
Hari terus berlalu, kebahagian Lintang dan Yudha tak bisa diukur hanya dengan kata. Mereka berdua kini memiliki keluarga yang utuh dan hangat. Setiap hari rumah ramai dihiasi dengan tingkah lucu Lion dan juga ocehan Rembulan.
Seperti saat ini, Lion memangku adik kecilnya yang baru bisa tengkurap. Terus mengajaknya berbicara hingga sesekali Rembulan menyahut dengan suaranya yang menggemaskan.
Tin tin
Suara klakson mobil menghentikan Lintang yang sedang menata makanan di meja makan. Seperti biasa, ia menyongsong kedatangan sang suami yang baru pulang kerja. Menjadi ibu rumah tangga seutuhnya demi menciptakan kebahagiaan yang sempurna.
Lintang mencium punggung tangan Yudha. Membantu sang suami membawa kan jas.
"Anak-anak di mana?" tanya Yudha mencium kening Lintang.
Lintang menyungutkan kepalanya ke arah ruang tengah, di mana Lion dan Rembulan berada.
"Apa hari ini Rembulan merepotkanmu?" tanya Yudha basa-basi. Duduk di sofa, mengurai rasa lelah karena seharian penuh bergulat dengan pekerjaan.
"Tidak, dia sudah pintar seperti mamanya," jawab Lintang melepas sepatu Yudha.
Yudha mengerutkan alis. Ucapan Lintang seolah-olah menuntun Yudha yang memang mengincar sesuatu.
"Umur Rembulan sudah tiga bulan, ya?"
"Iya," jawab Lintang singkat. Ia bisa membaca maksud perkataan Yudha yang mengarah pada sesuatu yang belum didapatkan setelah Lintang melahirkan.
"Kamu sudah siap?" tanya Yudha mengusap rambut Lintang.
"Siap apa?" tanya Lintang pura-pura bodoh. Meninggalkan Yudha sejenak. Mengambil kopi untuk pria itu. Duduk disampingnya dengan memasang wajah polos.
"Siap membuat adik lagi untuk Rembulan dan Lion."
Seketika itu juga Lintang menggigit tangan Yudha. Masih enggan jika harus hamil lagi. Bahkan rasa sakit saat melahirkan Rembulan pun belum terlupakan.
"Bercanda, Sayang. Aku cuma mau minta jatah saja, kamu sudah siap, kan?" tanya Yudha berbisik.
Lintang mengangguk ragu. Meskipun masih takut, tetap saja ia harus melayani suaminya yang sudah lama berpuasa.
Yudha memanggil bi Siti dan mbak Mimah.
"Bibi jaga Rembulan dan Lion."
"Baik, Pak," jawab mereka berdua serempak.
Yudha menutup pintu kamarnya. Ia mendudukkan Lintang di tepi ranjang. Seperti layaknya pengantin baru, wanita itu nampak malu-malu dan menundukkan kepalanya.
"Kamu kenapa?" Yudha mulai melucuti bajunya.
__ADS_1
Lintang menggeleng tanpa suara. Menatap dada bidang sang suami yang begitu menggoda iman.
"Aku ingat saat melahirkan Rembulan, rasanya sakit banget, Mas," keluh Lintang sambil memeluk sang suami.
"Aku akan pelan-pelan seperti kita melakukannya pertama kali, jangan takut," bisik Yudha memberikan kecupan lembut. Memulai aksinya saat Lintang mengangguk setuju.
Setelah sekian lama, akhirnya Yudha bisa menikmati apa yang seharusnya menjadi miliknya.
Beberapa menit kemudian, Lintang mengatur napasnya yang terengah-engah. Pergulatannya di atas ranjang mampu menguras semua keringat dan tenaga. Lintang bahkan tak sanggup mengimbangi Yudha yang terlalu bersemangat.
"I love you," ucap Yudha mencium kening Lintang dengan lembut.
Tidak ada jawaban, Lintang memejamkan mata untuk menahan rasa sakit akibat ulah Yudha.
Di sisi lain
Bian yang baru saja masuk ke sebuah minimarket tak sengaja menabrak seseorang yang berjalan dari arah berlawanan. Ia memungut ponselnya yang jatuh.
"Maaf," ucap Bian menatap seorang pria yang berdiri di depannya.
"Kamu Bian, kan?" tanya pria itu.
Bian mengangguk, wajah pria itu nampak tak asing baginya, namun Bian sedikit lupa dengan sosok yang baru saja menyebut namanya.
"Kenalkan, namaku Excel." Pria itu mengulurkan tangan di depan Bian dan langsung diterima dengan memperkenalkan dirinya.
Mendengar nama itu, Bian teringat kejadian di restoran. Ya, pria itulah yang bercanda dengan Hilya saat dirinya membelikan pesanan Lintang.
Jadi dia sepupunya Hilya. Lalu apa maksud ucapan Hilya waktu itu.
Dada Bian terasa sesak. Bibirnya terkunci mengingat apa yang pernah dilakukan pada Hilya. Bahkan sedikit pun ia tak mau mendengarkan penjelasan wanita itu.
"Apa kita bisa bicara sebentar," ucap Excel.
Bian mengangguk, menggiring pria itu di sebuah kursi yang ada di depan tempat itu.
Bian tertunduk lesu. Hubungannya sudah terlanjur kandas, namun kini baru mendapatkan bukti tentang laki-laki yang bersama Hilya kala itu.
"Hilya banyak cerita tentang kamu," ucap Excel mengawali pembicaraan.
"Kata dia, kamu itu laki-laki yang baik dan tidak pernah memandang keburukannya. Dia juga bilang padaku ingin menjadi perempuan yang lebih baik lagi. Kamu sudah banyak mengubah sikapnya."
Excel menepuk lengan Bian.
Jadi selama ini aku sudah salah menilainya. Ternyata Excel sepupu Hilya.
Sedikitpun Bian tak membuka suara, ia masih menggenggam sebuah penyesalan yang mendalam. Bahkan saat ini tidak ada kenangan sedikitpun. Bian sudah menghapus semua foto kebersamaannya bersama sang kekasih.
__ADS_1
"Panjang umur," ucap Excel saat ponselnya berdering.
"Halo, Hil. Ada apa? Tumben kamu nelpon?" tanya Excel menatap wajah Hilya dari layar pnsel.
"Gak ada papa, gak tahu mau curhat sama siapa."
Suara itu yang terkadang membuat Bian tak bisa tidur. Setelah sekian lama berpisah, akhirnya ia bisa mendengar suara Hilya lagi, meskipun lewat telepon.
Bian hanya bisa menjadi penonton percakapan Excel dan Hilya. Ia ingin sekali bicara dengan wanita itu, namun Bian malu mengingat ucapannya yang sudah menuduh Hilya.
"Hil, ada yang ingin bicara dengan kamu." Excel tersenyum, melirik ke arah Bian yang masih menundukkan kepalanya.
"Siapa? Bukan mama, kan? Tadi aku sudah menelpon dia," ucap Hilya, menghentikan langkahnya menikmati indahnya pemandangan yang ada di area taman.
Excel menggeser ponselnya tepat di hadapan Bian.
Bian dan Hilya saling tatap, mereka pun saling membisu. Hanya mata yang berbicara soal-olah menggambarkan isi hati masing-masing.
"Apa kabar, Bi?" tanya Hilya lebih dulu. Dia yang lebih dewasa bisa menghadapi setiap masalah yang menerpa.
"Kurang baik."
Bian menjawab sesuai apa yang menyelimutinya saat ini.
Meskipun hati Hilya menangis, ia tetap tersenyum manis. Ingin terlihat bahagia saat di depan orang yang dicintai.
"Kamu di mana?" tanya Bian.
"Aku melanjutkan kuliahku di Swiss," jawab Hilya melengos, menyembunyikan air matanya yang sudah mulai luruh.
"Maafkan aku, Hil. Aku sudah tahu semuanya."
Hilya mengusap air matanya membuat Bian tersenyum. Bukan karena apa-apa, melainkan cincin yang ia berikan, ternyata masih tersemat indah di jari manis wanita itu.
"Kamu memakai cincin dariku?" tanya Bian.
Hilya mengangguk. "Aku akan selalu mengingatmu sampai kapanpun. Terima kasih karena pernah hadir dalam hidupku. Terima kasih karena kamu pernah mewarnai hari-hariku."
"Aku pun akan sabar menantimu sampai wisuda."
Mata Hilya membulat sempurna.
"Benarkah?"
Bian mengangguk. "Aku akan menunggumu sampai kamu kembali. Jangan pernah melihat mereka yang lebih segala-galanya dariku, tapi lihatlah aku yang tulus mencintaimu."
Hilya tersenyum. Akhirnya ia mendapatkan jawaban dari doanya selama ini.
__ADS_1
Tamat