Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Bab 114. Ketegangan Indira


__ADS_3

Keanu bukan lagi berondong atau anak kuliahan yang akan main-main dengan seorang gadis. Ia serius dengan ucapannya tadi. Meskipun usianya dengan Indira terpaut jauh, tak membuatnya berkecil hati. Jodoh tidak akan memandang umur, fisik atau apapun itu. Yang pasti ada niat baik dari hati, ia yakin akan segera menemukannya. 


Pertemuannya dengan Indira yang singkat menjadi awal yang baik bagi Keanu. Ia sudah mengantongi nomor kontak Indira dan juga restu dari pak Juli, hanya tinggal merebut hati gadis itu.


Indira nampak celingukan ke sana ke mari. Matanya tak henti-hentinya menyusuri setiap ruangan. Kakinya terus mengayun mencari seseorang. 


"Kak Bian," panggil Indira seraya berlari kecil ke arah depan. 


Rumah yang tadi sangat ramai itu kini mendadak sepi. Hanya ada dua pembantu yang membereskan meja makan. Lintang dan Yudha pun entah di mana, sedangkan pak Juli dan Bu Fatimah pergi. Bu Indri dan Pak Radit sudah pamit pulang. 


Hanya ada Keanu di teras depan. Pria itu sibuk berbicara dengan benda pipihnya. 


Indira yang hampir keluar terpaksa mundur lagi dan menyandarkan punggungnya di samping jendela. Mendengarkan pembicaraan Keanu yang nampak serius. 


"Oke, aku akan segera ke sana." Keanu mengakhiri percakapan nya lalu masuk ke dalam ingin pamit dengan sang tuan rumah. 


Setibanya di ruang depan, Keanu menghentikan langkahnya. Satu tangannya menyelinap dan mengambil sesuatu di dalam jaket. Matanya menelisik setiap tempat yang dianggap mencurigakan. Hingga satu menit kemudian, Keanu membalikkan tubuhnya ke belakang. Tangannya mengulur, menodongkan pistol ke arah Indira yang berdiri di belakang jendela. 


Sontak Indira menjerit dengan tubuh yang duduk lemas. Kedua tangannya menutup telinga, sedangkan wajahnya terbenam di antara lutut dan perutnya.


Keanu berdecak. Menyembunyikan kembali senjatanya lalu menghampiri Indira yang masih histeris. 


"Kamu nggak papa?" Keanu menggoyang-goyangkan tubuh Indira yang bergetar. 


"Pergi, jangan tembak aku!" ucap Indira dengan suara lirih. Jantungnya terasa hampir copot saat mengingat benda yang ada di tangan Keanu. Jeritan Indira mengundang banyak orang, termasuk Yudha, Lintang juga Bian dan pembantu di rumah Yudha. 


Mereka berhamburan menghampiri Indira dan Keanu. 


Lintang dan Bian yang hampir saja memeluk sang adik harus mengurungkan niatnya saat Yudha menarik tangan mereka dari belakang. 


Menggeleng lalu menyungutkan kepalanya ke arah punggung lebar sang sahabat. 


Yudha menepuk pundak Keanu sehingga pria itu menoleh. 


"Peluk dong, biar dia nggak takut," pinta Yudha berbisik sambil memperagakan tangan seseorang saat mau memeluk. 


Keanu mengangkat kedua bahunya. Namun, ia tetap mendekati Indira. 


"Hai, tenang," ucap Keanu merengkuh tubuh Indira dan membawa ke dekapan nya. 


Ini pertama kali bagi Keanu. Dulu, menyentuh seorang wanita adalah hal yang mustahil baginya. Namun, kini ia merasakan kehangatan dari sosok Indira, gadis yang menurutnya masih sangat kecil dan belum layak menjadi istri. 

__ADS_1


"Aku tidak bersalah, jangan tembak aku." Indira masih menangis hingga suaranya terputus-putus. 


Yudha menepuk dahinya. Ia bisa membaca situasi setelah mendengar ucapan Indira. 


"Siapa yang akan menembakmu, Ra?" Bian panik dan duduk di samping sang adik yang masih tenggelam di dada Keanu.


Indira menunjuk ke arah ruang tamu yang membuat Keanu dan Yudha terkekeh.


"Sayang, sepertinya masalah ini sudah selesai, kita tinggalkan saja mereka. Keanu sudah bisa  mengatasinya," bisik Yudha di telinga Lintang yang membuat sang empu tak mengerti. Namun, Lintang tetap mengikuti langkah suaminya.


"Memangnya siapa yang mau menembak  Indira, Kak?" tanya Bian pada Keanu.


Keanu tersenyum kecil. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Berada di rumah Yudha membuatnya seperti orang bodoh. 


"Indira hanya salah lihat saja, mungkin dia banyak pikiran." Entah, masuk akal atau tidak, itulah kata yang melintas di otak Keanu hingga ia meluncurkannya.


Setelah kesadarannya pulih kembali, Indira menghirup aroma parfum yang menusuk rongga hidungnya. Matanya yang tadi terpejam kini terbuka lagi. Seketika ia mendongak saat mendengar suara Keanu tepat di telinganya. 


"Kak keanu!" pekik Indira sambil mendorong tubuh kekar pria itu. 


Bisa-bisanya, setelah membuatnya ketakutan dan jantungan, kini malah memeluknya seperti tak punya salah sedikit pun. 


"Siapa yang akan menembakmu, Ra?" tanya Bian yang masih penasaran. 


Seketika itu juga Indira menunjuk dada Keanu. "Tadi kak Keanu yang mau menembakku, Kak. Dia mengeluarkan pistol dari jaketnya," ucap Indira seperti yang ia lihat. 


Bian menelan ludah nya dengan susah payah. Keringat bercucuran membasahi kulitnya. Matanya melirik ke arah tangan Keanu yang nampak kosong, tidak terlihat seperti yang Indira katakan. 


"Tadi itu pisang, Ra. Kamu salah lihat."


Keanu masih mencoba menyangkal. 


Kenapa harus pisang sih. Keanu menggerutu dalam hati. Merutuki dirinya yang semakin bodoh.


Tangan Indira mengulur dan membuka jaket Keanu dengan paksa. Ia memeriksa seluruh tubuh pria itu dengan teliti. 


Ke mana benda itu?


Indira tak menemukan apapun di sana, hanya ada dompet yang ada di saku celana Keanu. Juga beberapa kartu identitas. 


"Nggak ada, kan?"

__ADS_1


Apa tadi aku salah lihat ya? Gak, gak, gak, aku nggak salah lihat, tadi itu beneran pistol. 


Setelah terbukti tidak menyimpan benda itu, Indira mengembalikan jaket Keanu dan langsung dipakai sang pemilik. 


"Kak, aku mau pulang, anterin," pinta Indira. 


"Tapi aku belum selesai, Ra. Nanti kalau kak Yudha marah gimana?"


"Biar aku yang antar," sahut Keanu merapikan penampilannya. 


Ingin menolak, namun tak ada pilihan lain, Indira sudah tak betah dan ingin pulang, tak mungkin juga ia meminta kakak iparnya untuk mengantarnya. 


"Baiklah, tapi kakak janji tidak boleh menembakku. Aku masih ingin hidup."


Ternyata dia masih sangat polos. 


Keanu mengangguk, mengikuti langkah Indira keluar. 


Dalam perjalanan tak ada pembicaraan apapun, Indira tetap waspada dan terus melirik ke arah Keanu yang sibuk dengan setir. Jantungnya berdegup dengan kencang saat pria itu menoleh ke arahnya. 


Melihat ketakutan Indira, Keanu menahan tawa. 


"Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu."


"Tapi tadi aku nggak salah lihat kan, Kak?" ucap Indira ragu-ragu dengan kepala menunduk ke bawah. 


Keanu hanya bisa tersenyum. Belum tahu harus bagaimana, di satu sisi ia tak ingin membuat Indira takut, namun ia juga tak mungkin menyembunyikan jati diri yang sebenarnya. 


"Nanti akan aku ceritakan." 


Tak terasa, mobil berhenti di depan alamat yang dituju. Indira langsung turun memutari mobil menatap Keanu yang  masih di dalam. 


"Apa kakak nggak mampir dulu?"


"Lain kali saja. Aku ada urusan penting." 


Indira melambaikan tangannya ke arah mobil Keanu yang mulai melaju. 


Setelah berada di ujung jalan, Keanu mengambil sesuatu dari area yang tak terduga, karena hanya tempat itu yang aman dari pemeriksaan Indira.


Pistol bertemu pistol.

__ADS_1


__ADS_2