
Di balik selimut yang menghangatkan itu, Lintang mencubit pipinya sendiri. Menggerutu, menyesali perbuatannya yang sangat agresif. Ini bukan mimpi, melainkan kenyataan.
Apa yang baru saja terjadi, bahkan Lintang nampak menguasai permainan ranjang bersama suaminya.
Ia seperti terhanyut dalam gairah yang membara. Melepaskannya tanpa berpikir setelahnya.
Apakah dia sudah gila? Gila pada duda tampan yang kini menjadi suaminya.
Aku harus bilang apa pada mas Yudha?
Berkali-kali ia merutuki kebodohannya yang memancing hasrat sang suami dan berakhir dengan pergulatan yang nikmat.
Semenjak menikah, ini kali pertama Lintang meminta jatah duluan. Ia malu, wajahnya merah merona bak kepiting rebus. Mau di letakkan di mana, tidak mungkin ia terus bersembunyi di balik kain tersebut.
"Sayang, kamu nggak lagi tidur, kan?" Yudha mengusap-usap wajah Lintang yang masih tertutup selimut.
Lintang menggeleng tanpa ingin membuka selimutnya.
Pasti dia malu karena sudah meminta duluan, padahal aku lebih suka, kalau seperti ini, artinya tidak hanya aku yang cinta, tapi dia juga.
"Ternyata kamu lebih pintar dari yang aku kira," goda Yudha. Setelah puas meringkuk memeluk Lintang, kini ia berbaring lagi. Menggunakan kedua tangannya sebagai bantal. Menatap langit-langit kamarnya, berimajinasi liar, puas dengan sang istri yang terus menuntunnya dalam surga dunia.
"Mas, jangan dibahas lagi, aku malu." Suara manja Lintang terdengar sangat merdu.
Memberanikan untuk membuka sedikit selimutnya hingga menampakkan mata dan hidungnya.
"Bibirnya mana?" tanya Yudha saat menoleh.
Lintang menurunkan selimutnya lagi sedikit hingga seluruh wajahnya terlihat manis.
"Kenapa harus malu, terima kasih karena kamu selalu tahu apa yang aku mau. Jangan bosan menjadi istriku."
Yudha merapikan anak rambut Lintang yang menutupi pipinya.
Lintang menggeser tubuhnya. Menopangkan kepalanya di lengan kekar Yudha. Menghirup dalam-dalam parfum yang bercampur keringat itu lalu melingkarkan tangannya.
"Aku tidak akan pernah bosan asalkan kamu setia. Aku nggak suka dikhianati, meskipun aku tidak secantik model atau Mantan istrimu, jangan pernah berpaling dariku."
Permintaan Lintang adalah amanah bagi Yudha. Dari lubuk hati yang terdalam, ia pun tak ada niat melakukan itu, bahkan kesetiaannya tak perlu diragukan lagi.
"Iya, Sayang."
Pintu diketuk dari luar, namun Yudha malah membenamkan wajahnya di pipi Lintang. Ia enggan untuk bertemu siapapun dan ingin terus berdua di kamar.
"Mas, buka pintunya! Siapa tahu ada yang penting," pinta Lintang serius. Geli dengan dagu Yudha yang di tumbuhi rambut.
__ADS_1
"Tapi kalau nggak penting, kita lanjut ronde kedua ya?" ucap Yudha sambil cekikikan. Sebab, satu kali saja belum cukup baginya untuk melepas semua yang mengendap.
Lintang mengangguk, meskipun dalam hati terus berdoa, kalau orang yang ada di balik pintu itu akan menyampaikan sesuatu yang penting.
Yudha merapikan penampilannya lalu membuka pintu.
Ternyata Bi Siti yang datang.
"Di depan ada pak Andreas, Pak," ujar bi Siti ramah.
"Sebentar lagi aku keluar."
Yudha menoleh menatap Lintang yang ikut turun dari ranjang.
"Jangan ikut, aku mau membicarakan masalah pekerjaan. Lebih baik kamu istirahat saja."
Terpaksa Lintang kembali. Bersamaan Yudha keluar, Lion menerobos masuk lalu naik ke atas ranjang.
"Lion ingat, setelah papa balik ke sini, Lion harus keluar, main sama mbak Mimah ya!"
Berbeda dengan Lion yang mengangguk setuju, Lintang malah berdecih, pasti suami mesumnya itu mau melanjutkan yang tadi.
Yudha duduk di depan Andreas. Mata nya langsung mengarah ke kamar, takut perbincangannya kali ini didengar oleh Lintang.
"Kamu ke mana saja? Kenapa lama sekali?" tanya Yudha ketus. Meskipun dirinya untung, tetap saja Andreas membuatnya ketar-ketir. Takut tidak berhasil dengan misinya.
Andreas memotong ucapannya, tidak mungkin ia jujur karena sudah bertemu dengan Ema. Pasti Yudha akan marah padanya.
Yudha menatap sang asisten dengan tatapan selidik.
"Tadi saya bertemu dengan teman lama, Pak. Dia mengajak ngopi sebentar," lanjutnya dengan lugas.
Yudha membuka map yang dibawa Andreas. Membacanya secara teliti. Memastikan jika penawarannya itu berjalan mulus.
Jangan berpikir aku akan diam saja dengan apa yang kamu lakukan. Jika bukan karena Lion, aku pasti akan menghancurkan kamu sekarang juga.
Yudha merasa puas, menutup map nya lagi.
Menatap Andreas yang senyum-senyum sendiri.
Kayaknya Andreas senang banget, memangnya siapa temannya itu, laki-laki atau perempuan?
"Mas," teriak Lintang yang baru keluar dari kamar, mendengar nama Andreas, tiba-tiba saja ia teringat pada Gita, sang sahabat.
Yudha menyerahkan map tadi pada Andreas. Pria itu langsung memasukkannya ke dalam tas. Alih-alih tidak apa-apa di sana.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Yudha menepuk sofa di sisinya yang kosong.
Lintang duduk lalu mendengus. "Aku punya hutang sama Gita," ucap Lintang.
Yudha menahan tawa. Bagaimana bisa istri seorang Yudha Anggara mempunyai hutang pada karyawannya sendiri, memalukan.
Apa kata dunia, pasti menertawakan pangkat yang digadang-gadang semua orang.
"Pantas saja, kemarin Gita sepertinya marah padaku. Ternyata kamu belum bayar hutang?" goda Yudha pura-pura terkejut.
"Aku lupa."
"Kok bisa?" sergah Yudha yang terus ingin memojokkan sang istri.
Lintang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Pokoknya mas harus tanggung jawab membayar hutangku." Menggoyang-goyangkan lengan Yudha dengan wajah mengiba.
Andreas mengalihkan pandangannya. Jika dulu ia merasa biasa saja saat melihat Yudha dengan Natalie, kini ia sedikit iri dengan keromantisan mereka. Bahkan, Andreas sering kali protes dalam hati saat Yudha terus memamerkan kemesraan di depannya.
"Berapa hutang kamu?" tanya Yudha meraih ponselnya.
"Kalau nggak salah tujuh ratus ribu, tapi tanya dulu sama Gita, takutnya aku salah."
Lagi-lagi Yudha menyerahkan urusan itu pada Andreas. Orang yang paling di percaya, baik urusan bisnis maupun pribadi.
Setelah keluar dari rumah Yudha, Andreas langsung menghubungi nomor Gita.
"Saya, Pak," sapa Gita dari seberang sana.
Tanpa sepengetahuan Lintang dan Yudha, Andreas pun sudah lebih akrab dengan karyawannya itu.
"Kita bisa ketemu nggak? Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan, ini tentang hutangnya bu Lintang."
Hati Gita berdebar-debar. Beberapa kali ia merasa ada yang aneh saat di dekat Andreas. Mengelus dadanya, merealisasikan dirinya untuk tidak besar kepala.
"Bisa, Pak. Sekarang saya ada di restoran dekat kantor," ucap Gita ragu-ragu.
"Aku akan segera ke sana."
Andreas memutuskan sambungannya lalu melajukan mobilnya.
Tiga puluh menit, Andreas sudah berada di depan restoran. Ia menyisir rambutnya lagi, menatap penampilannya yang memang sudah rapi.
Dari jauh Gita tersenyum melihat Andreas yang baru saja turun dari mobil. Namun, senyumnya itu meredup saat melihat wanita memeluk Andreas dari belakang.
__ADS_1
Jangan pernah berharap pada laki-laki yang derajatnya lebih tinggi. Karena kamu bukan levelnya.