Tertambat Bad Boy Insyaf

Tertambat Bad Boy Insyaf
Sebuah Fakta


__ADS_3

Kenzo semakin panik saat terdengar suara langkah kaki itu semakin mendekat, bahkan jika bersembunyi pun ia tidak tahu harus bersembunyi dimana. Kepanikannya bertambah saat ia melihat gagang pintu yang bergerak, pertanda ada seseorang yang membuka pintu dan akan masuk ke dalam kamar tersebut.


"Gawat, aku harus kemana sekarang," gumam Kenzo sembari melihat ke arah sekitar dan kebingungan. Akan tetapi tiba-tiba saja …


"Sayang … Sayang … !"


Teriakan suara seseorang dari lantai bawah membuat Laura mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar dan kembali lagi menuju ke lantai bawah untuk menghampiri siapa yang memanggilnya itu, sehingga membuat Kenzo pun tampak bernafas lega, lalu mengambil kesempatan untuk keluar dari sana. Ia mengendap-endap keluar, berusaha semaksimal mungkin agar tidak ada yang melihatnya. Hingga pada akhirnya ia berhasil tiba di ruang tamu kembali tanpa ada yang memergokinya.


"Ken, maaf ya aku terlalu lama di dapur. Terus Mama aku juga udah pulang, jadi tadi panggil aku sebentar ke kamarnya. Maaf kamu jadi lama menunggu aku di sini," ucap Laura yang membawakan minuman beserta cemilan yang telah dibuatnya.


"Oh … tidak masalah kok. Tapi aku minta maaf ya Ra, sebenarnya orang tua aku sudah telepon dan minta aku untuk pulang," ucap Kenzo berpura-pura sedikit menyesal.


"Yah kenapa buru-buru pulang sih, terus ini minuman sama cemilannya gimana dong," ucap Laura yang terlihat tampak kecewa.


"Ya sudah begini saja, biar aku minum dulu sedikit," kata Kenzo yang langsung menyambar minuman di atas meja. "Dan cemilan ini juga aku cicipi." Kenzo melanjutkannya dengan mengambil sepotong kue yang sudah dibuatkan oleh Laura. "Sudah 'kan? Kalau begitu aku boleh pulang ya," sambungnya.


Meskipun sebenarnya sangat tidak rela, tetapi Laura juga tidak mungkin memaksa pria tersebut. Sudah bisa bersama dengannya seperti hari ini saja membuat Laura begitu bahagia, jadi ia tidak mau membuat Kenzo malah merasa tertekan karena egoisannya.


"Ya udah, tapi next time kita boleh jalan bareng lagi 'kan?" Tanya Laura.


"Ya nanti bisa diatur lah," jawab Kenzo yang terlihat tergesa-gesa, lalu ia pun segera saja pergi meninggalkan rumah Laura.


"Aneh, ada apa ya sebenarnya dengan Kenzo?" Laura bermonolog dengan dirinya sendiri.


*****


Keesokan harinya, Kenzo tampak tersenyum menghampiri sang kekasih yang di saat itu sedang duduk di tempat favoritnya bersama sahabatnya itu, dimana lagi kalau bukan di bawah pohon depan kampus. Meskipun Diandra kebingungan melihat tingkah Kenzo, tetapi Sasa memakluminya saja karena ia yakin pasti senyumnya Kenzo ada kaitannya dengan apa yang dia lakukan kemarin, apalagi memang mereka sudah bekerja sama.


"Kamu tuh kenapa sih dari tadi lihatin aku senyum-senyum seperti itu terus?" Tanya Diandra yang akhirnya menanyakan hal tersebut.


"Hm, meangnya salah aku kan 'tersenyum bahagia karena bertemu dengan kekasihku," jawab Kenzo.


"Ya nggak salah sih, tapi terasa seperti ada yang janggal aja gitu," ujar Diandra.

__ADS_1


"Nggak ada apa-apa kok Sayang. Oh ya, aku punya sesuatu buat kamu," ucap Kenzo. "Tepatnya buat kalian berdua," sambungnya.


"Buat aku dan Sasa. Memangnya apa?" Tanya Diandra.


"Ini kamu buka aja!" Titah Kenzo yang menyerahkan sebuah kotak kecil kepada Diandra.


"Ini apa?" Tanya Diandra sembari mengambil kotak tersebut dari tangan Kenzo.


"Dibuka dong Sayang, kalau kamu nggak buka ya kamu nggak akan tahu," seru Kenzo.


"Iya Di, kalau penasaran itu ya dibuka aja lah, nggak usah banyak tanya. Sini biar aku aja yang buka," tukas Sasa yang hendak merebut kotak tersebut tetapi ditahan oleh Diandra.


"Enak aja, ini 'kan Kenzo kasihnya ke aku jadi harus aku dong yang buka," sergah Diandra yang menjauhkan kotak tersebut dari tangan Sasa.


"Tapi 'kan Kenzo bilang itu buat kita berdua," ujar Sasa yang menatap tajam.


"Tapi tetap aja aku adalah kekasih Kenzo dan Kenzo kasihnya ke aku," seru Diandra yang yang tak mau kalah, membuat Kenzo pun tersenyum mendengar akan hal itu.


"Ih ngambek, udah dong jangan ngambek-ngambek. Kita buka sama-sama aja ya," kata Diandra.


"Siapa juga yang ngambek. Nasib jomblo ya seperti ini," gerutu Sasa.


Diandra tak menjawabnya, ia dan Kenzo hanya tersenyum melihat ke arah Sasa. Lalu segera saja Diandra membuka kotak yang diberikan oleh sang kekasih dan membuatnya sangat terkejut saat melihat isi di dalamnya adalah barang yang selama ini dicarinya serta membuatnya sangat bersalah kepada Sasa.


"Ken, kamu dapat gelang ini dari mana?" Tanya Diandra tak mempercayainya. "Sa, ini Gelang kita berdua," ucapnya sembari menyerahkan gelang tersebut kepada Sasa.


"Iya, aku tahu itu gelang kita Di," jawab Sasa datar.


"Kok kamu biasa aja sih ekspresinya. Ini sebenarnya ada apa? Atau jangan-jangan kamu tahu lagi kalau Kenzo mau kasih gelang ini dan kamu tahu Kenzo udah dapat gelang ini dari mana," kata Diandra yang menatap curiga keduanya secara bergantian. "Sa, kamu mau main rahasia-rahasiaan sama aku dan kamu Kenzo, bukannya kamu janji akan selalu jujur sama aku?" Sambungnya.


"Sayang, aku minta maaf ya. Aku sama sekali nggak bermaksud untuk menyembunyikan apapun kok dari kamu. Jadi sebenarnya gelang itu ada sama Laura dan aku baru saja mendapatkannya kemarin," ucap Kenzo.


"Laura?" Diandra dibuat semakin bingung, sehingga pada akhirnya Kenzo dan Sasa pun menceritakan secara bergantian tentang apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


Terlihat di saat itu Diandra memasang wajah cemberutnya, yang membuat Kenzo dan Sasa pun merasa takut jika Diandra benar-benar marah karena mereka baru menceritakannya saat ini.


"Di, kamu jangan marah dong. Kita berdua benar-benar nggak bermaksud buat menyembunyikan apapun, tapi kita memang mau ngasih surprise aja ke kamu," ucap Sasa beralasan.


"Surprise? Kalau aku tahu kemarin pacar aku pergi dengan wanita lain, pasti aku akan menghampiri mereka tahu nggak," ucap Diandra kesal akan tetapi lagi-lagi membuat Kenzo tersenyum.


"Sayang, kamu cemburu? Maaf ya Sayang, aku janji itu adalah pertama dan terakhirnya. Selama ini aku juga nggak pernah kok membonceng Laura, itu semua hanya untuk melancarkan rencana aku aja," terang Kenzo sembari memegang kedua tangan Diandra, mencoba meyakinkan kekasihnya itu.


"Oh … jadi ternyata kemarin kamu baik ke aku karena ada maksudnya? Kamu belajar jadi maling di rumahku," ucap Laura yang tiba-tiba saja muncul di belakang bersama seseorang. Membuat Kenzo, Diandra dan Sasa pun langsung saja menoleh ke arah mereka.


"Kak Satria? Kakak ngapain sih masih dekat-dekat sama mantan Kakak, sini!" Seru Sasa yang langsung menarik tangan Satria.


"Apaan sih kamu, Kakak datang ke sini hanya ingin memberitahukan sebuah fakta," kata Satria.


"Sebuah fakta apa?" Tanya Sasa mengernyitkan dahinya.


"Nanti kamu juga akan tahu," ucap Satria.


"Apa? Kau bilang aku maling? Apa kau tidak salah, yang maling itu kau. Memangnya kau pikir aku tidak tahu kalau gelang ini bukan gelangmu, tapi gelang Sasa dan Diandra. Cih, pakai ngaku-ngaku sebagai penolongku, tidak tahu malu," tukas Kenzo.


"Iya, nggak tau malu banget mengambil kesempatan dalam kesempitan. Kamu tahu nggak ini itu gelang persahabatan aku dengan Diandra yang aku pesan khusus di Jepang, nggak ada satupun orang yang punya gelang ini selain kita berdua. Kamu malah seenaknya mengambil gelang kami. Aku jadi tahu ternyata memang kamu dan 2 cicunguk kamu yang sudah menjadi biang keroknya, kalian memang merencanakannya sampai aku melepaskan gelang ini. Benar-benar licik!" Ucap Sasa yang terlihat sangat emosi.


"Kalau iya memangnya kenapa? Aku hanya mengambil kesempatan karena Diandra tidak mau mengakuinya jika dia yang telah menolong Kenzo, ya sudahlah ya itu semua juga tidak penting, sudah berlalu juga 'kan? Lagipula setelah Kenzo tahu aku yang menolongnya juga sama sekali nggak pernah berpengaruh untuk Kenzo, Kenzo tetap saja dekat dengan Diandra, bahkan kalian berdua sudah jadian. Tapi aku yakin setelah Diandra tahu hal yang satu ini, pasti kamu tidak akan mau lagi dekat-dekat dengan Kenzo," ucap Laura dengan pedenya serta senyum sinis yang keluar dari sudut bibirnya itu.


"Maksud kamu apa Ra? Apalagi yang mau kamu lakukan? Kenapa kamu sama sekali tidak pernah puas buat mengganggu hidup aku, padahal aku tidak pernah menggangu hidup kamu," kata Diandra yang rasanya sudah sangat muak melihat tingkah Laura.


"Ups tenang, lebih baik kamu lihat ini saja. Kalau aku menjelaskannya, belum tentu juga kamu percaya," ucap Laura yang langsung memperlihatkan video yang ada di ponselnya kepada Diandra.


Meskipun sebenarnya sangat enggan, tetapi karena penasaran akhirnya Diandra pun melihat video tersebut.


"Ini tidak mungkin."


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2