Tertambat Bad Boy Insyaf

Tertambat Bad Boy Insyaf
Terkunci Di Gudang


__ADS_3

Melihat temannya yang terus saja berlari seperti orang gila, Riko pun segera menjalankan mobilnya untuk menyusul Kenzo yang di saat itu sudah berlari sejauh mungkin, meskipun ia sama sekali tidak bisa menggapai wanita yang berada di mobil dan dianggapnya sebagai Diandra.


"Heh bodoh, lebih baik sekarang kau masuk ke mobil. Apa kau benar-benar menganggap yang berada di dalam mobil adalah Diandra?" Ucap Riko yang turun dari mobil dan menghampiri sahabatnya.


"Aku tahu dia itu Diandra, untuk itu aku mengejarnya," kata Kenzo dengan yakin.


"Memangnya Diandra itu wanita seperti apa? Kenapa malam-malam seperti ini dia berkeliaran? Atau mungkin Diandra itu wanita murahan?" Tanya Riko yang sengaja memancing emosi Kenzo, berharap jika pria itu akan segera sadar.


"Jangan pernah kau menghina wanita yang aku sukai seperti itu. Kau sama sekali tidak ada hak berkata seperti itu, Diandra adalah wanita baik-baik," kata Kenzo yang mengepal erat kedua tangannya sembari menatap tajam, seperti harimau lapar yang hendak menerkam mangsanya.


"Kalau begitu kenapa kau bisa menganggap orang tadi adalah Diandra? Apa kau sudah buta? Asal kau tahu yang berada di dalam mobil tadi adalah wanita setengah pria, bukan Diandra," kata Riko dengan suara.


Kenzo menggelengkan kepalanya, "Itu tidak mungkin, dia Diandra Riko. Sudah aku katakan itu Diandra!" Teriak Kenzo yang tetap kekeh. "Atau mungkin tadi Diandra sedang diculik? Ayo kita harus menyelamatkan Diandra Riko, kau harus membantuku!" Kenzo menarik tangan Riko, memohon kepadanya seperti orang gila, serta ucapannya yang semakin ngelantur kemana-mana


Bug …


Lagi-lagi Riko memukul Kenzo karena begitu kesal, hingga pada akhirnya Kenzo pun tidak sadarkan diri lagi, entah karena pukulan Riko atau karena efek minuman keras yang tadi dikonsumsinya. Lalu segera saja Riko membawa Kenzo masuk ke dalam mobil dan mengantarnya pulang ke rumah.


******


Sasa memberhentikan mobilnya di depan sebuah Cafe tempat dimana seseorang mengajaknya untuk bertemu di sana. Sasa juga terpaksa berbohong kepada Diandra bahwa ia ada urusan penting, sehingga terburu-buru pergi meninggalkan Diandra saat di kampus tadi. Karena orang yang mengajak Sasa bertemu juga meminta agar tidak memberitahu Diandra apalagi sampai mengajak sahabatnya itu.


Sasa melangkahkan kakinya masuk ke dalam cafe tersebut dan mencari keberadaan orang yang tadi memberitahunya lewat pesan WhatsApp bahwa ia sedang menunggu di meja nomor 4. Setelah Sasa melihatnya, ia pun berjalan mendekati pria yang di saat itu menghadap ke arah lain.


"Permisi, apa benar kamu adalah Riko?" Tanya Sasa sehingga pria tampan yang di saat itu sedang asik dengan ponselnya pun menoleh ke arahnya.


Kini Riko telah berdiri berhadapan dengan Sasa, ia tampak bengong karena merasa sangat kagum melihat kecantikan Sasa yang seakan telah membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.


"Halo … apa benar kamu adalah Riko?" Sasa mengulangi pertanyaannya, sehingga menyadarkan Riko dari lamunannya.

__ADS_1


"Oh iya, kenalkan aku Riko," ucap Riko memperkenalkan diri seraya menjulurkan tangan dan langsung disambut oleh wanita yang ada di depannya itu.


"Aku Sasa," ucap Sasa, lalu keduanya duduk di kursi tersebut.


"Terimakasih ya karena kau sudah mau datang ke sini untuk menemuiku," ucap Riko tersenyum.


"Iya sama-sama. Sebenarnya ada apa ya? Kenapa kamu tiba-tiba mengajakku bertemu dan mengatakan ingin berbicara soal Diandra dan Kenzo?" Tanya Sasa penasaran, akan tetapi ia sudah mengetahui jika Riko adalah sahabat Kenzo, karena pria itu sendiri yang mengatakannya melalui pesan WhatsApp.


"Oh iya, sebelumnya aku minta maaf karena sudah lancang mengambil nomor WA-mu di HP Kenzo, aku juga membaca pesan kalian dan dari situ aku tahu jika kau adalah sahabat Diandra. Jadi memang lebih baik aku membicarakan soal ini kepadamu," ucap Riko, lalu ia menceritakan bagaimana Kenzo yang saat ini sudah tergila-gila terhadap Diandra, bahkan tentang kejadian tadi malam yang baru saja dialaminya.


"Kenapa kamu harus mengatakan hal ini padaku? Kenapa kamu tidak langsung membicarakan masalah ini kepada Diandra langsung?" Tanya Sasa.


"Karena aku juga belum mengenal siapa Diandra. Aku takut Kenzo masih tidak ingin jika Diandra tahu bagaimana perasaannya, jadi lebih baik aku mengatakan hal ini padamu saja. Bukankah Kenzo juga banyak bertanya soal Diandra padamu dan memintamu untuk merahasiakannya?" Tanya Riko yang membuat Sasa pun tampak berpikir.


"Iya, kamu memang benar. Jadi apa yang kamu inginkan saat ini?" Tanya Sasa.


"Siapa yang mengetakan seperti itu? Setahuku tidak, karena ada 1 hal yang membuat Diandra tidak mungkin bisa bersama dengan Kakakku. Pasti kau juga sudah tahu 'kan dari Kenzo, bahwa Diandra sama sekali tidak menyukai anak geng motor, karena-" Sasa menghentikan ucapannya.


"Karena? Karena apa?" Tanya Riko.


"Karena adiknya Diandra meninggal 1 tahun yang lalu dikeroyok oleh anak geng motor," jawab Sasa. Entah kenapa ia malah bersikap jujur kepada Riko, padahal Kenzo sendiri tidak mengetahui akan hal itu.


*****


Seperti biasa, jika sedang malas untuk pergi ke kantin, maka Diandra akan menunggu Sasa di kursi bawah pohon tempat dimana biasa mereka selalu menghabiskan waktu sembari menghirup udara segar. Akan tetapi sudah 20 menit berlalu, Sasa pun belum juga kembali, sehingga membuat Diandra tampak resah. Saat dihubungi pun Sasa juga tidak menjawab teleponnya.


"Duh … Sasa kemana sih, tumben banget lama. Apa antriannya panjang banget?" Gumam Diandra, tetapi juga tak bisa menyembunyikan rasa kekhawatirannya.


"Kakak, Kak Diandra 'kan?" Tanya seorang mahasiswi yang di saat itu menghampirinya, sehingga membuat Diandra pun tersentak dan menoleh ke arahnya.

__ADS_1


"Iya benar, ada apa?" Tanya Diandra.


"Kak Sasa menunggu Kakak di sana, tadi katanya dia ada sedikit masalah jadi meminta tolong aku untuk menyampaikan hal ini," kata mahasiswi tersebut sembari menunjuk ke arah menuju gudang.


"Oh gitu, ya sudah terimakasih ya," ucap Diandra lalu segera saja ia pergi menuju ke tempat dimana mahasiswi tadi memberitahunya.


Diandra terlihat setengah berlari karena takut terjadi sesuatu dengan sahabatnya. Semakin lama ia berjalan, semakin tampak sepi. Tetapi ia sama sekali tidak menemukan keberadaan Sasa ada dimana.


"Sasa … Sa … !" Diandra terus saja memanggil, meskipun sama sekali tidak ada yang menjawabnya


Hingga di saat itu pun Diandra telah berada tepat di depan gudang yang pintunya terbuka.


"Apa mungkin Sasa berada di dalam sini?" Gumam Diandra. "Sasa … apa kamu ada di dalam?" Panggilnya lagi, lalu masuk ke dalam gudang tersebut dan mencari keberadaan Sasa.


Ia mencari ke sana kemari, berharap jika Sasa memang berada di dalam. Akan tetapi tiba-tiba saja …


Brak …


Ada yang menutup pintu gudang dari luar, sehingga membuat Diandra pun terkunci di dalam gudang tersebut. Tentunya ia merasa sangat terkejut dan berlari ke arah pintu.


Tok … tok … tok …


"Buka … siapa yang ada di luar, tolong dong jangan iseng. Buka … !" Diandra terus saja berteriak sembari mengetuk pintu, tetapi sama sekali tak ada yang menanggapinya.


"Tolong buka pintunya … !" Teriak Diandra lagi. Karena pintu itu tertutup, keadaan dalam ruangan menjadi gelap dan membuat Diandra pun merasa ketakutan. Apalagi jika mengingat masa lalu kelam yang pernah ia alami, membuat Diandra saat ini mengeluarkan keringat dingin serta tubuhnya yang bergetar.


Bersambung …


__ADS_1


__ADS_2