Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Bab 69. Kesadaran Bian


__ADS_3

Tubuh bu Fatimah lemas seketika. Ambruk di lantai dengan bermandikan peluh. Wajahnya layu dengan sorot mata yang penuh ketakutan. Tangan gemetar dengan kepala terus menggeleng. 


Apa yang sudah aku lakukan? Begitulah kata yang kini tertahan di ujung lidah. 


Air mata pun menetes membasahi pipinya yang mulai keriput. 


Pak Juli merangkak maju. Mendekati bu Fatimah yang bersandar di pintu. Tak peduli dengan rasa sakit di kepalanya. Yang pastinya, saat ini hatinya jauh lebih sakit daripada luka yang diciptakan bu Fatimah.


Tangannya menjulur ke depan. Ingin menyentuh wajah tua istri pertama. Namun, pak Juli kembali menarik dan menggenggamnya. 


"Maafkan aku." Ucapan itu lolos dengan berat dari sudut bibir pak Juli. 


Bu Fatimah mulai panik saat wajah Pak Juli semakin pucat. Ia beranjak dari duduknya membuka lemari yang ada di kamar. Mengambil selendang lalu berlari mendekati pak Juli. 


"Kamu harus segera dibawa ke rumah sakit, Mas." Membalut luka itu dengan kain yang sudah ia robek. Mencegah darahnya untuk tidak keluar. 


Pak Juli tersenyum saat kepalanya berada di paha Bu Fatimah. Tempat nyaman yang dulu sering ia rasakan setelah pulang bekerja. Untuk yang kesekian kali ia merutuki kebodohannya yang kian mendalam. 


"Mana hp, kamu?" tanya Bu Fatimah masih dalam keadaan panik, namun otaknya bisa berpikir jernih. 


Pak Juli merogoh benda pipihnya yang ada di saku celana itu dengan sisa tenaga yang ia miliki. Matanya yang mulai redup dan rasa sakit yang merambat membuatnya kini tak bisa berbuat apa-apa. 


"Jangan panggil siapapun, biarkan aku seperti ini."


Bu Fatimah mengernyitkan dahi. Tangannya terus menekan kain di kepala sang suami yang masih mengeluarkan cairan merah. 


"Jangan bodoh, apa kamu mau aku lebih menderita lagi. Kalau kamu mati pasti aku akan disangka pembunuh. Keluargamu akan melaporkanku ke polisi, dan aku akan di penjara. Aku nggak mau itu, aku ingin bahagia bersama putri dan juga cucuku. Sudah cukup apa yang kamu lakukan membuatku tersiksa."


Bu Fatimah terisak. Bukan karena pak Juli, melainkan takut itu semua terjadi dan dia akan berpisah dengan Lintang. 


Pak Juli hanya bisa diam mencerna setiap kata sang istri.


Bu Fatimah meraih ponsel yang ada di tangan pak Juli lalu membukanya. Lagi-lagi ia dikejutkan dengan wallpaper yang terpasang di ponsel suaminya. 

__ADS_1


"Kenapa foto pernikahan kita ada di sini?" tanya Bu Fatimah, menatap lekat gambarnya sendiri. 


Pak Juli hanya menanggapinya dengan senyuman kecil. Menahan sakit yang semakin luar biasa. 


Lanjut, Bu Fatimah tidak mempermasalahkannya. Itu urusan Pak Juli, baginya saat ini mendapatkan pertolongan supaya terlepas dari jeratan hukum, pikirnya. 


"Putri pertamaku." Itulah pak Juli menyebut dengan bibirnya saat bu Fatimah nampak kebingungan. 


Bu Fatimah langsung menekan panggilan setelah menemukan nama itu.


Tak berselang lama, Bu Fatimah dan Lintang berbicara lewat telepon. Bu Fatimah mengatakan apa yang terjadi di rumah nya, meskipun tak sedetail tragedi yang terjadi, setidaknya ia memberi tahu Lintang jika ayahnya terluka dan harus segera dibawa ke rumah sakit. 


Yudha yang masih ada di jalan langsung memutar arah kembali ke rumah setelah mendapatkan penjelasan dari Lintang. 


Di rumah sakit 


Meskipun sudah di tangani dokter, bu Fatimah masih diliputi rasa takut. Hatinya tak tenang sebelum mengetahui keadaan suaminya sekarang. 


Lintang beranjak dari duduknya. Menghampiri sang ibu yang mengintip di balik pintu kaca transparan. Menyandarkan kepalanya, menatap langsung ke arah sang ayah yang kini tergolek lemas di atas brankar. 


Dendam yang membara. Kebencian yang mendalam seakan lenyap melihat penderitaan sang ayah. Meskipun sudah disakiti sedemikian rupa, Lintang tetap punya hati yang lembut, tidak akan melupakan perjuangan Ayahnya. 


"Tapi bagaimana kalau istrinya tidak terima?" 


Yudha ikut berdiri di samping bu Fatimah, "Jangan khawatir, Bu. Aku akan mengurus semuanya."


"Sayang, Kamu hubungi Bian saja, bilang sama dia suruh datang ke sini. Jangan katakan kalau ayah sakit, kamu cukup katakan ingin bertemu."


Lintang mengangguk lalu mengambil ponsel dari tasnya. 


Tiga puluh menit kemudian, Bian sudah tiba di rumah sakit. Pria yang memakai kemeja kotak dengan celana jeans hitam, serta tas ransel di punggung itu berjabat tangan dengan Lintang. 


"Ada apa kakak menyuruhku ke sini?" tanya Bian, beralih bersalaman dengan Bu Fatimah dan Yudha. 

__ADS_1


Lintang menatap sang suami lalu menatap Bian lagi. 


"Ayah sakit, sekarang dia dirawat, tapi kamu jangan bilang ke tante Sovia, ya?"


Mata Bian langsung menaatap ke dalam ruangan tanpa berkata apapun. Rindu, mungkin itu yang ia rasakan saat ini. Sebab, sejak perdebatan malam itu Bian pergi dari rumah dan memilih hidup mandiri. 


"Aku sudah lama pergi dari rumah, Kak." Mengatakan dengan suara pelan, Bian menundukkan kepalanya. Mengusir kesedihan yang selama ini menggerogoti tubuhnya, hidup bahagia  di atas penderitaan Lintang bukanlah pilihannya, kini Bian menyadari dan harus hengkang dari pak Juli yang hanya berstatus ayah tirinya. 


"Kenapa?" tanya Lintang iba. Tak hanya baju Bian yang sedikit tampak kusut, namun juga pipi pria itu yang nampak tirus, matanya pun terlihat merah seperti kurang tidur. 


"Aku tidak ingin merepotkan ayah. Maafkan mamaku, Kak. Dia sudah merampas kebahagiaan kakak dan ibu. Mama sudah menghancurkan semuanya. Seandainya waktu itu aku tahu, aku juga tidak ingin memiliki ayah, tapi semua sudah terlanjur, dan aku akan memulai hidup baru tanpa mama dan ayah." 


Lintang mengusap air matanya yang sempat lolos. Terharu dengan Bian yang bijak dan dewasa, padahal selama ini ia tak begitu mengenal sosok pria di depannya. Kebenciannya pada sang ayah menghalangi hubungan baik yang seharusnya terjalin. 


"Sekarang kamu tinggal di mana?" tanya Lintang mengalihkan pembicaraan yang sedikit sensitif. 


"Di kos-kosan dekat kampus. Aku magang di PT Anggara."


Lintang mengerutkan alisnya, lalu menatap sang suami yang mengangkat kedua bahunya.


Tersenyum licik, kesempatan untuk menggoda sang suami. 


"Kamu tahu, nggak? Yang punya perusahaan itu orangnya super duper galak, dingin dan angkuh. Kalau ada yang berbuat kesalahan langsung dipecat dan tidak diberi ampun."


Seketika Yudha mencium pipi Lintang tanpa ampun di depan ibu dan adik tirinya. 


"Ampun Mas...." teriak Lintang memelas.


Bian menelan ludahnya dengan susah payah. Bulu halusnya berdiri, merinding mendengar ungkapan Lintang. Wajahnya menciut melirik ke arah Yudha sekilas. 


"Kak Yudha, boleh nggak aku memeluk kak Lintang?" ucap Bian ragu. 


"Nggak boleh," sergah Yudha dengan cepat. Meraih pundak kecil Lintang dan membawa ke dekapan nya. 

__ADS_1


Bu Fatimah hanya bisa menahan tawa melihat sikap menantunya yang nampak posesif.


__ADS_2