Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Bab 43. Tidak berubah


__ADS_3

"Kamu ada di mana?" Yudha mengucap dengan lantang. Menyerang suara gemuruh yang memenuhi ruangan. Matanya terus menyusuri setiap pengunjung yang sedang asyik berjoget, menikmati alunan musik yang menggema. Sesekali menyenggol mereka yang mulai sempoyongan. Bau alkohol menusuk rongga penciuman membuat Yudha sesekali mendengus. 


Sudah lama sekali ia tak menginjakkan kakinya di klub, hampir lupa dengan pergaulan ya yang dulu sempat bebas sesuka hati. Sekarang Yudha adalah seorang ayah dan juga suami, ia tak lagi ingin kembali ke masa lalu. Hanya ada masa depan yang harus dirintis bersama orang tercinta. 


Lampu yang menyala remang-remang membuat pandangan Yudha sedikit tak jelas, ia harus bekerja ekstra untuk menemukan sahabatnya yang kembali masuk saat kedinginan. 


"Yudha, aku di sini." Gadis cantik dengan baju seksi dan mata coklat yang ada di ujung ruangan melambaikan tangannya ke arah Yudha. Bibirnya terus berteriak memanggil nama sang sahabat yang sudah lama tak jumpa.


Yudha tersenyum renyah, meskipun sudah lama tak bertemu, ia tak mungkin lupa dengan sosok Claire yang sangat familiar dengan centilnya. 


Tanpa aba-aba, Claire memeluk tubuh Yudha dan melonjak kegirangan, seperti mendapat hadiah utama ia terus mengutarakan kebahagian pada Yudha. 


"Claire, lepasin, nanti  dilihat orang," bisik Yudha mencengkal tangan gadis itu yang melingkar di lehernya. 


Claire berdecak dan memanyunkan bibirnya. Melipat kedua tangan dengan tubuh yang masih bergoyang kecil. 


"Sekarang kamu berubah. Apa kamu takut sama istri kamu?"


Mendengar kata Istri, tiba-tiba Yudha teringat kejadian tadi saat di rumah, dimana Lintang membuatnya kecewa. Ia menarik tangan Claire, membelah kerumunan lalu mengajaknya untuk duduk di samping bartender cantik. 


Tanpa sadar, Yudha meraih gelas yang berisi whine lalu meneguknya hingga kandas, pikirannya sedikit kacau jika menyangkut tentang Lintang. 


Claire menatap jari-jari Yudha yang tampak memar, menggenggamnya  lalu meniupnya. Merasa iba dengan pria itu yang tampak cemas. 


"Kamu ada masalah?" tanya Claire menyelidik. Mengusap darah yang hampir mengering itu dengan tisu basah. 


Menatap wajah Yudha lagi yang masih dipenuhi dengan amarah. 


Mengusap wajahnya dengan kasar, ingin sekali menyimpan masalah itu sendiri. Namun, dadanya sudah tidak kuat menahan beban yang menyelimuti nya saat ini. 


"Hanya masalah kecil," ungkapnya menahan rasa perih saat Claire mengobati lukanya dengan salep.


Claire tertawa terbahak-bahak mengalihkan pandangan beberapa orang yang ada di sekelilingnya. 


"Kalau hanya masalah kecil, tidak mungkin kamu sekacau ini." 

__ADS_1


Claire berbisik tepat di telinga Yudha. Mendekatkan wajahnya di wajah pria itu, hembusan napas keduanya saling beradu. Sekian lama berpisah, akhirnya Claire bisa menikmati wajah tampan yang membuat hatinya berdenyut saat di dekatnya. 


"Ngomong-ngomong, mana suami kamu?" Yudha mengalihkan pembicaraan, menatap wanita cantik yang berlalu lalang melintasinya. 


"Dia tidak ikut." Mengatakan dengan wajah lesu, tak ada sedikitpun semangat saat menyinggung pasal suaminya. 


"Kenapa, kalian berantem juga?" tanya Yudha berbalik sambil menggelengkan kepala, menolak segelas minuman yang disodorkan di depannya. Takut mabuk dan kesulitan saat menyetir. 


"Tidak," mengucap dengan berat. "aku hanya menghindarinya saja, untuk apa suami yang egois aku pertahankan, maunya menang sendiri dan tidak pernah peduli padaku," imbuhnya. 


Seperti Lintang, tapi aku sangat mencintainya. 


Yudha melihat jam yang melingkar di tangannya. Ternyata sudah lumayan lama ia berada di klub itu dan ingin mengakhiri pertemuannya dengan Claire. 


"Pulang yuk, nanti istriku nyariin." Yudha beranjak dari duduknya dan merapikan penampilan. Baru beberapa langkah, ia terhuyung saat tubuh Claire yang berjalan di belakangnya ambruk ke arahnya. 


"Hati-hati," ucap Yudha menahan tubuh Claire yang menempel di dadanya. 


"Mas, hati-hati kalau jalan," tegur Yudha pada seseorang yang menabrak Claire. 


Yudha tidak pernah berubah, selalu perhatian pada siapapun. Aku jadi penasaran, siapa perempuan yang beruntung mendapatkan hatinya. 


Setelah mengantarkan Claire ke apartemen, Yudha langsung pulang ke rumah, selain sudah mengantuk, ia tak mau menimbulkan kecurigaan. 


Lintang yang belum tidur itu pun membuka tirai jendela saat mendengar mesin mobil berhenti di depan rumah. Menatap Yudha turun dari mobil dengan jaket yang tersampir di pundak. 


Menutup kembali tirainya. Duduk di tepi ranjang, wajahnya sedikit gelisah saat melihat jarum jam yang menunjuk ke angka satu. 


Memangnya temannya ada di mana, kenapa sampai lima jam dia di luar? 


Bertanya pada diri sendiri. Meremas ujung piyama nya hingga kusut. 


Lintang membuka pintu kamarnya, tak sengaja ia menangkap kaki yang menjulur melewati ukuran sofa. Melangkah menuju dapur dan mengambil segelas air putih. 


Yudha membuka mata. Sayup-sayup mendengar seseorang yang sedang bercakap. Menatap ke arah sumber suara. Ternyata Lintang dan mbak Mimah di sana. 

__ADS_1


Yudha meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya. Ia berpapasan dengan Lintang yang juga berjalan menuju kamar. 


Tatapan keduanya bertemu. Bibirnya saling membisu hingga keheningan tercipta. Dari lubuk hati yang terdalam, Yudha ingin menyapa, namun tertahan di kerongkongan mengingat Lintang yang sudah menolaknya. 


Yudha berjalan lebih dulu meninggalkan Lintang yang masih menatapnya. 


Lintang mendengus kan hidungnya, mencium parfum yang jauh berbeda saat Yudha pergi.


"Ini seperti parfum cewek, apa jangan-jangan mas Yudha __"


Lintang menepis bayangan yang tidak-tidak. Tak mau berburuk sangka pada suaminya, meskipun hatinya belum terbuka, ia pun tak mau suaminya terjerumus dalam lubang yang akan menghancurkan rumah tangganya. 


"Pak, buka pintunya!" Lintang terpaksa mengetuk pintu kamar Yudha. 


Dalam hitungan detik, pintu terbuka lebar. Yudha tersenyum sambil menyandarkan punggungnya di dinding. 


"Ada apa?" tanya Yudha yang sudah melepas jaketnya. 


Lintang maju satu langkah dan kembali mencium baju Yudha di bagian dada. 


Kini ia tak hanya mencium parfum wanita, namun juga Alkohol. 


"Bapak habis minum, sama siapa?" tanya Lintang menyelidik. 


Ternyata dari tadi dia merhatiin aku.


"Sama Claire. Memangnya kenapa? Bukankah kamu tidak peduli padaku?" cetus Yudha. 


"Saya memang tidak peduli dengan, Bapak. Tapi saya peduli dengan Lion dan keluarga besar Anggara. Bagaimana kalau dia tahu papanya keluar malam dan  mabuk dengan teman perempuannya? Apa kata orang kalau seorang pemimpin perusahaan bebas keluar masuk di Klub malam? Pasti nama bapak yang tercemar, dan saya tidak mau itu terjadi."


Lintang menjeda ucapannya, menahan air  matanya yang hampir saja luruh. 


"Mungkin saya bukan wanita yang baik untuk bapak. Pasti pernikahan ini membuat bapak tersiksa karena tidak bisa memiliki saya seutuhnya, jika bapak tidak tahan dengan sikap saya, silahkan ambil langkah yang terbaik. Saya siap." 


Lintang pergi, dan masuk ke kamarnya. Sedikit pun tak ada rasa takut akan kehilangan seorang Yudha Anggara. 

__ADS_1


Lintang menumpahkan air matanya. Tak mengerti dengan dirinya sendiri yang selalu angkuh saat di depan Yudha, suaminya. 


"Maafkan aku, Mas. Maafkan aku," ucap Lintang lirih. 


__ADS_2