
Yudha dan yang lain pulang ke rumah. Di rumah sakit hanya meninggalkan Bian untuk menjaga pak Juli. Beberapa suster sudah ditugaskan memeriksa sang mertua secara berkala, juga perawatan yang lebih intensif supaya cepat sembuh.
Selain Lintang yang harus istirahat, Yudha juga memikirkan kesehatan bayinya dan juga Lion. Sebab, hanya mereka penyemangatnya saat ini.
Lintang menghampiri Bu Fatimah yang duduk di kursi taman. Wanita itu nampak melamun dengan menatap senja yang mulai tenggelam.
"Ibu lagi mikirin apa?" Duduk di samping bu Fatimah.
Pernyataan pak Juli membuat bu Fatimah bimbang. Berpikir yang lebih jernih dengan langkah yang akan diambil. Tidak semudah membalikkan telapak tangan. Harus dipikirkan dengan baik agar tidak ada yang kecewa atau tersakiti.
''Apa ini tentang ayah?" tanya Lintang lagi, memastikan jika semua baik-baik saja dan ibunya tak membebani otaknya dengan permintaan ayahnya.
"Menurut kamu?" tanya Bu Fatimah balik. Lintang anak satu-satunya dan berhak tahu apapun pilihan bu Fatimah. Juga memberikan pendapat yang terbaik baginya.
"Terserah ibu saja. Apapun pilihan ibu, aku setuju, yang penting ibu bahagia."
Sebelum mengatakan itu, Lintang pun sudah membahasnya dengan Yudha. Ia tak bisa memaksakan, juga tak bisa melarang apapun yang dipilih ibunya.
''Ikuti kata hati ibu. Jika ibu merasa masih nyaman bersama ayah, terima saja. Tapi jika ibu sudah yakin ingin bercerai, tidak apa-apa. Ini semua bukan salah ibu, tapi salah ayah yang sudah menelantarkan kita. Dia yang lalai dengan tanggung jawabnya. Aku yakin, Allah akan memberi jalan terbaik untuk ibu."
Bu Fatimah memeluk Lintang dengan erat. Mencari sandaran untuk berbagi keluh kesahnya. Meyakinkan hati untuk menjatuhkan pilihan secepatnya dan sebaik mungkin.
Di dalam rumah, tepatnya di ruang makan.
"Lion mau nya makan sama siapa?" Yudha sudah mulai bosan saat Lion terus menutup mulutnya, bahkan sekalipun tak mau makan jika bukan Lintang yang menyuapi.
"Kasihan mama, nanti muntah lagi," tutur Yudha mengingat Lintang yang selalu muntah setelah melihat makanan ataupun melayani yang lain di meja makan.
"Pokoknya Lion nggak mau makan?" Menutup mulutnya rapat, dengan kedua tangan dilipat ke depan. Memutar bola matanya ke arah rumah yang mematung di samping meja makan.
Yudha meletakkan sendoknya dengan kasar. Lalu mengambil segelas susu hangat.
"Kalau begitu minum susu," pinta Yudha kemudian.
"Lho, bukannya Lion waktunya makan, Mas?" Lintang yang baru saja masuk duduk di samping Lion. Menatap piring yang masih dipenuhi dengan makanan.
"Lion nggak mau makan, Sayang. Dia minta disuapin kamu," kata Yudha lirih.
__ADS_1
Isi perut Lintang mulai naik saat ia mencium aroma masakan yang ada di meja. Namun, kali ini ia harus berjuang melawan itu semua demi sang buah hati.
"Sini! Mama suapi?" Lintang bersusah payah untuk tetap bertahan.
Yudha beranjak dan berdiri di belakang Lintang. Mengusap peluh wanita itu yang mulai bercucuran. Satu telapak tangannya bersiaga di bawah dagu Lintang, takut sang istri muntah tiba-tiba.
"Kalau kamu nggak bisa, jangan dipaksakan." Yudha mencium pipi Lintang dengan lembut. Hatinya terenyuh melihat pengorbanan istrinya yang sangat besar.
"Bisa kok, Mas. Kasihan Lion." Berbicara dengan bibir bergetar.
Kamu perempuan yang hebat, meskipun Lion bukan anak kandungmu. Tapi tetap saja kamu mengutamakan dia. Seandainya __ Yudha tak melanjutkan kata hatinya. Berpikir positif tentang apa yang pernah terjadi di masa lalunya.
Mimah berlari ke belakang. Beberapa menit kemudian ia kembali membawa masker di tangannya.
"Pakai ini saja, Bu." Menyodorkan ke arah Yudha. Seketika pria itu membuka dan memakaikannya.
"Lion dengerin mama!" ucap Lintang saat Lion hampir menghabiskan makanannya.
"Besok di suapin mbak Mimah mau, ya? Nanti kalau mama sudah nggak mual lagi, mama suapin Lion, untuk sekarang kasihan dedeknya."
Lion diam, mencerna setiap ucapan yang diluncurkan Lintang. Mengangguk pelan tanda setuju.
"Kalau nggak mau sama mbak Mimah, sama papa saja," tawar Yudha lembut, mengacak rambut Lion yang mulai memanjang.
"Iya, Pa," jawab Lion merengut.
Secepat kilat Lion menghabiskan makanannya. Setelah itu, ia berlari menghampiri Mimah dan kembali bermain.
Yudha membantu Lintang membuka masker nya. Terlihat jelas guratan lelah di wajah wanita itu.
"Sekarang waktunya kita santai berdua," bisik Yudha menggoda.
Hembusan napasnya yang menerpa telinga Lintang membuat sang empu bergidik.
"Maksudnya?" tanya Lintang pura-pura bodoh, padahal ia tahu apa yang dimaksud suaminya.
Tanpa aba-aba Yunda mengangkat tubuh Lintang dan membawanya ke arah kamar. Kesempatan baginya untuk membuat Lintang melayang.
__ADS_1
Bi Siti berlari kecil menghampiri Mimah yang sedang bermain dengan Lion
"Pak Yudha beruntung sekali mendapatkan daun muda, udah cantik, baik lagi," bisiknya di telinga Mimah sambil cekikikan.
"Iya, lihat saja, wajah pak Yudha juga ikutan muda, semoga mereka bahagia selamanya."
Yudha membaringkan tubuh Lintang dengan pelan. Ia langsung menyambar bibir wanita itu dengan lembut. Seperti yang ia lakukan sebelumnya. Memberikan permulaan yang menghanyutkan. Menyentuh satu persatu area sensitif istrinya. Menyisir setiap inci yang membuat wanita itu mendesah. Tak ada lagi kata malu ataupun ragu. Cinta yang kian bersemi membuat Lintang yakin jika Yudha adalah jodohnya. Laki-laki yang dikirimkan Allah untuk menemani dan menuntun perjalanan hidupnya.
"Mas, tunggu!" ucap Lintang menghentikan aktivitas Yudha.
Keduanya saling tatap dengan jarak yang sangat dekat hingga udara dari rongga hidung saling menampar wajah lawan.
"Aku hamil, apa ini tidak akan berbahaya untuk anak kita?"
Yudha menggeleng cepat. Menahan hasrat yang sudah memuncak. Ia melanjutkan aktivitasnya, bibirnya menyusuri setiap tubuh wangi sang istri.
Tak menunggu waktu lagi, Yudha melucuti bajunya. Kedua tangannya mengunci setiap pergerakan Lintang. Keahliannya dalam urusan ranjang tak perlu diragukan lagi. Baginya itu adalah aktivitas yang memabukkan.
"Apa kamu sudah siap?" tanya Yudha dengan suara parau.
Lintang diam. Kedua tangannya memberontak saat sesuatu terasa menyeruak. Ia mendorong tubuh Yudha hingga ambruk di samping nya.
"Mas, perutku mual."
Lintang menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Berlari ke kamar mandi lalu memuntahkan isi perutnya.
Hoek Hoek
Suara itu terdengar di telinga Yudha. Antara kesal dan kasihan bercampur. Terpaksa ia memakai celananya kembali. Menyusul Lintang ke kamar mandi.
"Kamu tidak apa-apa, Sayang?" tanya Yudha memijat tengkuk leher Lintang.
Lintang membasuh mulutnya dengan air. Lalu menatap Yudha yang ada di samping nya, menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami yang terasa nyaman.
"Maafkan aku," ucap Lintang dengan manja. Ia yakin Yudha pasti kecewa karena dirinya yang tak bisa melayani dengan baik.
"Nggak papa, ini kan bukan kemauan kamu, tapi anak kita. Mungkin saja dia belum pingin di tengokin papanya," jawab Yudha bijak. Merengkuh tubuh mungil sang istri yang dibalut dengan kain selimut.
__ADS_1
Namun, lain lagi dengan hatinya yang saat ini menggerutu.