Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Bab 63. Claire datang


__ADS_3

Hari ini terasa spesial, semenjak menikah ini kali pertama Lintang menjadi ibu rumah tangga yang sesungguhnya. Menyiapkan segala sesuatu untuk Yudha dan Lion di pagi hari sebelum mereka bergulat dengan aktivitasnya. Mulai dari yang terkecil sampai yang terpenting tanpa campur tangan orang lain.


"Masak apa, Lin?" tanya Bu Fatimah yang baru saja masuk ke dapur. Menghampiri Lintang yang menggoreng sesuatu. 


Menghirup dalam aroma masakan yang hampir matang. 


Bu Fatimah tetap memperhatikan Lintang seperti dulu saat sekolah, merapikan rambutnya, selalu mengomentari baju Lintang jika kurang sopan atau terlalu ketat. 


"Aku membuat omelet, roti bakar isi daging, juga nasi goreng, Bu. Biasanya mas Yudha kalau pagi suka malam nasi, jadi aku juga bikinin dia lauk kesukaannya." 


Bu Fatimah tersenyum kikuk. Dalam hatinya berdenyut mengingat kebiasaan pak Juli yang dulu juga suka sarapan nasi putih. Namun, kini semua itu tinggal kenangan yang akan terkikis oleh waktu. 


"Ibu bantu, ya," Tanpa menunggu jawaban dari Lintang, Bu Fatimah mengambil piring yang sudah di lap bi Siti. Meletakkannya di meja ruang makan. 


Bu Fatimah menatap punggung Lintang yang nampak antusias dengan aktivitasnya. 


"Ternyata Yudha itu duda?" cetus Bu Fatimah tanpa ragu. Pasti ada sebab dari semua itu yang belum diketahui. Pasalnya, kegagalan dalam berumah tangga akan melibatkan sebuah kesalahan yang fatal, kejadian yang menimpa Yudha dan istri pertama nya takut jika terulang lagi pada Lintang. 


 Lintang mengecilkan kompor. Meminta bi Siti untuk melanjutkan masaknya. Mendekati Bu Fatimah yang masih sibuk di ruang makan. 


Mengelus bahu sang ibu dengan lembut. "Iya, Bu. Istrinya mas Yudha selingkuh dengan teman kerjanya. Memangnya kenapa?"


Yudha yang hampir saja keluar dari kamar  terpaksa kembali masuk. Bersandar di balik dinding, memasang telinganya untuk mendengarkan percakapan istri dan mertuanya. 


"Tidak kenapa-napa, ya sudah, kalau kalau kamu sudah tahu penyebab mereka bercerai. Ibu hanya takut Yudha itu sudah menghianati istrinya seperti ayah kamu," ujar Bu Fatimah tanpa aling-aling. 


Lintang tersenyum, menarik kursi dan mempersilahkan bu Fatimah duduk di kursi yang paling depan. 


"Bukankah ini tempat suami kamu?" Mencoba berdiri, namun Lintang menahannya. 


"Tidak, semalam mas Yudha sudah bilang kalau ini kursi tempat ibu makan. Dia akan duduk di situ, di samping aku." Menunjuk kursi yang ada di seberang meja. 


Yudha keluar dan langsung ke ruang makan, ia pura-pura tidak mendengar pembicaraan Lintang dan sang mertua. 


"Pagi, Bu," sapa Yudha lalu menyeruput teh yang sudah menghangat. 


"Pagi." Bu Fatimah menjawab tanpa menatap. 


Lintang mencium pipi Yudha dengan lembut. Menawarkan beberapa makanan yang ia masak. Meskipun sudah tahu apa yang dipilih, setidaknya memberi pilihan menu seperti di restoran. 

__ADS_1


"Hari ini Lion libur. Rencananya aku mau ajak dia jalan. Boleh nggak?" tanya Lintang sambil mengambil nasi. 


"Nggak papa, tapi aku nggak bisa menemani kamu, gimana kalau sama ibu?"


"Boleh," jawab Lintang menatap sang ibu yang masih membisu. Entah apa yang dipikirkan, Yudha merasa mertuanya masih sering melamun. 


Sarapan berjalan lancar, Lintang membantu Yudha memakai baju kantor, memastikan jika semua kebutuhannya itu lengkap, dan tidak ada yang tertinggal. 


Lintang menatap wajah tampan Yudha. Kagum dengan sosok pria di depannya. Meskipun usianya terpaut sepuluh tahun, mereka nampak seimbang dan serasi. Setelah menikah dengan Lintang, tak hanya jiwa Yudha yang kembali muda, namun dari keseluruhan ia bangkit dan kembali seperti baru memulai kisah cintanya. 


"Aku berangkat dulu." 


Mencium kening Lintang berkali-kali. Diselingi bibirnya dengan lembut. Enggan untuk berpisah jika mengingat pergulatan di atas ranjang. 


"Nanti aku akan ambil cuti untuk kita bulan madu."


Lintang menahan tawa, kembali merapikan dasi Yudha yang sedikit melenceng. 


"Tidak usah, di sini juga sudah nyaman." Lintang menyungutkan kepalanya ke arah ranjang. Tempat yang menjadi saksi saat Yudha menyalurkan hasratnya. 


"Kamu suka?" bisik Yudha nakal. 


Lintang menepuk bahu lebar sang suami yang mulai terdengar mesum. 


"Bu, aku berangkat dulu." Yudha mencium punggung tangan Bu Fatimah. 


"Hati-hati…" 


Pemandangan di pagi hari yang membuat mata Yudha terasa sejuk melihat keluarga baru nya. 


Lambaian demi lambaian terus mengiringi langkah Yudha hingga ke mobil. Lintang menatap nanar sang suami yang semakin menjauh. Menerbitkan senyum dan mengangkat kedua jempol memberi semangat untuk Yudha. 


Litang dan Lion masuk ke rumah. Baru saja mengunci pintu, Suara klakson mobil kembali menggema. 


Lintang hanya menerbitkan senyum 


Menyuruh Lion untuk  bersiap. Ia membuka pintu dan menampilkan senyum termanis nya. 


"Ngapain Mas __" 

__ADS_1


Ucapan Lintang terpotong saat melihat wanita cantik yang turun dari mobil itu berjalan ke arahnya. Ternyata bukan Yudha, melainkan orang lain yang datang. 


Ngapain Claire ke sini. Dari mana dia tahu rumah ini, tidak mungkin mas Yudha yang memberi tahu dia. 


"Ngapain kamu ke sini?" tanya Lintang ketus. 


Claire tersenyum sinis. Lalu merogoh tas tangannya. 


"Aku cuma mau menunjukkan sesuatu ke kamu."


Claire menyodorkan amplop yang berwarna coklat di depan Lintang. 


"Apa itu?" tanya Lintang tanpa ingin menyentuhnya. Dada nya mulai bergemuruh. Otaknya traveling mengingat saat Yudha keluar malam untuk menjemputnya. 


"Bukan apa-apa, hanya momen penting yang tidak akan bisa aku lupakan." 


"Siapa, Lin?" 


Bu Fatimah datang dan berdiri di samping Lintang. 


Gawat, kalau sampai ibu tahu, pasti dia akan marah pada mas Yudha. 


Lintang merebut amplop itu dan menyembunyikannya. Ia tak mau hubungan yang baru saja terjalin dengan baik itu kembali buruk. 


"Bukan apa-apa, Bu. Ini teman aku, dia cuma mengantarkan titipan," jawab Lintang gugup. Menarik tangan Claire menuju halaman. 


"Lebih baik kamu pergi dari sini! Aku tidak mau kamu mengganggu rumah tanggaku dan mas Yudha." 


Hahaha 


Claire tertawa renyah hingga terdengar di telinga Bu Fatimah yang masih ada di teras depan. 


"Kamu itu lucu sekali," ucap Claire menantang. "Kamu pikir Yudha benar-benar mencintai kamu." Claire tampil percaya diri dengan ucapannya. "Dia hanya memanfaatkan kamu saja. Dia menikahi kamu karena kamu satu-satunya perempuan yang mau mengurus Lion, bukan karena cinta."


Lintang menahan amarahnya yang hampir meledak. Menyambut bendera perang yang dikibarkan wanita di depannya itu. Ia Bertepuk tangan dan memutari tubuh claire yang tinggi semampai. 


"Bilang saja kamu iri padaku. Terserah mas Yudha mau menikahi aku karena apa, yang penting sekarang dia milikku. Dan kamu harus terima nasib menjadi perempuan yang nggak laku."


Lintang menutup mulutnya dengan telapak tangan.

__ADS_1


"Maaf, aku keceplosan. Lain kali jangan memancing karena aku mudah emosi."


Lintang meninggalkan Claire yang nampak kesal. 


__ADS_2