat sangat mencintaimu Febby.


Kemudian Tuan Angga pergi keluar entah kemana. Mobilnya melaju kencang membelah ramainya jalanan kota. Matanya masih berkaca kaca, dia tidak pernah menyangka pernikahannya akan berakhir seperti ini. Dirinya dipenuhi amarah, dia semakin menambah kecepatan laju mobilnya. Sampai di Perempatan jalan, karena tidak fokus dia tidak melihat ada truk yang sedang melintas. Dia langsung banting stir dan naas dia kehilangan kendali sehingga mobilnya terperosok ke jurang yang sangat dalam.


Sampai akhirnya kabar kecelakaan itu sampai ke telinga Marcel. Dia langsung memberi tahu kepada Febby bahwa Tuan Angga kecelakaan. Bagai disambar petir di siang bolong, Febby hampir tidak percaya. Baru beberapa menit yang lalu dia masih bertengkar dengan suaminya, sekarang dia mendapat kabar bahwa suaminya kecelakaan.


Marcel dan Febby bergegas menuju TKP. Disepanjang perjalanan Febby hanya bisa menangis mengutuki dirinya sendiri. Sedangkan Marcel diam fokus menyetir.


Andai saja tadi aku tidak bertengkar dengannya. Andai saja tadi aku mencegah kepergiannya, mungkin semuanya tidak akan pernah terjadi.

__ADS_1


Sesampainya di TKP, Febby turun dari mobil dan langsung lari menerobos garis polisi. Dia berteriak histeris melihat dalamnya jurang, bahkan mobilnya saja tidak terlihat dari atas. Kemungkinan suaminya selamat itu sangat kecil. Dia hanya bisa duduk bersimpuh menangis, mengutuki kebodohannya.


Marcel dan polisi mengajak Febby keluar dari area garis polisi. Marcel memeluk erat Febby, dia tahu meskipun mereka selalu bertengkar tapi terlihat jelas kesedihan diwajah Febby.


" Angga itu orang yang kuat, dia pasti selamat. Tenanglah .... " Marcel berusaha menenangkan Febby. Febby diam tak menjawab. Dia hanya bisa menangis, mulutnya tidak mampu untuk mengatakan sepatah katapun.


" Maaf Tuan, Nyonya, sepertinya proses evakuasi korban memakan waktu yang lumayan lama. Karena sulitnya medan, " ucap Polisi yang mendekat kearah mereka berdua.


" Tidak! kalian harus menyelamatkan suamiku! Dia tidak boleh tiada. Dia harus selamat, kumohon .... " suara Febby yang melemah menahan sesak yang dia rasakan.


" Kami akan berusaha secepat mungkin untuk mengevakuasi korban, mohon kerjasamanya Nyonya. "


" Iya baik Pak, terima kasih. Kami serahkan kasus ini pada anda, " jawab Marcel singkat. Lalu Marcel mengajak Febby untuk pulang, menunggu kabar suaminya dari polisi.


" Aku ingin disini sampai suamiku ditemukan. "


" Kau tidak mungkin menunggu disini, bahkan kapan polisi bisa mengevakuasi suamimu saja kita tidak tahu. Kau lihat sendiri jurang ini sangat dalam dan lebat, tidak mudah untuk segera menemukan suamimu. Tolong sekali ini saja kau mendengarkan saran dariku. "


Dia duduk bersimpuh, mengutuki dirinya sendiri. Dia menyalahkan dirinya sendiri dengan semua kejadian yang menimpa suaminya.


Tiba tiba Dea masuk, dia diberi tahu oleh Marcel sehingga Dea langsung ijin pulang sekolah lebih awal. Dea memeluk kakanya, mereka menangis bersama. Walau bagaimanapun Tuan Angga adalah kakak iparnya, orang yang sangat baik menurut Dea.


Hari sudah larut malam, Febby sudah tertidur karena kelelahan. Dea lalu keluar kamar turun ke bawah menemui Marcel yang masih mondar mandir diruang tengah.


" Kak, kok kakak belum tidur? apa ada kabar mengenai kakak ipar? " tanya nya serius.


" Eh rupanya kau gadis manis. Kamu sendiri ngapain jam segini belum tidur, anak kecil itu enggak boleh tidur malam malam, " ledek Marcel pada Dea.

__ADS_1


" Ihh aku tuh serius kamu malah bercanda. Lagian ya aku tuh bukan anak kecil lagi, " jawab Dea ketus sambil pasang wajah sok imutnya.


" Ye gitu aja marah, makanya jangan suka usil. Gak enak kan kalo diusilin balik? "


" Udah deh gak usah basa basi, sudah ada kabar belum? "


" Sudah, sekarang Angga sudah dibawa ke Rumah Sakit, " jawab Marcel ragu ragu.


" Kalau kakak ipar sudah ketemu kenapa tidak beritahu kami? kau tahu kan kakak sangat khawatir. "


" Justru karena itu, Febby sangat terpukul dengan ini. Aku tidak ingin mengganggu istirahatnya. Makanya aku disini mondar mandir nungguin kamu enggak turun turun. "


" Ooo ... gitu ...ya sudah aku sekarang udah disini kan, terus kamu mau apa? " tanya Dea dengan wajah polosnya.


" Aku mau ke Rumah Sakit, kau mau ikut atau mau di rumah saja? "


" Em kakak sudah tidur ... aku ikut aja deh, lagipula aku juga khawatir pengen tahu kondisi kakak iparku bagaimana. "


Akhirnya mereka berdua menuju Rumah Sakit. Disepanjang perjalanan keadaan sangat hening, mereka sama sama diam membisu. Sampai akhirnya Marcel membuka percakapan memecah keheningan.


" Jika aku yang ada di posisi Angga apa kau juga akan melakukan hal yang sama seperti kakakmu? menangis aku sampai sesedih itu? " tanya Marcel kepada Dea.


" Idih aku mah ogah, ngapain nangisin orang nyebelin sepertimu? buang buang tenagaku saja, " jawab Dea sambil membuang muka.


" Apa kau yakin? kakakmu juga sangat membenci Angga. Tapi lihat saat mendengar Angga kecelakaan, semua kebencian dimatanya hilang berubah menjadi rasa khawatir dan penyesalan. Apa kau tidak takut menyesal seperti kakakmu? " ucap Marcel menggoda Dea.


Dea tak menjawab dia hanya menatap kesal Marcel, tatapan seperti kucing yang siap menerkam tikus. Marcel langsung terkekeh melihat Ekspresi Dea yang seperti itu.

__ADS_1


Marcel



__ADS_2