
Lintang terisak di pelukan Yudha. Ternyata masa lalu nya tak seperti yang ia pikir, ada hati yang tersakiti saat Samsul mengungkapkan cinta padanya. Andai dia tahu perasaan Gita, pasti kejadiannya tidak akan seperti itu. Lintang tidak mungkin diam saja, pasti dia akan menyatukan Gita dan Samsul kala itu.
"Aku yang salah, Mas. Seharusnya aku lebih perhatian pada Gita." Untuk yang kesekian kali Lintang menyalahkan diri sendiri.
Ternyata tak hanya Andreas, Lintang dan Yudha pun mendengar percakapan antara Samsul dan Gita di taman.
Tak henti-hentinya Yudha menenangkan sang istri, bahkan mengabaikan pekerjaannya yang menumpuk. Merengkuh tubuh Lintang, memberikan kekuatan untuk tetap berdiri menghadapi masalahnya.
"Tidak ada yang salah, Sayang. Lagipula semua sudah berlalu, perasaan tidak bisa dipaksakan. Jadi sekarang lebih baik kamu dan Gita bicara baik-baik. Pasti dia akan mengerti."
Lintang menghela nafas panjang, mungkin apa kata Yudha itu benar, semua harus dijelaskan supaya tidak berlarut.
Terlalu lelah menangis membuat mata Lintang sembab, juga perutnya terasa sedikit nyeri. Ia duduk sambil menyandarkan kepalanya di dada sang suami.
Yudha meraih ponselnya dan menempelkan benda pipih itu di telinganya.
"Andreas, suruh Gita ke ruanganku, sekarang juga!" titah Yudha pada sang asisten.
Sepuluh menit kemudian, Gita sudah kembali ke lantai lima belas. Ia tak langsing ke ruangan Yudha, melainkan menghampiri Andreas yang ada di depan ruangan Bian.
"Pak Yudha akan membicarakan masalah kamu, Bu Lintang dan Samsul. Kamu jawab yang jujur."
Andreas meraih tangan Gita, tanpa sengaja ia mulai membongkar hubungannya di depan semua karyawan kantor.
"Apa pak Yudha juga mendengar pembicaraan saya dan Samsul?" tanya Gita.
Andreas mengangguk. Menggandeng tangan Gita menuju ruangan sang bos.
Gita menarik tangan Andreas dari belakang hingga pria itu menoleh.
"Apa bapak akan tetap menerima apapun masa lalu saya?" tanya Gita memastikan.
Ia tak ingin jatuh ke lubang kekecewaan yang sama, pasti akan lebih menyakitkan mengingat hubungan mereka yang sudah menjadi tunangan.
Andreas mengelus dagunya, berpura-pura memikirkan sesuatu yang membuat hati Gita cemas.
"Pasti, yang penting kamu tidak pernah menutupi apapun dariku, entah itu masalah kecil atau besar."
__ADS_1
Senyum mengembang di sudut bibir Gita, bukan karena ungkapan Andreas, melainkan ia tak tahan jika melihat wajah calon suaminya itu.
Andreas menggiring Gita masuk, keduanya langsung bertemu dengan Lintang yang duduk di sofa.
Lintang merenggangkan pelukannya dn beralih memeluk Gita, ia kembali sesenggukan di pelukan gadis itu. Tak tahan jika mengingat apa yang pernah dirasakan sang sahabat saat itu.
"Kamu kenapa, Lin?" tanya Gita ikut menitihkan air mata, menatap Yudha yang duduk di belakang sang sahabat.
"Aku nggak tahu kalau waktu itu kamu mencintai Samsul. Maafkan aku," ucap Lintang penuh penyesalan. Semakin mengeratkan pelukannya hingga dada Gita sesak.
Gita tertawa, mengelus punggung Lintang yang bergetar hebat. Demi apapun Gita tidak pernah menyalahkan siapapun, termasuk Lintang. Semua ini tentang perasaan yang memang tak bisa dikendalikan.
"Kenapa harus minta maaf? Tidak ada salah. Ini hanya tentang jodoh. Dan sekarang kita sudah menemukan kebahagiaan masing-masing, jangan diingat-ingat lagi. Kita harus bisa meyakinkan Samsul, biar bagaimanapun juga dia adalah sahabat terbaik kita."
"Jangan! Biar aku dan Andreas yang urus," sahut Yudha seketika. Ia tak terima jika istrinya harus berinteraksi dengan pria lain, apalagi riwayat Samsul pernah menyukai Lintang, sungguh hati Yudha tidak ikhlas.
Terpaksa Lintang dan Gita mengurungkan niatnya, takut akan menambah masalah lagi bagi mereka yang kini sangat sensitif.
Keduanya saling tatap dan saling berbincang. Lintang menjelaskan isi hatinya, meskipun sudah menjadi masa lalu tetap saja Gita harus tahu dari bibirnya sendiri. Mereka saling tertawa mengingat masa dulu. Tak menghiraukan Yudha dan Andreas yang sama-sama mematung dan menjadi pendengar setia.
"Maaf, saya harus keluar. Masih banyak pekerjaan," ucap Gita.
Ingin mencegah, namun Lintang merasa tak enak dengan suaminya, bagaimanapun juga itu adalah kantor tempat bekerja. Bukan untuk curhat atau santai.
"Git, kalau begitu hari minggu kita ketemu ya, di cafe biasa," seru Lintang saat Gita membuka pintu.
Wanita itu hanya mengangguk diiringi dengan senyuman. Meninggalkan ruangan Yudha dengan hati lega.
Akhirnya semua sudah jelas. Sekarang aku akan fokus pada pak Andreas, Tidak boleh mengingat laki-laki manapun, termasuk Samsul.
Andreas menyusul mengikuti Gita hingga di depan pintu lift.
"Ini hari pernikahan kita, kamu siapkan diri untuk menjadi istriku."
Membuka telapak tangannya di depan Gita.
Gadis itu membaca tulisan yang tertera, terdapat sebuah tanggal, Bulan dan juga tahun, Hari dan jam, bahkan tempat digelarnya acara pun sudah ditulis, semua sudah lengkap di sana.
__ADS_1
"Bapak serius?" Gita memekik tak peduli dengan karyawan yang melintas. Pasalnya, tulisan Andreas angkat mengejutkan baginya.
"Serius lah, kamu pikir aku main-main."
Plak plak
Gita menepuk pipinya bergantian lalu meringis kesakitan.
Ini nyata, aku tidak sedang bermimpi, seandainya aku gigit bibir pak Andreas gimana ya. Apa dia akan mengataiku mesum
Aaaaa
Hati Gita menjerit kegirangan, entah sejak kapan pikirannya mulai gila, yang pastinya jika melihat Andreas ia tak tahan lagi dan ingin melahap pria itu.
"Jangan dipukul, pipinya nanti merah." Andreas mengusap-usap pipi Gita, lalu menekan tombol lift.
Setelah pintu lift terbuka, Gita masuk. Ia melambaikan tangannya ke arah Andreas yang masih berdiri di depannya.
"Ingat, di lantai sepuluh ada Samsul, kamu jangan berani macam-macam sama dia." Sebuah peringatan yang langsung dijawab anggukan oleh Gita.
Setibanya di lantai sepuluh, tak sengaja Gita berpapasan dengan Samsul yang baru saja keluar dari ruangan pak Setiawan. Tak seperti biasanya yang langsung saling menyapa, kini ia merasa canggung dengan pria itu.
Apa Samsul marah padaku, tapi aku kan bicara jujur. Lagipula ini bukan salahku.
Meskipun ingin cuek, hati kecilnya tetap merasa iba pada sang sahabat. Gita menoleh ke belakang. Menatap Samsul yang juga menatapnya.
Aku harus menjelaskan sebelum dia salah paham lagi.
Gita tersenyum menghampiri Samsul. "Maaf, Sul. Aku nggak tahu apa yang kamu pikirkan tentang perempuan, tapi kamu harus tahu. Lintang dan pak Yudha itu sudah di jodohkan sejak lama sebelum kamu dan dia saling kenal."
Samsul membisu, mencerna setiap kata yang meluncur dati bibir Gita.
"Kalau aku sendiri memang sudah tunangan." Menunjukakn cincin berlian yang tersemat di jari manisnya.
"Aku sudah dilamar pak Andreas tadi malam, jadi bukan karena dia kaya, tapi karena dia berani datang ke rumah dan meminta pada ibu."
Marah pun percuma, kini Samsul hanya bisa belajar dari kesalahan yang lalu.
__ADS_1