
Setelah dinyatakan sehat, hari ini Lintang dan Rembulan sudah diperbolehkan pulang. Seluruh keluarga menyambut antusias hadirnya keluarga baru yang menggemaskan. Yudha sengaja tak menyewa jasa baby sitter untuk putri tercintanya. Ia ingin menjadi ayah yang siaga yang bisa merawat putri dan istrinya sekaligus.
"Selamat datang, Sayang." Yudha membuka pintu lebar-lebar. Ia menggendong putrinya sendiri saat masuk rumah. Terus Mencium pipi gembul bayinya yang menggemaskan.
Yudha menghampiri bi Siti yang membantu Andreas menyeret koper. "Kamar Rembulan gimana, Bi?" tanya Yudha menatap pintu ruangan yang ada di sebelah kamar Lion.
"Sudah jadi, Pak. Uluh-uluh cantiknya kayak mamanya," sanjung bi Siti mengambil alih Rembulan dari tangan Yudha.
Yudha menghampiri seluruh keluarganya yang ada di ruangan tengah. Menyuruh mereka untuk istirahat setelah beberapa hari ini menguras tenaga menjaga Lintang di rumah sakit. Lalu mendorong kursi roda yang diduduki Lintang menuju kamar Rembulan.
Mata mereka langsung terpana melihat keindahan kamar itu yang nampak luar biasa. Ruangan yang memanjakan mata sekaligus menenangkan bagi siapa saja yang berada di dalamnya. Dan mereka berharap Rembulan akan nyaman.
Lintang sengaja tak memberikan banyak aksesoris di dalamnya, namun tetap seperti berada di dunia princes. Tidak ada box bayi juga karena Lintang akan menidurkan Rembulan langsung di atas ranjang.
"Sejak kapan Mas berencana membuat kamar seperti ini?" tanya Lintang pada Yudha yang terus mendorong kursinya hingga berada di belakang jendela.
"Sejak tahu anak kita perempuan, sejak saat itu aku meminta Andreas untuk mencarikan desain yang cocok."
Lintang menghirup dalam-dalam udara yang langsung berhembus dari arah taman. Ia menoleh menatap Yudha yang sedang mengalihkan letak bantal
Lintang berusaha berdiri dan berjalan pelan. Meskipun rasa sakit itu masih menyeruak, tetap saja ia tidak ingin merepotkan orang lain untuk terus membantunya berjalan.
"Mas…" Hanya sebuah panggilan itu saja sudah mewakili pertanyaan yang Lintang ingin luncurkan.
"Andreas dan Gita yang membeli itu semua." Menunjuk lemari yang berada di samping pintu.
Bi Siti masuk, menidurkan Rembulan yang sudah terlelap. Lalu keluar lagi untuk melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai.
Pintu tertutup, Lintang langsung menyandarkan kepalanya di dada bidang Yudha.
"Terima kasih atas semua yang mas berikan padaku."
Yudha pun membalas ucapan itu dalam hati. Sebab, omongan saja tak mampu mewakili rasa syukurnya yang jauh lebih besar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tengah-tengah kebahagiaan Lintang dan Yudha, ada yang lebih bahagia mengalahkan mereka. Keanu kini pun tengah berjuang mendapatkan hati seorang Indira.
Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Keanu sudah berada di depan sekolah di mana Indira menimba ilmu.
Kak, aku sudah keluar dari kelas, pesan Indira yang langsung dikirim untuk Keanu.
__ADS_1
Setelah membacanya, Keanu membungkuk menyisir rambutnya lagi, lalu berdiri dengan punggung bersandar di mobil. Merapikan penampilannya dan memasang wajah cool. Matanya terus tertuju pada siswa-siswi yang berhamburan mengambil kendaraannya. Nampak gadis cantik itu berjalan dengan seorang perempuan dan laki-laki di sebelahnya. Gadis itu melambaikan tangannya ke arah Keanu yang masih mematung di sisi mobil.
"Ra, kamu nggak ikut denganku?" tanya Ferry, salah satu laki-laki yang menyukai Indira.
Indira menggeleng pelan, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku sudah dijemput." Menunjuk Keanu.
"Itu siapa?" tanya Ferry kemudian, sedangkan Asya hanya menatap tanpa bertanya.
"Dia itu __" Berhenti sejenak, bingung mau menyebut apa, pasalnya ia dan Keanu baru berkenalan dan berapa kali bertemu. Belum ada pembicaraan yang serius hingga ia tak mau menganggapnya lebih.
"Kakak ku," lanjutnya.
"Bukannya kakak kamu kak Bian?" Ferry semakin menyelidik.
"Kak Bian itu kakak kandungku, kalau kak Keanu kakak sepupuku, da…. da…"
Indira berlari meninggalkan Asya dan Ferry, menghindari pertanyaan yang pasti akan menyudutkannya.
Indira mengelus dada, mengatur napasnya yang ngos-ngosan.
"Kenapa harus lari-lari?" tanya Keanu membukakan pintu mobil.
"Biasa, Kak. Ada yang kepo," jawab Indira segera masuk. Selain panasnya matahari yang menyengat membakar kulit, Indira juga tak mau temannya itu semakin kepo dengan urusannya.
"Ra, Kak." Keduanya saling memanggil bersamaan.
Indira tersenyum lalu menundukkan kepalanya malu-malu.
"Kak Keanu duluan yang ngomong," pinta Indira.
Tangan Keanu mengulur ke samping. Mengusap kepala Indira dengan lembut.
"Ra, will you marry me?"
Keanu membuka kotak cincin berlian di depan Indira.
Indira menunduk tanpa ingin menyentuh benda itu. Pertemuannya beberapa kali dengan Keanu memang membuatnya nyaman, namun ia tak ingin buru-buru menerimanya.
"Tapi, Kak. Apa ini nggak terlalu cepat?" tanya Indira lirih, takut menyinggung Keanu yang sudah baik padanya.
"Aku hanya melamarmu, bukan menikahimu, dan aku juga tidak memaksamu untuk menerimaku sekarang, pikirkan dulu, aku tidak mau kamu menyesal dengan pilihanmu."
"Baiklah, aku akan memikirkannya lagi."
__ADS_1
Indira menutup kotak itu lagi dan menyimpannya di tas. "Aku akan memberi jawabnya nanti di hari ulang tahunku. Jika cincin ini aku pakai, itu artinya aku menerima lamaran kakak, tapi jika aku tidak memakai nya, itu artinya aku menolak, Kakak.''
"Baiklah, aku tunggu."
Setelah mengungkapkan keinginannya, Keanu melajukan mobilnya dengan pesat. Kali ini ia langsung mengantar Indira pulang ke rumah. Sebab, ia sudah berjanji pada Sovia akan membawa Indira pulang tepat waktu. Sebagai calon menantu yang baik, ia tak ingin ingkar janji pada sang calon mertua.
Tanpa terasa, mobil berhenti di depan rumah Indira.
"Kakak nggak mampir dulu?" tanya Indira memastikan.
"Kayaknya nggak usah, sudah siang. Aku harus ke kantor lagi."
Indira yang hampir saja membuka pintu itu mengurungkan niatnya saat tali tasnya nyangkut. Seketika itu matanya terbelalak melihat isi dashboard yang tak sengaja terbuka.
Sekujur tubuhnya membeku mengingat benda yang pernah ditodongkan di depannya.
"Ka __" Suara Indira tercekat di ujung lidah sehingga ingin menyebut nama Keanu saja tak mampu.
Keanu tak gugup, mungkin ini saatnya menjelaskan pada Indira.
"Ra, aku bisa jelasin semuanya."
Keanu merengkuh tubuh Indira dengan erat. Menenangkannya untuk tidak panik lagi jika melihat benda seperti itu nantinya.
"Dulu aku adalah mafia, kamu tau, kan. Siapa itu mafia?"
Indira yang masih berada di pelukan Keanu hanya mengangguk tanpa suara. Ia fokus dengan detak jantung Keanu yang terdengar teratur.
"Tapi sekarang tidak lagi. Aku meninggalkan dunia hitam itu. Sekarang aku Keanu Delbert. Seorang pengusaha di kota ini."
Indira mendongak, menatap kedua bola mata Keanu yang dipenuhi dengan kejujuran.
"Kakak nggak bohong, kan?" tanya Indira memastikan.
Keanu menggeleng. Mengangkat jari kelingkingnya tepat di depan Indira.
"Aku tidak berbohong, tapi aku belum bisa membuang senjata itu." Menyungutkan kepalanya ke arah pistol yang teronggok di bawahnya.
"Jadi waktu itu kakak benar mau menembakku? Lalu kakak menyembunyikannya di mana? Kenapa aku tidak menemukannya?" tanya Indira menyelidik yang membuat Keanu mati kutu.
"Nanti kalau sudah waktunya, kamu pasti tahu."
Keanu masih saja merahasiakan dimana ia menyimpan pistolnya kala itu.
__ADS_1