Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Sebuah Rencana


__ADS_3

Febby hanya menggelengkan kepala. Tubuhnya bergetar, dia bahkan tidak berani memandang suaminya.


Apa lagi yang akan dia lakukan padaku? Apa dia akan mengurungku di kamar mandi lagi? atau dia akan melakukan hal yang lebih kejam dari ini? Ayah ... Bunda ... tolong aku ....


" Aa ... aku benar benar tidak tahu, " ucap Febby lirih terbata bata.


Tuan Angga mendekat, memegang kedua lengan Febby erat. Menatap Febby tajam, seperti singa yang sedang bersiap menerkam mangsanya.


" Kalau kau memang tidak mengenalnya, kau harus membuktikannya padaku, " ucap Tuan Angga datar namun terdengar menakutkan.


" Apa yang harus kulakukan agar kau percaya, " jawab Febby memberanikan diri.


" Ajak dia ketemu, aku yang akan mengatur tempat dan waktunya. Aku ingin tahu siapa laki laki itu, jika kau memang tidak berbohong harusnya kau mau, " ucap Tuan Angga tegas penuh penekanan.


Febby hanya mengangguk pelan. Seketika tatapan tajam Tuan Angga padanya menghilang, berubah menjadi senyuman hangat. Tuan Angga langsung memeluk Febby, mengecup keningnya. Dia merasa lega karena dia yakin Febby tidak berbohong. Dia hanya perlu mencari tahu siapa orang yang ingin merusak rumah tangganya.


Febby menikmati pelukan itu. Dia merasa nyaman dengan pelukan yang diberikan oleh Tuan Angga.


" Andai saja kau selalu seperti ini padaku, " ucap Febby lirih masih tetap memeluk Tuan Angga.


" Hem, maafkan aku yang terlalu kasar kepadamu, " jawab Tuan Angga singkat. Namun senyumnya mengembang di wajahnya.


" Ya sudah, sebaiknya kau istirahat lagi. Kau masih sakit, aku tidak ingin bulan madu kita gagal gara gara kau sakit, " ucap Tuan Angga sambil melepas pelukannya.


Febby hanya mengangguk. Lalu mereka kembali tidur sepagi itu sampai sore.


Disisi Lain


" Lalu apa rencanamu setelah ini, " ucap Siska pada Neddy.


" Sepertinya kalau hanya membuat Angga marah pada Febby sedikit susah. Kau tau sendiri kan Angga sangat mencintai Febby. Maka dari itu kau juga harus mendekati Angga lagi, buat Febby semakin membenci Angga, " ucap Neddy sambil meneguk segelas wine.


" Dengan senang hati, aku akan melakukan itu, " ucap Siska seraya mengalungkan tangannya di leher Neddy.


" Lepaskan tanganmu! jangan pernah berani menyentuhku lagi. Aku jijik jika harus disentuh wanita seperti dirimu. Sebaiknya kau pergi sekarang, " ucap Neddy sambil menepis tangan Siska dan sedikit mendorong Siska agar menjauh darinya.


" Kenapa? apa aku sehina itu di matamu? " ucap Siska sinis.


" Kalau saja dulu aku tahu kau sudah bersuami, aku tidak mungkin mendekatimu. Dan Angga tidak mungkin menikahi Febby, " ucap Neddy sinis, dia menyandarkan kepalanya dan tersenyum getir.

__ADS_1


Terbesit luka saat dia tau bahwa wanita yang dicintainya dinikahi oleh orang lain. Dan orang itu adalah musuhnya sendiri.


" Kenapa kau masih diam disini, pergi ... kubilang pergi! " ucap Neddy keras, wajahnya memerah menahan marah.


Siska langsung pergi meninggalkan Neddy. Melihat raut wajah Neddy yang sedang marah, Siska lebih memilih pergi tanpa berkata apa apa lagi.


Dia kembali menuang wine itu ke dalam gelas, meneguknya sampai habis.


" Kau harus menjadi milikku Elsa ... harus apapun caranya, " ucap Neddy lirih pada dirinya sendiri sebelum dia ambruk karena terlalu banyak minum.


##############################


Di hotel


Febby terbangun dari tidurnya, tangan Tuan Angga masih memeluk perutnya. Dengan sangat hati hati Febby menyingkirkan tangan suaminya. Namun justru Tuan Angga semakin mengeratkan pelukannya.


" Jangan bangun, tidurlah ... aku masih ingin memelukmu, " ucap Tuan Angga lirih sambil tersenyum.


" Tapi aku sangat gerah, aku juga lapar, " ucap Febby lirih sambil menyingkirkan tangan Tuan Angga.


" Huh padahal aku masih ingin tidur memeluk istriku, " ucap Tuan Angga kecewa dengan nada yang dibuat buat.


Setelah selesai mandi Febby keluar hanya dengan balutan handuk. Tanpa sepengetahuan Febby ternyata Tuan Angga menunggunya di depan pintu.


" Aww ... kau kenapa ada disini?! kau ngintip ya! " teriak Febby kaget saat membuka pintu dan langsung menutup dadanya yang terbungkus handuk dengan tangannya.


" Kenapa? hem ... cup .... " tanpa menjawab Tuan Angga langsung mencium bibir Febby. Febby hanya bisa terdiam kaget, wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Febby langsung mendorong Tuan Angga sangat keras.


" Kau! terkadang bisa dingin sedingin lautan yang luas, terkadang bisa hangat sehangat nafas seperti ini. Apa kau punya kepribadian ganda? " ucap Febby ketus.


" Aku ini normal, tidak punya kepribadian ganda. Jaga ucapanmu atau kau tau sendiri akibatnya jika membangunkan macan tidur, " Tuan Angga terlihat sangat kesal ketika Febby mengatainya punya kepribadian ganda.


" Aku tidak takut, " jawab Febby singkat seraya berjalan meninggalkan Tuan Angga menuju lemari ganti.


" Apa kau yakin? kau tidak takut, hem? " ucap Tuan Angga dengan nada menggoda sambil memeluk Febby dari belakang.


" Ah ... lepaskan! aku mau ganti baju kamu pergi dulu sana, " jawabnya sambil melepaskan dirinya dari pelukan Tuan Angga.


Namun Tuan Angga tidak memperdulikannya. Dia justru semakin mengeratkan pelukannya. Lalu menciumi tengkuk leher Febby, aroma Febby habis mandi semakin menaikkan gairahnya.

__ADS_1


" Aku mencintaimu sayang ... " ucapnya seraya menyusuri leher Febby.


" Stop ... !!! Jangan teruskan, apa kau lupa semalam kau menghukumku, lalu sekarang? Kumohon tolong hargai aku, aku tidak bisa melakukan ini, " ucap Febby memelas.


Seketika Tuan Angga menghentikan aksinya. Dia menatap tajam Febby, tatapan rasa bersalah karena sudah memperlakukan Febby seperti itu.


" Maafkan aku, aku memang salah. Kau boleh menghukumku, asal jangan pernah untuk pergi dariku, apalagi berfikir untuk bercerai, " ucap Tuan Angga datar namun terdengar sangat serius.


" Aku memaafkanmu. Sekarang pergilah mandi, aku ingin ganti baju. "


Tuan Angga langsung mengiyakan perkataan Febby. Dia tidak ingin memaksakan kehendaknya dan menyakiti perasaan Febby.


Dia bisa langsung sepenurut itu, dasar manusia aneh. Sehari bisa ganas seperti singa, sehari bisa selembut dan seimut kelinci. Ahh sudahlah pusing aku kalau harus memikirkannya.


Febby bergumam sendiri sambil menggeleng gelengkan kepalanya. Dia lalu bergegas ganti baju sambil menunggu suaminya selesai mandi.


" Kau sedang ngapain dengan ponselmu, berusaha menghubungi selingkuhanmu? " ucap Tuan Angga yang keluar dari kamar mandi dan mengagetkan Febby.


" Tidak, aku hanya sedang melihat kembali nomor yang menghubungiku. Aku benar benar tidak kenal dengan nomor ini, " ucap Febby sambil tetap memandang layar ponselnya.


" Hubungi dia lagi, lalu ajak dia bertemu. Aku ingin tahu siapa dia, " Tuan Angga mendekati Febby lalu mengelus pelan rambutnya. Dari sorot matanya Febby dapat melihat ada kebencian dalam diri suaminya.


Febby mengiyakannya, lalu menelfon nomor tersebut. Tanpa menunggu lama panggilan itu langsung diangkat.


" Hallo sayang ... ada apa kau menelfonku, nantu suamimu marah lho, " ucap seseorang diseberang sana.


" Emm ... tidak, suamiku sedang keluar jadi dia tidak tahu aku menelfonmu. Sebenarnya kau siapa kenapa kau melakukan ini padaku, bahkan kau juga sudah tau jika aku sudah bersuami. Lalu apa maksudmu mengaku sebagai kekasihku, " Febby langsung to the point menanyakannya.


" Aku adalah orang yang sangat mencintaimu. Namun aku terlambat untuk melamarmu. Sayang apa kau ingin tahu siapa aku? "


" Ya, tentu saja aku ingin tahu siapa kamu. Memangnya kamu pikir untuk apa aku diam diam menelfonmu. "


" Baiklah, nanti malam jam delapan datanglah ke kafe dekat dengan hotelmu, " jawabnya antusias.


" Ok baiklah. "


" Kutunggu kedatanganmu cintaku. "


Kali ini aku tidak akan melepaskanmu Elsa. Aku tidak perduli meskipun kau sekarang menjadi istri orang, kau harus menjadi milikku.

__ADS_1


Neddy berbicara pada dirinya sendiri, lalu dia kembali terlelap karena pengaruh alkohol yang diminumnya.


__ADS_2