
Lintang terus mencium setiap jengkal wajah mungil Lion. Melepaskannya dengan berat saat sang mertua menjemput. Melambaikan tangannya ke arah putranya yang sudah melewati pintu depan.
"Janji malam ini saja ya, Ma." Lintang meminta dengan bibir mengerucut. Menekankan sang mertua untuk tidak berlama-lama membawa Lion menginap di rumahnya.
"Iya, Sayang. Mama janji, besok akan mengembalikan Lion." Bu Indri berbalik badan menghampiri Lintang dan memeluknya.
"Maka nya cepetan buatin Yudha junior lagi, biar rumah semakin ramai," bisiknya sambil menepuk bahu sang menantu.
Lintang hanya melirik ke arah Yudha sekilas lalu menatap Lion lagi. Meskipun bukan darah dagingnya. Lintang pun merasa bocah itu sudah melekat di dirinya dan enggan untuk berpisah.
Yudha pura-pura tidak mendengarkan ucapan mamanya, karena malam ini dia sudah menyiapkan rencana untuk membuat sang istri terbang melayang.
"Da da da Mama, Papa," teriak Lion dari dalam mobil.
Lambaian demi lambaian berakhir saat mobil milik bu Indri menghilang dari balik gerbang.
Betah-betah di rumah oma, ya. Suara hati Yudha kegirangan.
"Sudah, jangan menangis lagi, kan masih ada aku."
Yudha merangkul pundak Lintang yang bergetar. Mencium pelipis wanita itu, meredakan rasa sedihnya karena tak bisa tidur bersama putranya.
Di meja makan
Lintang mencium bau-bau aneh, bukan makanan ataupun kue, namun kenakalan sang suami yang menyudahi makannya.
Pria itu menaik turunkan alisnya, menggoda. Meraih tangan Lintang yang masih menikmati puding nya.
"Ke mana?" tanya Lintang pura-pura bodoh.
"Ke kamar," jawab Yudha tanpa basa-basi. Membelai lembut pipi Lintang yang kini sedikit tembem. Ia tak mau mengulur waktu lagi dan ingin cepat-cepat menyalurkan hasratnya di tengah dinginnya malam yang mulai mencekam.
"Sebentar, aku habisin ini dulu." Lintang menunjuk pudingnya yang tinggal sesuap.
Yudha membungkuk, mencium pipi Lintang. Memberikan sebuah kode sebagai permulaan sebelum mereka melanjutkannya yang lebih panas.
Bi Siti yang hampir saja keluar kembali berjalan mundur setelah melihat adegan itu.
Sepertinya pak Yudha sangat bahagia, semoga Bu Lintang tidak mempermainkannya lagi seperti yang dilakukan Bu Natalie.
Sebagai pembantu yang setia, Bi Siti ikut senang melihat majikannya yang selalu romantis.
Lampu menyala terang. Lintang langsung membaringkan tubuhnya di ranjang. Memasang selimut sebagai benteng saat Yudha mengunci pintu.
__ADS_1
Tanpa menunggu waktu, Yudha langsung merangkak naik mendekati sang pujaan hati. Menatapnya dengan lekat dan penuh cinta. Tangannya mulai mengulur membuang selimut ke sembarang arah, menyentuh kulit sang istri yang terekspos.
"Apa kamu sudah siap? Malam ini kita bebas. Tidak akan ada yang mengganggu," ucap Yudha mengingatkan.
Lintang mengangguk, menolak pun percuma, karena ia tahu hasrat sang duda tak mungkin bisa ditahan lagi. Kini ia harus bersiap menjadi pelampiasan suaminya.
Baru saja mendaratkan sebuah ciuman di bibir Lintang, Yudha menghentikan aksinya saat ponsel yang diletakkan beberapa menit lalu itu berdering.
"Nggak ada Lion, tapi ada hp," ucap Lintang sembari tersenyum melihat suaminya yang terus berdecak.
Terpaksa Yudha menggeser tubuhnya menyambar benda pipih miliknya.
Dokter Ega, ada apa dia menelpon malam-malam begini? Apa terjadi sesuatu pada ibu? tanya Yudha dalam hati, menatap sang istri sekilas, lalu turun dari ranjang.
"Sayang, aku angkat telepon dulu."
Memangnya itu siapa, kenapa mas Yudha menyembunyikannya dariku?
Yudha keluar dari kamar, menghindar dari Lintang. Ia takut terjadi masalah yang buruk pada mertuanya dan akan membuat Lintang sedih.
"Selamat malam, Dok? Ada apa?" tanya Yudha menahan dadanya yang mulai bergemuruh.
"Pak Yudha, ada kabar baik dari bu Fatimah."
"Kabar baik apa, Dok?" tanya Yudha yang membuat Lintang sedikit bingung.
"Bu Fatimah memanggil nama Bu Lintang, beliau ingin bertemu dengan putrinya."
Seketika buliran bening lolos begitu saja membasahi pipi Lintang, ia tak sanggup membendung kebahagiaannya saat mendengar berita itu.
"Dokter yakin, ibu memanggil nama saya?" tanya Lintang memastikan.
"Yakin, Bu. Kalau bu Lintang tidak percaya, silahkan datang kesini, bu Fatimah menunggu kedatangan, Anda."
Lintang memeluk Yudha dengan erat, bibirnya terus mengulas senyum dan mengucap syukur yang tiada henti.
Akhirnya doa-doa yang selalu dipanjatkan setiap waktu itu terkabul. Penantian panjang untuk bisa melihat sang ibu kembali normal akhirnya kini terwujud. Keyakinan Lintang bahkan lebih manis dari madu.
"Mas, aku mau bertemu ibu, kita ke rumah sakit sekarang," pinta Lintang.
Yudha mengangguk setuju.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Keringat dingin mulai bercucuran menembus pori-pori, Yudha mulai merasa tak nyaman. Kini ia dan Lintang sudah berjalan di lorong menuju kamar Bu Fatimah.
Ketakutan, mungkin itu kata yang tepat untuk seorang Yudha Anggara. Ia tak tahu bagaimana untuk memulai dari awal, berhadapan lagi dengan orang yang pernah ia rendahkan.
"Kamu kenapa, Mas?" tanya Lintang, ia bisa merasakan dinginnya tangan Yudha yang luar biasa.
Menatap manik mata suaminya yang sedikit sendu.
"Bagaimana kalau ibu tidak menerimaku sebagai menantunya?" ujar Yudha dengan penuh kekhawatiran. Sebaik apapun dirinya di mata Lintang, ia tetap pria yang sombong di mata Bu Fatimah. Bahkan, mungkin bukan menantu idaman wanita itu.
Lintang tersenyum dan mengangkat kedua bahunya, ia tak mempunyai pendapat untuk itu. Sebab, beberapa kali ia mendengar sendiri saat sang ibu mengutarakan kebencian pada Yudha kala itu.
"Pak Yudha, Bu Lintang," seru wanita cantik yang memakai seragam putih dari arah belakang.
Yudha dan Lintang menghampirinya lalu menyapa.
"Bagaimana keadaan ibu saya, Dok?" tanya Lintang antusias, ia sudah tak sabar ingin segera memeluk sang ibu.
"Alhamdulillah, beberapa hari ini Bu Fatimah memanggil nama Bu Lintang. Tapi terkadang juga masih histeris jika ada dokter laki-laki yang masuk."
Itu adalah salah satu pertanda, jika sang ibu tidak menyukai kehadiran pria di kehidupannya.
Lintang menatap Yudha yang berdiri di samping nya. Menggenggam tangan pria itu dan meyakinkan bahwa ibunya akan menerimanya.
"Apa kami bisa bertemu dengan ibu."
"Silakan!"
Lintang dan Yudha mengikuti langkah dokter Ega.
"Ini kamar bu Fatimah, silahkan masuk! Saya akan memeriksa pasien yang lain."
"Kamu masuk aja dulu," pinta Yudha.
Ia masih ragu untuk menemui sang mertua mengingat penjelasan dokter Ega.
Lintang membuka pintu ruangan itu. Matanya langsung berhenti pada sosok yang duduk di tepi ranjang.
Matanya berkaca melihat perubahan wanita itu, penampilannya tampak rapi dengan baju yang bagus.
"Ibu," panggil Lintang dengan bibir bergetar menahan tangis.
Bu Fatimah menoleh. Senyum mengembang di sudut bibirnya melihat putri yang dirindukan.
__ADS_1
Lintang berhamburan memeluk Bu Fatimah. Menumpahkan air matanya di dada sang ibu yang sudah lama terpisah.