Tertambat Bad Boy Insyaf

Tertambat Bad Boy Insyaf
Kehilangan Gelang


__ADS_3

Mendapatkan tatapan yang begitu tajam dari sahabatnya, membuat Diandra pun bergidik. Ia benar-benar merasa bersalah karena tidak bisa menjaga barang berharga pemberian sahabatnya itu.


"Sa, aku benar-benar minta maaf. Aku nggak sengaja dan aku janji akan mencari gelang itu sampai ketemu," kata Diandra dengan tatapan sendu, ia sangat menyesali kecerobohannya sendiri.


"Hu … "


Tiba-tiba saja wajah Sasa yang tadinya terlihat sangat galak, berubah menjadi cemberut, serta rasa sedih yang terpancar dari wajahnya. Membuat Diandra pun semakin merasa bersalah dan juga merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Sasa.


"Maafkan aku ya Sa. Aku jadi bingung nggak tahu harus berbuat apa sekarang. Aku benar-benar baru sadar, tapi aku yakin seminggu yang lalu aku masih memakai gelangnya. Maafkan aku ya," ucap Diandra sembari menggenggam tangan Sasa.


"Hu … ."


Bukannya menjawab, malah terdengar suara seolah sedang menangis yang keluar dari sudut bibir Sasa kembali.


"Duh … Sa, aku harus gimana sekarang untuk menebus kesalahan aku? Supaya kamu nggak mewek terus seperti ini. Aku tahu kamu marah sama aku, kecewa sama aku, tapi ini bukan keinginan aku Sa," kata Diandra.


"Di aku nggak marah kok dan aku bukan sedih karena kamu sudah menghilangkan gelang itu aja," kata Sasa.


"Lalu karena apa?" Tanya Diandra yang kebingungan.


"Karena gelang aku juga hilang beberapa hari yang lalu, nih kamu lihat," ucap Sasa sembari menunjukkan tangan sebelah kirinya yang terlihat kosong.


Benar saja jika di saat itu Sasa juga tidak menggunakan gelang tersebut, itu artinya mereka memang telah kehilangan gelang yang sama, yaitu gelang persahabatan mereka.


"Apa? Kamu serius Sa? Dan kamu baru mengatakannya aku sekarang?" Tanya Diandra yang tak mempercayainya.


"Iya aku serius Di, waktu itu 'kan aku lagi di toilet. Setelah mencuci tangan dan pakai lotion yang biasa aku pakai, nggak tahu kenapa tiba-tiba aja tangan aku gatal. Karena aku mau cuci tangan dengan leluasa, kadi gelangnya aku lepas dan aku taruh di atas wastafel. Tapi karena waktu itu aku buru-buru mau masuk kelas, aku jadi lupa memakainya lagi. Setelah kelas selesai, aku balik lagi udah nggak ada, gelangnya udah hilang Di. Hu … hu … hu … . Maaf ya, aku memang belum memberitahu kamu karena aku takut kamu marah sama aku," terang Sasa yang terlihat sangat sedih dan juga merasa bersalah.


Lalu Diandra pun meraih tubuh sahabatnya itu ke dalam dekapannya, "Sa, kamu jangan menangis seperti ini dong. Aku juga merasa bersalah karena aku juga sudah menghilangkan gelang itu," ucapnya, lalu melerai pelukan mereka.


"Di, kamu ingat nggak kira-kira gelang kamu itu hilangnya dimana dan kapan terakhir kali kamu memakainya. Apa jangan-jangan ini adalah pertanda buruk untuk persahabatan kita, aku takut Di," ucap Sasa yang terlihat cemas.


"Sasa, kamu itu bicara apa sih. Jangan bicara sembarangan seperti itu lah," bantah Diandra yang tidak menyetujui ucapan sahabatnya itu.

__ADS_1


"Iya maaf, aku hanya takut aja Di. Habisnya Kok bisa sih kita sama-sama kehilangan gelang, padahal 'kan dalam setahun ini nggak pernah tuh hilang," ujar Sasa.


"Ya ampun itu hanya kebetulan aja Sa. Seharusnya kamu itu tetap berdoa yang baik-baik untuk persahabatan kita. Oh iya aku ingat seminggu yang lalu aku masih memakainya dan itu terakhir kali waktu aku mau pulang ke rumah, sebelum aku menolong Kenzo. Aku ingat betul sewaktu di jalan aku masih sempat melihat-lihat gelangnya ada di tangan aku. Atau mungkin ya terjatuh disaat aku menolong Kenzo tanpa aku sadari," ujar Diandra.


"Nah itu bisa jadi. Gimana kalau kita sekarang kita ke sana, mungkin aja 'kan gelang kamu memang ada di sana," ajak Sasa.


"Iya Sa aku mau. Kita ke sana sekarang ya," ucap Diandara menyetujuinya.


Lalu Sasa pun kembali melajukan mobilnya menuju ke lokasi tempat dimana Diandra menolong Kenzo waktu itu.


*****


"Diandra, aku mau bicara sebentar dengan kamu," ucap seorang pria yang tiba-tiba saja menarik tangan Diandra dengan kasar, saat Diandra sedang berjalan di halaman kampus sendirian.


"Bima? Kenapa kamu bisa ada sini dan kamu mau apa lagi sih. Lepaskan tanganku!" Teriak Diandra yang berusaha menarik tangannya.


Akan tetapi bukannya melepas tangan Diandra, Bima malah semakin erat menggenggamnya hingga Diandra pun merasa kesakitan.


"Akh," rintih Diandra.


"Mau bicara apa lagi? Aku rasa sudah tidak ada lagi yang perlu kita bahas," kata Diandra.


"Tentu saja ada. Aku belum bisa terima karena waktu itu kamu memutuskan aku begitu saja secara sepihak," kata Bima.


"Ya ampun Bim itu hanya masa lalu. Kita putus dari jaman SMA dan sekarang kita sudah kuliah, sudah semester 6 pula. Masa iya kamu masih mau membahas ini terus. Lagipula memang benar 'kan waktu itu kamu sudah berhubungan dengan Gea, wanita yang kamu katakan bukan selingkuhan kamu," sindir Diandra yang sebenarnya sudah sangat enggan untuk membahas masa lalu.


"Tapi aku menyesalinya Di dan aku juga sudah jelaskan waktu itu, aku terpaksa karena dia mengancam akan menyakitimu," ucap Bima.


"Ck, masih ngeles kamu. Kamu pikir aku tidak tahu semuanya? Lepaskan aku sekarang karena aku harus ke kelas. Lebih baik sekarang kamu keluar dari kampus ini dan kembali ke kampus kamu sendiri. Jangan pernah datang lagi untuk menggangguku," ucap Diandra yang menatap serius.


"Tidak, aku tidak akan pergi atau membiarkanmu pergi. Kamu harus dengarkan dulu semua penjelasanku!" Bentak Bima menatap tajam.


"Lepas … lepaskan aku!" Teriak Diandra sembari terus berusaha menarik tangannya, hingga ia pun merasa kesakitan karena terus ditarik oleh Bima.

__ADS_1


Bug …


Tiba-tiba saja ada seseorang yang memukul wajah Bima, sehingga tangan Diandra pun terlepas.


Diandra sangat terkejut melihat sosok Kenzo yang saat ini begitu sangat marah dan menatap tajam ke arah Bima.


"Brengsek! Siapa kau? Kenapa berani sekali kau ikut campur," kata Bima yang menatap tak kalah tajamnya.


"Kau tidak perlu tahu siapa aku, tapi aku paling tidak suka melihat pria yang begitu kasar terhadap wanita. Bukankah dia sudah meminta melepaskannya, kenapa kau masih memaksa," kata Kenzo.


"Bukan urusanmu. Ini adalah urusan pribadiku dan Diandra, jadi kau sama sekali tidak ada hak ikut campur," kata Bima.


"Kita tidak ada urusan apapun lagi Bim dan kau bukan siapa-siapa aku," bantah Diandra.


"Kau dengar sendiri 'kan, Diandra saja tidak mengakui jika memiliki urusan denganmu," cibir Kenzo.


Bima yang merasa sangat kesal itu pun langsung membalas pukulan yang tadi Kenzo berikan untuknya, hingga mengenai sudut bibir Kenzo dan mengeluarkan sepercik darah di sana.


Di saat Bima hendak memukul Kenzo kembali, Diandra yang melihatnya pun mencoba untuk menghalangi dengan berdiri di tengah-tengah kedua pria itu. Untungnya Kenzo cepat menyadari akan hal itu dan segera membalikkan tubuh Diandra hingga posisi mereka pun saling berhadapan, sehingga pukulan Bima mengenai punggung Kenzo dan membuat pria tersebut merasa kesakitan.


Akan tetapi tak mengapa bagi Kenzo, karena ia sering mendapatkan pukulan tersebut dari lawannya. Seandainya tadi Diandra yang terkena pukulan tersebut, sudah pasti wanita itu akan langsung pingsan.


"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Diandra yang sedikit mendongakkan wajahnya itu, untuk melihat wajah Kenzo.


Entah kenapa melihat akan hal itu malah membuat Bima menjadi kesal, lalu ia pun segera saja pergi meninggalkan keduanya.


"Maaf, aku tidak apa-apa," ucap Kenzo dan langsung melepaskan pelukannya.


"Kamu terluka, lebih baik kamu ikut aku ke sini," ajak Diandra yang menarik tangan Kenzo.


Lalu keduanya pun duduk di bawah pohon yang tak jauh dari sana.


Karena Diandra selalu saja membawa obat luka dan plester di dalam tasnya, sehingga ia pun langsung saja mengobati luka yang ada di sudut bibir Kenzo.

__ADS_1


Diandra mulai memberikan obat luka yang ia letakkan pada cotton bud dan mengoleskannya pada luka. Hingga tiba-tiba saja …


Bersambung …


__ADS_2