Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Bab 90. Jam tangan


__ADS_3

Andreas ambruk bersamaan dengan Lintang yang masih di punggungnya. Kali ini tenaganya benar-benar terkuras habis. Tubuhnya tak berdaya lagi untuk bergerak. 


Pak Juli berhamburan memeluk Lintang. Mendekapnya dengan penuh kasih sayang. 


Pak Radit dan Gita pun menghampiri Andreas yang tak sadarkan diri. Tim medis yang sudah disiapkan langsung memberikan pertolongan pertama pada sang asisten. 


"Kamu nggak papa, Nak?" tanya pak Radit, memastikan dan memeriksa beberapa luka di tubuh Lintang. 


Lintang melepaskan pelukannya lalu beralih menatap sang mertua. 


"Maafkan aku, Pa." tangis Lintang pecah di pelukan pak Radit, Rasa bersalahnya semakin besar mengingat penyebab Yudha kecelakaan.


Pak Radit mengelus pucuk kepala Lintang dengan lembut. "Tidak perlu minta maaf, ini musibah, kamu jangan menyalahkan diri kamu sendiri." Menenangkan Lintang yang nampak kacau. 


Setelah memeriksa Andreas, kini beberapa dokter menghampiri Lintang dan memeriksanya dengan intens. Membalut luka-luka di tubuhnya dengan perban juga memasang jarum infus. 


"Bagaimana keadaan bayi saya, Dok?" Lintang mengelus perutnya, itu adalah sumber kekuatan baginya untuk menghadapi masalah saat ini. 


Senyum tipis mengembang di sudut bibir dokter wanita yang ada di depan Lintang. Namun, matanya juga ikut digenangi cairan bening dengan musibah yang menimpa Lintang. 


"Alhamdulillah bayi Anda selamat, tapi ibu harus istirahat total dan tidak boleh banyak pikiran. Serahkan semuanya pada Allah dan polisi. Saya yakin rencana Allah jauh lebih indah."


Lintang mengucap Syukur, mengusap perutnya dengan lembut. 


Kamu adalah bukti cinta papa dan mama. Tetaplah bertahan di sisi kami, doakan papa baik-baik saja dan cepat kembali bersama kita semua. 


"Sekarang ibu harus dirawat di rumah sakit," ucap salah satu dokter yang memeriksa luka Lintang. 


Lintang menggeleng, "Tidak, saya mau menunggu Mas Yudha di sini. Saya yakin dia mencari saya, Dok. Saya gak mau ke mana-mana."


Jika Mendengar itu, hati pak Juli dan pak Radit tersayat, mereka pun bisa merasakan betapa remuknya hati Lintang saat ini. 


Pak Juli bersimpuh di depan putrinya. 


"Ayah akan menemani kamu, kita akan pulang bersama-sama." 

__ADS_1


Pak Radit tidak bisa memaksa kehendak Lintang, ia tahu pasti saat ini hanya Yudha yang ada di otak wanita itu. Kehilangan orang yang dicintai sangat menyakitkan, apalagi mereka baru saja membina rumah tangga dan baru merasakan indahnya cinta. 


Lintang menatap Andreas yang baru membuka mata, dengan bantuan kursi roda, Lintang menghampiri sang asisten yang masih ada di mobil ambulan. 


"Dokter, sebaiknya pak Andreas dirawat saja," pinta Lintang pada tim medis yang bertugas. 


"Tidak usah, Bu," sergah Andreas sambil  melepas jarum yang menghiasi punggung tangannya itu dengan paksa. Ia tak betah jika harus berdiam diri, sementara nasib Yudha masih belum diketahui.


"Bapak mau ke mana?" tanya Gita, menahan kaki Andreas yang baru saja turun.


Andreas menggenggam kedua tangan Gita. Menatap kedua bola mata gadis itu yang dipenuhi dengan kegelisahan."


"Aku akan mencari pak Yudha. Kamu jaga Bu Lintang." Mengucap dengan serius.


Gita menoleh ke arah Lintang yang menundukkan kepala. Lalu, ia mengangguk setuju. 


"Bapak makan dulu." Gita membuka nasi beserta lauk yang ia bawa. Menyuapi Andreas dan Lintang bergantian.


Makanan itu terasa sangat hambar dilidah Lintang, namun ia harus tetap mengisi perutnya demi sang jabang bayi.


"Mama…" Suara cempreng memanggil dari kejauhan. 


Lion, Om janji akan membawa pulang papa. 


"Lion, Sayang." Untuk yang kesekian kali Lintang tak bisa membendung air matanya. Ia tak sanggup untuk menatap wajah bocah itu yang mirip dengan sang suami. 


Merengkuh tubuh mungil Lion. Tidak ada yang membahas perihal kecelakaan itu, takut Lion akan histeris mencari Yudha yang belum ditemukan. 


Berat hati pak Radit melepas kepergian Andreas. Ucapan terima kasih saja tak mungkin cukup untuk pria itu yang selalu berada di garda terdepan saat mencari putranya. 


"Lintang, kamu tidak apa-apa, Nak." Bu Fatimah mencium kening Lintang dengan lembut, mengusap air mata gadis itu lalu berbisik,


"Ibu Yakin Yudha pasti akan segera kembali, jangan sedih, ada Lion yang harus kamu jaga."


Meskipun hatinya perih, tetap saja tersenyum saat di dekat Lion. 

__ADS_1


Lintang mengangguk berat. Menangkup kedua pipi sang buah hati. 


"Mama kenapa menangis? Papa mana, Ma?" tanya Lion pada Lintang. 


Semua orang saling tatap. Pak Radit mengangkat tubuh mungil Lion. Menjauhkannya dari semua orang. 


"Papa keluar kota sayang, nanti juga pulang. Lion sabar saja, doakan papa cepat pulang, ya," ucap Pak Radit berbohong. Sebab, hanya itu yang bisa mengelabui hati cucunya. Menghiburnya dengan berbagai mainan dan cerita. Berusaha untuk membuat Lion tidak menanyakan papanya.


Hampir satu hari penuh, tak ada tanda-tanda Yudha ditemukan. Beberapa polisi kembali dengan tangan hampa, mereka hanya membawa kelelahan saja. 


Satu orang menghampiri Lintang yang berlindung di bawah tenda. 


"Maaf, Bu. Apa benar ini jam tangan pak Yudha?" Menyodorkan sebuah jam tangan bermerek di depan Lintang. 


Benda mahal itu sangat tak asing di mata Lintang. Ia yakin itu adalah milik suaminya. 


"Iya, Pak. Itu milik suami saya. Sekarang di mana mas Yudha?" tanya Lintang antusias. Menggoyang-goyangkan tangan polisi di depannya. 


"Maaf, Bu. Kami hanya menemukan ini saja, tidak ada barang lain lagi yang kami temukan. Tapi ibu tenang saja, kami akan berusaha untuk mencari pak Yudha." 


"Mas, jangan membuatku takut." Dada Lintang terasa sesak, matahari sudah hampir tenggelam lagi, namun ia belum bisa bertemu dengan sang suami. 


Bu Fatimah bersimpuh di depan Lintang. 


"Sayang, kamu sedang hamil, lebih baik kita pulang, berdoa di rumah, ibu Yakin Allah akan memberi jalan yang terbaik untuk kamu dan Yudha."


"Tapi, Bu. Mas Yudha belum ketemu, aku mau tidur di sini," kekeh Lintang menepis tangan pak Juli yang hampir mendorong kursi rodanya. 


"Lintang, dengerin papa!" Pak Radit menggenggam tangan menantunya. 


"Kalau kamu sakit gimana? Yudha pasti marah dan kami semua yang kena imbasnya. Kamu pulang saja, biar papa dan ayah kamu yang akan mencari Yudha. Bantu doa supaya suami kamu cepat ditemukan."


Mana janji kamu Mas, katanya setiap malam akan selalu memelukku, tapi kenapa malam ini kamu nggak pulang. 


Lintang terisak memeluk sang ibu dengan erat. Ia masuk ke mobil menyusul Lion. Merangkul bocah itu, mencari kekuatan untuk bisa melewati malamnya tanpa suami.

__ADS_1


"Untuk malam ini kamu dan Bu Fatimah tidur di rumah ya, bilang ke mama kalau papa akan segera menemukan Yudha," ucap pak Radit dari luar mobil.


Lintang mengangguk berat.


__ADS_2