
Diandra menutup mulutnya dengan kedua tangan, tak mempercayai apa yang dilihatnya saat ini. Ia benar-benar tak menyangka jika pria yang berhasil membuatnya jatuh cinta, bahkan telah membuatnya melanggar janjinya sendiri untuk tidak berhubungan dengan anak geng motor adalah anak dari seseorang yang dulu telah mensabotase perusahaan ayahnya dan tanpa sengaja membuat ibunya meninggal dunia.
"Diandra, ada apa Sayang?" Tanya Kenzo yang mendekati wanita tersebut.
"Iya Di, ada apa?" Tanya Sasa pula.
Diandra tak menjawab, hanya air matanya saja yang menetes lalu menyerahkan ponsel yang sedang dipegangnya kepada Kenzo. Kenzo dan Sasa langsung melihat dimana ada rekaman video di saat ibunya yang sedang menangis di depan pemakaman ibu Diandra dan membuat sebuah pengakuan, begitu juga dengan ayahnya yang sedang berbicara kepada asistennya tentang pengkhianatannya terhadap orang tua Diandra di masa lalu.
"Ini nggak mungkin. Diandra, kamu nggak boleh percaya begitu saja. Bisa saja ini adalah video editan Laura, kamu tahu sendiri 'kan bagaimana Laura, wanita ini sangat licik seperti ular. Dia bisa melakukan apapun yang dia mau untuk menghancurkan hubungan kita," tukas Kenzo sembari memegang kedua pundak pundak Diandra, mencoba untuk meyakinkan wanita yang dicintainya itu.
"Ck, kamu bilang ini video editan? Ini video real Ken. Kalau kamu tidak percaya tanyakan saja langsung kepada kedua orang tuamu itu!" Titah Laura.
"Sudahlah Diandra, sekarang kamu sudah tahu semuanya 'kan? Jadi untuk apa lagi kamu berhubungan dengan anak dari seorang pengkhianat. Lebih baik akhiri Saja hubungan kalian," ucap Satria tersenyum smirk.
Kenzo yang sebenarnya sangat murka mendengar ucapan Satria dan Laura, hanya memilih diam menahan emosinya karena menurutnya perasaan Diandra saat ini lebih penting dari segalanya.
"Kak Satria bisa diam nggak. Kenapa sih Kakak harus ikut-ikutan menjadi orang yang licik seperti wanita ini!" Ujar Sasa sembari menunjuk ke arah Laura.
"Kamu yang diam! Aku di sini hanya ingin menyampaikan hal yang sebenarnya," terang Laura.
"Heh wanita ular berkepala dua, aku sama sekali tidak mengajakmu untuk berbicara, aku sedang berbicara dengan kakakku," tukas Sasa yang membuat Laura begitu geram mendengarnya dan rasanya ingin menjambak rambut Sasa saat itu juga. Akan tetapi ia masih berusaha menahannya, ini mengenyampingkan hal yang menurutnya sama sekali tidak penting.
"Sasa, untuk apa sih kamu membela pria ini. Aku ini Kakak kamu, seharusnya kamu mendukung Kakak kamu sendiri. Sekarang ayo kamu ikut Kakak," kata Satria yang menarik tangan adiknya itu.
"Lepaskan! Nggak semua perbuatan kakaknya harus dibela, dilihat dulu yang mana yang baik dan mana yang salah," ujar Sasa yang melepaskan tangannya dan memilih menjauh dari Satria.
Sementara itu meskipun Kenzo sudah berusaha untuk menjelaskan kepada Diandra bahwa ia sama sekali tidak mengetahui masalah ini, tetapi kekasihnya itu sama sekali tak bergeming. Lalu ia pun berlari meninggalkan semuanya.
"Diandra, tunggu Di!" Kenzo berteriak sembari mengejar sang kekasih.
"Awas ya kalian berdua, kalian berdua benar-benar keterlaluan tahu nggak. Bisa-bisanya kalian datang untuk menghancurkan kebahagiaan Diandra dan Kenzo yang baru saja dimulai," ucap Sasa yang terlihat begitu geram terhadap Kakak dan mantan kekasih kakaknya itu. Lalu ia pun pergi meninggalkan keduanya untuk menyusul Kenzo dan Diandra.
Sedangkan Laura dan Satria hanya terlihat tersenyum sinis melihat akibat dari apa yang telah mereka lakukan.
"Lihat saja, aku yakin hubungan mereka pasti akan berakhir," ucap Laura dengan sangat yakin.
__ADS_1
"Kau benar dan setelah itu kita bisa langsung masuk ke kehidupan mereka," ucap Satria mengulas senyum tipis.
------
"Diandra stop Diandra! Apa kamu sama sekali tidak mendengar aku memanggilmu?" Kata Kenzo dengan suara membentak sembari menarik tangan kekasihnya itu hingga menghadap ke arahnya serta menatapnya dengan tajam.
Kenzo dapat melihat jelas jika buliran bening di sudut mata Diandra terus saja mengalir, pastinya ia merasa sangat sedih setelah mengetahui sebuah fakta yang telah menyakiti hatinya.
"Kamu mau apa lagi Ken? Kamu bisa nggak tinggalin aku sendiri, jangan ganggu aku. Aku butuh menenangkan diri Kenzo," kata Diandra dengan isak tangisnya, membuat Kenzo pun sangat terpukul lalu perlahan melepaskan tangan Diandra.
Di saat itu juga Sasa memilih untuk memperhatikan keduanya dari kejauhan, ia membiarkan Diandra dan Kenzo menyelesaikan masalah yang saat ini sedang terjadi di antara mereka dan tentunya Sasa ingin yang terbaik untuk sahabatnya itu.
"Aku minta maaf, tapi kita juga belum tahu 'kan apakah ini benar adanya atau hanya akal-akalan Laura dan Satria saja. Seandainya ini memang benar, orang tuaku yang sudah menyebabkan kehancuran keluarga kamu waktu itu, aku minta maaf Diandra. Aku sama sekali tidak tahu soal ini dan aku pasti akan menanyakan hal ini kepada orang tuaku langsung. Aku mohon sementara kamu menenangkan diri, beri aku waktu untuk menyelesaikan masalah ini," pinta Kenzo dengan tatapan mendamba.
"Sudahlah Kenzo, aku rasa semuanya sudah cukup jelas. Hanya satu keinginanku saat ini," ucap Diandra.
"Apa? katakan saja, asalkan kamu senang aku akan berusaha untuk menurutinya," kata Kenzo.
"Kita putus!"
Bagaikan disambar petir di siang bolong, tubuh Kenzo seakan bergetar hebat lalu lemas seketika di saat mendengar ucapan Diandra. Rasanya sangat sulit diterima di telinga, ia tak percaya jika hubungannya akan berakhir secepat ini hanya karena masalah yang sama sekali tak ia ketahui sebelumnya.
"Tidak! Aku tidak mau putus denganmu. Kenapa kamu begitu egois degan mengambil keputusan ini secara sepihak. Apa kamu sama sekali tidak memikirkan perasaanku? Aku sama sekali tidak tahu masalah ini Diandra dan aku janji jika memang ini adalah perbuatan orang tuaku, aku akan meminta Papi untuk bertanggung jawab atas apa yang telah dia lakukan kepada ayahmu dulu. Aku janji! Tapi tolong jangan akhiri hubungan kita," tolak Kenzo tak terima.
"Aku minta maaf Ken, tapi hanya ini yang aku mau saat ini. Kita putus!" Diandra mengulangi ucapannya lagi. Meskipun sangat berat tetapi ia yakin jika pilihannya saat ini adalah yang terbaik. "Aku mohon jangan kejar aku dan jangan ganggu aku lagi," pintanya lalu membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Kenzo.
Kenzo hanya terdiam membisu sembari menatap punggung kepergian Diandra yang semakin menjauhinya. Ia benar-benar merasa terpukul atas apa yang menimpanya saat ini.
"Ken kamu yang sabar ya. Aku tahu siapa Diandra, aku yakin ini hanya emosi sesaatnya saja dan aku janji akan berbicara dengannya nanti. Kamu tenang aja ya, saat ini Diandra lagi butuh sendiri, nanti di saat dia sudah tenang kalian bisa membicarakan masalah hubungan kalian lagi," ucap Sasa yang tiba-tiba saja sudah berada di samping Kenzo.
"Terimakasih ya Sa, aku sangat membutuhkan bantuanmu saat ini. Aku titip Diandra, sekarang aku harus pergi untuk menyelesaikan masalah ini dengan orang tuaku," ucap Kenzo dan ditanggapi anggukan kepala oleh Sasa, lalu keduanya pun berpisah.
*****
Diandra terus menangis di dalam kamar karena mengingat apa yang baru saja diketahuinya hari ini. Setelah sekian lama dan berusaha untuk melupakan semuanya, tetapi kenapa hal itu malah terbongkar dan melibatkan pria yang baru saja menjalin hubungan dengannya. Semuanya terasa sangat berat, ia sangat ingin menyangkalnya tetapi apakah ia tega, apakah ia seegois itu sampai harus mementingkan keinginannya sendiri tanpa memikirkan perasaan orang tuanya?
__ADS_1
Tok … tok … tok …
Di saat itu pun terdengar suara ketukan pintu yang membuat Diandra langsung menghapus air matanya lalu membuka pintu kamarnya tersebut.
"Ada apa Pa?" Tanya Diandra saat mendapati sang ayah yang berdiri di hadapannya.
"Sayang, kamu sedang apa? Kenapa tidak keluar untuk makan? Papa 'kan sudah memasak makanan untuk kamu," kata Danu.
"Aku nggak lapar Pa," ucap Diandra yang terlihat sangat lesu.
"Kamu sedang ada masalah?" Tanya Danu yang sangat tahu bagaimana putrinya jika sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
Diandra tampak menghela nafas panjang, rasanya tidak tega untuk menyampaikan kepada ayahnya tetapi menurutnya bagaimanapun juga ayahnya harus tahu.
"Pa, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan," ucap Diandra lirih dan menatap sendu.
"Ada apa Sayang? Apakah hal ini yang menyebabkan wajah kamu kusut seperti ini?" Tanya Danu.
Diandra menganggukkan kepalanya, lalu keduanya pun duduk di sofa yang tidak jauh dari kamar Diandra.
"Pa, aku tahu siapa orang yang sudah menyebabkan perusahaan Papa dulu hancur, orang yang sudah mengkhianati Papa," ucap Diandra.
Danu terdiam, rasanya sudah sangat enggan untuk membahas masa lalu itu, tetapi ia juga merasa sangat penasaran siapa orang yang telah tega mengkhianatinya dulu hingga menyebabkannya drop dan juga wanita yang dicintainya meninggal karena terlalu stres memikirkan keadaannya.
"Siapa Sayang dan dari mana kamu mengetahuinya?" Tanya Danu.
"Papa kenal Kenzo 'kan?" Tanya Diandra pula.
"Ya, tentu saja Papa mengenalnya. Dia pria yang begitu baik dan sudah beberapa kali menolong kamu. Dia juga sangat baik dengan Papa, sopan, ramah. Memangnya kenapa? Apa hubungannya dengan Kenzo?" Tanya Danu tak mengerti.
"Om Bram, ayahnya Kenzo yang sudah mengkhianati Papa," ucap Diandra yang terasa sangat berat mengucapkan hal itu.
Akan tetapi tak seperti dugaan Diandra yang mengira ayahnya itu akan syok setelah mendengarnya, yang ada ayahnya itu malah terlihat tersenyum kepadanya, membuat Diandra mengernyitkan dahinya karena merasa kebingungan.
"Papa kenapa tersenyum?"
__ADS_1
Bersambung …