Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Lelaki Misterius


__ADS_3

" Hey bangun, ayo kita turun. Woy! bangun apa kau mau tidur di dalam pesawat? " Febby berteriak cukup keras sampe semua penumpang menoleh kearahnya. Namun Tuan Angga masih belum bangun juga. Febby semakin kesal dibuatnya.


" Dia ini tidur apa mati sih, pules banget. Sepertinya teriakanku kurang keras ya, ok baiklah, " Febby hendak berniat untuk meneriaki Tuan Angga lagi. Namun saat wajahnya mendekat kewajah suaminya, Tuan Angga secepat kilat langsung mencium pipi Febby. Membuat Febby terperanjat malu, wajahnya langsung merah merona.


" Kau pura pura ya, uh nyebelin, " ucap Febby kesal sambil mencubit perut Tuan Angga.


" Aww sakit tau, ingat kata Mama kita harus akur gaboleh berantem, " ucap Tuan Angga dengan senyum menggodanya.


Febby hanya bisa mendengus kesal. Mereka memesan taxi online untuk mengantarkan mereka ke Hotel. Disepanjang perjalanan mereka saling diam layaknya anak kecil yang sedang marahan.


" Tuan kita sudah sampai, " ucap sang supir taxi memecah keheningan.


Setelah turun Febby langsung nyelonong masuk. Tuan Angga hanya tersenyum melihat tingkah Febby, berjalan mengikutinya.


Kita lihat saja sampai kapan kau akan terus bersikap seperti ini padaku. Jangan panggil aku Angga kalau aku tidak bisa menaklukkanmu.


Setelah mereka memesan kamar, Tuan Angga menyuruh Febby untuk ke kamarnya lebih dulu.


" Kau ke kamar duluan,aku ada urusan sebentar, " ucap Tuan Angga pada Febby setelah melihat ponselnya.


" Urusan apa? bukannya kita kesini buat bulan madu? lagi pula ini semua yang mengurus Mama. Lalu kau bilang ada urusan? aku tidak percaya, " jawab Febby ketus.


" Kenapa memangnya kalau aku punya urusan, apa kau sudah tidak sabar? " Tuan Angga menjawab balik sambil terkekeh lalu pergi begitu saja meninggalkan Febby.


Arghhh kenapa denganku? mengapa aku bisa begitu bodoh mengatakan hal seperti itu. Dia pasti semakin besar kepala.


Febby lalu pergi menuju kamarnya. Sesampainya di dalam kamar Febby merebahkan dirinya sebentar, sampai akhirnya dia tertidur.


Tak lama setelah dia tertidur, terdengar suara ketokan pintu yang membangunkannya.


" Permisi Nyonya, saya mengantarkan ini untuk Nyonya, mohon diterima, " ucap pelayan itu sopan setelah Febby membukakan pintu.

__ADS_1


Bunga? dari siapa ini, kenapa tidak ada nama pengirimnya. Apa ini dari Angga? ah rasanya tidak mungkin.


" Dari siapa ya? kenapa disini tidak ada nama pengirimnya? " tanya Febby penasaran.


" Maaf Nyonya, saya tidak tahu. Tugas saya hanya mengantarkan ini untuk Nyonya. Kalau begitu saya permisi dulu, " jawab pelayan itu sopan lalu pergi.


Febby memang suka dengan bunga. Dulu sewaktu dia masih sekolah Neddy yang selalu memberi bunga mawar untuknya saat dirinya sedang bersedih.


Febby meletakkan bunga itu diatas meja. Dia melirik jam,:waktu menunjukkan pukul 10 malam. Namun Tuan Angga belum juga kembali. Akhirnya Febby memutuskan untuk mandi, badannya terasa lengket semua.


Sampai Febby selesai mandi Tuan Angga tak kunjung kembali. Febby semakin kesal menunggunya sekaligus khawatir. Lalu dia melirik bucket bunga tadi. Menciumnya, aroma bunga itu terasa menenangkan untuknya. Sampai akhirnya Tuan Angga datang dengan marah marah.


" Gubrakkkkk .... " suara pintu yang dibuka paksa oleh Tuan Angga. Febby kaget dibuatnya sampai bucket bunga di tangannya terjatuh.


" Kau kenapa, apa kau tidak bisa pelan! " bentak Febby keras karena kesal dengan sikap suaminya.


" Plakkk ... rupanya hatimu tidak sepolos wajahmu. Beraninya kau melakukan ini di belakangku! " Tuan Angga balik membentak Febby sambil mendaratkan tamparan diwajah Febby.


" Plakkk ... apa maksudmu tiba tiba menamparku. Aku bahkan tidak tahu apa salahku, " Febby menampar balik Tuan Angga. Tidak terima jika dirinya harus diperlakukan kasar seperti itu tanpa tau apa salahnya.


" Apa maksudmu, aku tidak mengerti, " jawab Febby ketus, memandang suaminya dengan tatapan yang tak kalah tajam. Seperti dua ekor serigala yang siap berkelahi.


Lalu Tuan Angga melemparkan beberapa foto kewajah Febby. Febby mengambil selebaran foto yang tersebar itu. Betapa terkejutnya dia ketika melihat foto itu, dirinya yang sedang tidur dengan laki laki lain.


" Kenapa kau kaget? kau pasti tidak menyangka bukan dari mana aku bisa dapat foto itu. Kau pasti tidak menyangka bukan kalau aku akan mengetahui semua kebusukanmu, " ucap Tuan Angga sinis.


" Ti ... tidak, ini tidak benar. Aku sama sekali tidak mengenal orang ini, bagaimana mungkin aku tidur dengan dirinya. Kau harus percaya denganku, ini tidak benar, " ucap Febby gugup. Berusaha menjelaskan pada Tuan Angga.


" Kau masih tidak mengaku meskipun sudah ada bukti? Lalu ini bunga dari siapa kalau bukan dari laki laki selingkuhanmu itu! " ucap Tuan Angga kembali membentak Febby.


" Aku ... aku juga ti ... tidak tahu itu dari siapa. Kupikir itu darimu, " Febby menjawab sambil terbata bata. Nyalinya menciut, dia tidak pernah melihat Tuan Angga semarah itu.

__ADS_1


" Omong kosong apa ini. Baiklah, kalau kau memang tetap tidak mau mengaku. Akan kubuat agar kau mau mengakuinya, " ucap Tuan Angga lalu menyeret Febby ke kamar mandi.


" Tidak lepaskan aku, kumohon lepaskan aku. Kau menyakitimu, " ucap Febby memohon sambil meronta berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Tuan Angga.


" Diam!!! "


Tuan Angga mendorong Febby hingga jatuh tersungkur di lantai kamar mandi. Tuan Angga membuka kran sehingga air keluar dari shower membasahi tubuh Febby.


" Kau jahat! aku membencimu! sangat membencimu! " ucap Febby dengan isak tangisnya. Febby menangis dibawah guyuran air, namun Tuan Angga sama sekali tidak perduli dengan tangisan Febby.


Setelah tubuh Febby basah kuyub. Tuan Angga mematikan showernya, lalu pergi mengunci Febby di kamar mandi.


" Kita lihat saja, apakah setelah ini kau masih tidak akan mengaku? " ucap Tuan Angga sembari keluar dan mengunci pintu kamar mandi.


" Tidak ... jangan kurung aku disini. Kumohon Angga, jangan lakukan ini. Aku benar benar tidak berselingkuh, ku mohon lepaskan aku. "


Namun Tuan Angga tidak menggubris teriakan Febby. Dia mengobrak abrik seluruh isi kamar. Membuang semua barang yang ada di meja. Tangannya menghantam dinding dengan keras, kemarahan dan rasa sakit karena merasa dihianati mengusai emosinya. Dia lalu duduk di sofa, mengingat kembali saat dirinya tahu tentang kebusukan Febby.


Flash Back Off


Tuan Angga keluar hotel untuk membeli makanan dan minuman untuk dirinya dan juga Febby. Dia berfikir malam yang panjang untuk dirinya dan juga Febby pasti akan menguras tenaga. Maka dia memutuskan untuk membeli makanan saat mereka merasa lelah dan lapar setelah mereka bergulat nanti.


Namun pada saat Tuan Angga hendak masuk ke dalam mini market yang dekat dengan hotel, ada seorang lelaki yang menabraknya dan menjatuhkan amplop coklat di depannya.


Tuan Angga mengambil amplop yang terjatuh itu berniat untuk memberikannya pada laki laku tersebut. Namun saat Tuan Angga menoleh dan ingin mengejar, laki laki tersebut sudah menghilang.


Ah aku lihat isinya nggak apa apa kali ya, siapa tahu di dalamnya ada sesuatu yang bisa memberi petunjuk siapa pemilik amplop ini.


Lalu Tuan Angga membuka isi amplop yang terjatuh itu. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat isi dari amplop itu. Foto foto Febby yang sedang tidur dengan laki laki lain.


Tuan Angga sangat marah ketika melihat semua foto foto itu. Dia langsung kembali ke hotel untuk menemui Febby.

__ADS_1


Flash Back On


" Kenapa aku harus selalu dihianati. Dulu Siska, sekarang Febby. Aku tidak akan mengampunimu kali ini, " ucap Tuan Angga pada dirinya sendiri.


__ADS_2