
Yudha menyambut kedatangan Lintang dengan sebuah pelukan hangat. Baru beberapa menit berpisah, ia merasa sudah rindu setengah mati. Hadirnya Lintang tak hanya mengobati kesepian dirinya setelah berpisah dari Natalie, namun juga mengisi kekosongan hatinya yang tumpul karena rasa kecewa.
Yudha mengunci pintu ruangannya dan menggiring Lintang untuk duduk di sofa. Wajahnya yang tadi serius dengan pekerjaan kini terlihat santai saat sang pujaan hati bertamu.
"Mau apa, hmm?" tanya Yudha sambil menepuk pahanya, memberikan kode pada Lintang untuk duduk di pangkuannya.
"Mau ambil bonus," jawab Lintang seperti yang dikatakan Yudha lewat telepon. Menagih janji mengingat kedatangannya yang penuh perjuangan.
Yudha tak mau kalah dan terus menepuk pahanya. Memasang wajah mengiba berharap Lintang mau menuruti permintaannya. Hari ini ia sudah mengeluarkan banyak uang demi Lintang, dan kini dirinya tak ingin rugi, karena bonus yang akan dikeluarkan untuk satu orang saja jauh lebih besar daripada untuk karyawan satu kantor.
Terpaksa Lintang duduk di pangkuan Yudha dan menghadap ke arah yang sama. Menyandarkan kepalanya di dada suaminya, mendengarkan detak jantung yang berirama sedang. Tak menyangka akan melabuhkan hatinya pada orang yang dulu ia benci, bahkan sedikit pun tak terlintas jika dirinya akan berhubungan lagi dengan masa lalu yang kelam itu.
"Nanti malam pakai lingerie, ya," ucap Yudha ragu, ia masih takut jika Lintang akan tersinggung dengan ucapannya yang terus menyangkut dengan hubungan intim.
Sebagai pria dewasa yang pernah berumah tangga, Yudha memang merindukan hal itu, dan kini bersyukur sudah mendapatkan Lintang yang jauh dari kata sempurna.
"Kenapa harus pakai baju seperti itu?" tanya Lintang mendongak kepalanya, menatap Yudha yang terus mengecup keningnya.
"Apa aku kurang menarik?" imbuh Lintang dengan suara pelan, takut Yudha tak puas dengan pelayanannya.
"Bukan tak menarik, Sayang. Aku hanya ingin saja, tapi kalau kamu tidak mau juga tidak apa-apa, aku tidak memaksa."
Lintang mencerna setiap kata yang meluncur dari bibir Yudha. Melihat bajunya saja sudah geli, apalagi memakainya, Lintang tak bisa membayangkan bagaimana bentuk tubuhnya jika kain tipis itu menempel di tubuhnya, pasti memalukan.
Lintang memanyunkan bibirnya namun juga mengangguk setuju.
Seketika Yudha menggigit bibir Lintang dengan lembut. Menggeser tubuh Lintang lalu beranjak ke arah laci.
Mengambil sesuatu dari sana dan kembali duduk di samping Lintang.
"Karena kamu sudah datang, aku kasih bonus." Memberikan satu gepok uang ratusan ribu, itu artinya sepuluh juta kini sudah menjadi milik Lintang.
Lintang melirik uang itu tanpa ekspresi. Seakan ia terus dihujani dengan harta yang dimiliki Yudha.
__ADS_1
Apa itu hanya sogokan yang akan berakhir pedih, atau cara Yudha mencurahkan rasa cintanya. Lintang hanya bisa berperang dengan otaknya. Takut semua yang diberikan Yudha adalah umpan untuk menjatuhkan derajatnya sebagai seorang wanita miskin.
"Kenapa tidak diambil?" tanya Yudha dengan serius.
Wajah Lintang nampak datar. Olokan Yudha pada sang ibu yang sudah ditata rapi untuk dilupakan itu melintas kembali. Uang, ya itu membangunkan dendam Lintang yang hampir saja musnah.
Lintang menggeleng dengan mata berkaca. Dadanya menguap dan hampir saja meledak. Ingin marah pada pria yang ada di sampingnya. Namun untuk saat ini tak bisa, suaranya tertahan di ujung lidah.
Melihat perubahan sang istri Yudha berlutut di depan wanita itu.
"Ada apa, Sayang?" tanya Yudha dengan lembut. Menggenggam tangan Lintang yang terasa dingin.
"Apa ini artinya mas sudah membeliku?"
Pikirannya terlalu jauh, tapi Yudha kembali memaklumi. Mencium punggung tangan Lintang lalu merengkuh tubuh mungilnya.
"Tidak, jangan berpikir seperti itu, aku hanya ingin membuatmu bahagia. Uang ini tak beberapa dibandingkan dengan pengorbanan kamu yang sudah mau menjadi istriku."
Yudha meyakinkan, berharap Lintang tak salah paham dengan semua pemberiannya.
Yudha mengajak Lintang ke arah rak buku lalu menekan tombol yang ada di sisi meja. Nampak sebuah kamar mewah yang bersembunyi di belakangnya. Tidak akan ada yang menyangka di ruangan Yudha terdapat sebuah kamar mewah.
Ruangan yang indah penuh dengan aksesoris. Ranjang yang sangat besar, jendela yang langsung menghubungkan di tengah kota membuat mata Lintang terpana.
Namun ia tetap waspada mengingat suaminya yang semakin nakal padanya.
Lintang melangkah ragu saat Yudha terus mengikutinya dari belakang. Menutup pintunya lagi dengan remote. Mengelilingi setiap sudut ruangan yang memanjakan mata.
Yudha melingkarkan kedua tanganya di perut Lintang, menatap photo pernikahan mereka yang terpanjang di dinding.
"Apa dulu Bu Natalie juga sering ke sini?" tanya Lintang antusias.
Jika benar, itu artinya dia bukan orang yang pertama masuk ke tempat itu.
__ADS_1
"Belum, tempat ini baru jadi beberapa bulan yang lalu. Awalnya aku membuat ini untuk dia, tapi __"
Yudha memotong ucapannya, wajahnya meredup mengingat penghianatan sang istri.
Lintang memeluk Yudha. Menepuk punggung lebar pria itu.
"Jangan diteruskan lagi, aku minta maaf sudah membahas masa lalu, Mas."
"Tidak apa-apa, sebagai istriku kamu juga harus tahu penyebab aku bercerai dengan dia."
Yudha menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dan Natalie, supaya Lintang tidak menganggapnya sebagai orang yang tak bertanggung jawab. Secara terperinci Lintang langsung paham dengan pembicaraan suaminya yang mengarah pada sebuah perselingkuhan yang dilakukan Natalie.
"Aku sempat ingin menghancurkan kamar ini, tapi Andreas melarang ku, dia satu-satunya orang yang memberi semangat padaku untuk tetap bangkit dan melupakan Natalie. Sampai pada suatu hari aku melihatmu dan aku langsung mempercantik tempat ini.
Lintang memutar tubuhnya hingga saling tatap. Menjinjit dan mencium bibir Yudha dengan lembut. Tanpa sadar, itu sukses memancing hasrat Yudha.
Kode apa ini, apa Lintang menginginkannya disini?
Hanya sekali pagutan saja, Yudha sudah bergairah. Apalagi saat Lintang terus menggesekkan tubuhnya. Ini yang membuat Yudha tak tahan lagi.
"Mas, aku mau turun, banyak pekerjaan," ucap Lintang melepaskan pelukannya. Ia melihat ada sesuatu yang mulai menyelimuti Yudha.
Enak saja mau pergi, dia yang mulai dia juga yang harus mengakhiri.
Yudha menarik tangan Lintang. Tanpa aba-aba ia mengangkat tubuh mungil itu ke atas ranjang.
"Mas, ini kantor," ucap Lintang mencengkeram kemeja Yudha yang kini sudah menguasai dirinya.
"Aku tahu," jawab Yudha santai.
Menggunakan kedua lututnya untuk menopang tubuh. Melepas dasi yang mencekik lehernya. Tak mengindahkan suara Lintang yang merengek minta dilepaskan, ini saatnya untuk membuktikan keganasannya sebagai mantan duda.
Tak ada pilihan lain, Lintang sudah terlanjur terjebak dengan permainan yang dibuat sendiri, dan akhirnya ia pasrah atas apa yang dilakukan suaminya.
__ADS_1
Gita yang ada di ruangannya merasa cemas saat melihat Lintang yang belum juga turun.