
Marcel dan Febby hanya mengangguk pelan mendengar pernyataan dari dokter.
" Lalu kapan dia bisa pulang dok? " Marcel bertanya kepada dokter, berharap Tuan Angga bisa dibawa pulang secepatnya.
" Iya kita tunggu sampe kondisinya benar benar stabil dulu, " dokter memberi penjelasan.
Lalu dokter pergi meninggalkan mereka. Febby mendekati suaminya, mengecup keningnya.
" Apa kau sama sekali tidak mengingatku? " tanya Febby kepada Tuan Angga, berharap masih tersisa ingatannya tentang dirinya.
" Tidak, memangnya kau siapa? " Tuan Angga menggelengkan kepalanya.
" Dia Febby istrimu, dan aku adalah Marcel sahabatmu sejak kecil dan juga Tangan kananmu, " Marcel menimpali.
Tuan Angga mengangguk pelan, lalu dia tersenyum getir.
" Kau kenapa? apa ada sesuatu yang aneh? " tanya Marcel khawatir.
" Tidak, aku hanya sedikit kecewa karena aku tidak bisa mengingat apapun, " raut wajah Tuan Angga seketika berubah menjadi sedih.
" Tenanglah, perlahan ingatanmu akan segera pulih. Kita akan bantu kamu supaya bisa mengingat semuanya, " ucap Marcel memberi semangat pada Tuan Angga sambil melirik Febby. Febby hanya bisa tersenyum canggung.
" Kalau kau memang istriku, aku ingin jalan jalan keluar, aku bosan disini.Kau bisa kan temani aku jalan jalan istriku? " pinta Tuan Angga dengan senyum menggoda Febby.
Febby hanya mengiyakan ajakan suaminya. Lalu dengan dibantu Marcel Tuan Angga sudah duduk di kursi roda. Febby mulai mendorong kursi roda itu keluar ruangan, mencari udara segar seperti yang di minta suaminya.
" Kau ngapain ikut! aku hanya ingin jalan jalan berdua saja dengan istriku! " bentak Tuan Angga pada Marcel yang mengikutinya.
Marcel hanya tersenyum mengiyakan, sedangkan Febby terlihat mulai kesal dengan sikap suaminya.
__ADS_1
" Kenapa dia enggak boleh ikut? nanti kalau kamu kenapa napa siapa yang bantuin, " ucap Febby sedikit ketus.
" Ya kamulah, kamu kan istriku. Sudah tugas istri kan melayani suami, " balas Tuan Angga dengan senyuman yang lagi lagi menggodanya.
Kau ini, bahkan saat amnesia seperti inipun kau masih saja menyebalkan.
" Kita istirahat disini dulu ya, aku capek jalan dari tadi, " ucap Febby sambil mengusap keringat yang menetes di dahinya.
Mereka berhenti di sebuah taman kecil yang ada di Rumah sakit itu. Tiba tiba ada orang datang dari belakang sambil memanggil nama Tuan Angga. Mendekat lalu memeluknya.
" Angga ... Angga anakku .... " wanita itu langsung memeluk Tuan Angga. Dia adalah ibunya Tuan Angga dan juga ayahnya. Tuan Aji Wijaya dan Nyonya Hetik Wijaya.
" Kalian siapa? " tanya Tuan Angga dan Febby berbarengan. Febby memang tidak tahu mengenai orang tua suaminya. Bagaimana bisa tahu pernikahannya saja mendadak dalam sehari. Dan sejak mereka menikah sampai sekarang Febby memang belum pernah bertemu dengan orang tua suaminya.
" Ini Mama sama Papa nak, kamu tidak ingat? " tanya Mama nya sedih.
Tuan Angga hanya menggelengkan kepalanya. " Lalu apa kamu ingat Papa nak? " tanya Papanya kemudian. Dan Tuan Angga hanya menggelengkan kepalanya.
" Sebenarnya ceritanya panjang Tante. Selama Tante ada di Amerika, Angga sudah menikah lagi. Dan dia adalah istrinya namanya Febby, mengenai kecelakaan ini aku sendiri juga tidak mengerti karena saat kejadian dia sedang menyetir sendiri, " jawab Marcel panjang lebar sambil mengenalkan Febby kepada Nyonya Wijaya.
Nyonya Wijaya dan Tuan Wijaya hanya mengangguk. Lalu Nyonya Wijaya memeluk Febby.
" Kenapa Mama tidak diberi tahu saat pernikahan kalian Nak? Mama kan bisa pulang untuk menghadiri pernikahan kalian, " ucap Nyonya Wijaya sambil memeluk Febby.
Sepertinya Tante suka sama Febby, syukurlah aku aman tidak akan kena omelan Tante, hihi.
Batin Marcel sambil senyum senyum sendiri.
" Maaf Ma, aa ..a ... aku sendiri juga tidak tahu tentang pernikahan ini. Semuanya begitu mendadak, " ucap Febby menjelaskan.
__ADS_1
Febby melirik Marcel, memintanya untuk menjelaskan semuanya pada mamanya Tuan Angga melalui isyarat matanya. Marcel langsung mengerti arti dari pandangan mata Febby padanya.
Kalau kau sendiri yang menjalaninya saja tidak bisa menjelaskan, apalagi aku?
" Ah begini Tante, sebenarnya yang tau alasan dibalik pernikahan ini hanya Angga. Karena dia hanya menyuruh saya untuk menyiapkan tempat dan lain sebagainya untuk pernikahan mereka hanya dalam waktu semalam. Tante bisa bayangin sendiri kan bagaimana pontang pantingnya saya, " jawab Marcel menyela sesuai isyarat mata Febby. Febby hanya tersenyum getir.
" Jadi kalau pernikahan ini mendadak, berarti mereka tidak saling mencintai dong, " ucap Nyonya Wijaya mulai bingung dengan apa yang terjadi dengan pernikahan anaknya.
" Ti ... tidak Tante, justru karena mereka saling mencintai makanya mereka menikah. Karena mereka sebelumnya juga sudah berpacaran. Mungkin saja pernikahan yang mendadak ini dia ingin memberi surprise pada Febby, iya kan Feb? " tanya Marcel pada Febby.
" Iy ...iya Tante, " jawab Febby gelagapan karena bingung harus bagaimana. Mereka berdua terpaksa berbohong, karena tidak mungkin kan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Nanti malah bisa runyam masalahnya, pikir mereka berdua.
" Oh begitu rupanya, mungkin saja sih Tante tahu betul sifat Angga. Dia kalau sudah punya keinginan ya harus kesampaian, " ucap Nyonya Wijaya sambil mengelus rambut Febby, Febby nampak tersenyum canggung.
Setelah pertemuan itu, Tuan Angga masih harus dirawat di Rumah sakit sampai 1 minggu. Selama 1 minggu itu Febby selalu merawat suaminya dengan baik. Dia rela bolak balik ke Rumah sakit demi suaminya. Perasaan bencinya perlahan hilang, hanya ada rasa iba dan kasian pada suaminya. Terlebih dengan sikap mertuanya yang baik padanya, membuat Febby berpikir dua kali untuk meninggalkan suaminya dalam keadaan seperti itu.
Satu minggu terlewati sudah, kini saatnya Tuan Angga kembali pulang ke Rumahnya. Kali ini dia dijemput sama Mama Papanya, Marcel, Febby dan juga Dea.
Saat akan memasuki mobil Tuan Angga minta satu mobil dengan Febby berdua saja.
" Marcel kau yang menyetir untuk Mama Papa sama Dea. Dan Pak Karjo sama saya dan Febby, " ucap Tuan Angga pada Marcel dan pak Karjo. Pak Karjo adalah sopir pribadi Tuan Angga.
Marcel hanya mengiyakan, begitu dengan Mama Papanya. Mereka langsung setuju. Akhirnya Tuan Angga semobil dengan Febby, sedangkan Marcel, Dea dan Orang tuanya di mobil satunya mengikuti dari belakang.
Febby terlihat kesal dengan permintaan suaminya. Meskipun perlahan dia menyingkirkan egonya, namun tetap saja benih benih cinta belum sepenuhnya tumbuh dihatinya.
" Kamu kenapa cemberut gitu sih, jelek tau, " ucap Tuan Angga sambil mencubit pipi Febby.
" Auu ... sakit tau! habisnya kamu ngapain sih minta semobil berdua sama aku
__ADS_1
Kan lebih seru kalo kita semobil sama mama papa, " jawab Febby ketus sambil mengusap usap pipinya yang dicubit.
" Karena aku tidak ingin ada yang menggangu kita, " jawab Tuan Angga dengan senyum liciknya.