
Lintang menatap nanar air yang mengalir deras. Kakinya terus mengayun menyisir tepi sungai. Ditemani Andreas yang menggendong Lion, ia terus melangkah. Tak mengenal lelah dan terus berharap akan menemukan tanda-tanda keberadaan sang suami.
Terjalan batu besar tak menjadi halangan. Keyakinan dan kekuatan cinta membuatnya pantang menyerah untuk terus mencari Yudha.
"Kalau ibu capek, istirahat dulu," pinta Andreas melindungi kepala Lintang dengan satu tangannya. Ia terus mengikuti kemana Lintang berjalan.
Lintang menghela napas panjang. Mengelus perutnya yang terasa sedikit nyeri. Lalu menatap Andreas.
"Apa benar mas Yudha sudah meninggal?"
Seperti Lion, Lintang kini bertanya pada sang asisten. Pasalnya, hatinya memang tidak yakin jika ia belum melihat jasad Yudha dengan matanya.
Andreas menatap Lion sejenak, lalu menatap Lintang lagi. Ia pun bingung mau menjawab apa, takut salah bicara yang berujung membawa duka bagi mereka.
Untuk saat ini senyuman Lintang dan Lion yang terpenting baginya. Menjaga mereka adalah tanggung jawab besar.
"Apa ibu yakin kalau pak Yudha masih hidup?"
Lintang menunduk lalu mengikuti kata hatinya. Seperti yang sering diucapkan Yudha padanya. Ikuti kata hatimu, Sayang.
"Yakin," jawab Lintang cepat. Tak ada kata ragu sedikitpun saat mengucapkan kata itu.
"Selama jasad mas Yudha belum di temukan, aku akan terus yakin kalau dia masih hidup."
Andreas tersenyum tipis.
"Aku juga yakin pak Yudha masih hidup," timpal Andreas lalu melanjutkan langkahnya.
Tak hanya di tepi sungai, Lintang mendatangi kampung yang berada di dekat sana. Mencari Informasi di tempat itu, mengumumkan kepada warga jika sewaktu-waktu melihat suaminya dalam keadaan apapun untuk segera menghubungi keluarganya. Setelah puas, Lintang juga datang ke tempat mobil Yudha terbakar. Tidak ada apapun selain puing-puing hitam yang membuat air mata Lintang kembali lolos.
Andreas menyodorkan tisu di depan Lintang yang mulai terisak.
Meraihnya lalu mengusap pipinya yang basah karena air mata.
"Mas, tempat ini menjadi saksi pertemuan terakhir kita. Tapi kenapa, aku tidak yakin kalau kita akan berpisah selamanya. Jangan siksa aku lebih lama lagi, seandainya kamu memang benar-benar pergi dari dunia ini, aku ingin ada disampingmu, aku ingin kita selalu bersama." Isakannya semakin menjadi kala mengingat senyum manis sang suami.
Cahaya matahari mulai menyengat membakar tubuh. Andreas mengibas-ngibaskan tangannya ke wajah Lion yang dipenuhi peluh. Menatap punggung Lintang yang masih bergeming di tempat.
__ADS_1
Cinta sejati tidak akan pernah terpisahkan, meskipun harapan itu sangat kecil, aku tetap berdoa semua pak Yudha dan ibu selalu bersama.
"Lintang, sudah siang, Nak. Kita pulang," teriak pak Juli dari atas.
Lintang berdiri dengan bantuan sang asisten. Berjalan pelan melewati jalan yang dipenuhi batu kerikil. Menggenggam erat tangan sang ayah yang ikut turun dan menuntunnya.
"Maaf, Bu. Sebaiknya kita langsung ke kantor."
Lintang mengangguk setuju. Sebagai istri sang pemimpin, Lintang harus berperan untuk menjalankan kewajibannya saat sang suami tidak ada. Memastikan jika perusahaan itu akan tetap berjalan lancar dan maju tanpa Yudha.
Mata Lintang kembali digenangi cairan bening saat menatap bangunan yang menjulang tinggi di depannya. Tempat itu adalah saksi, dimana dirinya dan Yudha di persatukan lagi. Banyak kenangan yang mereka lalui bersama. Pahit manis Yudha rasakan saat mengharapkan cinta darinya.
Lintang turun dari mobil. Ia disambut antusias oleh seluruh karyawan. Air mata kembali membanjiri pipinya saat penjaga mengawalinya dengan ketat.
Ternyata tak hanya Lintang, semua yang datang pun memakai baju hitam untuk menghormati sang CEO yang kini entah di mana.
Lintang ingin tersenyum, namun hatinya tetap menangis. Memeluk satu persatu karyawati. Meminta pada mereka untuk mendoakan suaminya.
"Ibu yang tabah, saya yakin rencana Allah jauh lebih indah dari apa yang kita harapkan," ucap kepala staf yang dulu menjadi atasan Lintang.
"Terima kasih, Bu. Bantu saya untuk menjalankan amanah ini," pinta Lintang dengan serius. Tangannya gemetar hingga membuat semua orang ikut terhanyut dalam kesedihan.
"Ibu yang sabar, saya akan selalu berdoa untuk keluarga ibu dan pak Yudha." Wanita yang berkaca mata itu mengelus perut Lintang yang terus bergerak.
"Semoga nanti lahirannya lancar."
Semuanya mengamini ucapan itu.
Lintang memasuki ruang rapat yang dihadiri orang penting. Sepertinya putri tercinta pun sudah lelah karena aktivitas yang tak ada hentinya.
Lintang duduk di kursi yang biasa sang suami tempati. Ia bisa merasakan kehadiran pria itu di sisinya, seperti memberikannya semangat untuk percaya diri.
Pertama-tama Lintang mengucapkan puji syukur atas nikmat dan segala sesuatu yang diberikan Allah. Lalu meminta mereka untuk mendoakan suaminya. Setelah itu Lintang langsung membahas perihal kenapa dirinya harus berada di garda terdepan.
"Maafkan suami saya jika beliau pernah melakukan kesalahan pada bapak, ataupun ibu sekalian. Saya di sini sebagai pemimpin perusahaan, ingin memberi tahu bahwa untuk sementara posisi mas Yudha akan di gantikan Pak Andreas." Menunjuk Andreas yang berdiri di samping nya.
Tepuk tangan riuh mengiringi ucapan Lintang.
__ADS_1
"Saya yakin kalian semua pun bisa untuk bekerja dengan baik. Hanya saja, Pak Andreas yang lebih mengerti mas Yudha. Dia satu-satunya orang kepercayaan beliau."
Menatap mereka yang nampak setuju dengan keputusannya.
"Jika bapak atau ibu sekalian ada yang kurang berkenan, mohon mengajukan pertanyaan. Saya siap untuk menjawabnya."
Hening
Tidak ada yang protes atau bicara apapun, itu artinya mereka setuju dengan keputusan Lintang.
"Kalau begitu, saya akhiri, silahkan kalian bekerja kembali."
Semua berhamburan keluar setelah bersalaman dengan Lintang. Kini di ruangan itu hanya ada Lintang dan Andreas.
"Pak, tolong panggilkan Gita, aku ingin bicara."
Andreas merogoh ponselnya, ia menghubungi Gita seperti perintah Lintang.
Sepuluh menit kemudian, Gita membuka pintu sedikit, menyembulkan kepalanya ke dalam, menatap Andreas dan Lintang bergantian.
"Permisi," sapa Gita lirih.
Lintang tersenyum, mempersilahkan sahabatnya itu masuk.
Keduanya berpelukan setelah beberapa bulan tidak saling bertemu.
Gita mengelus punggung Lintang, mengurai rasa rindu yang mengendap. Menguatkan sang sahabat untuk bisa melewati ujian yang menimpa.
"Maafkan aku ya, Git. Karena kejadian yang menimpaku dan mas Yudha, pernikahan kamu dan pak Andreas harus diundur," ungkap Lintang merasa bersalah.
Gita tersenyum, melirik Andreas yang ada di sisi Lintang.
"Tidak apa-apa. Lagipula, jodoh tidak akan kemana, kalau pak Andreas dan aku berjodoh, halangan sebesar apapun tidak akan memisahkan kami."
Andreas tersentuh mendengar ucapan Gita, tak menyangka kesabaran wanita itu seluas samudera, padahal ia sendiri sering mengacuhkan hubungannya demi Lintang, namun Gita masih bisa menerima dengan santai.
Gita mengelus perut buncit Lintang lalu menciumnya.
__ADS_1
"Sabar ya, Dik. Onty yakin papa pasti ketemu."
Dan kita langsung menikah, lanjut Andreas dalam hati.