Tertambat Bad Boy Insyaf

Tertambat Bad Boy Insyaf
Paket Misterius


__ADS_3

Kenzo masih tampak melamun, meskipun taksi yang dinaiki oleh Diandra sama sekali sudah tak terlihat dari pandangan matanya, tetapi bayangan Diandra selalu saja terngiang-ngiang di dalam otaknya itu. Rasanya Kenzo tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya, bahkan di saat dulu saat ia pernah mencintai wanita yang pernah mengkhianatinya waktu itu.


Drt … drt … drt …


Hingga di saat itu ponsel Kenzo bergetar, ia segera saja merogoh ponsel yang diletakkannya di dalam saku di balik jaketnya, lalu segera menjawab telepon dari Riko, sahabatnya itu.


"Halo Ken, kau ada dimana?" Tanya Riko dari seberang telepon.


"Aku baru saja keluar dari kampus dan mau pulang. Ada apa?" Tanya Kenzo pula, dari nada suara Riko membuat Kenzo yakin jika saat ini pasti sedang ada masalah.


"Ken, Leo baru saja menjadi korban selanjutnya. Dia diserang oleh orang yang sama dan masih belum diketahui juga siapa mereka sebenarnya, anak dari geng motor mana," kata Riko yang membuat Kenzo begitu murka mendengarnya.


"Apa? Jadi dimana Leo sekarang?" Tanya Kenzo.


"Ada di Rumah Sakit Medica. Sekarang aku juga mau ke sana," jawab Riko.


"Ya sudah kita bertemu di sana," ucap Kenzo mengakhiri telepon tersebut.


Lalu segera saja ia melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, menuju ke rumah sakit yang dikatakan oleh sahabatnya tadi.


*****


Ting …


Sebuah pesan masuk pada ponsel Diandra, sang pemilik ponsel pun segera saja membaca pesan yang ternyata dikirimkan oleh Sasa untuknya.


"Jangan lupa ya nanti malam kamu dan Papa kamu harus datang ke acara anniversary-nya Mami dan Papi aku. Kalau kamu nggak datang, aku pasti akan sangat marah."


Diandra tersenyum, lalu membalas pesan dari sahabatnya itu.


"Oke, tenang aja aku pasti datang kok. Selain ini acara orang tua sahabat aku tercinta, ini 'kan juga acara Bos Papa aku, jadi aku pasti akan datang menemani Papa dong. Tadi Papa juga udah nelpon dan mengajak aku untuk pergi nanti malam."

__ADS_1


Setelah itu pun Diandra menaruh ponselnya di atas tempat tidur, lalu membuka lemarinya untuk mencari pakaian apa yang akan ia gunakan nanti malam. Tentunya ia ingin tampil spesial di acara spesial pula.


Ting … tung …


Tiba-tiba terdengar suara bel pintu, Diandra pun bergegas keluar dari kamarnya dan menuju ke pintu utama untuk membukakan pintu tersebut.


"Maaf apa benar ini dengan kediamannya Nona Diandra?" Tanya seorang kurir yang saat ini berdiri di hadapan Diandra.


"Ya benar, dengan saya sendiri," jawab Diandra. "Ada apa ya Mas?"


"Saya hanya mau mengantarkan paket untuk Nyonya Diandra," ucap kurir sembari menyerahkan sebuah kotak kepada Diandra.


Diandra mengernyitkan dahinya, "Maaf Mas, tapi ini dari siapa ya? Saya tidak memesan barang apapun," tanyanya yang merasa kebingungan.


"Saya juga tidak tahu ini dari siapa Nona, tidak ada nama pengirimnya. Tapi yang jelas ini penerimanya adalah Nona Diandra dan alamatnya benar di sini. Jadi saya hanya menjalankan tugas saya saja, mohon diterima Nona," ucap kurir.


Hingga akhirnya Diandra menerima paket misterius tersebut, lalu menandatangani surat tanda terima. Setelah itu ia langsung saja membawa paket tersebut ke dalam kamarnya.


"Ini apa ya dan apa tujuan orang ini mengirimkan paket ini untukku?" Gumam Diandra.


"Pakai gaun ini untuk acara anniversary pernikahan orang tuaku nanti malam ya."


Diandra tersenyum setelah membaca sebuah pesan pada kartu ucapan yang ada di dalam kotak tersebut, ia pun yakin jika yang mengirim gaun tersebut adalah Sasa. Tentu saja Diandra merasa sangat senang dan menyukainya, setelah lama ia tidak pernah lagi membeli gaun semenjak kondisi keuangan orang tuanya itu tidak baik dan hari ini ia mendapatkan hadiah spesial dari sahabatnya. Sehingga Diandra pun tidak lagi harus repot untuk memilih pakaian lamanya di dalam lemari. Kini segera saja ia bergegas menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan bersiap-siap.


*****


"Pa, apa Papa sudah gila. Papa itu masih punya Mama, tapi kenapa Papa sekarang harus membawa wanita lain pulang ke rumah," ucap Andre dengan suara lantang. Ia merasa sangat terkejut melihat ayahnya pulang dengan seorang wanita yang sangat asing baginya.


"Andre, kamu ini bicara apa sih. Yang sopan dong kamu berbicara di depan Tante Sinta. Kamu juga tahu sendiri 'kan bagaimana sekarang hubungan Papa dan Mama kamu, hubungan kami sudah di ujung tanduk. Pengacara Papa sudah mengurus perpisahan kami dan setelah itu Papa akan menikah dengan Tante Sinta. Kamu harus terima itu," kata Jack yang merupakan selingkuhan Sinta, bahkan saat masih sah menjadi istri dari Bram ayahnya Kenzo waktu itu.


"Bahkan kalian belum berpisah tapi Papa sudah berhubungan dengan wanita ini dan sekarang Papa bilang Papa mau menikahinya, aku tidak akan sudi Pa," bantah Andre.

__ADS_1


"Jaga ucapanmu Andre. Kalau kamu tidak terima, silahkan keluar dari rumah ini dan kamu bisa ikut Mama kamu itu ke kampung. Susul mama kamu yang sudah pergi meninggalkan kita. Memang kamu mau tinggal di kampung? Hah!" Bentak Bram.


Andre mengepal erat kedua tangannya serta mengeratkan gigi-gigi putihnya itu karena menahan emosi. Untuk saat ini berdebat dengan ayahnya itu memang sama sekali tidak ada gunanya, sehingga ia pun memilih untuk pergi dari rumah meninggalkan orang tua bersama selingkuhannya.


"Andre mau ke mana kamu? Andre!" Teriak Bram, akan tetapi sama sekali tak digubris oleh anaknya itu.


Andre langsung saja menaiki motornya dan pergi meninggalkan rumah tanpa memperdulikan Bram yang di saat itu mengejarnya sampai keluar.


"Anak tidak tahu sopan santun. Aku minta maaf ya Sayang atas kelakuan anakku!" Ucap Bram.


"Tidak apa-apa Mas, kamu tahu sendiri 'kan jika aku juga memiliki anak laki-laki dan sifatnya itu sama persis dengan anak kamu yang sangat keras kepala. Tapi itu wajar terjadi di usia mereka yang sekarang yang selalu saja mementingkan ego. Tapi aku mengerti kok, mereka bersikap seperti itu karena ada sebabnya dan ada saatnya nanti mereka akan berubah dan bersikap manis terhadap kita," ucap Sinta yang membuat Bram tersenyum dan merasa hatinya menghangat.


*****


Kenzo tampak sudah rapi dengan menggunakan kaos beserta jaket dan juga celana Levi's yang selalu menjadi andalannya. Di saat itu ia pun segera saja ia melangkahkan kakinya hendak pergi untuk menemui teman-temannya di markas, akan tetapi langkahnya terhenti di saat mendengar suara sang ayah yang memanggilnya.


"Ada apa lagi Pi?" Tanya Kenzo.


"Kamu mau kemana Ken? Bukankah Papi sudah mengatakan jika malam ini kamu harus menemani Papi ke acara anniversary klien Papi. Siapa lagi yang akan menemani Papi kalau bukan kamu," kata Bram mengingatkan.


"Tapi aku tidak ingin pergi Pi. Untuk apa juga aku harus pergi ke acara orang tua seperti itu," tolak Kenzo, sudah pasti acara itu akan sangat membosankan untuknya.


"Kamu harus menemani Papi, kalau kamu tidak mau, Papi akan mencabut semua fasilitas kamu. Kamu mau tidak lagi menggunakan motor sport kesayangan kamu itu, uang jajan kamu juga akan Papi potong. Jadi kamu pikirkan saja bagaimana hidup kamu sendiri nantinya, pilihan itu ada di tangan kamu Ken," ucap Bram menatap serius. Sehingga membuat Kenzo pun terdiam.


"Jika kamu berubah pikiran, sekarang kamu masuk ke kamar dan ganti pakaianmu yang layak untuk pergi ke pesta!" Titah Bram.


Dengan memasang wajah kesal, Kenzo pun segera saja kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian.


Beberapa menit kemudian, Kenzo telah rapi dengan menggunakan setelan jas yang membuatnya terlihat tampil dewasa dan sangat tampan. Siapapun wanita yang menatapnya pasti akan merasa terpesona dengan ketampanan yang ia punya sejak lahir.


Kenzo dan Bram turun dari mobil di saat mereka sudah tiba tepat di depan sebuah rumah mewah, dimana acara lokasi pesta anniversary diadakan. Bertepatan dengan saat itu, Kenzo tidak sengaja melihat seorang wanita yang sangat dikenalinya sedang berjalan menggandeng mesra seorang pria tua yang membuatnya pun menatap penuh amarah.

__ADS_1


Bersambung …



__ADS_2