
Air mata Yudha tak bisa dibendung lagi. Ia menumpahkan nya di pelukan Bu Indri. Setelah beberapa jam berada di ambang ketakutan, kini ia kembali bisa menghirup dinginnya udara menjelang pagi dengan lega. Putrinya telah lahir dalam keadaan sehat. Lintang pun melahirkan secara normal dan dinyatakan baik-baik saja. Hanya menunggu beberapa hari untuk menjalani masa pemulihan.
Bu Indri ikut terharu, menepuk-nepuk punggung Yudha yang terasa bergetar, sedangkan bu Fatimah yang baru datang pun tak kalah heboh untuk menyambut cucu pertamanya.
"Gimana keadaan Lintang, Yud?" tanya bu Fatimah yang membuat Yudha menoleh. Suaranya melambung di udara karena jaraknya yang lumayan jauh dari tempat Yudha berdiri.
"Dia baik-baik saja, Bu."
Yudha beralih memeluk Bu Fatimah dengan erat.
"Terima kasih karena ibu mempercayaiku untuk menjaga Lintang. Dia akan selalu baik-baik saja selama berada di sampingku."
Bu Fatimah membalas pelukan sang menantu. Yudha memang sudah membuktikan ucapannya. Semenjak menikah, sedikitpun Lintang tak pernah mengalami kesulitan, bahkan saat Yudha dinyatakan meninggal pun ia masih bisa membuat Lintang aman dari orang-orang jahat.
Tak hanya keluarga Lintang dan Yudha, Andreas dan Bian pun sudah tiba. Mereka yang tadinya khawatir kini tak kalah bahagianya saat mendengar keponakan tercinta sudah lahir.
Pintu terbuka lebar. Seorang suster keluar dengan bayi mungil di tangannya. Ia membawa ke depan Yudha yang berstatus ayahnya.
"Bapak boleh lihat bayinya, sebelum saya bawa ke ruangan lagi."
Sebenarnya tadi Yudha sempat menggendong bayinya saat ia melantunkan adzan, namun seakan waktu itu saja tak cukup baginya untuk mencurahkan kasih sayangnya.
Yudha langsung mendekap bayinya yang nampak terlelap. Wajahnya terlihat teduh tanpa dosa.
"Siapa namanya?" Bu Indri menoel pipi gembul cucunya.
"Namanya, Ayudia Rembulan Anggara, Ma," jawab Yudha kemudian, itu memang nama yang direncanakan setelah tahu jenis kelamin anaknya.
"Nama yang cantik, semoga menjadi anak yang sholehah."
Semua orang yang hadir hanya bisa mengamini doa Bu Indri.
Tak ada yang mempermasalahkan itu. Mereka semua menyetujui nama yang diberikan Yudha untuk putri keduanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dalam waktu yang bersamaan, Yudha bisa melihat dua pancaran sinar yang berbeda. Satu dari matahari pagi yang masuk dari sela-sela tirai jendela, dan satunya lagi dari Rembulan yang saat ini berada di pangkuan Lintang. Setelah sekian jam menunggu, akhirnya Yudha bisa melihat putrinya itu membuka mata nya yang terlihat bening.
__ADS_1
Cantik tanpa celah, mata bulat dengan hidung mancung. Bibirnya ranum dengan dagu terbelah. Wajah Rembulan perpaduan antara Yuda dan Lintang yang menyatu. Menggemaskan, sesekali tangan mungilnya mengusap ke arah pipinya hingga memerah.
Kebahagian menyelimuti nya saat ia bisa melihat tiga orang itu berada dalam satu ranjang. Kehadiran melengkapi rumah tangganya bersama Lintang yang berjalan menuju tahun ke dua.
Lion yang baru tiba pun tak mau jauh dari mama dan adiknya. Ia terus bergelayut manja pada Lintang yang masih nampak lemah. Sedetik saja tak bertemu dengan ibu sambungnya membuat Lion merasa hampa.
"Kapan dedeknya pulang, Ma?" tanya Lion sembari mencium Rembulan yang sedang bermain-main di dada Lintang.
"Tiga hari lagi, Sayang. Kita tunggu kabar dari dokter," ucap Lintang mengusap rambut Lion lalu mengecupnya. Tak seperti tadi malam, pagi ini bocah itu nampak lebih ceria. Demamnya pun sudah turun.
"Memangnya kenapa Lion pingin dedeknya cepat pulang?" imbuh Yudha membantu Lintang yang nampak kesusahan untuk bergerak.
"Mau aku ajak main, Pa."
Semua bergelak tawa mendengar ucapan Lion.
"Sayang, adiknya belum bisa apa-apa, jadi belum bisa diajak main, nanti kalau sudah bisa melihat dan tertawa baru Lion boleh main dengannya."
"Apa dulu aku juga seperti dede?" Lion menatap Yudha dan Lintang bergantian.
Yudha mengangguk. "Waktu Lion lahir juga belum bisa apa-apa. Lama-kelamaan Lion bisa melihat, tersenyum dan lain-lain." Lintang yang menjelaskan.
Lintang hanya bisa menyambutnya dengan senyum manis. Melambaikan tangannya ke arah tamu yang spesial.
Keduanya saling berpelukan setelah Rembulan beralih di tangan Yudha. Kali ini tak sembarang orang bisa menjenguk Lintang, kejadian waktu lalu memberi banyak pelajaran pada Yudha untuk lebih berhati-hati saat menerima tamu.
"Gimana persiapan pernikahan kamu?" tanya Lintang mengingat hari pernikahan Gita yang semakin dekat.
"Semua sudah siap." Mengucap dengan suara lirih, seperti memendam sesuatu.
"Lalu? Kenapa kamu sedih?" tanya Lintang meraih tangan Gita.
"Pasti ada yang kurang karena kamu nggak bisa datang," jawabnya.
"Maaf, Rembulan sudah nggak sabar menghirup udara segar."
Keduanya bergelak tawa.
__ADS_1
Di sisi lain
Bian menyandarkan punggungnya di kursi ruangannya. Kursi yang pernah ditempati sekretaris cantik bernama Hilya Aurora. Tak henti-hentinya ia melihat foto wanita itu. Bukan dari Yudha, namun Bian menemukannya di laci ruangan itu.
"Apa yang harus aku lakukan pada gadis ini?" Bian bertanya pada diri sendiri.
Sesekali memutar otaknya. Mencari cara untuk membalas kelakuan Hilya yang pernah menculik Lion.
Kalau dia berada pada orang yang tepat, pasti sikapnya akan berubah, karena pada dasarnya seorang wanita akan nurut pada orang yang membuatnya nyaman.
Bian membuka akun sosmed milik Hilya. Ternyata itu adalah akun baru dan belum ada postingan apapun.
Bian mulai cipika-cipiki, berkenalan dengan wanita itu.
Hampir satu jam tak mendapat jawaban, akhirnya Bian mengulang ucapannya lagi lewat pesan teks.
Masih sama, Bian harus menelan kekecewaan karena tak mendapat tanggapan dari Hilya.
"Awas saja kalau kamu sampai jatuh ke tangan ku, aku tidak akan membiarkanmu bebas," geram Bian sambil melempar ponselnya ke arah meja kerja.
Baru beberapa detik terhempas. Benda pipih milik Bian berdering. Pria itu mengulurkan tangannya ke depan, meraih ponsel dan melihat layarnya.
Ternyata Hilya membalas chat yang Bian kirim.
Bisa kita bertemu, balas Bian lagi.
Nggak bisa, rumahku jauh.
Bian menahan tawa membaca pesan dari hilya.
Aku tahu di mana rumahmu, aku juga tahu kalau kamu pernah menculik Lion, jika kamu tidak mau bertemu denganku, akan ku pastikan besok kamu akan mendekam di penjara. Tapi jika kamu menuruti permintaan ku, aku pastikan kamu akan terbebas dari polisi.
Setelah mengirimkan itu, Bian tertawa penuh kemenangan. Ia membayangkan wajah Hilya saat ini, pasti penuh dengan ketakutan. Apalagi semua anak buahnya sudah dipenjara. Tak menuntut kemungkinan jika ia pun bisa menyusulnya.
Oke, nanti malam kita bertemu di cafe xx.
Hilya pasrah dan memilih untuk menyerah. Ia bosan terus bersembunyi dari mereka.
__ADS_1
Sebentar lagi kamu akan jatuh ke tanganku. Dan aku pastikan kamu tidak akan mengganggu keluarga kak Yudha lagi.