Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Bab 72. Rencana Natalie


__ADS_3

Yudha menyambar jas dari lemari lalu menyampirkan di pundaknya. Mengambil dasi dan membelitnya di leher tanpa ia pasang. Berlari meraih ponsel yang ada di nakas. Menatap sekilas ke arah Lintang yang masih meringkuk di atas ranjang. Mendekatinya lalu menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh wanita itu. Mencium singkat karena tak ada waktu lagi. Rapat yang ia tunda kemarin harus segera diselesaikan pagi ini juga. Tidak mau mengecewakan klien untuk yang kedua kali. 


Keluar kamar dan menutup pintu dengan pelan, takut mengusik Lintang yang baru memejamkan mata setelah morning sickness.


"Papa…" teriak Lion yang baru saja keluar dari kamar. Bocah itu tampak ceria dengan seragam sekolahnya. 


Yudha berjalan ke arahnya, memastikan semua perlengkapan Lion pun sudah siap dan tidak ada yang ketinggalan. 


"Mbak Mimah, nanti kalau bu Lintang bangun bilang saja aku sudah berangkat." Yudha memakai sepatunya di ruang keluarga. Setelah itu, satu tangannya membantu merapikan rambut Lion, sedangkan yang satunya lagi memegang benda pipihnya yang terus berdering. 


"Lion ke sekolah sama siapa, Yud?" tanya Bu Fatimah dari arah ruang makan. 


"Sama aku saja, Bu. Nanti pulangnya biar dijemput supir," jawab Yudha buru-buru. Meneguk segelas susu yang tersaji tanpa ingin menyentuh makanan. 


"Ibu nanti mau ke rumah sakit jenguk ayahnya Lintang."


Sebentar lagi kayaknya bakalan ada yang CLBK. 


Yudha menghentikan aktivitasnya. Menghampiri bu Fatimah yang sedang menata makanan di rantang 


"Maaf, Bu. Tapi aku nggak bisa menemani ibu, ada rapat penting di kantor. Biar nanti supir yang mengantar. Salam buat ayah." Yudha merasa bersalah. 


"Nggak papa, pekerjaan kamu lebih penting. Ibu juga akan cepat pulang, kasihan Lintang di rumah sendirian," jawab Bu Fatimah santai. Memasukkan bekal di tas Lion sebelum berangkat. 


"Mama di mana, Pa?" tanya Lion celingukan mencari seseorang yang pagi ini belum ia lihat. 


"Mama belum bisa anterin Lion. Dedeknya ngantuk, Sayang," jawab Yudha dengan halus yang langsung di mengerti putranya. 


Mereka keluar dari rumah menghampiri pak Didin yang ada di samping mobil. Yudha memelankan ayunan kakinya saat melihat bukan mobilnya yang disiapkan, melainkan mobil khusus untuk mengantar Lintang saat pergi. 


"Lho, Pak. Kok pakai mobil istriku? Memangnya mobilku ke mana?" tanya Yudha antusias, menatap ke arah garasi, hanya tinggal satu mobil, itupun paling Yudha benci. 


"Di bengkel, Pak. Baru tadi saya bawa ke sana, waktunya service." 


Yudha berdecak kesal. Menatap jam yang melingkar di tangannya. Tidak mungkin ia memakai mobil Lintang yang akan dibawa bu Fatimah. Tak mungkin juga ia memakai mobil di garasi yang belum dibersihkan. Memanggil Andreas pasti akan terlambat mengingat waktu yang sangat sempit.


 


Tin tin 

__ADS_1


Sebuah mobil mewah masuk dari arah gerbang. 


Yudha dan Lion hanya menatapnya dari jauh. Seorang wanita cantik turun dari sana. 


"Lion," sapa nya dengan ramah. Merentangkan kedua tangannya dengan lebar. 


Lion mendongak menatap Yudha, setelah itu menatap wanita itu. Otaknya mengingat pitutur Lintang beberapa waktu yang lalu. 


"Mama," ucap Lion lirih, namun masih bisa didengar oleh Natalie. 


Natalie menutup pintu mobilnya. Berjalan lenggang menghampiri Lion yang ada di samping mantan suaminya. 


"Lion mau berangkat sekolah?" tanya Natalie dengan nada lembut. 


Lion mengangguk pelan. 


Jika dulu terus menyerahkan Lion pada pengasuh, kini Natalie nampak halus dan perhatian. Memeluk Lion dengan erat dan mencium pipi gembul nya. 


"Ngapain kamu ke sini?" tanya Yudha datar. 


Ia tak ingin lagi berhubungan dengan Natalie. Meskipun ada Lion di antara mereka, ia menganggap wanita itu bukan siapa-siapa dan tidak berhak untuk bertemu dengan putranya seenaknya sendiri. 


"Aku ingin bertemu Lion. Aku kangen sama dia, Mas," ungkap Natalie menyatakan tujuannya. 


"Maaf, Pak, mobilnya baru bisa diambil nanti siang." Pak Didin menyelak setelah mendapat kabar dari bengkel. 


"Baiklah, kalau begitu aku naik kendaraan umum saja." Menarik tangan Lion. Namun dengan sigap, Natalie menghentikannya  kembali hingga kini Lion berada di tengah-tengah kedua orang tuanya. 


"Pakai mobilku saja, takutnya Lion terlambat."


Mendengar kata 'terlambat' membuat Yudha kembali teringat pada pekerjaannya di kantor.


"Iya, Pa, nanti kalau Lion terlambat bisa dihukum bu guru," ucap Lion seperti yang selalu di dengar dari gurunya. 


Tak ada pergerakan, Yudha nampak enggan jika harus berhubungan dengan mantan istrinya. Namun, sepertinya saat ini ia tak bisa menolak permintaan putranya. Ia terjepit dalam suasana yang membingungkan dan akhirnya mengutamakan Lion. 


"Mas Yudha, aku tidak ada niatan apapun. Semua ini aku lakukan demi Lion, anak kita."


"Ayo, Pa." Lion meraih tangan Yudha dan mengajaknya ke arah mobil Natalie. 

__ADS_1


"Baiklah, tapi ingat, hanya kali ini saja, ya," pinta Yudha serius. 


Lion mengangguk dan membuka pintu mobil bagian belakang, sedangkan Yudha yang mengemudi dengan Natalie duduk di sampingnya. 


Dalam perjalanan, Yudha tidak mengucap sepatah kata pun. Natalie dan Lion sesekali bercanda, mereka nampak akrab saat membahas robot kesukaan Lion. 


"Lion mau nggak, mama beliin lagi?" tawar Natalie melirik ke arah Yudha yangsedikit pun tak tertarik dengan pembahasanya. 


Lion pun menatap papanya, lalu menatap mamanya lagi dan mengangguk pelan. 


"Kapan-kapan Lion mau, jalan sama mama?" tanya Natalie merayu. 


"Mau." Akhirnya Lion menjawab dengan girang, mengingat beberapa minggu ini jarang jalan-jalan. 


Yudha berdehem. Seketika Lion menundukkan kepalanya, ia tahu itu kode supaya dirinya tetap patuh dengan semua yang pernah dikatakan sang papa. 


"Tapi harus sama mama Lintang," imbuh Lion. 


Terpaksa Natalie mengangguk. Meng iyakan ucapan Lion. 


Ternyata wanita itu sudah menguasai mas Yudha dan anakku. 


Setibanya di sekolah Lion, Natalie ikut turun, mengantar hingga ke gerbang. Melambaikan tangannya ke arah Lion yang berlari bersama Ibu gurunya.


Yudha turun menghampiri Natalie. 


"Terima kasih, aku harap kamu tidak melampaui batas."


Natalie tersenyum, tak mengindahkan ucapan ketus Yudha. Matanya saat ini fokus pada dasi sang mantan yang sedikit melenceng. 


"Aku tahu batasanku. Jangan khawatir, ngomong-ngomong istri kamu ke mana, Kenapa dia tidak merapikan dasi mu?" Tanpa meminta izin, Natalie langsung merapikan dasi Yudha.


"Bukan urusan kamu." Yudha menepis tangan Natalie lalu pergi meninggalkan tempat itu. 


Natalie tersenyum penuh kemenangan. 


"Aku memang tidak bisa merebut hatimu lagi, tapi aku bisa merebut hati Lion. Dengan begitu, aku bisa mendapatkan mu kembali."  


"Ini, yang ibu minta." Seorang pria bertubuh kekar menghampiri Natalie dan menyerahkan sebuah kamera. 

__ADS_1


Aku ingin melihat reaksi istri kecilmu itu, pasti dia cemburu melihat ini semua. 


Natalie menyimpan ponselnya. Memberikan amplop pada pria itu lalu kembali menaiki mobil 


__ADS_2