Tertambat Bad Boy Insyaf

Tertambat Bad Boy Insyaf
Firasat Buruk


__ADS_3

Tanpa mengucap kata apapun, Kenzo dan Bara turun dari motor untuk menghadapi orang-orang yang menghadang jalan mereka, kira-kira jumlahnya ada 10 orang. Untuk menghindar pun mereka tak akan bisa karena jalanan yang cukup sepi, terlebih lagi mereka juga telah dikepung.


"Siapa kalian? Kenapa kalian menghalangi jalan kami?" Tanya Bara. Ia dan Kenzo sangat sulit mengenali orang-orang tersebut karena menggunakan helm dan juga masker. Begitu juga dengan motor yang dikendarai mereka sama sekali belum mereka lihat sebelumnya.


"Heh kalian budek ya, kalian itu siapa? Kenapa kalian tiba-tiba menghadangi jalan kami, ada masalah apa?" Tanya Kenzo pula.


"Banyak bacot," ucap salah satu diantara orang-orang itu, lalu segera saja mereka menyerang Kenzo dan Bara.


Perkelahian sengit pun tak terelakkan, karena jumlah mereka yang cukup banyak tentu saja membuat Bara dan Kenzo kewalahan menghadapi mereka meskipun sudah berusaha semaksimal mungkin. Terlebih lagi kondisi Kenzo yang memang sudah lemah karena ia belum makan seharian, membuatnya kurang bertenaga. Hingga di saat Bara dan Kenzo terkapar, barulah orang-orang tersebut pergi meninggalkan mereka dengan perasaan yang sangat puas.


"Tolong … tolong … ada orang terluka!" Teriak salah satu pengendara yang kebetulan lewat di jalan tersebut. Sehingga beberapa orang yang sedang mengendarai kendaraannya pun berhenti dan mengerumuni Kenzo dan Bara, lalu menolong mereka membawanya ke rumah sakit.


*****


Prang …


Diandra yang baru saja selesai makan malam tidak sengaja menjatuhkan gelas yang berada di sampingnya. Tiba-tiba saja perasaannya menjadi tidak enak dan langsung memikirkan sosok Kenzo, mantan kekasihnya itu.


"Duh … kenapa perasaan aku jadi nggak enak gini sih dan kenapa juga harus ada bayangan Kenzo di dalam otak ini," batin Diandra yang terlihat cemas.


"Sayang, apa kamu baik-baik saja? Tidak biasanya gelas bisa sampai jatuh seperti itu. Tidak biasanya kamu tidak fokus saat sedang makan," kata Danu yang dapat melihat rasa kekhawatiran di wajah Diandra.


"Iya Pa aku baik-baik saja kok. Maaf aku nggak sengaja, aku akan membersihkan pecahan kaca ini dulu ya Pa," ucap Diandra.


"Biar Papa saja yang bersihkan. Kamu langsung masuk ke kamar saja ya, bukannya tadi kamu bilang ada tugas? Jadi kamu kerjakan saja tugasnya dan Papa yang akan membersihkan kaca ini," titah Danu.

__ADS_1


"Ya udah Pa, makasih ya Pa," ucap Diandra yang langsung beranjak dari tempat duduknya lalu melangkahkan kaki menuju ke kamar.


Saat berada di dalam kamar, Diandra mencoba untuk menenangkan perasaannya dan berusaha untuk menepiskan bayangan Kenzo, tetapi sama sekali bayangannya itu tidak bisa hilang. Bahkan ia semakin memikirkan Kenzo, takut terjadi sesuatu dengan mantan kekasihnya itu.


"Aku nggak bisa seperti ini terus, apa lebih baik aku hubungi Kenzo aja ya. Aku nggak tahu kenapa perasaan ini benar-benar nggak tenang. Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan Kenzo?" Gumam Diandra lalu meraih ponsel yang ia letakkan di atas nakas.


Diandra terlihat mencari nama Kenzo di ponselnya, akan tetapi di saat ia sudah menemukan dan hendak menemukan tombol panggilan, tiba-tiba ia mengurungkan niatnya lalu mencampakkan ponselnya itu di atas tempat tidur.


"Enggak, aku nggak boleh menghubungi Kenzo. Untuk apa juga sih aku peduli lagi dengan dia? Lagipula ini pasti hanya perasaan aku aja. Aku yakin kok pasti Kenzo akan baik-baik aja," gumam Diandra lalu merebahkan dirinya di atas kasur.


Ting …


Sebuah pesan masuk pada ponsel Diandra, sang empunya ponsel pun segera membaca pesan yang dikirim oleh sahabatnya.


Diandra membelalakkan matanya, ia sontak terkejut dan terduduk setelah membaca pesan dari Sasa. Tak mau membuang waktu, Diandra pun segera saja menghubungi Sasa untuk memastikannya lagi.


"Sa, kamu serius? Kenapa Kenzo bisa masuk rumah sakit, apa yang terjadi?" Tanya Diandra yang terlihat begitu khawatir.


"Kata Riko Kenzo dan salah satu temannya ditemukan tergeletak di jalan dalam keadaan yang mengenaskan. Sekarang mereka berdua ada di ruang ICU dalam kondisi koma Di," terang Sasa.


Bak di sambar petir di tengah hujan badai, Diandra merasakan tubuhnya bergetar hebat dan lemas seketika. Ia tak menyangka ternyata rasa kekhawatirannya dan firasat buruk, takut terjadi sesuatu dengan Kenzo adalah benar. Padahal pria tersebut belum lama keluar dari rumah sakit dan saat ini ia harus berada di ruang ICU lagi. Diandra tak kuasa menahan kesedihannya itu dengan meneteskan air matanya.


"Diandra, kamu masih di sana?" Tanya Sasa karena tidak ada tanggapan lagi dari Diandra.


"Sa, bisa bantu aku? Kamu jemput aku ya, bilang aja kalau kamu mau ajak aku jalan," pinta Diandra memohon kepada sahabatnya itu.

__ADS_1


"Iya Di, sekarang juga aku jemput kamu ya," jawab Sasa menyetujui.


"Makasih ya Sa," ucap Diandra mengakhiri telepon tersebut.


*****


Hening …


Hanya terdengar suara layar monitor yang ada di dalam ruangan ICU menemani Kenzo yang di saat ini kembali koma. Entah sudah berapa kali ia berada di sana akibat dari perkelahian. Jika ruangan ICU itu dapat berbicara, pastinya ia akan berkata sangat bosan karena lagi-lagi dihuni oleh pria tersebut.


Bram yang saat ini berada di ruangan tersebut tak henti-hentinya menangis melihat kondisi anaknya. Perasaannya begitu hancur jika mengingat bagaimana perkelahiannya tadi dengan sang anak hingga saat ini ia menemukan anaknya dalam keadaan tidak berdaya. Rasanya ingin sekali mengulang waktu dan tidak berkelahi dengan Kenzo, apalagi sampai mengusirnya dari rumah. Tetapi apalah daya, semua telah terjadi, nasi telah menjadi bubur dan tidak akan mungkin kembali lagi menjadi nasi.


"Kenzo, bangun Nak. Maafkan Papi Ken, Papi benar-benar menyesal dengan apa yang telah Papi lakukan terhadapmu tadi. Seandainya tadi Papi bisa lebih bersabar menghadapi kamu, pasti ini semua tidak akan terjadi. Ken, kamu tenang saja Papi pasti akan mengusut masalah ini sampai tuntas. Papi akan mencari tahu siapa orang-orang yang sudah membuat kamu seperti ini. Papi tidak akan pernah memaafkan orang-orang itu, Papi pastikan mereka harus merasakan apa yang kamu rasakan. Satu lagi, Diandra. Ya dialah orang yang sudah menyebabkan perkelahian kita. Papi tidak akan pernah mengizinkan wanita itu untuk datang ke sini melihat kamu," ucap Bram lirih dengan sorotan matanya yang begitu tajam.


Bagaimanapun sikap Bram terhadap Kenzo, kerasnya ia mendidik anaknya itu, tetapi melihat anak satu-satunya hampir tidak bernyawa karena orang-orang yang tidak bertanggung jawab, tentu saja ia tidak akan tinggal diam. Bahkan saat ini Bram sudah mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mencari keberadaan orang-orang yang telah membuat anaknya celaka, bagaimanapun caranya.


------


"Riko, gimana keadaan Kenzo? Apa yang terjadi dengan Kenzo?" Tanya Diandra saat ia dan Sasa baru saja tiba di rumah sakit.


"Diandra, Sasa? Di, lebih baik kau pergi saja dari sini. Aku yakin jika Om Bram melihat kau ada di sini, pasti dia akan sangat marah. Apa kau tahu, sebelum kejadian ini Kenzo baru saja bertemu dengan ayahnya dan mereka bertengkar. Kenzo rela menyerahkan semua fasilitasnya kepada ayahnya untuk membuktikan bahwa dia bisa mandiri, dia membenci ayahnya karena merasa Om Bram yang telah membuatnya tidak bisa bersama denganmu Diandra," ucap Riko.


Diandra menggelengkan kepalanya, ia tak percaya dan tak menyangka jika Kenzo terluka karena dirinya.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2