Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Bab 68. Rumah lama


__ADS_3

Bu Fatimah tersenyum tipis. Ingatannya kembali pada masa lalu saat Lintang masih kecil. Kelucuan bocah itu tak bisa terhapus dalam otaknya. Namun bukan itu yang sebenarnya terpikir, akan tetapi semua yang pernah pak Juli lakukan-lah yang terus menghantui. Meskipun rasa sakit yang diciptakan itu menjalar di seluruh tubuh, Bu Fatimah tak bisa memungkiri jika suaminya itu pun pernah berkorban banyak untuknya. Bahkan pak Juli pernah menjual beberapa barang berharga demi bisa mendapatkan kamar vvip saat bu Fatimah melahirkan Lintang. 


"Kenapa mas Juli tidak memberi kabar padaku. Apa dia terlalu sibuk dengan keluarganya, atau sengaja mengulur waktu supaya aku menderita?"


Mengelus dada nya. Seringkali jantungnya berdebar mengingat cinta pertamanya itu. Cinta yang hadir semenjak dirinya remaja. Kehadiran pria itu juga yang membuat Bu Fatimah mengerti sebuah rasa yang dinamakan 'cinta'. 


Ruangan tengah yang sangat mewah. Perabot rumah yang terlihat mahal dan elegan. Sofa empuk yang kini ia duduki, seolah-olah tak memberikan kenyamanan sedikitpun. Meskipun hidup di tengah kemewahan dan bergelimang harta, bu Fatimah tetap saja rindu dengan rumahnya yang sederhana. 


Hatinya kosong, berteman dengan sepi. Nyatanya Lintang dan Yudha serta Lion tak cukup melengkapi kebahagiaannya. Masih terasa ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya. Sekeras apapun untuk mengingkari, Bu Fatimah tetaplah kehilangan pendamping hidup. Seseorang yang mengantarkannya menjadi seorang istri dan ibu.


"Ibu…. "


Teriakan Lintang dari arah pintu depan membuat Bu Fatimah terkejut. Ia segera menghampiri Lintang dan Yudha yang baru saja pulang dari rumah sakit. 


Kabar kehamilan Lintang tak hanya membuat Yudha dan Bu Fatimah bahagia. Pak Radit dan Bu Indri pun merasakan kebahagiaan yang sama, tak henti-hentinya orang tua Yudha terus bersyukur dan ingin segera bertemu dengan Lintang. Namun, itu tak bisa dilakukannya saat ini karena mereka ada di luar negeri. 


"Bagaimana, apa kata dokter?" tanya Bu Fatimah menggiring Lintang menuju ruangan tengah. 


Yudha menurunkan Lion lalu meletakkan beberapa vitamin yang ia tebus. 


"Bayi nya sehat, Bu. Kata Dokter aku harus banyak istirahat dan makan yang bergizi."


"Setiap makanan yang ada di rumah ini bergizi, Sayang," sahut Yudha dari ruang makan. 


"Iya, aku hanya menirukan ucapan dokter saja," jawab Lintang dengan suara lantang. 


Yudha menunjukkan beberapa susu pada Bi Siti, ia ingin anak yang ada di dalam rahim Lintang itu tumbuh sehat hingga lahir. 


Beberapa susu ibu hamil dengan varian rasa berjejer rapi di tempatnya. Lalu Yudha pun menyediakan beberapa makanan yang wajib dikonsumsi ibu hamil, meskipun Lintang tak menyukainya tetap saja harus ada. 


"Kata dokter Yuana kamu juga tidak boleh banyak pikiran," imbuhnya duduk di samping Lintang. 


Lintang mengingat sang dokter yang sangat cantik tadi, dari tutur sapa dan juga cara memeriksanya begitu lembut. Wanit itu juga terlihat akrab saat bercakap dengan Yudha. 


"Mas, memangnya sejak kapan mas mengenal dokter Yuana? Apa dia yang menangani bu Natalie saat hamil Lion?" tanya Lintang menyelidik. 


"Dia teman kuliah ku, bukan dokter kandungannya Natalie" jawab Yudha singkat. Tidak ingin membahas kehamilan Natalie lebih lanjut.

__ADS_1


"Cantik ya," sungut Lintang, tangannya mengulur mengambil toples yang berisi kacang atom. 


"Yudha, Lintang, ibu kangen rumah lama, apa kalian bisa mengantar ibu ke sana," selak bu Fatimah di tengah-tengah obrolan mereka. 


Senyum Lintang redup, jika mengingat rumah lama, ia pun teringat dengan semua peristiwa yang menimpanya.


 


"Tapi ibu tidak akan tinggal di sana, kan?" 


Yudha pun ikut takut. Rasa bersalahnya ikut merebak dengan kejadian lima tahun lalu.


Bu Fatimah tersenyum lalu menggeleng. "Tidak, ibu hanya kangen beberes rumah, di sini ibu tidak melakukan apa-apa, besok kalau sudah bersih kamu jemput ibu lagi." 


"Yakin?" tanya Lintang memastikan. 


"Yakin, percayalah! Ibu sudah melupakan semuanya dan akan hidup bersama kalian."


Terpaksa Yudha memenuhi permintaan sang mertua untuk mengantar ke rumahnya, kali ini ia tidak ingin melibatkan orang lain untuk mengurus keluarganya. Siaga menjaga dua wanita yang penting dalam hidupnya. 


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kita masuk, yuk!" ajak Lintang menggandeng tangan Bu Fatimah yang baru turun dari mobil. 


Luna yang melihat kedatangan Lintang itu pun tersenyum lebar dan melambaikan tangannya. Menghentikan langkah Bu Fatimah dan yang lain. 


"Apa kabar bu Fatimah, Lintang, pak Yudha?" Berjabat tangan lalu memeluk Bu Fatimah dan Lintang bergantian. 


"Alhamdulillah, kami baik, Mbak."


"Maaf, seminggu ini aku belum bisa membersihkan rumah kamu, karena baru pulang dari rumah mertua," ucap Luna merasa tidak enak. 


"Kebetulan, biar aku yang membersihkan, Lun. Kalian juga pulang saja, Kasihan Lion, nanti kalau sudah waktunya pulang, ibu telpon kamu." Mendorong Lintang dan Yudha menuju mobil.


Lintang memeluk bu Fatimah, meskipun sudah dinyatakan sembuh, ia sedikit khawatir untuk melepaskannya sendirian. 


"Mbak Luna jagain ibu. Kalau ada apa-apa telepon aku," pinta Lintang. 

__ADS_1


Luna mengangkat jempolnya tanda setuju. 


Setelah mobil Yudha menghilang di balik pintu gerbang, bu Fatimah langsung masuk. Merogoh kunci rumah yang diberikan Luna. 


Baru saja kakinya menginjak di teras depan, matanya terbelalak saat melihat pintu utana yang sedikit terbuka. 


Bu Fatimah mengintip ke dalam, tangannya memegang knop dan melebarkan pintunya. Matanya menyusuri setiap sudut ruangan depan. Lalu berhenti di meja ruang tamu. Ada satu piring kosong dan juga minuman di sana. 


Bu Fatimah jalan mengendap. Kedua bola matanya tetap waspada, menyisir ke arah setiap pintu ruangan yang tertutup rapat. "Jangan-jangan ada perampok yang bersembunyi di sini," gumamnya kecil. Meraih sapu yang ada di depan jendela. 


Kembali berjalan pelan hingga tak bersuara, kakinya mengayun mendekati pintu kamarnya. 


"Apa ada orang di dalam?" teriak bu Fatimah. Dadanya kembang kempis menahan rasa takut yang mulai mengendap. 


Tidak ada jawaban, Bu Fatimah menendang pintu itu dengan kakinya. 


Aaawww


Suara orang meringis bertepatan dengan pintu kamar yang terbuka. 


Plak plak plak 


Seketika Bu Fatimah melayangkan pukulan berkali-kali ke arah depan. Matanya terpejam tanpa menatap gerangan yang ia pukul. 


 


"Berhenti!" Sayup-sayup suara itu terdengar lirih di telinga Bu Fatimah. Suara yang tak asing baginya. 


Seperti Suara mas Juli? 


Bu Fatimah membuka matanya dengan pelan. Menatap seorang pria yang kini duduk dengan kepala menunduk. 


"Ka… kamu siapa?" Bu Fatimah melepas sapunya. 


Pria itu mendongak, menatap Bu Fatimah dengan tatapan sendu, senyum terukir halus dengan tangan yang memegang bagian ubun-ubun. 


"Mas Juli…" 

__ADS_1


Bu Fatimah panik, bukan karena sosok pria itu, melainkan darah segar yang mulai mengucur deras melumuri wajah pak Juli. 


__ADS_2