
"Begini caranya." Yudha mengganti popok Rembulan yang sudah basah. Jari lentiknya terlihat sangat lincah saat mengangkat makhluk lembut itu. Sedikitpun tak merasa ragu ataupun takut dengan tubuh putrinya yang masih sangat lemah.
Lintang yang duduk di samping nya hanya menjadi penonton sambil belajar. Sesekali ia membantu mengambilkan sesuatu yang dibutuhkan sang suami.
"Besok-besok biar aku saja, Mas. Kamu nggak perlu repot-repot." Lintang mengusap bahu Yudha yang masih sibuk dengan Rembulan.
"Nggak papa, ini sudah biasa. Lagipula aku masih ambil cuti sampai Andreas menikah."
Lintang memanyunkan bibir. Seharusnya saat ini ia menghadiri pesta pernikahan Andreas dan Gita. Namun sayang, ia hanya bisa melihat mereka berdua lewat video.
"Kenapa? Mau aku pasang popok nya juga?" Yudha mengusap rambut Lintang. Selalu merapikan nya saat terlihat berantakan.
Godaan Yudha sudah tak mempan, karena hati Lintang saat ini gelisah.
"Hari ini pernikahan Andreas dan Gita." Mengucap dengan nada lemah.
Yudha mencium pipi Lintang dengan lembut. Hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini, bahkan sampai nanti empat puluh hari. Itupun jika Lintang sudah pulih, namun jika belum bisa, terpaksa ia harus menerima nasib.
"Nanti kalau Rembulan sudah umur satu tahun, aku akan mengadakan pesta untuk kita. Dan pesta itu akan lebih meriah daripada pestanya Andreas."
"Nggak usah," sergah Lintang dengan cepat.
"Kenapa?" tanya Yudha lagi.
"Malu, kita kan sudah lama menikah, tapi kenapa baru mengadakan pesta dua tahun kemudian. Apa kata orang?"
"Nggak papa, suka-suka dong."
Lintang tersenyum sambil mencubit pipi Yudha gemes.
"Sayang, jangan mancing-mancing, aku nggak mau bermain dengan sabun."
Hanya sekali sentuhan, Yudha sudah merasa ada sesuatu yang terbangun. Ia terpaksa menyambar bibir Lintang yang tampak memerah.
Baru saja beberapa detik merasakan manisnya benda kenyal milik Lintang, pintu kamar terbuka lebar. Bu Indri langsung menjerit melihat kelakuan Yudha.
"Kalian menodai mata mama," pekik Bu Indri menutup matanya, namun masih bisa melihat Yudha dan Lintang dari sela-sela jarinya yang sedikit renggang.
Yudha mengusap bibir Lintang yang sedikit basah lalu menghampiri Bu Indri.
Jangan ditanya, saat ini wajah Lintang pun sudah merona malu. Seumur-umur, ini pertama kali ia harus ketahuan orang lain saat berciuman.
__ADS_1
"Mama yang salah, masuk kamar orang gak mengetuk pintu dulu." Yudha menyalahkan mamanya.
"Kamu yang ceroboh, ini kamar Rembulan bukan untuk mesum."
Bu Indri tak mau kalah, ia menepuk lengan kekar Yudha lalu menghampiri Lintang.
"Mama," sapa Lintang memeluk Bu Indri. Mengusir rasa malu yang menumpuk di ubun-ubun.
"Kamu harus hati-hati, Lin. Sayangi tubuh kamu, jangan sampai terpengaruh dengan suami kamu yang kayak singa kelaparan." Mengucap dengan nada ketus.
Kalau Aku singa kelaparan, itu artinya mama juga ibu singa yang kelaparan. Yudha hanya mengucap dalam hati, takut kena karma.
Yudha kembali mendekati bu Indri yang nampak berbeda.
"Mama hari ini cantik sekali," puji Yudha menatap penampilan mamanya yang sangat anggun.
Wanita itu memakai kebaya yang mewah dan elegan serta beberapa perhiasan limited edition.
"Mama mau datang ke acara pernikahan Andreas, tapi kangen sama Rembulan." Mencium cucunya yang baru saja memejamkan mata.
Lintang hanya melirik Yudha sekilas lalu menunduk lagi. Dari lubuk hati terdalam, ia ingin mendampingi Gita, namun keadaan memaksanya untuk diam di rumah.
"Ma, ayo! Sebentar lagi akan dimulai." Pak Radit ikut masuk kamar, tak kalah hebohya dengan sang istri, pria itu pun ikut berhamburan memeluk cucunya sebelum meninggalkan rumah Yudha.
"Siapa lagi, Mas?" tanya Lintang pada Yudha yang melihat dari jendela.
"Kayaknya Bian." Yudha kembali menutup tirai nya lalu keluar dari kamar Rembulan. Ia membuka pintu depan.
Nampak Bian yang baru turun dari mobil itu berlari ke arahnya.
"Ada apa?" tanya Yudha.
"Kemarin aku sudah bertemu Hilya, Kak."
"Lalu, apa kamu sudah bertanya kenapa dia menculik Lion?" sanggah Yudha menyelidik.
Bian mengangguk cepat.
"Tapi aku rasa nggak usah dibahas. Kakak sudah memaafkan dia, yang penting sekarang dia tidak mengulangi perbuatannya lagi."
Pertemuan Bian dan Hilya berjalan lancar, meskipun itu adalah pertemuan pertama mereka, ia merasa nyaman jika di dekat wanita itu. Umurnya yang terpaut dua tahun tak menghalangi hati Bian untuk lebih dekat lagi.
__ADS_1
"Kamu suka sama dia?"
Bian mengangkat kedua bahunya.
"Kita bicarakan lagi nanti. Aku kesini mau ketemu Rembulan, setelah itu pergi ke pernikahan kak Andreas."
Yudha membuka pintu lalu mempersilahkan Bian masuk.
Seperti yang lainnya, Bian masuk ke kamar Rembulan tanpa mengetuk. Ia langsung merangkak naik dan membaringkan tubuhnya di samping sang keponakan. Memeluk bocah itu dengan erat.
Lintang yang baru keluar dari kamar mandi tersenyum melihat Bian yang ada di samping putrinya.
"Kamu kalah dengan Indira, Bi. Sekarang dia sudah punya calon suami, sedangkan kamu, pacar aja belum punya," ejek Lintang.
"Aku juga punya sih, Kak. Tapi masih malu sama kak Yudha. Calon suami Indira kan orang kaya, sedangkan aku baru saja bekerja, masa iya nikah duluan. Aku takut nggak bisa memenuhi semua keinginan istriku seperti kakak dan Indira dapatkan."
Lintang menghela napas panjang.
"Memangnya siapa pacar kamu?" tanya Lintang yang sibuk memasukkan baju Rembulan ke dalam lemari.
"Hilya."
Lintang mengerutkan alisnya, menatap lekat Bian yang tak mengubah posisinya.
"Hilya?" Lintang memastikan.
"Iya, memangnya kenapa?" tanya Bian.
Lintang tersenyum. Tidak berhak baginya untuk mengatur hidup orang lain, termasuk adik tirinya itu. Meskipun Hilya pernah berbuat salah, tetap saja dia adalah wanita yang baik. Lintang berharap Bian bisa membimbingnya ke jalan yang lebih lurus.
"Laki-laki adalah imam dan panutan. Jangan sampai memberikan contoh yang buruk. Kakak tahu, semua orang pernah punya masa lalu, tapi baik buruknya tergantung siapa yang menuntunnya nanti. Kakak setuju saja, asal kamu bisa mengubah sikap Hilya yang sedikit ketus."
"Iya, Kak. Aku akan mencoba mengubahnya dengan pelan. Seperti mama yang sekarang sudah berubah."
Lintang mengangkat kedua jempolnya. Bangga memiliki saudara seperti Bian, meskipun tidak punya hubungan darah, tetap saja menganggap Bian seperti adik kandungnya sendiri.
"Bi, cepetan pergi, aku mau tidur," usir Yudha yang baru masuk. Pria itu menguap sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Bian berdecih, ia turun dari ranjang dan merapikan penampilannya.
"Ingat, Kak. Kak Lintang baru melahirkan, jangan disentuh dulu," ucap Bian memperingatkan.
__ADS_1
Seketika itu bantal berbentuk hati melayang tepat di wajah Bian yang membuat sang empu lari terbirit-birit.