
"Kau? Untuk apa kau berada di sini?" Tanya Kenzo serta membalas tatapan tajam dari pria yang saat ini berdiri di hadapannya.
Pria tersebut adalah Satria, setelah mendengar kabar dari Sasa tentang kondisi Diandra, membuatnya merasa sangat khawatir dan langsung saja mengunjungi kediamannya.
"Bukan urusanmu, kau tidak perlu ikut campur. Memangnya ada yang salah? Kau sendiri saja berada di sini. Seharusnya kau pergi dari sini, kau sama sekali tidak pantas ada di sini. Kau bukan siapa-siapa Diandra, berbeda denganku yang sudah mengenal Diandra sejak lama, karena dia adalah sahabat Adikku," kata Satria.
"Ck, kenapa aku tidak pantas ada di sini? Bukankah kau dan aku juga sama saja statusnya. Kita berdua sama-sama bukan siapa-siapa Diandra," kata Kenzo mengingatkan.
"Oke, kalau begitu kita lihat saja nanti, siapa yang berhasil terlebih dahulu untuk mendapatkan hati Diandra. Aku tahu kau menyukai Diandra 'kan?" Kata Satria yang jelas-jelas menantang Kenzo.
"Kalau iya kenapa? Dan aku sama sekali tidak takut bersaing denganmu untuk mendapatkan hati Diandra. Asalkan kita bersaing secara sehat dan kau tidak menggunakan cara kotor, apalagi sampai menyakiti Diandra," ucap Kenzo.
"Kau tidak perlu mengajariku. Mana mungkin aku tega menyakiti Diandra dan aku juga tidak pernah taku denganmu, karena aku yakin Diandra pasti akan memilihku," ucap Satria dengan sangat yakin.
"Kenzo, Satria, kenapa kalian ribut di depan rumahku?" Tanya Diandra yang mendengar suara keributan, sehingga ia keluar dari rumahnya.
"Diandra," ucap Satria.
"Diandra," ucap Kenzo pula.
Lalu kedua pria tampan itu pun mendekati Diandra yang tampak berdiam mematung.
"Kalian berdua kenapa? Kenapa kalian harus ribut di depan rumahku? Dan kamu Ken, bukannya kamu tadi bilang mau pulang?" Tanya Diandra.
"Iya Di, aku baru saja mau pulang tapi malah bertemu dengan pria ini," kata Kenzo menunjuk ke arah Satria.
__ADS_1
"Maaf Di, aku tidak bermaksud untuk membuat keributan di sini. Aku datang ke sini hanya karena ingin menjengukmu. Tadi aku dengar dari Sasa tentang keadaanmu, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Satria yang terlihat sangat khawatir.
"Aku baik-baik saja kak. Kakak tenang saja ya, tidak perlu mengkhawatirkanku. Yang saat ini aku butuhkan adalah istirahat, jadi aku minta kalian berdua pulang saja," pinta Diandra.
"Ya sudah, aku tidak akan mengganggumu. Tapi tolong terima ini ya, dengan memakan buah-buahan ini, mudah-mudahan mudah-mudahan kamu cepat sembuh karena terdapat banyak vitamin di dalamnya," ucap Satria.
"Iya Kak aku terima. Terimakasih banyak ya Kak," ucap Diandra yang menerima bingkisan tersebut.
Sementara itu Kenzo tampak menatap Satria dengan tatapan tidak suka.
"Lebih baik sekarang kalian berdua pulang. Aku juga tidak mau jika nanti ada tetangga yang lewat dan berpikiran yang tidak-tidak," ucap Diandra.
"Ya sudah, kalau begitu aku pulang dulu ya Di," ucap Kenzo berpamitan, lalu masuk ke dalam taksi online yang dipesannya dan saat itu sudah menunggu di depan rumah.
Setelah itu kini giliran Satria pula yang berpamitan, lalu pergi meninggalkan kediaman Diandra.
"Setibanya di rumah, Kenzo dikejutkan dengan suara berisik yang berasal dari kamar sang ayah. Segera saja ia mendekati kamar tersebut dan mendengar suara itu terdengar semakin jelas, seperti suara barang-barang pecah dan terbanting di atas lantai.
Tok … tok … tok …
"Pi … Papi baik-baik saja di dalam? Papi kenapa Pi?" Tanya Kenzo diiringi ketukan pintu. Akan tetapi sama sekali tak ada jawaban, sehingga membuat Kenzo menjadi khawatir dengan keadaan ayahnya yang berada di dalam
"Pi, tolong jawab aku Pi. Tolong buka pintunya!" Teriak Kenzo.
"Maaf Tuan, dari tadi Tuan Bram mengamuk di dalam. Sepertinya itu karena ada kurir yang mengantar undangan ke rumah," kata Bi Tantri yang merupakan ART di kediaman Matthew.
__ADS_1
"Undangan? Undangan apa Bi?" Tanya Kenzo penasaran.
"Undangan pernikahan Nyonya Sinta dan Tuan Jack," jawab Bi Tantri.
Membuat Kenzo terdiam dan seketika tubuhnya melemah. Bukan saja ayahnya, ia sendiri merasakan terkejut dan sakit hati. Meskipun ia tahu jika ibunya memang sudah lama berselingkuh dengan pria tersebut dan berkhianat di belakang ayahnya, tetapi di saat itu Kenzo seakan tak peduli. Yang terpenting keluarganya masih tetap utuh, tetapi pada kenyataannya kedua orang tuanya itu harus berpisah dan saat ini ia harus menerima kenyataan jika ibunya akan menikah dengan pria lain. Itu artinya benar-benar sudah tidak ada harapan lagi untuk kedua orang tuanya bersama kembali dan kini ia juga harus menerima untuk memiliki ayah tiri, meskipun sebenarnya ibunya sama sekali tak peduli dan tak meminta restunya.
"Mami benar-benar keterlaluan! Mami benar-benar sudah tidak menganggapku lagi." Rasa sedih Kenzo kini berubah menjadi rasa kecewa dan amarahnya yang amat mendalam. "Terimakasih ya Bi. Lebih baik sekarang Bibi istirahat saja, biar aku yang akan menenangkan Papi," ucapnya.
"Baik Tuan," jawab Bi Tantri, lalu beranjak pergi meninggalkan Tuan mudanya itu.
Karena Papinya sama sekali tidak mau membukakan pintu, pada akhirnya Kenzo pun mencari-cari kunci cadangan yang biasanya diletakkan oleh ibunya itu di bawah vas bunga tidak jauh dari pintu kamar. Benar saja, dengan cepat Kenzo menemukan kunci tersebut dan langsung saja membuka pintu kamar sang ayah.
Di saat pintu telah terbuka, Kenzo sangat terkejut melihat kamar ayahnya yang sudah berantakan seperti kapal pecah. Terutama foto pernikahan ayah dan ibunya dengan bingkainya yang sudah hancur retak seribu dan berserakan di atas lantai, serta foto keduanya yang sudah disobek dan terbelah menjadi beberapa bagian.
"Pi, apa yang Papi lakukan?" Tanya Kenzo yang mendekati Bram.
"Diam! Kamu hanya anak kecil yang tidak tahu apapun tentang urusan orang tua. Lebih baik sekarang kamu keluar dari sini, untuk apa kamu berada di sini, hah!" Bentak Bram yang menatapnya tajam.
"Aku datang ke sini hanya untuk menenangkan Papi, aku hanya mau mengingatkan Papi bahwa tidak ada untungnya sama sekali Papi bersikap seperti ini. Apakah dengan Papi bersikap seperti ini Mami akan kembali? Mami akan peduli? Wanita itu sudah bahagia dengan pilihannya Pi, wanita itu tidak memilih kita," ucap Kenzo yang mencoba menyadarkan ayahnya dari keterpurukan.
Lalu terdengar suara tangisan dari sudut bibir Bram selayaknya anak kecil yang tidak diberikan permen oleh orang tuanya.
"Kenzo, apa kamu tahu bagaimana sakitnya hati Papi saat ini. Papi sakit hati, Papi kecewa, kenapa Mami kamu harus meninggalkan Papi dan sekarang dia harus memilih menikah dengan orang lain?" Kata Bram dengan
Rasanya ikut sakit melihat sang ayah yang begitu rapuh dikhianati oleh orang yang sangat ia percaya. Kenzo yakin jika papinya itu benar-benar mencintai maminya dan memang selama ini dia bekerja keras untuk menghidupi kebutuhan istri dan anaknya. Hanya saja ibunya itu yang tidak sadar diri dan malah memilih kebahagiaannya sendiri dengan pria lain.
__ADS_1
Bersambung …