
"Sekarang kita pulang, sudah sore." Yudha mengusap kening Lintang dengan lembut. Membangunkan sepenuhnya karena sudah hampir senja.
Lintang menarik tangan Yudha. Melihat jam yang melingkar di tangan pria itu. Menatap wajahnya yang nampak lelah. Lalu membelai pipi kokohnya.
"Kamu capek ya?" tanya Lintang lirih.
Hemmm
Hanya itu jawaban Yudha. Meraih satu tangan Lintang dan menciumnya dengan lembut.
"Malam ini kita tidur terpisah lagi." Mengucapkannya dengan berat. Dari lubuk hati yang terdalam, Yudha sudah tak tahan saling menjauh. Padahal baru semalam, namun seperti satu bulan, bayangkan jika itu terjadi hingga seminggu, dipastikan juniornya akan karatan. Akan tetapi, ia harus melakukan itu demi mendapatkan hati bu Fatimah.
Setumpuk harapan ingin segera memulihkan keadaan yang rumit. Mengembalikan kehangatan keluarganya yang hilang, meskipun harus penuh perjuangan.
"Aku akan mencoba membicarakannya lagi dengan ibu. Semoga dia mau mengerti," jawab Lintang turun dari ranjang, merapikan penampilannya di depan cermin.
"Tidak usah, biarkan ibu luluh dengan berjalannya waktu. Hanya kesabaran dan doa yang mampu mengalihkan keadaan."
Yudha memeluk dari belakang. Mengecup pundak Lintang dengan lembut. Menghirup aroma parfum yang kini membuatnya tenang.
Lintang membalikkan tubuhnya. Mengalungkan kedua tangannya di leher Yudha. Saling menatap manik mata lawan.
"Yakinlah, sebenar lagi kita akan bersama."
Lintang meyakinkan lalu melepas lingkaran tangannya saat Yudha hampir saja mencium bibirnya.
Awas saja kalau sampai ibu sudah menyetujui kita, aku tidak akan melepaskanmu lagi, lirih hati Yudha menatap punggung Lintang berlalu.
Lintang dan Yudha keluar dari ruangan. Sama seperti tadi pagi, kali ini mereka pun berjalan sambil bergandengan tangan, senyum merekah menghiasi bibir keduanya menjadi bukti kebahagiaan mereka.
Langkah Lintang berhenti di depan ruangan Hilya yang nampak berbeda. Jika biasanya terbuka dan menampakkan gadis itu yang masih sibuk, kini tempat itu pun terbuka, hanya saja sang penghuni tidak ada, serta meja yang kosong.
"Bu Hilya ke mana, Mas. Apa dia sudah pulang?" tanya Lintang menatap suaminya dengan tatapan selidik.
"Dia sudah aku pecat," jawab Yudha jujur.
Lintang hanya manggut-manggut, tak ingin ikut campur urusan Yudha terlalu jauh.
"Selamat sore, Bu, Pak."
"Sore," jawab Lintang canggung, berusaha melepaskan tangan Yudha yang menggenggamnya erat. Malu dengan mereka yang terus menyapanya. Seakan dirinya adalah wanita yang memang patut dihormati.
Aku yakin ini semua ulah mas Yudha.
Lintang menekan tombol lift dengan cepat. Mendahului jari Andreas yang hampir saja bergerak.
Hingga sampai parkiran pun telinga Lintang terus dihiasi dengan suara-suara sapaan ramah dari semua orang yang membuatnya risih.
Tidak ada pembicaraan lagi, masing-masing bergelut dengan otaknya. Mencari cara untuk melunakkan hati bu Fatimah.
"Lain kali kalau mau ambil keputusan harus meminta izin dariku," cetus Lintang memecahkan keheningan. Menatap ke arah luar jendela menikmati indahnya kota yang sangat ramai.
__ADS_1
Aneh bin nyata
Lama-lama Andreas bingung dengan pasangan itu.
Yudha hanya meng iyakan tanpa ingin membantah, takut Lintang ikut ngambek dan membuat keadaan semakin runyam.
Andreas menghentikan mobilnya di ujung jalan. Ia hanya mengikuti perintah Yudha dan Lintang.
"Maaf, aku belum bisa ikut ke rumah."
Yudha mencium kening Lintang dengan lembut. Menyalurkan kasih sayang dan cintanya yang terlalu besar untuk wanita itu.
"Takut sama ibu?"
Yudha tersenyum, mengacak rambut Lintang, bibirnya yang nampak manyun membangunkan sesuatu di bawah sana. Untung ada Andres, kalau tidak, pasti akan ada ritual mobil bergoyang. "Bukan takut pada Ibu, tapi takut ibu sok dan mengganggu kesehatannya."
Yudha menjelaskan secara gamblang, tak ingin Lintang salah paham.
Lintang turun, tangannya terus melambai saat Yudha membuka kaca mobil.
"Cepetan jalan!" pinta Yudha menyembulkan kepalanya. "Aku akan memastikan kalau kamu masuk rumah dengan selamat," lanjutnya.
Lintang segera melangkah menuju rumah, sedangkan Yudha mengawasinya dari dalam mobil.
Setelah Lintang menghilang di balik gerbang, Yudha menutup kaca nya kembali.
"Kita ke mana lagi, Pak?" tanya Andreas melihat Yudha dari bayangan spion yang menggantung.
"Ibu," panggil Lintang setelah masuk rumah. Ia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan yang ada di lantai bawah.
Tidak ada siapa-siapa di sana, hanya Bi siti yang membersihkan ruang tamu.
"Bibi lihat ibu?" tanya Lintang melepas tas tangannya.
"Seharian bu Fatimah tidak keluar kamar, Bu. Beliau juga tidak mau makan."
Lintang langsung berlari ke arah kamar sang ibu.
Tanpa mengetuk pintu, Lintang langsung membukanya. Menatap sang ibu yang berdiri di depan jendela kamar. Melangkah pelan menghampiri tubuh tua itu.
"Ibu tidak apa-apa?" tanya Lintang dengan nada rendah.
Tidak ada jawaban, Bu Fatimah pun tetap memunggungi Lintang tanpa ingin menyambutnya.
"Ibu…"
Lintang memegang pundak Bu Fatimah. Namun, segera di tepisnya dengan kasar.
"Jangan sentuh ibu!"
Dada Lintang terasa sesak ketika mendengar itu.
__ADS_1
Bu Fatimah menatap Lintang yang tampak ketakutan.
"Ibu kenapa?" tanya Lintang memegang kedua lengan Bu Fatimah. Namun, lagi-lagi snag ibu itu mendorongnya hingga tersentak.
"Dari mana saja kamu?" tanya Bu Fatimah membentak.
"Aku kerja, Bu," jawab Lintang cepat.
Ia mulai takut pada sang ibu yang nampak diselimuti amarah.
"Jangan bohong!" teriak bu Fatimah tak percaya. Tangannya meraih sapu yang ada di samping nya lalu mendekati Lintang.
"Jangan pukul aku, Bu!" pinta Lintang menggeleng. Ia takut kejadian beberapa tahun lalu terulang lagi, dimana bu Fatimah memukulinya hingga jatuh sakit.
Punggung Lintang terhempas di dinding. Menatap pintu yang ada di belakang ibunya. Tak mungkin bisa keluar dari kamar itu. Air matanya mulai membanjiri pipi saat sang ibu semakin dekat.
Lintang yang merasa terpojok terpaksa duduk, menyiapkan punggungnya di depan Bu Fatimah.
"Maafkan aku, Bu," ucap Lintang di tengah-tengah tangisnya.
Buk
Sebuah pukulan mendarat di punggung Lintang dengan kerasnya. Ia hanya bisa meringis kesakitan tanpa menghindar.
"Ini karena kamu sudah membohongi ibu,"
Baru saja ingin melayangkan pukulan yang kedua, sebuah tangan kekar memegang gagang sapu itu.
Bu Fatimah menoleh menatap gerangan yang menghalanginya dari belakang.
"Lepaskan! Atau aku akan memukulmu juga," pekik bu Fatimah.
Lintang ikut menoleh menatap seseorang yang datang.
"Mas Yudha."
Yudha tak sanggup melihat Lintang kesakitan. Ia ikut duduk merengkuh tubuh mungil Istrinya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Yudha pada Lintang.
"Gara-gara kamu dia melawanku."
Buk
Pukulan kedua mendarat dengan sempurna. Namun, kali ini bukan di punggung Lintang, melainkan di punggung Yudha.
"Mas, lebih baik kamu pergi dari sini, aku bisa menghadapi ibu sendiri." Lintang berusaha mendorong tubuh Yudha.
"Tidak, aku yang pantas menerima pukulan dari ibu, bukan kamu."
"Iya, kamu memang pantas menerimanya," sambung Bu Fatimah kembali memukul Yudha berulang-ulang.
__ADS_1