
Lintang kembali duduk. Menopangkan kedua tangan di atas meja dan menenggelamkan wajahnya. Menyesal karena sudah membuat Gita kecewa dan marah. Air mata yang menumpuk di pelupuk kini tumpah sudah bersamaan dengan rasa sakit yang menampar saat Gita memutuskan tali persahabatan mereka.
"Maafkan aku Gita, maafkan aku."
Itulah yang berulang kali diucapkan Lintang dalam tangisnya, tak menyangka keputusan untuk menutupi status sebagai istri Yudha malah membuat hubungannya dengan Gita hancur.
Gita sudah terlanjur marah dan pergi, meninggalkan dirinya yang diselimuti penyesalan yang mendalam.
"Lintang…"
Tiba-tiba suara familiar itu menghentikan tangisan Lintang. Ia meyakinkan hatinya jika itu adalah nyata, bukan mimpi atau andai-andai seperti otaknya.
Lintang mendongak lalu menatap ke arah pintu. Menatap gadis yang mematung di sana dengan kedua tangan merentang lebar.
Gita
Ingin menyebut nama itu, namun masih tercekat di kerongkongan. Lintang beranjak dan berjalan pelan menghampiri sosok yang beberapa menit lalu meluapkan amarah padanya.
"Gita, aku __" Suara Lintang terpotong saat Gita berhamburan memeluknya. Tangis keduanya kembali pecah. Kali ini bukan karena kesedihan, melainkan kebahagiaan.
Gita menepuk-nepuk punggung Lintang yang bergetar hebat. Sebab, di antara keduanya, Lintang yang paling merasa bersalah karena sudah melanggar janji yang pernah disepakati.
"Maafkan aku, Git. Bukan maksudku untuk menutupi semuanya, aku hanya belum siap kalau semua orang tau aku istrinya mas Yudha." Lintang menjelaskan dengan suara tersendat. Sesekali mengusap air matanya yang manis membanjiri pipi mulusnya.
"Aku sudah memaafkan kamu, tapi aku tidak mau hal seperti ini terulang lagi."
Lintang mengangguk, kini ia merasa lega sudah mendapatkan maaf dari sang sahabat.
"Kamu mau kan berteman denganku?" tanya Lintang mengendurkan pelukannya, menatap mata Gita yang masih berkaca.
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Sekarang kita berbeda, dan pasti pak Yudha tidak membiarkanmu berteman dengan sembarang orang."
Lintang tertawa, menghapus semua beban yang membuatnya pusing. Membuang semua masalah yang beberapa hari ini membuatnya cemas.
"Mas Yudha bukan orang yang seperti itu. Dia hanya tegas saat bekerja, tapi kalau di rumah, dia suami dan ayah yang baik, tidak pernah marah, dia penyayang. Tidak mungkin dia melarangku berhubungan dengan kamu. Lagipula aku tetap Lintang yang dulu, sama seperti sebelum menikah."
"Sayang."
Suara berat dari ambang pintu memecahkan gurauan Lintang dan Gita. Keduanya menoleh ke arah sumber suara.
__ADS_1
"Ternyata ada tamu." Yudha menunjuk Gita yang nampak menciut.
"Selamat sore, Pak," sapa Gita. Cepat-cepat berdiri untuk menyapa bos nya.
Dadanya bergemuruh menahan rasa takut, sekian lama bekerja di kantor itu, ini pertama kalinya ia berhadapan langsung dengan sang bos. Bahkan jarak antara keduanya tidak lebih dari dua meter.
"Sore juga," jawab Yudha santai. Matanya terus memperhatikan wajah Gita yang mulai pucat. Menghampiri Lintang yang duduk di sofa. Mencium kening sang istri yang membuat sang empu malu. Apalagi itu dilakukannya di depan Gita, wajahnya langsung merona.
"Maaf, Pak. Saya permisi dulu," pamit Gita buru-buru, takut mengganggu pertemuan Lintang dan Yudha.
Sebenarnya masih banyak yang ingin dia tanyakan. Namun, sekarang sudah berbeda, Lintang bukan wanita bebas yang kapanpun bisa bersamanya.
Saking gugupnya, Gita menabrak pria yang mematung di depan pintu. Matanya yang meleng membuatnya tak fokus saat berjalan hingga beberapa kertas yang ada di tangan pria itu beterbangan ke mana-mana.
"Ma… maaf, Pak. Saya tidak sengaja." Gita berjongkok. Memungut kertas yang mulai berjatuhan. Melirik sepatu hitam yang tampak mengkilap. Sudah dipastikan jika pria yang saat ini mematung di depannya adalah orang penting, sebab Gita belum sempat melihat wajah pria itu.
Gita berdiri, menyodorkan tumpukan kertas yang ada di tangannya itu di depan pria yang memakai jas hitam, kepalanya menunduk karena tak berani menatap wajah pria itu.
Ehemmm
Deheman pria itu mengejutkan hingga tangan Gita sedikit gemetar.
"Saya minta maaf, Pak," ucap Gita lagi.
Ini kan suara pak Andreas.
Akhirnya Gita memberanikan diri untuk mendongak dan menatap pria tampan yang sangat dingin tersebut.
"Baik, Pak."
Setelah Andreas menerima kertas itu, Gita langsung lari terbirit-birit. Kali ini bukan ke arah Lift, melainkan tangga darurat.
Siap-siap encok ya Git sampai rumah, karena naik turun lewat tangga.
Andreas hanya geleng-geleng melihat punggung Gita yang semakin menjauh.
"Kamu kenapa senyum-senyum gitu?" ujar Yudha saat sang istri terus memamerkan gigi padanya.
"Aku sudah menceritakan hubungan kita pada Gita."
__ADS_1
Lintang merasa bangga, akhirnya ia membongkar semua itu tanpa campur tangan sang suami.
"Benarkah?"
Yudha memastikan, itu yang ia inginkan dari dulu, dan berharap seluruh dunia secepatnya tahu tentang itu.
Lintang mengangguk tanpa suara.
Yudha mengelus rambut Lintang yang terurai panjang. Selain permintaan itu yang sudah disanggupi sang istri, kini dalam hatinya kembali menjanggal mengingat pernikahannya yang pernah kandas karena sebuah kebebasan Natalie.
"Sayang," panggil Yudha yang sedikit ragu. Sangat berhati-hati saat mengucap, takut Lintang tersinggung dan marah.
"Mulai besok kamu resign, ya!" pinta Yudha serius. Banyak ketakutan yang menyelimutinya saat ini, termasuk kehilangan Lintang.
Dunia luar yang pernah ia remehkan kini seakan menjadi momok yang mengerikan. Yudha tidak ingin kejadian yang lalu terulang lagi, meskipun ia percaya Lintang tidak akan melakukan itu, setidaknya waspada. Menjaga sang istri untuk tidak terlalu bebas di luaran.
"Tapi aku masih pingin kerja," cicit Lintang mengikuti isi hatinya.
"Nggak papa, kita pulang yuk, malam ini Lion tidur di rumah mama lo, itu artinya kamu harus siap-siap untuk __"
Seketika Lintang membungkam bibir Yudha yang hampir saja keceplosan.
"Jangan ceroboh, ini di kantor. Nanti kalau ada yang dengar gimana, aku malu."
Menarik tangan sang suami lalu keluar.
Dalam perjalanan tidak ada pembicaraan sama sekali, Lintang maupun Yudha sibuk dengan pikiran masing-masing, sedangkan Andreas sibuk melajukan mobilnya. Sesekali Lintang menatap wajah Yudha yang nampak redup, entah apa yang di pikirkan suaminya, ia pun tak tahu, tapi Lintang menerka jika suaminya memikirkan permintaan yang belum bisa ia kabulkan.
Tanpa terasa, mobil berhenti di halaman rumah.
Yudha langsung turun dan membukakan pintu untuk Lintang. Saling bergandengan tangan saat memasuki rumah.
"Mas, aku mau resign."
Yudha tersenyum mendengar jawaban dari Lintang yang menyejukkan hatinya. Itu adalah sebuah anugerah yang besar baginya.
"Aku mau menjadi ibu rumah tangga yang sesungguhnya, mengurus kamu dan juga Lion."
Seketika Yudha memeluk Lintang dengan erat dan mengucapkan terima kasih berulang kali. Mengungkapkan kebahagiaannya lewat dekapan hangat.
__ADS_1
"Aku tidak akan menuntut lebih, cukup menjadi istri yang setia dan selalu ada untukku."
Permintaan yang sangat sederhana bagi Lintang.