Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Bab 115. Panik


__ADS_3

Yudha menagih janji perihal kedipan mata. Meskipun Lintang sudah menjelaskan dengan maksudnya, tetap saja mantan duda itu tak mau mengerti dan terus membujuk Lintang untuk melayaninya.


Yudha membuka bajunya. Meninggalkan boxer ketat yang menggambarkan isi nya. Merangkul tubuh Lintang dari belakang. Tangannya terus meraba perut buncit sang istri yang tertutup piyama. Bibirnya mulai nakal menyusuri bahu Lintang lalu naik ke leher putih wanita itu. 


"Mas, geli," keluh Lintang. Bulu halusnya berdiri saat hembusan napas hangat Yudha menerpa daun telinganya. Seakan membawa aura yang memabukkan. 


"Aku ingin satu kali saja," bujuk Yudha mengiba. Lintang membalikkan tubuhnya hingga keduanya saling tatap. Melingkarkan tangannya di leher sang suami dan menyatukan bibirnya. Ia pun tak bisa menolak permintaan Yudha yang nampak memendam hasrat. 


Lintang mengangguk kecil. Mengikuti langkah Yudha menuju ranjang. Berbaring pelan dengan bantuan pria itu. 


Entah, kali ini ia merasakan ada sesuatu yang aneh pada bagian perutnya. Bahkan, seharian ini janinnya tak bergerak seperti hari sebelumnya. 


"Tapi pelan-pelan ya, Mas," ucap Lintang saat Yudha mulai melucuti bajunya. 


Yudha mengangguk dan melanjutkan aksinya. Meskipun tubuh Lintang tak seseksi sewaktu belum hamil, tetap saja menggoda imannya yang sangat tipis. 


Baru saja Yudha ingin menunjukkan kelelakiannya, pintu diketuk dari luar. Tidak usah ditebak, sudah pasti itu adalah putra tercinta, siapa lagi yang berani mengganggu Yudha saat jam istirahat selain bocah itu. 


"Sebentar," sahut Yudha memakai celananya kembali. 


Lintang pun memakainya lalu berbaring lagi. Hari ini tubuhnya benar-benar lelah dan ingin istirahat total, namun kedatangan Lion dipastikan akan menjeda jadwal tidurnya. 


"Papa, Mama" sapa Lion dengan suara serak. Bocah itu langsung menghampiri Lintang dan memeluknya dari samping. 


"Biasa, iklan dulu." 


Kedatangan Lion faktanya tak menyurutkan keinginan Yudha. Setelah menutup pintu, ia langsung menghempaskan tubuhnya di samping Lion. Berharap bocah itu cepat tertidur dan ia melanjutkan aksinya yang terjeda.


"Lion kenapa nggak tidur sama mbak Mimah?" tanya Lintang mengusap dahi Lion yang terasa hangat. 


Lion menggeleng tanpa suara. 


Lintang menyentuh setiap jengkal badan Lion. 


"Kamu sakit, Nak?" Lintang nampak khawatir. 


Yudha menyalakan lampu utama dan ikut menempelkan punggung tangannya di kening putranya. 


Benar saja, suhu tubuh Lion lumayan tinggi dari biasanya.


"Mas, kita bawa ke rumah sakit saja, takutnya Lion kenapa napa."

__ADS_1


Lintang semakin panik saat Lion nampak menggigil. Bibirnya membiru dengan wajah yang pucat. 


"Tidak usah, Sayang. Biar aku panggil dokter Eka saja." 


Yudha meraih ponselnya dan menghubungi dokter pribadi yang biasa memeriksa Lion. 


Suasana rumah yang tadi sudah sepi kini kembali ramai saat dokter Eka datang. Bi Siti dan mbak Mimah ikut berhamburan ke kamar Yudha untuk memastikan keadaan bocah itu.


"Maaf, Pak. Tadi saya sempat mendengar kalau Aden kecil mengigau."


Ini pasti ada hubungannya dengan penculikan itu, terka Yudha dalam hati. Ia masih geram dengan Hilya yang berani menculik putranya. Tapi, ia tak bisa melakukan lebih, takut merusak masa depan gadis itu. Bagaimanapun juga Hilya pernah berjasa di perusahan dan berharap secepatnya jatuh ke tangan orang yang benar dan bisa mendidiknya.


Setelah menjalani pemeriksaan, Lintang langsung ikut berbaring di samping Lion. Mendekap bocah itu dengan erat, sedangkan Yudha mengikuti wanita itu dari belakang. Mereka duduk di kursi ruang tamu. 


"Maaf, Pak. Sepertinya Lion memang masih trauma dengan penculikan itu. Tapi tenang saja, sebentar lagi pasti juga sembuh. Dia butuh istirahat yang cukup dan bapak harus membantunya untuk melupakan kejadian itu."


"Baik, Dok. Tapi apa yang harus saya lakukan?"


Dokter Eka tersenyum." Berada di dekat orang-orang tercinta dan menyayanginya pun sudah cukup membantu."


Setelah mengantarkan Dokter Eka ke depan, Yudha kembali ke kamar. Melihat dua orang yang dicintai yang saling tersenyum membuat rasa kesal itu lenyap seketika. 


"Aku boleh tidur di sini kan, Pa?" tanya Lion polos sambil menarik selimut. 


"Kalau begitu, boleh dong setiap malam aku tidur di sini." Seketika itu kedua mata Yudha terbelalak. 


Lintang hanya bisa menahan tawa melihat ekspresi sang suami. 


Yudha mengangguk meskipun sedihnya pasti akan berkepanjangan. 


Lintang memiringkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri secara bergantian. Mencoba memejamkan matanya yang terasa ngantuk. Menatap Lion lalu beralih ke arah wajah Yudha yang sudah terlelap. 


Akhirnya Lintang terbangun lalu ke kamar mandi. Tiba-tiba perutnya terasa nyeri membuatnya harus bersandar di dinding. Sekejap rasa sakit itu menghilang lalu balik lagi hingga berulang-ulang. 


Baru beberapa menit tenggelam dalam mimpi, Yudha merasa terusik. Terpaksa pria itu mengerjap-ngerjapkan matanya.


Kembali menyalakan lampu terang, ia menatap ke arah samping ranjang di mana Lintang berdiri. 


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Yudha antusias.


"Mas, perutku sakit," rengek Lintang, kedua tangannya tertarik ke belakang mengelus pinggangnya yang terasa nyeri. 

__ADS_1


"Jangan-jangan kamu mau melahirkan." Yudha menyibak selimutnya. Menggiring lintang menuju sofa. 


Lintang merintih lagi saat rasa sakit itu datang lagi, bahkan kali ini terasa menyeruak. Yudha membuka pintu lalu menggendong tubuh Lintang dan membawanya keluar. Tak sengaja mereka berpapasan dengan bi Siti yang baru saja memeriksa pintu depan. 


"Bu Lintang kenapa, Pak?" tanya bi Siti ikut gugup.


"Sepertinya mau melahirkn, Bi. Aku mau bawa ke rumah sakit, bibi tolong kabarin yang lain."


"Baik, Pak." 


Setelah membantu Yudha membuka pintu depan dan memanggil pak Didin, Bi Siti langsung menghubungi seluruh keluarga, termasuk Bian dan Andreas. 


Apakah pernikahanku akan diundur lagi, begitulah sang asisten menggerutu saat mendapat telepon dari bi Siti. 


Dinginnya malam tak lagi terasa. Yudha terus mengusap perut Lintang dan merengkuh nya. Rintihan demi rintihan membuatnya tak tenang. Meskipun dia pernah berada di posisi itu, tetap saja rasa takut itu hadir menyelimuti nya. 


"Mas, cepetan!" pinta Lintang mencengkeram erat ujung baju Yudha. 


"Pak Didin, lebih cepat lagi!" titah Yudha. Ia menatap ke arah luar, dimana hanya ada kegelapan. Namun rembulan yang bersinar terang memberikan sebuah makna tersendiri. 


Aku berharap, besok pagi Rembulan ku yang bersinar. 


Mengecup kening Lintang yang dipenuhi keringat. 


"Sabar ya, Sayang. Sebentar lagi kita akan segera sampai."


"Mas, aku takut, "ucap Lintang saat mobil yang ditumpanginya masuk ke arah gerbang rumah sakit. 


"Jangan takut, aku akan menemanimu sampai bayi kita lahir. Yakinlah kalau kamu bisa melewati semua ini."


Lintang mengangguk dengan penuh keyakinan. 


Di ruang bersalin itu dipenuhi dengan ketegangan. 


Yudha terus berada di sisi Lintang saat wanita itu terus mengeluhkan rasa sakit yang semakin luar biasa. Sesekali Lintang harus menggigit bibir bawahnya demi mengurai rasa yang membuat sekujur tubuhnya lemas. 


"Dokter, apa bayiku nggak bisa dilahirkan sekarang?" Lintang terus memohon pada tim medis untuk melakukan sesuatu. 


Ingin tertawa, tapi Yudha takut kena marah oleh Lintang. 


"Sayang, nggak bisa seperti itu. Dokter pasti akan melakukan yang terbaik untuk kamu dan anak kita."

__ADS_1


Lintang memilih diam, memendam rasa sakit yang dirinya pun hampir tak kuat. 


__ADS_2