
Hingga pada akhirnya pun Diandra mengakhiri sandiwara terlebih dulu, karena pada kenyataannya berpura-pura bahagia itu sangat menyakitkan meskipun sudah berusaha semaksimal mungkin. Meskipun ia mencoba untuk bersikap biasa saja, tetapi rasa cemburu dan sakit itu tetap saja ada. Rasanya sudah sangat enggan berada di kantin melihat mantan kekasihnya itu yang terlihat semakin mesra dengan wanita lain.
"Kak, kita pindah aja deh makannya. Aku merasa nggak nyaman duduk di sini," kata Diandra yang melirik sekilas ke arah Kenzo.
"Oh gitu, ya sudah yuk. Apapun yang kamu inginkan, pasti akan aku turuti," kata Satria.
"Makasih ya Kak," ucap Diandra mengulas senyum tipis, lalu keduanya pun beranjak dari tempat duduk dan mencari tempat lain yang jauh dari keberadaan Kenzo dan Laura.
"Diandra … Diandra … aku yakin kau pasti cemburu 'kan Di, aku bisa lihat bagaimana sikap kamu itu. Aku juga yakin kau pasti masih mencintaiku, melihat aku bersama Laura kau malah sengaja memanasiku dengan Satria. Seharusnya kau bisa bersikap lebih dewasa, tidak seperti itu, mengambil keputusan secara sepihak," batin Kenzo yang menatap kepergian Diandra.
"Ken, kenapa melamun? Lanjutkan dong makannya," ucap Laura yang sebenarnya tahu jika Kenzo di saat itu sedang memandang Diandra.
"Aku sudah tidak nafsu makan," ucap Kenzo yang langsung saja beranjak dari tempat duduknya.
"Loh Ken, kamu mau kemana?" Tanya Laura saat melihat Kenzo melangkahkan kakinya.
"Kelas, jangan ikuti aku," jawab Kenzo ketus, membuat Laura pun bungkam. Kendati demikian ia merasa puas atas apa yang baru saja terjadi, tidak masalah baginya jika saat ini ia hanya dijadikan pelampiasan oleh Kenzo, karena menurutnya ini adalah kesempatannya untuk bisa berdekatan dengan pria tersebut dan mengambil hatinya.
"Lihat saja Kenzo, nantinya pasti kamu yang akan memohon-mohon untuk bersama denganku," gumam Laura dengan yakin.
*****
"Tuan, ada seseorang yang mencari Tuan Danu di bawah. Saya juga tidak tahu dia siapa, tapi beliau mengatakan jika dia adalah teman lama Tuan Danu," ucap seorang Cleaning Service yang masuk ke ruangan Danu.
Ya semenjak Danu dinaikkan jabatan menjadi manager keuangan oleh Harry, kini ia pun memiliki ruangan khusus sesuai jabatannya.
"Oh iya Pak, saya minta tolong suruh saja orang itu langsung ke ruangan saya," titah Danu.
"Baik Tuan," jawab Cleaning Service.
"Terimakasih ya Pak," ucap Danu, lalu segera saja CS tersebut keluar dari ruangan Danu dan menyampaikan pesan tersebut kepada seseorang yang ingin bertemu dengan Danu.
Tidak lama kemudian, orang yang dimaksud oleh CS tadi telah tiba di depan ruangan Danu dan ia juga mengetuk pintu ruangan tersebut.
Tok … tok … tok …
"Silahkan masuk!" Ucap Danu hingga terlihat seseorang yang membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Apa kabar Tuan Danu," ucap seorang pria paruh baya yang sangat tidak asing bagi Danu.
"Kamu? Kenapa kamu berada di sini?" Tanya Danu yang langsung saja beranjak dari tempat duduknya. Ia merasa sangat terkejut melihat kedatangan seseorang yang telah mengkhianatinya di masa lalu, siapa lagi kalau bukan Bram alias Joni yang baru saja ia ketahui identitasnya beberapa hari yang lalu dari Diandra, anaknya.
__ADS_1
"Santai saja Danu. Sepertinya sekarang kamu sudah sukses kembali, tapi sayangnya sikapmu berubah menjadi sombong," ucap Bram.
"Ck, omong kosong apa kamu ini. Apa kamu pikir dengan kamu mengubah identitas, aku tidak bisa menemukanmu? Kamu salah Joni, aku sudah tahu semuanya tapi aku masih berbaik hati membiarkanmu berkeliaran. Tapi seandainya kamu bertingkah lagi dan mengusik keluargaku, maka aku tidak akan segan untuk melaporkanmu ke polisi," ucap Danu dengan tatapan serius.
"Ternyata kamu benar-benar sudah berubah Danu, kamu terlihat begitu sombong dan angkuh. Padahal tadinya aku datang ke sini mau meminta maaf padamu, tetapi melihat sikapmu yang seperti ini, sepertinya aku membatalkan niatku. Itu sama sekali sudah tidak penting," ucap Bram
"Apa kamu pikir aku membutuhkan maafmu? Sama sekali tidak Joni. Lagipula mau kamu minta maaf seperti apapun, aku tidak akan pernah memaafkanmu. Rasanya perbuatanmu itu sama sekali tidak pantas untuk dimaafkan. Kamu sudah sangat keterlaluan, kamu pengkhianat yang tidak tahu diri, sudah ditolong malah bersikap seperti kacang lupa kulit. Sok bersandiwara di depanku, tapi ternyata kamu dalang dibalik semuanya," ucap Danu dengan murka, pada akhirnya ia bisa mengungkapkan unek-unek yang selama ini terpendam di dalam hatinya itu.
"Oke, jika kamu tidak mau memaafkanku tidak masalah. Tapi aku ingatkan padamu, sampai kapanpun aku tidak akan pernah merestui hubungan Anakku dengan Anakmu itu, jadi aku harap beritahu Anakmu untuk jangan pernah mendekati Anakku lagi," kata Bram dengan tegas.
"Soal itu kamu tenang saja, aku juga tidak akan pernah menyetujui hubungan mereka. Sayang sekali, padahal yang aku kenal Kenzo adalah anak yang baik, sangat berbeda sekali denganmu. Tetapi tidak ada yang tahu, karena bagaimanapun juga dalam tubuhnya telah mengalir darahmu, darah pengkhianat!" Ucap Danu.
"Jaga ucapanmu! Jangan pernah sekalipun kamu berbicara seperti itu tentang Anakku," kata Bram dengan emosi.
"Memangnya kenapa? Memang itu 'kan kenyataannya. Lebih baik sekarang kamu pergi dari sini, jangan pernah mengganggu hidupku lagi atau aku akan mengungkit masa lalu itu!" Ancam Danu menatap tajam.
"Aku sama sekali tidak takut Danu. Kamu tidak memiliki bukti apapun," tukas Bram.
"Ya kamu benar. Tapi perlu kamu ingat Joni, apapun yang kamu dapatkan sekarang ini aku yakin tidak akan bertahan lama karena hasil menipu orang lain. Nantinya kamu pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal," ucap Danu dengan santainya.
Danu mengepal erat kedua tangannya, rasanya saat ini juga ia ingin menghajar Danu tetapi menurutnya hanya membuang-buang waktunya saja. Sehingga pada akhirnya Bram memilih untuk pergi meninggalkan ruangan Danu dan meninggalkan perusahaan tempatnya bekerja.
*****
"Nggak Kak, terimakasih. Aku pulang naik angkot aja," tolak Diandra.
"Diandra, kenapa sih kamu selalu saja menolakku. Maksud aku ini baik, aku hanya ingin mengantarmu pulang. Aku tahu Sasa sudah pulang duluan 'kan karena Mami minta Sasa menjemputnya di salon, jadi tadi Sasa juga pesan untuk mengantarkan kamu pulang," kata Satria.
"Nggak perlu Kak. 'Kan aku sudah bilang, aku nggak mau pulang naik motor sport, jadi lebih baik Kakak antar aku naik sepeda, aku lebih mau daripada harus menggunakan motor sport," terang Diandra.
"Ya ampun Diandra, jadi ini masalahnya Di, motor lagi? Kalau kamu masih merasa membenci anak geng motor, aku nggak yakin. Buktinya kamu masih mau menjalin hubungan dengan Kenzo waktu itu, kalau bukan karena masalah keluarga kalian aku yakin sampai sekarang kamu masih berhubungan dengan dia. Jadi apa salahnya sih naik motor, lagipula aku akan membawa kamu pelan-pelan kok di jalanan, aku nggak akan ugal-ugalan, aku janji!" Ucap Satria dengan serius.
"Terserah kamu aja mau beranggapan seperti apa Kak. Yang jelas aku nggak mau, jadi tolong jangan memaksa aku," tukas Diandra.
"Sudahlah Di, ayo lebih kamu naik saja," ucap Satria yang menarik paksa tangan Diandra.
"Lepaskan tangan aku Kak, tangan aku sakit," pinta Diandra.
"Kamu memang sepertinya harus dipaksa supaya kamu mau naik dan aku antar kamu pulang," kata Satria yang terus saja menarik tangan Diandra. Akan tetapi tiba-tiba saja …
Bug …
__ADS_1
Seseorang datang dan langsung memukul wajah Satria hingga tarikannya itu pun terlepas.
"Kenzo, kamu mau ngapain datang ke sini?" Tanya Diandra yang cukup terkejut melihat kehadiran mantan kekasihnya itu.
"Dasar cewek bodoh, sudah jelas aku datang ke sini karena menolongmu," jawab Kenzo.
"Ba ji ngan! Kau lagi. Selalu saja kau yang datang ikut campur urusanku," ucap Satria.
"Bang sat, apa kau pikir aku bisa tinggal diam melihatmu menarik tangan Diandra secara paksa seperti itu. Kau itu laki-laki, tapi kenapa aku bersikap kasar?" Tukas Kenzo.
"Kau itu tidak tahu apa-apa, kenapa kau harus ikut campur hah! Aku hanya ingin mengantarkan Diandra pulang karena di sini sudah sepi, apa itu salah?" Kata Satria.
"Tapi kau tidak perlu memaksa seperti itu. Bukankah dia sudah menolaknya? Diandra tidak mau pulang menggunakan motor sport, seharusnya kau tahu itu," kata Kenzo menegaskan.
"Banyak bacot!" Ucap Satria yang turun dari motor lalu membalas memukul Kenzo dengan penuh emosi, hingga meninggalkan luka di sudut bibirnya. Padahal luka yang lama saja belum sembuh, tapi sekarang harus terluka lagi. Membuat Diandra pun merasa nyeri melihatnya.
"Stop Kak Satria, Kenzo! Aku mohon sekarang Kak Satria pergi, aku benar-benar tidak mau pulang dengan kamu Kak. Kalau kamu tidak mau pergi sekarang, aku juga tidak mau mengenalmu lagi," ucap Diandra yang merasa sangat kesal.
Dengan perasaan dongkol terhadap Diandra dan Kenzo, Satria pun naik ke atas motornya dan pergi meninggalkan mereka.
"Kenzo, seharusnya kamu tidak perlu menolongku seperti ini. Aku sama sekali tidak membutuhkan bantuanmu, lihatlah akhirnya kamu kan yang terluka," ucap Diandra yang terlihat cemas.
"Sepertinya kamu terlihat khawatir terhadapku?" Ujar Kenzo yang merasa sangat senang.
"Ck, siapa bilang? Kamu itu hanya menambah masalahku saja," hardik Diandra.
"Oh ya? Jadi seperti ini balasanmu setelah aku membantumu tadi. Aku baru tahu ternyata Diandra adalah wanita yang sama sekali tidak tahu balas budi," sindir Kenzo yang berpura-pura memasang wajah kecewa.
"Lalu kamu mau apa?" Tanya Diandra yang sebenarnya juga tidak tega melihat keadaan Kenzo.
"Setidaknya kamu obati lukaku dan aku akan mengantarmu pulang. Aku bawa mobil," ucap Kenzo.
Merasa ingin bertanggung jawab karena bagaimanapun juga Kenzo telah menolongnya, akhirnya Diandra pun mengikuti kemauan Kenzo. Sebelum masuk ke dalam mobil, Diandra mengobati luka Kenzo terlebih dahulu baru setelah itu ia pun diantar pulang oleh Kenzo sampai ke depan rumahnya.
------
Setibanya di rumah Diandra, terlihat Danu yang sudah menunggu anaknya di depan rumah. Ia menatap tajam dan tidak suka melihat Kenzo yang di saat itu ikut keluar dari mobil dengan maksud ingin menegur Danu.
"Om, apa kabar? Aku hanya ingin mengantarkan Diandra pulang ke rumah, aku pulang dulu ya Om," ucap Kenzo yang hendak menyalami tangan Danu akan tetapi ayah Diandra itu sama sekali tak menggubrisnya.
"Mulai sekarang jangan pernah mendekati anak saya lagi, sudah jelas saya menentang hubungan kalian!" Ucap Danu dengan tegas.
__ADS_1
Bersambung …