Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Bab 49. Ronde kedua


__ADS_3

Terasa sangat aneh, namun itulah kenyataannya. Lintang menatap wajah tampan yang terlelap di samping nya. Senyum mengembang mengingat keganasan pria itu. Rasa benci yang tertanam. Keangkuhan yang selama ini tercipta lenyap begitu saja, kini hanya ada rasa cinta yang tercurah untuk sang suami. Membuka hati yang sudah lama tertutup untuk menapaki lembaran baru bersama orang yang kini menjadi keluarganya. 


Kejadian semalam patut dijadikan sejarah oleh Lintang, dimana ia sudah kehilangan satu-satunya sesuatu yang berharga. Namun juga menjadikannya sebagai seorang istri yang sesungguhnya. 


"Mas, bangun!" ucap Lintang lirih.


Mengelus rahang kokoh Yudha dengan lembut. Mengusap dadanya yang hanya tertutup selimut. Dada bidang yang menghangatkan tubuhnya setelah pergulatan. Kini adalah tempat ternyaman untuknya bersandar. 


Sebenarnya belum pagi, namun Lintang sudah tak bisa memejamkan mata. Mau ke kamar mandi, tapi takut turun saat rasa perih kembali menyeruak.


Yudha menggeliat, meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku, pelepasannya untuk yang pertama setelah sekian bulan membuat tidurnya terasa nyaman. 


Menatap Lintang yang mendekap perutnya dan duduk bersandar di headboard. 


"Kamu kenapa?" Yudha turun dari ranjang. Menyalakan lampu utama. Menghampiri Lintang yang nampak meringis.


"Pingin pipis," jawab Lintang merengek manja. 


Dengan sigap, Yudha mengangkat tubuh Lintang dan membawanya ke kamar mandi. Menurunkan gadis itu lalu membantunya melepas piyama hingga lekuk tubuh Lintang terlihat jelas. 


Meskipun Lintang menolak bantuannya, Yudha tak peduli, baginya saat ini dirinya sudah menjadi kaki tangan wanita itu dalam keadaan apapun. 


"Lain kali jangan di ulangi lagi," cetus Lintang mendorong tubuh kekar Yudha keluar. 


Pria itu hanya cekikikan melihat guratan malu yang memenuhi wajah cantik Lintang.


Aww.. Aww


Lintang mencengkeram erat tepi bathtup, menahan rasa perih yang menerpa bersamaan dengan mengalirnya urine. 


Yudha yang bersandar di depan pintu kamar mandi tersentak kaget dan kembali masuk, mendekati sang istri yang masih berjongkok dan mendesis. 


"Kenapa, Sayang?" tanya Yudha antusias, membantu mengikat rambut Lintang yang terurai. 


Lintang menggeleng tanpa suara. Malu dong, masa gitu saja harus mengeluh di depan suaminya. Rasa sakit itu bahkan tak seberapa dibandingkan luka-luka yang selama ini membekas dihatinya. 


"Aku bantu ya," tawar Yudha yang Seketika di tolak oleh Lintang.

__ADS_1


Tak berselang lama, Lintang keluar dari kamar mandi. Menghampiri Yudha dan memakai bajunya kembali. Rasa nyeri itu sedikit reda setelah dibasuh dengan air hangat dan Lintang berharap bisa terlelap sampai pagi.


Yudha menarik pinggang Lintang lalu menjatuhkannya dalam dekapan. Memutar tubuh gadis itu hingga saling tatap. Menatap manik matanya yang nampak sayu karena kurang tidur. Jarinya bergerak menyusuri kening, turun ke pipi, hidung, dan berhenti di bibir ranum Lintang. 


Entah kenapa, rasa nikmat beberapa waktu lalu membuatnya ketagihan dan ingin mengulang lagi. Seolah-olah tubuh Lintang menjadi candu baginya. 


"Ad…ada apa, Mas?" tanya Lintang terputus-putus. Menatap Yudha yang semakin mendekatkan wajahnya. Hembusan napas menerpa hangat membuat Lintang bergidik. Takut senjata Yudha melukainya lagi dan akan menambah rasa sakit. 


"Aku ingin lagi," bisik Yudha menyelipkan anak rambut Lintang di belakang telinga.


Lintang menunduk, menahan dadanya yang bergemuruh. Di satu sisi, ia masih takut, namun juga tak ingin mengecewakan sang suami yang tampak penuh harap padanya. 


"Tapi tadi masih sakit." Lintang mengucapkan apa yang dirasakan. 


"Aku akan melakukannya dengan pelan, dan yang kedua tidak akan sesakit yang pertama," timpal Yudha menggiring Lintang menuju ranjang. 


Tak seperti tadi yang masih malu-malu dan polos, kini Lintang lebih percaya diri. Ia pun mulai pintar membalas ciuman sang suami. Menyeimbangkan gerakan demi gerakan yang menghadirkan rasa nikmat. 


Melupakan semua masalah, mencurahkan cinta dengan penyatuan tubuh. 


Lintang mencakar punggung Yudha saat ada sesuatu akan keluar dari bawah sana. Entah itu apa, yang pastinya Lintang bingung dan ingin meminta Yudha mengakhirinya. Perutnya kembang kempis menahannya. Takut jika ia akan pipis disaat Yudha menikmati pergulatannya.


"Jangan ditahan!" Sang duda yang sudah berpengalaman memberikan instruksi, hingga akhirnya Lintang menyerah dan mengeluarkan apa yang seharusnya terlepas. 


Jika yang pertama seimbang dengan rasa sakit, kini hanya ada kenikmatan yang membuat sekujur tubuh Lintang bergetar. 


Yudha tersenyum, ia tahu jika saat ini istrinya sudah bisa merasakan nikmatnya bercinta. 


"Permulaan yang bagus, Sayang. Malam pertama kita bisa dua ronde, dan aku harap besok __"


"Nggak ada," tukas Lintang dengan cepat. Mendorong tubuh kekar Yudha ke samping setelah mencabut senjatanya. 


Yudha terbahak melihat istrinya yang kembali ketus. Mengagumi wanita itu apapun yang dimilikinya. "Maaf, aku cuma bercanda," lanjutnya. 


Tok tok tok 


Ketukan pintu mengejutkan Lintang yang masih telanjang. 

__ADS_1


"Mas, itu siapa? Jangan-jangan Lion," tebak Lintang panik. Sebab, orang lain tidak berani mengganggunya.


Yudha mengambilkan baju untuk Lintang, lalu memakai bajunya sendiri. Tidak mungkin ia membuka pintu dengan memamerkan tubuh atletisnya seperti saat berperang. 


"Sudah," ucap Yudha sambil mengumpulkan baju yang teronggok di lantai lalu meletakkan di keranjang kotor. 


Lintang turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu. Merapikan rambutnya lagi  dan memasang wajah. 


Ceklek 


"Mama… "


Lion berhamburan memeluk kedua kaki Lintang, sedangkan Mimah yang berdiri di belakangnya hanya diam saja. Menunggu pertanyaan dari Lintang. 


"Lion kenapa, Mbak?" tanya Lintang menggendong Lion. Mengusap-usap pucuk kepalanya, menenangkan untuk diam. 


"Katanya pingin tidur bersama, Ibu," ucap Mimah, melirik ke arah beberapa tanda merah yang ada di leher Lintang lalu menatap Yudha yang baru saja keluar. 


Gawat, apa aku mengganggu pak Yudha dan Bu Lintang yang sedang melakukan itu. Bagaimana ini? Apa mereka akan memecatku. 


Tangan Mimah bergetar. Keringat dingin mulai menembus pori-pori nya. Ia takut jika kedatangannya menjeda aktivitas mereka. 


"Ya sudah, biarkan Lion tidur di kamarku, Mbak tidur saja." Ucapan Lintang mencairkan keheningan yang tercipta. 


"Ba… baik, Bu," jawab Mimah tersendat lalu berlari menuju belakang. 


Yudha mengatupkan bibirnya, menahan tawa sambil menatap punggung Mimah berlalu. 


"Kenapa dia, apa aku terlihat aneh?" tanya Lintang pada Yudha. 


Yudha sadar akan hal itu. Ternyata Lintang lupa mengancingkan baju bagian atas hingga tubuhnya yang penuh dengan tanda cinta itu terlihat. 


"Nggak, Sayang. Mungkin saja Mimah lagi mimpi buruk," ucap Yudha asal. 


Setelah Lintang masuk ke dalam, Yudha kembali mengunci pintunya lalu ikut naik ke atas ranjang bersama istri dan putranya. Ia memilih di sisi Lintang dan menempatkan Lion di bagian pinggir. Akan tetapi, bocah itu segera protes dan membelah Yudha yang memeluk sang istri. Ia memilih tidur di tengah-tengah kedua orang tuanya. 


Semoga Mimah bungkam dan tidak cerita pada siapapun. Kasihan Lintang, pasti dia malu banget jika sampai tahu kalau ternyata Mimah melihat tanda merah di dadanya. 

__ADS_1


__ADS_2