
Halo readers tercinta, terima kasih atas dukungan kalian semua. Dimanapun kalian berada, semoga tetap dalam lindungan Allah, semoga sehat selalu dan diberi kelancaran rizqi nya. Aamiin
Gimana dengan cerita terpaksa menikahi duda tampan? Pasti seru dong.
Di sini saya juga akan memberi pengumuman kalau novel yang berjudul "Terpaksa menikah dengan pria kejam" sudah rilis dan sudah tayang hanya di sini.
Terus kepoin cerita Author ya semoga terhibur
Cuplikan untuk cerita di bawah ini
"Maaf, Tuan Asil. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi nyawa Nona Lunara tidak tertolong, dia meninggal," ucap Dokter Hasad lirih.
Tangis kembali pecah, memecahkan keheningan yang beberapa waktu lalu tercipta. Di depan ruangan ICU itu semakin tegang, aksi jambak-menjambak kembali terjadi setelah pernyataan sang dokter yang menyayat hati.
Lunara dinyatakan meninggal setelah mengalami kecelakaan, ia yang sedang menyeberang ditabrak oleh pengendara motor, itulah menurut saksi.
"Dasar pembunuh, enyah kau dari dunia ini," ucap Ayla berteriak. Ia adalah salah satu teman dekat Lunara yang paling murka dengan kejadian yang menimpa sang sahabat.
Mirza Asil Glora ambruk seketika. Seluruh organ tubuhnya seakan ikut mati bersama dengan pernyataan itu. Wajahnya merah padam memendam amarah, Matanya berkaca dengan tangan yang mengepal sempurna. Darahnya mendidih mengingat cerita dari Ayla yang melihat kejadiannya.
Kesedihan dan kemarahan bercampur aduk membuat dada pria yang itu sesak, bahkan beberapa kali ia harus mensuplai oksigen untuk bisa bernapas.
__ADS_1
Ulu hatinya teriris, kenyataan ini bahkan lebih pahit daripada menelan empedu. Tak menyangka, hubungan yang dirancang sedemikian indah berakhir tragis, mereka berpisah untuk selama-lamanya.
Bukan ini yang Mirza inginkan. Dipisahkan oleh maut, bukan berarti harus secepat kilat, bahkan ia belum bisa menikmati manisnya menjalani rumah tangga dengan wanita itu. Apakah ini adil?
Lunara adalah tunangan Mirza. Mereka akan melangsungkan pernikahannya besok, namun kini semua itu hanya tinggal rencana yang tak mungkin tercapai.
Lunara meninggalkannya nya begitu saja tanpa pamit.
Mirza menoleh, menatap gadis yang terisak, wajahnya tampak lebam dengan pipi yang basah kuyup. Sudut bibirnya dipenuhi darah segar akibat aksi beberapa teman Lunara.
Ya, itu adalah gadis yang menabrak Lunara. Dia bernama Haira. Gadis cantik berumur 19 tahun yang bekerja di sebuah pabrik garmen ternama. Ia tak sengaja menabrak Lunara karena sedikit pusing.
Jangan ditanya penampilannya, pasti sederhana. Ia hanya gadis polos yang datang dari kampung untuk mengais rejeki. Baru tiga bulan dirinya diterima, dan kini harus mengalami musibah tragis.
"Jangan bohong!" pekik Ayla kembali mencekik leher Haira hingga kesulitan bernapas.
Tangannya terus mencengkal tangan Ayla yang hampir saja membunuhnya. Namun apa daya, Haira sudah kehabisan tenaga hingga ia tak bisa melawan wanita itu.
Mirza masih bergeming, sedikit pun tak ada belas kasihan pada Haira yang nampak menderita, namun ia pun belum ingin turun tangan meskipun sekujur tubuhnya dibakar dendam.
Untuk saat ini ia tak bisa memikirkan apapun selain calon istrinya yang sudah menjadi mayat. Masih belum percaya dengan kejadian yang menimpanya.
__ADS_1
Pintu terbuka lebar.
Mirza mendongak, menatap brankar yang didorong dari dalam, dengan posisi duduk ia menggenggam satu kaki ranjang itu hingga menghentikan langkah dokter.
Buliran bening lolos membasahi pipi hingga jatuh ke lantai yang berwarna putih mengkilap.
Tangannya gemetar, seakan tak sanggup untuk menatap wajah Lunara.
Sekuat tenaga Mirza berdiri. Menyentuh kain yang menutupi tubuh Lunara. Menariknya dengan pelan, hingga menampakkan wajah pucat gadis itu.
Mirza tergugu, air matanya mengalir semakin deras bak banjir bandang. Berjalan pelan, mendekatkan wajahnya di telinga Lunara yang kini sudah terbujur kaku.
"Kenapa kamu tega meninggalkan aku," ucap Mirza di sela-sela tangisnya. Tangannya mengelus, mengusap lembut pipi sang kekasih.
Kenangan indah yang pernah mereka lalui. Pahit manis perjalanan cinta yang menghiasi waktu demi waktu terus terlintas di benaknya. Betapa hancur nya hati Mirza saat ini ditinggalkan orang yang paling ia cintai.
Erkan, sang sekretaris itu maju satu langkah. Merangkul tubuh Mirza yang masih bergetar hebat.
"Sudah, Tuan, biarkan Nona Lunara tidur dengan tenang, jika Tuan seperti ini, dia pasti akan sedih," tutur Erkan menyemangati.
**Selamat membaca
__ADS_1
Love love love**