Tertambat Bad Boy Insyaf

Tertambat Bad Boy Insyaf
Hancur Di Depan Mata


__ADS_3

Meskipun Bram terlihat sangat emosi, akan tetapi ia berusaha untuk tetap bersikap sabar dan santai karena di saat itu ada Riko, sahabat anaknya itu. Ia tidak mau menampakkan Bagaimana perlakuannya terhadap Kenzo selama ini. Tentunya sebagai pengusaha yang sukses, Bram akan menjaga nama baiknya.


"Kenapa diam Pi? Biasanya Papi pasti akan langsung memarahiku. Atau Papi malu karena ada di Riko di sini," ujar Kenzo seakan bisa membaca pikiran ayahnya itu.


"Sudah lah Kenzo, Papi sedang tidak ingin berdebat denganmu. Tapi Papi minta stop untuk bergabung dengan geng motor dan kamu juga Riko, seharusnya sebagai sahabat kamu itu menasehati yang baik untuk sahabat kamu. Kamu lihat sendiri 'kan dampak buruknya untuk Kenzo. Tapi bagaimana mungkin ya, sedangkan kamu sendiri juga terlibat di dalamnya dan yang Om dengar kamu sekarang malah menjadi wakil ketua geng motor kalian itu," kata Bram yang tentunya selalu saja mendapatkan informasi tentang geng motor anaknya tersebut.


"Maaf Om, tapi sepertinya Om sudah salah menilai anak geng motor. Tidak semua anak geng motor itu buruk, hanya tergantung masing-masing orangnya saja dan bagaimana masyarakat menyikapinya," ucap Riko tak bermaksud untuk membantah, akan tetapi ia tidak ingin jika orang tua sahabatnya itu selalu saja berprasangka buruk.


"Sekarang beritahu Om, apa sisi positifnya dari geng motor? Bahkan dari dulu saja Kenzo tidak bisa menunjukkan akan hal itu," ujar Bram.


"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah berhenti dari geng motor. Untuk apa juga aku mengikuti keinginan Papi, sedangkan Papi begitu egois yang selalu mementingkan diri sendiri," ucap Kenzo.


"Terserah kamu saja, tetapi jika kamu terkena masalah lagi, Papi tidak akan pernah peduli. Bagaimanapun caranya kamu harus menyelesaikan masalah kamu itu sendiri!" Ancam Bram.


"Aku juga tidak peduli, aku bisa mengurus diriku sendiri. Toh selama ini juga aku baik-baik saja tanpa Papi ataupun Mami," kata Kenzo yang terpengaruh oleh ancaman Bram.


*****


"Beberapa menit kemudian, di saat Bram sedang menemani Kenzo sambil memainkan ponselnya, tiba-tiba saja ada seseorang yang membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan ini tersebut. Bram dan Kenzo yang mengira jika orang itu adalah Riko yang tadi berpamitan akan keluar sebentar membeli makanan, tetapi pada kenyataanya mereka malah dikejutkan dengan sosok wanita yang dulu menjadi pelengkap dalam hidup mereka, tetapi sekarang telah pergi meninggalkan keduanya demi orang lain.


"Ken, kamu kenapa? Apa yang terjadi denganmu Sayang?" Tanya Sinta yang terlihat begitu khawatir, entah dari mana ia mendapatkan informasi hingga mengetahui jika anaknya saat ini berada di rumah sakit.


"Untuk apa Mami datang ke sini? Mami masih peduli denganku? Aku kira Mami sama sekali tidak peduli lagi denganku," sindir Kenzo.

__ADS_1


"Kenapa kamu berbicara seperti itu Ken? Mami meninggalkan kalian itu bukan karena Mami tidak peduli denganmu, Mami hanya sudah tidak sanggup hidup bersama dengan Papimu ini," terang Sinta.


"Ck, kenapa kamu jadi menyalahkanku. Alasan tidak sanggup hidup bersama denganku hanya karena aku sibuk mencari uang untuk menghidupi keluarga kita, lalu selama ini kau hidup dengan uang siapa? Kenapa malah hal itu yang kamu jadikan alasan untuk berselingkuh? Kamu yang berbuat salah, tapi malah kamu yang merasa tersakiti. Memang wanita itu tidak pernah mau disalahkan, selalu merasa dirinya itu benar," ungkap Bram menahan perih di dadanya.


"Diam! Aku tidak ingin mendengar pertengkaran kalian. Kalau kalian masih mau membahas tentang hubungan kalian saat ini, lebih baik kalian keluar. Tinggalkan aku di sini, aku ingin istirahat," ucap Kenzo dengan suara lantang.


"Sudah tidak ada lagi yang harus dibahas tentang hubungan Mami dan Papi kamu Ken. Selain untuk menjenguk kamu, sebenarnya Mami mau mengantar surat perceraian ini untuk Papi kamu," ucap Sinta yang menyerahkan selembar kertas di dalam map kepada Bram.


"Jadi kamu benar-benar ingin berpisah denganku demi pria lain?" Tanya Bram untuk memastikannya lagi, jauh di dalam lubuk hatinya ia masih sangat mencintai Sinta yang merupakan cinta pertamanya itu.


"Ya benar, memang untuk apa lagi aku mempertahankan rumah tangga ini? Kamu sudah lihat sendiri 'kan aku sudah meninggalkanmu dengan pria lain, apakah kamu masih berharap jika aku akan tetap kembali hidup bersamamu? Itu tidak akan mungkin Bram," ucap Sinta tanpa memikirkan perasaan Bram dan Kenzo sedikitpun.


"Benar-benar keterlaluan, aku pastikan hidupmu tidak akan pernah bahagia Sinta," ucap Bram murka.


"Aku tidak akan sudi," sahut Kenzo yang mengalihkan pandangannya.


Hati anak mana yang tidak akan sakit saat mengetahui kedua orang tuanya itu akan berpisah, begitu juga dengan yang dirasakan oleh Kenzo bahwa keluarganya itu akan hancur di depan mata. Tetapi ia juga tidak bisa berbuat apapun untuk merubah keadaan atau melarangnya. Mungkin ini memang lebih baik daripada setiap hari harus melihat dan mendengar pertengkaran kedua orang tuanya itu.


*****


"Dor … melamun aja. Lagi memikirkan apa sih?" Ucap Sasa yang mengejutkan Diandra, karena Diandra tampak melamun duduk sendiri di bawah pohon.


"Sasa, kenapa kamu lama sekali sih beli minumannya," protes Diandra.

__ADS_1


"Maklum antri, nih buat kamu," ucap Sasa yang menyerahkan sebotol minuman untuk Diandra.


Lalu Diandra pun menerimanya, "Thank you," ucapnya.


"You are welcome," jawab Sasa.


"Sa, aku mau tanya deh. Kalau aku menolong seseorang lalu aku tinggalkan orangnya begitu saja di rumah sakit, menurut kamu itu pantas nggak sih?" Tanya Diandra mengenai masalah yang sedari tadi mengganggu di pikirannya itu.


"Ya enggaklah, seharusnya kita itu tunggu dulu, kamu pastikan sampai keluarganya benar-benar datang dan ada yang menemaninya. Jangan kamu tinggalkan begitu aja lah. Bagaimana kalau seandainya orang itu tidak punya keluarga atau dia udah dibuang sama keluarganya? Atau juga sebenarnya dia itu orang susah, nggak bisa bayar biaya rumah sakit, gimana? Pasti sekarang dia terbengkalai dong di rumah sakit," ujar Sasa yang otaknya saat ini benar-benar encer untuk berpendapat.


"Oh … gitu ya," ucap Diandra yang terlihat cemas.


"Di, ada apa? Ini benar-benar pengalaman kamu sendiri ya?" Tanya Sasa menatap penuh curiga.


Diandra mengangguk pelan, karena selama ini ia memang tidak pernah menyimpan rahasia apapun dari sahabatnya itu.


"Kamu serius Di? Kamu menolong orang terus kamu tinggalkan begitu saja di rumah sakit? Tapi kenapa Di? Yang aku tahu kamu tidak tega seperti itu dengan orang lain," tanya Sasa tak mempercayainya.


"Karena aku mengenal siapa dia dan aku tidak mau lagi berhubungan dengan orang itu Sa," ucap Diandra.


"Siapa?" Tanya Sasa penasaran.


"Kenzo," jawab Diandra yang membuat Sasa pun begitu terkejut mendengarnya.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2