
"Diandra, kamu jangan sedih ya. Ini semua bukan gara-gara kamu kok," ucap Sasa mencoba untuk menenangkan Diandra yang di saat itu terlihat sangat sedih atas perkataan Riko.
"Rik, kenapa kamu berbicara seperti itu? Diandra datang ke sini dengan niat baik, dia ingin menjenguk Kenzo, tapi kenapa kamu malah mengusirnya dan menuduhnya yang bukan-bukan?" Kata Sasa tak terima.
"Maaf Sa, aku sama sekali tidak bermaksud menuduh apalagi mengusir Diandra. Aku hanya tidak mau jika nantinya kehadiran Diandra di sini malah memancing emosi Om Bram. Aku tahu bagaimana Om Bram, dia tidak akan segan-segan menyakiti siapapun yang menurutnya sudah mengusik keluarganya," terang Riko.
"Oh jadi gitu. Terus apa kamu lupa kalau Om Bram yang sudah menghancurkan perusahaan keluarga Diandra, apa menurut kamu sekarang pantas jika Om Bram mau menyakiti Diandra? Itu sama sekali tidak," tukas Sasa yang menatap tajam.
Sementara itu Diandra masih terlihat menangis tak percaya dengan apa yang sedang terjadi saat ini semua karena dirinya.
"Lagipula atas dasar apa kamu menyalahkan Diandra. Kenapa kamu bisa mengatakan jika ini semua karena Diandra ha?" Tanya Sasa meminta penjelasan.
"Ya karena memang sebelum ini terjadi, Kenzo bertengkar dengan ayahnya. Pastinya dia merasa sangat marah sehingga membuat masalah di jalanan, berkelahi, lalu kondisinya menjadi seperti sekarang ini," jawab Riko asal.
"Pikiran kamu itu pendek banget ya, sama aja tau nggak seperti Laura yang waktu itu menuduh Diandra yang menyebabkan Kenzo kecelakaan. Apa yang kamu katakan tadi sudah jelas tidak masuk akal, kamu sendiri yang bilang ke aku ada warga yang melihat kalau ada segerombolan anak geng motor yang menghadang jalan Kenzo dan temannya, tapi mereka tidak berani mambantu karena hanya berdua, hingga di saat mereka meminta pertolongan ternyata Kenzo dan temannya sudah terkapar di tempat. Itu artinya ini sama sekali tidak ada hubungannya sama Diandra," ujar Sasa.
"Tetap saja ada kaitannya. Kalau Kenzo tidak bertengkar dengan ayahnya, mana mungkin Kenzo berkeliaran di luar seperti itu. Kenzo menyerahkan semua fasilitasnya, bahkan dia diusir dari rumah hanya demi Diandra," ucap Riko.
"Ck, nggak usah menuduh sembarangan kalau kamu nggak bisa menjelaskan kenapa ini semua berhubungan dengan Diandra," cibir Sasa yang memutar bola matanya malas.
"Sudah, stop! Kenapa jadi kalian berdua yang berdebat seperti ini? Aku mohon Riko, aku hanya ingin bertemu dengan Kenzo. Aku ingin memastikan keadaannya," ucap Diandra.
"Tapi Di, di dalam ada Om Bram. Kalau kau tetap nekat ingin bertemu dengan Kenzo, terserah kau saja, yang penting aku sudah memperingatkanmu. Biar aku ke sana dulu untuk menemui Om Bram," ucap Riko yang akhirnya pun pergi ke ruang ICU dan mengetuk pintu ruangan tersebut.
__ADS_1
Tidak berapa lama kemudian, pintu ruangan ICU terbuka dan terlihat Bram yang keluar dari sana, serta melepas pakaian khususnya itu.
"Ada apa Riko?" Tanya Bram.
"Ehm itu Om, ada Diandra yang ingin melihat keadaan Kenzo," jawab Riko gugup, karena memang Bram sudah mewanti-wanti kepadanya agar Diandra tidak datang ke rumah sakit.
Mendengar nama Diandra, membuat Bram langsung emosi dan langsung menatap tajam ke arah wanita yang dimaksud oleh Riko. Lalu ia pun berjalan dengan langkah cepat menghampiri Diandra dan Sasa diikuti oleh Riko dibelakangnya.
"Untuk apa kamu berada di sini? Apa kamu tahu ini semua gara-gara kamu!" Bentak Bram.
"Om, aku minta maaf kalau memang ini gara-gara aku. Tapi aku datang ke sini hanya mau melihat keadaan Kenzo Om, tolong Izinkan aku," ucap Diandra dengan tatapan sendu.
"Jangan pernah bermimpi kamu, saya tidak akan pernah mengizinkan kamu untuk melihat Kenzo. Sudah saya katakan kepada orang tua kamu jika saya tidak merestui hubungan kalian, apa Ayah kamu itu tidak menyampaikannya padamu? Lebih baik sekarang kamu pergi dari sini!" Usir Bram.
"Tolong om jangan usir aku. Aku ingin bertemu dengan Kenzo," ucap Diandra yang terus saja memohon diiringi air matanya mengalir deras tanpa henti bak air sungai.
"Papa?" Ucap Diandra yang merasa sangat terkejut dengan kehadiran ayahnya itu.
Bukan hanya Diandra saja, Sasa, Riko dan Bram pun juga ikut terkejut karena tiba-tiba melihat Danu yang muncul di hadapan mereka.
"Cih, tadi anaknya dan sekarang orang tuanya yang datang ke sini," ucap Bram tersenyum sinis.
Danu masih terlihat diam saja karena ia mengkhawatirkan anaknya yang baru saja diperlakukan tidak baik.
__ADS_1
"Sayang, kamu tidak apa-apa 'kan?" Tanya Danu yang terlihat cemas dan membantu Diandra untuk berdiri.
"Iya Pa, aku baik-baik aja kok. Papa kenapa bisa ada di sini?" Tanya Diandra.
"Nanti saja kita bicarakan, yang jelas Papa kecewa karena kamu sudah membohongi Papa," ucap Danu. "Sasa, tolong kamu jaga Diandra," pintanya kepada sahabat anaknya itu
"Baik Om," jawab Sasa dan bergegas mendekati Diandra.
Sedangkan Danu terlihat maju dengan tatapannya yang begitu tajam seperti harimau lapar yang hendak menerkam mangsanya, mendekati Bram.
"Berani sekali kau mendorong anakku seperti itu! Apa kau pikir sikapmu itu mencerminkan sikap seorang pria ha? Apalagi kau itu seorang ayah, tapi kenapa kau malah menyakiti Anakku. Kenapa kau malah menyalahkan Diandra atas apa yang menimpa Anakmu? Seharusnya kau itu sadar Anakmu yang selalu membuat masalah dengan geng motornya itu, Anakmu yang berandalan tetapi kenapa kau malah menyalahkan Anakku. Jangan kau pikir aku tidak mengetahui semuanya Joni," ucap Danu yang terlihat begitu emosi, tetapi tetap berusaha untuk bersikap sabar.
"Joni?" Gumam Sasa dan Riko secara bersamaan. Mereka dibuat bingung dengan nama tersebut.
"Sudahlah Danu, aku sedang tidak ingin mencari ribut denganmu, jadi lebih baik sekarang kau pergi saja, bawa Anakmu pergi dari sini. Sudah aku katakan, aku tidak merestui hubungan mereka tetapi kenapa Anakmu ini masih tetap kekeh mengejar Anakku," kata Bram dengan mode angkuhnya.
"Apa kau tidak salah berbicara seperti itu Danu. Justru Kenzo yang masih mengejar-ngejar Diandra. Bahkan dia rela 'kan mengembalikan semua fasilitas yang kau berikan demi Anakku. Apalagi dia juga sudah tahu, sudah sadar jika ternyata kemewahannya selama ini hanya didapat dari hasil kecurangan yang dilakukan orang tuanya. Pasti Kenzo sangat kecewa padamu. Anak mana yang tidak kecewa setelah mengetahui ternyata ayahnya hanyalah seorang pecundang yang tidak tahu malu," kata Danu yang kata-katanya begitu tajam. Membuat Bram begitu emosi, sehingga langsung saja melayangkan pukulannya dan mengenai pipi Danu.
Danu mendengus kesal sembari memegangi sudut bibirnya yang terasa perih akibat pukulan tersebut. Akan tetapi ia tak tinggal diam, rasanya sudah lama sekali ia tidak mengadu skill berkelahinya. Sehingga Danu pun meringsek maju dan membalas pukulan tersebut tanpa meleset sedikitpun.
Mendapat perlawanan dari Danu, membuat Bram tak terima dan merasa emosinya semakin jadi hingga mencapai ke puncak ubun-ubun. Sehingga ia pun hendak menghajar Danu kembali.
Akan tetapi, di saat itu Diandra segera berlari dan masuk di tengah-tengah keduanya untuk mencegah perkelahian itu. Sehingga pukulan Bram malah salah sasaran mengenai wajah Diandra.
__ADS_1
"Diandra!" Teriak Danu.
Bersambung …